Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Kapan Nikah?


__ADS_3

setelah selesai makan dan Xavier telah membayar makanan mereka, mereka berdua segera untuk pulang karena hari yang juga sudah mulai larut terlebih Xavier melihat Nesa yang sudah mulai mengantuk dan terlihat sangat lelah hari ini.


mereka berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Xavier dan segera pergi meninggalkan restoran Jepang itu, namun baru juga mereka masuk kedalam mobil dering handphone Xavier menghentikan aksi Xavier yang hendak menjalankan mobil-nya.


"siapa? " tanya Nesa melihat ke arah Xavier.


"bunda, sebentar aku angkat dulu, " jawab Xavier dan meminta izin untuk mengangkat telpon.


Nesa mengangguk dan menunggu hingga Xavier selesai telponan dengan bunda Xavier. sekitar 5 menit Xavier telponan dan ada sedikit cekcok yang pada akhirnya Xavier kalah dan harus menuruti ucapan bunda-nya itu. Xavier melihat ke arah Nesa membuat Nesa kebingungan.


"bunda ingin membicarakan sesuatu kepada kita, dan ya kamu akan menginap di mansion orang tua ku, " ujar Xavier memberi tahu dan menghilangkan rasa bingung Nesa.


"ouh ya udah tidak apa-apa kok, " jawab Nesa sambil tersenyum.


"kamu yakin? kalau kamu lelah besok saja masih bisa kok, " ujar Xavier bertanya.


"sudah aku tidak apa-apa, sebaiknya cepat jalankan takut bunda mu menunggu, " ucap Nesa meyakinkan Xavier.


"baiklah jika lelah bilang kepada ku, " ujar Xavier.


Nesa hanya mengangguk menurut lalu Xavier menyalakan mesin mobil-nya dan mengendarai-nya meninggalkan restoran Jepang mewah itu. dan kembali di dalam mobil hanya hening mungkin karena Nesa juga sudah mulai lelah namun tidak enak dengan bunda Xavier yang menunggu.


"apa kamu serius mau menemui bunda? " tanya Xavier lagi dengan khawatir.


sungguh Nesa sangat senang saat ada yang mengkhawatirkan-nya, ia hanya mengangguk bahwa ia bisa hanya menahan lelah sebentar saja tidak akan masalah untuk-nya dan juga pasti yang akan di bicarakan Bunda Xavier sangat penting fikir Nesa.


"aku benar-benar tidak apa-apa Xavier, " ucap Nesa meyakinkan.


"kamu memanggil ku dengan nama ku lagi, " ucap Xavier datar.


"ah ya maaf, aku hanya tidak terbiasa memanggil mu dengan sebutan sayang, " ucap Nesa jujur.

__ADS_1


"maka dari itu biasakan memanggil ku seperti itu, " pinta Xavier tanpa menoleh.


"baiklah tapi tidak saat di kantor yah, " sekarang giliran Nesa yang memohon.


"ya baiklah itu gampang, tapi aku tidak janji sayang, " jawab Xavier.


Nesa hanya menghembuskan nafas gusar, sungguh ia benar-benar tidak mau berharap lebih kepada Xavier tapi Xavier terus memberikan harapan untuk-nya. apakah ia harus maju atau mundur? entahlah Nesa bingung.


di dalam mobil kembali hening, Xavier yang fokus menyetir sedangkan Nesa yang melayang dengan fikiran tentang hubungan-nya dengan sang atasan. Nesa melihat ke arah Xavier penuh harap dan kembali menatap jalanan yang mulai renggang.


karena hari juga sudah mulai larut. Nesa terus menghembuskan nafas gusar-nya tanpa ia tahu jika Xavier terus memperhatikan gerak gerik-nya sejak tadi. Xavier tahu apa yang ada di dalam fikiran Nesa, ingin rasanya ia melamar Nesa langsung namun itu semua ia urungkan.


karena ia menunggu hingga perjanjian-nya dengan Nesa selesai baru ia akan melamar Nesa dan berjanji kembali untuk bersama selama-nya. Xavier juga tidak bisa membohongi perasaan-nya ketika sedang bersama Nesa hati-nya selalu berdebar.


rasa ingin memiliki dan melindungi sangat besar di hati-nya sedangkan Nesa hanya bisa membayangkan tentang hubungan mereka berdua yang berakhir di atas pelaminan dan hidup bahagia untuk selamanya.


sungguh mustahil juga jika ia harus bersanding dengan Xavier yang bahkan bukan level-nya. namun apakah ia tidak pantas bersama Xavier? laki-laki yang ia cintai untuk sekarang? entahlah menurut Nesa takdir tengah mempermainkan-nya saat ini.


