
Setelah membeli makanan untuk Nesa, Xavier segera kembali ke kamar rawat inap Nesa agar Nesa tidak menunggu-nya terlalu lama.
"maaf lama sayang, " ucap Xavier dan duduk di samping Nesa.
"tidak apa-apa kok, " jawab Nesa sambil tersenyum.
Xavier menaruh makan siang di piring lalu membantu Nesa duduk setelah itu menyuapi Nesa. Nesa sempat menolak untuk di suapi namun namanya juga Xavier tidak pernah menerima penolakan alhasil ia hanya bisa pasrah.
"mas, Jessica bagaimana? " tanya Nesa di sela-sela makan-nya.
Nesa bertanya seperti itu membuat senyum Xavier memudar dan wajah-nya berubah menjadi, Nesa yang menyadari perubahan wajah Xavier merasa bersalah ia tidak bermaksud seperti itu hanya saja, Jessica adalah adik-nya.
"mas aku-
" tidak usah bertanya soalnya, yang jelas akan aku buat dia menderita dan juga apakah kamu mengetahui fakta tentang ibu dan adik mu itu? " ujar Xavier dan bertanya.
Nesa menggeleng tidak tahu, hal itu membuat Xavier menghela nafas dan menjelaskan jika orang baru yang berada di keluarga Nesa hanya menginginkan harta dari ayah Nesa.
"kamu tahu, mereka berdua hanya menginginkan harta ayah mu saja? bahkan sampai kamu pun di usir oleh ayah mu itu karena dia di hasut oleh ibu sambung dan Jessica, " jelas Xavier panjang lebar.
jelas hal itu membuat Nesa tidak percaya begitu saja, Xavier yang melihat raut wajah Nesa yang belum bisa percaya dengan ucapan-nya. mengeluarkan handphone dari saku celana-nya dan memberikan video yang berhasil ia retas dari rumah besar milik Ardiansyah.
"i-ini? kenapa mereka sangat jahat kepada ku? " tanya Nesa menangis saat selesai melihat video itu.
"semuanya sudah terbukti, jadi jangan pernah berbelas kasih kepada mereka! " tekan Xavier dan langsung memeluk Nesa yang tengah menangis.
"aku akan pergi sebentar, bunda akan datang sebentar lagi untuk menemani mu, " lanjut Xavier setelah Nesa sudah tenang.
__ADS_1
"kamu ingin kemana? tapi kamu akan kembali kan? " tanya Nesa khawatir.
"tentu saja aku akan kembali, tidak usah khawatir aku hanya membalas apa yang sudah mereka perbuat pada mu, " jawab Xavier sambil tersenyum manis.
Nesa yang mendengar itu sudah tidak merasa khawatir dan juga senyum manis dari Xavier membuat-nya ikut tersenyum juga. Nesa mengangguk dan tidak lama dari itu bunda Xavier datang dan Xavier pamit pergi.
"kamu di sini sama bunda Oke? Xavier tidak akan main jauh-jauh kok, " ucap bunda sambil bercanda.
Nesa hanya mengangguk, ia hanya berdoa agar Xavier tidak terlalu kejam kepada orang yang sudah memperlakukan buruk kepada-nya. sedangkan Xavier yang sudah berada di dalam mobil menyuruh Daniel menyebarkan video yang ia miliki soal perselingkuhan Jessica dulu saat masih bersama.
di sana terdapat Jessica dan seorang laki-laki yang wajah-nya tidak terlalu jelas, memang sengaja kamera di sorot ke wajah Jessica yang tengah berhubungan badan di salah satu hotel mewah di pusat kota.
"Xavier sudah, lalu kita akan kemana? " ucap Daniel setelah menyebarkan video itu dan bertanya.
"ketempat Jessica, aku mau buat perhitungan dengan-nya! " jawab Xavier datar.
