
Siang sudah menyapa, sedangkan Xavier masih berkutat dengan leptop dengan keadaan kesal karena sudah siang seperti ini Nesa belum juga membalas pesan atau mengabari lagi.
sedangkan Nesa masih asik mengobrol dengan Bunda, ia tidak mengetahui jika Xavier mengirim pesan atau bahkan menelponnya karena handphonenya ia tinggal di dalam kamar.
"Bunda, Xavier memang benar-benar anak tunggal? " tanya Nesa penasaran.
Bunda tersenyum kala Nesa bertanya, pertanyaan Nesa mengingatkan Bunda tentang masa lalu di mana terjadi kecelakaan antara dirinya dan sang suami, tanpa ia sadari ia sedang mengandung anak kedua dan harus keguguran akibat kecelakaan itu.
"seharusnya Xavier memiliki adik, " ucap Bunda sambil menerawang jauh ke atas sana.
"lalu? ah jika Bunda tidak berkenan bercerita tidak apa-apa, aku juga bertanya terlalu berlebihan, " ucap Nesa tidak enak kalau melihat wajah sedih Bunda.
"tidak apa-apa kamu juga harus tahu sayang, " jawab Bunda sambil tersenyum lembut.
Nesa membalas senyum Bunda dan memeluk Bunda, layaknya ibunya sendiri mengingat tentang Bunda ia jadi mengingat mendiang sang mama dan juga ia sudah lama tidak datang ke makam sang mama.
"hey kenapa kamu menangis sayang? " tanya Bunda terkejut kala melihat Nesa mengeluarkan air mata.
"tidak aku hanya merindukan almarhum mama, " jawab Nesa sambil mengusap air matanya.
"ya sudah, kamu masih ingin dengar cerita Bunda? " tanya Bunda sambil mengelap sisa air mata Nesa.
Nesa mengangguk dengan semangat, ia ingin mendengar cerita dari sosok ibu mertua yang nantinya akan menjadi ibunya juga, sekaligus mengurangi rasa rindu di bacakan cerita oleh sang mama.
__ADS_1
"dulu, saat Bunda dan Ayah kembali dari luar negeri saat dalam perjalanan menuju mansion mobil kami mengalami kecelakaan beruntun saat itu Xavier baru berusia 12 tahun dan sering kami tinggal membuatnya menjadi biasa mandiri, " jeda Bunda.
"saat kecelakaan itu Bunda sempat mengalami koma yang cukup lama, dan karena kejadian itu Bunda keguguran adik Xavier di mana Bunda juga tidak mengetahui jika Bunda sedang mengandung 2 minggu, "
"dan setelah Bunda sadar dari koma Bunda di beri tahu jika Bunda keguguran dan Bunda tidak bisa hamil lagi karena benturan yang sangat keras mengenai perut Bunda dan mengakibatkan rahim Bunda terluka, "
"sejak saat itu, Xavier selalu sendiri dulu dia sangat menginginkan seorang adik namun semenjak Bunda kecelakaan dan di nyatakan tidak bisa hamil lagi ia hanya pasrah dan menerima jika ia akan hanya tumbuh sendiri tanpa saudara, " cerita Bunda panjang lebar.
"astaga, turut berduka ya Bunda, " ucap Nesa saat selesai mendengar cerita dari Bunda.
Bunda hanya mengangguk lalu tanpa aba-aba Nesa langsung memeluk Bunda dengan erat, tanpa mereka sadari air mata mereka mengalir begitu saja dan mereka berpelukan cukup lama hingga Bunda melepaskan pelukan dan pamit untuk pulang karena sudah mulai sore.
"aduh sudah mau sore, Bunda pulang ya sayang... oh ya kamu sudah mengabari Xavier? " ucap Bunda dan bertanya sambil membereskan barangnya.
Nesa yang mendengar nama Xavier pun nepok jidat karena lupa mengabari Xavier, dan mungkin sekarang Xavier tengah merajuk kepadanya, Bunda yang tahu gelagat Nesa hanya tersenyum Nesa tidak mengabari juga karena asik mengobrol dengannya.
"iya Bunda biar Nesa antar sampai depan, " ucap Nesa sambil mengantar Bunda sampai depan apartemen.
setelah Bunda pergi dari apartemen, Nesa buru-buru masuk kedalam dan langsung menuju kamar untuk melihat handphonenya dan sudah di pastikan jika Xavier akan merajuk kepadanya karena lama membalas.
dan benar saja saat ia melihat notifikasi di handphonenya banyak sekali panggilan dan pesan dari Xavier, tidak mau lama-lama Nesa tidak membaca pesan dari Xavier melainkan langsung mem video call Xavier.
panggilan pertama langsung di angkat oleh Xavier dan yang pertama kali Nesa lihat adalah wajah Xavier yang memerah menahan kesal dan bibir yang mengerucut membuat Nesa gemas sendiri.
__ADS_1
"hey maaf yah, soalnya tadi ada Bunda jadi keasikan ngobrol dan juga handphone aku tinggal di kamar, " ucap Nesa meminta maaf.
"kenapa sih? kamu selalu mengulanginya terus? " tanya Xavier dengan kesal.
sekarang Xavier masih berada di perusahaan dengan keadaan kemeja sudah berantakan, dan dasi yang sudah tidak bertengger rapih di leher panjang Xavier dan juga rambut yang sangat acak-acakan dan itu di akibatkan karena ia terlalu lama menunggu Nesa membalas pesan atau teleponnya.
"janji deh tidak akan gitu lagi, udah jangan ngambek, " ucap Nesa sambil tersenyum.
"iya iya, kamu udah makan siang? " tanya Xavier.
"belum sih, kamu? belum pasti! makan dulu sana sebelum pulang, " ucap Nesa menasehati Xavier.
"iya, aku mau beresin ini dulu baru pulang sekalian mampir ke restoran, " jawab Xavier sambil mulai membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya.
Nesa hanya mengangguk dan ia hanya menemani Xavier dari video call karena tidak bisa bertemu, selagi Xavier beberes mejanya Nesa menuju dapur untuk membuat makan siang dan makan malam nanti.
...PROMOSI BAB...
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
__ADS_1
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?