"ah benarkah? baiklah, " jawab Nesa yang sedikit terkejut.


dan tidak lama kemudian mobil Xavier memasuki kawasan mansion besar milik kedua orang tua Xavier, dengan perlahan mobil Xavier memasuki halaman mansion melewati gerbang utama yang cukup besar. dan mengendarai-nya hingga pintu utama yang cukup berjarak.


setelah tepat berhenti di depan pintu utama, dua orang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Xavier dan Nesa, kedua-nya turun Nesa dengan senyum manis-nya dan Xavier dengan wajah datar-nya.


setelah itu mereka berdua di persilahkan masuk dan di sambut dengan sangat baik oleh para pekerja di mansion besar keluarga Xavier ini. Nesa sebenarnya sedikit risih namun ia berusaha untuk memaklumi hal itu.


"tuan muda, nona... nyonya sudah menunggu di ruang keluarga, " ujar kepala pelayan memberi tahu.


"Terima kasih paman, " ucap Xavier.


Nesa hanya mengangguk dan tersenyum lalu Xavier mengajak Nesa menuju ruang keluarga yang sudah ada bunda-nya yang menunggu kehadiran mereka berdua. setelah sampai di ruang keluarga mereka berdua menyalami bunda Xavier tanda hormat.

__ADS_1


setelah itu duduk di sofa tepat di hadapan sang nyonya besar, Xavier masih mempertahankan wajah datar-nya yang mana di balas dengan tatapan tajam oleh bunda-nya namun berbeda saat menatap Nesa bunda menjadi lembut.


"bagaimana kabar kamu nak? Xavier tidak macam-macam kan? " tanya bunda Xavier kepada Nesa sebagai pembuka obrolan.


"aku baik bunda, soal Xavier emm ya gitu deh bund, " jawab Nesa sedikit kikuk.


"kalian tidak melakukan hubungan ranjang kan? " tanya bunda Xavier menatap tajam kepada putra satu-satu nya itu.


"hampir, " jawab Xavier.


"tidak, " jawab Nesa bebarengan.


bunda Xavier memicingkan mata-nya karena jawaban dari mereka berdua tidak sama, bunda Xavier menghela nafas sungguh kapan putra-nya ini berubah? semenjak di tinggalkan oleh Jessica, Xavier benar-benar berubah 180 derajat dari sifat asli-nya.


"tidak bunda, tadi siang memang hampir namun Nesa menolak mentah-mentah, " jawab Nesa menjelaskan.


"serius kan sayang? " tanya bunda memastikan.


Nesa mengangguk sedangkan Xavier sudah jengah dengan obrolan ini, ia langsung bertanya kepada sang bunda sebenarnya ada apa yang akan bunda-nya ini bicarakan kepada mereka berdua terlebih ini sudah larut malam.


"sebenarnya apa yang akan bunda katakan? aku dan Nesa sudah lelah sebaiknya katakan sekarang, " ujar Xavier datar


"isss, kamu ini kenapa sangat datar kepada bunda hah? " bukan menjawab justru bunda balik bertanya dengan kesal.


"maafkan aku, jadi apa yang akan bunda bicarakan? " ucap Xavier meminta maaf dan berakhir dengan pertanyaan yang belum di jawab oleh sang bunda.


"baiklah, jadi... kapan kalian akan menikah? " tanya bunda Xavier. pertanyaan singkat namun menohok.


Xavier dan Nesa sama-sama diam mereka bingung harus menjawab apa membuat bunda Xavier kesal karena mereka berdua hanya diam dan tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan-nya itu.


"jadi kapan kalian akan menikah? " tanya bunda lagi.

__ADS_1


__ADS_2