Daniel langsung mengangguk, dan ia langsung menyalakan mesin mobil dan meninggalkan parkiran rumah sakit... selama di perjalanan Xavier memikirkan hal yang menakjubkan setelah membebaskan Jessica, dalam pikiran-nya apakah keluarga Jessica akan masih bangga dengan anak-nya yang bermain api saat masih bersama diri-nya dulu?
Xavier turun dari mobil dan memasuki rumah kecil itu, pertama yang ia lihat adalah Jessica yang meraung meminta di lepaskan dengan tubuh yang banyak bekas cambukan hingga berdarah.
"hentikan! " perintah Xavier dan orang yang mencambuk Jessica berhenti.
"Xavier tolong aku, ku mohon perintahkan mereka melepaskan ku, " mohon Jessica.
Xavier hanya menatap datar ke arah Jessica yang tengah kesakitan, ia tersenyum miring dan meminta kepada Daniel untuk memberikan iPad-nya dan memperlihatkan berita yang baru saja tranding topik.
Jessica jelas melihat dalam berita itu yang tidak lain adalah diri-nya dengan laki-laki lain 1 tahun lalu, Jessica menggeleng tidak terima namun apa daya ia hanya bisa menangis.
__ADS_1
"aku sudah memperingati mu kemarin! tapi kamu mengabaikan-nya... jadi ini balasan dariku! " ujar Xavier menusuk.
"apa kurang-nya aku sebenarnya? apa spesial-nya wanita itu hah? wanita itu hanya jal**ng yang tidak berguna! sama seperti ibu-nya! " ucap Jessica dengan menggebu-gebu dan menghina Nesa dan ibu-nya yang sudah tidak ada.
Xavier yang mendengar itu emosi-nya langsung memuncak, tidak ada yang boleh menghina wanita-nya bahkan yang menghina wanita-nya... wanita seperti Jessica benar-benar tidak pantas untuk menghina orang yang paling ia cintai.
bugh
Xavier menendang perut Jessica membuat Jessica memuntahkan darah yang cukup banyak, tidak hanya sampai di situ Xavier kembali menendang perut Jessica untuk kedua kali-nya lalu menatap tajam Jessica yang sudah mulai tidak berdaya.
"kamu tidak pantas menghina wanita ku! apa kamu tidak berkaca saat berkata seperti itu hah?! " ucap Xavier membentak.
tanpa rasa takut lagi Jessica menatap benci ke arah Xavier, ia paling tidak suka jika ada yang membentak-nya bahkan kedua orang tua-nya tidak pernah sekalipun membentak-nya.
"heh, apa yang kamu harapkan dari-nya? dia tidak secantik aku! dan dia juga tidak berbakat seperti ku di ranjang! " ujar Jessica emosi.
Xavier yang mendengar itu hanya bisa menggeleng, lalu ia menyuruh anak buah-nya untuk memukul kedua kaki Jessica menggunakan balok kayu hingga Jessica tidak sadarkan diri.
"bawa wanita itu, dan lemparkan dia di depan rumah-nya agar kedua orang tua-nya melihat keadaan-nya sekarang dan juga pastikan karir-nya hancur! " perintah Xavier.
"baik tuan, " jawab anak buah Xavier.
"Daniel, kamu ikut aku ke perusahaan! " perintah Xavier kepada Daniel.
"baik! " jawab Daniel dan mengikuti Xavier keluar.
mereka berdua keluar dari rumah kecil itu dan di ikuti oleh anak buah Xavier yang membawa Jessica. Xavier dan Daniel langsung menuju perusahaan untuk menyelesaikan tugas tentang kerja sama dengan perusahaan ayah Nesa.
__ADS_1
"Xavier apa yang akan kamu lakukan setelah ini? " tanya Daniel yang fokus dengan menyetir.
"membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan si tua itu dan mengambil semua saham yang sudah ku tanam di sana! aku tidak sudi bekerja sama dengan-nya! " jawab Xavier dengan mengepalkan tangan.