Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Resmi Pacaran


__ADS_3

"jadi... apa yang akan kamu katakan tuan ? " tanya Nesa datar.


huftt


Xavier menghela nafas terus menerus, sungguh gugup-nya belum juga hilang terlebih saat ini Nesa menatap-nya dengan intens dan datar membuat-nya semakin gugup. Xavier mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan-nya dengan perlahan.


Nesa jengah melihat Xavier terus menerus menghela nafas dan menarik nafas namun belum juga mengatakan apapun kepada-nya. Nesa hendak bertanya namun pernyataan Xavier membuat-nya bungkam dan terkejut sekaligus, meski tadi ia sempat mendengar jika Xavier mencintai-nya namun apakah secepat ini?


"maukah kamu menjadi kekasih ku? " ujar Xavier gemetar.


sungguh ia sudah sangat lama tidak mengatakan kata-kata sakral ini. Xavier menatap harap-harap cemas kepada Nesa yang masih setia diam karena terkejut dengan pernyataan Xavier barusan.


"kamu serius mau berpacaran dengan ku? " tanya Nesa sedikit ragu.


"apa kamu ragu dengan cinta ku? " tanya Xavier dingin.


"bu-bukan seperti itu, maksud ku apa kamu benar-benar mau bersama orang yang bahkan tidak selevel dengan mu? " tanya Nesa yang mulai merendahkan diri.


"apa maksud kamu? yang pantas bersama ku hanya kamu bukan orang lain! " bentak Xavier kesal dengan pernyataan Nesa.


Nesa menunduk takut karena Xavier membebtak-nya ia tidak berani menatap Xavier yang tengah marah. Xavier yang sadar telah membentak Nesa dengan cepat ia memeluk Nesa dan mengucapkan kata maaf, bukan itu maksud ia namun perkataan Nesa membuat-nya emosi.


jika Nesa tidak pantas bersanding dengan-nya lalu siapa yang pantas bersanding dengan-nya? Jessica? oh tentu tidak Jessica justru benar-benar tidak pantas harus bersanding dengan Xavier mengingat sifat-nya yang egois juga penuntut membuat Xavier ilfil dalam seketika meski dulu ia pernah teramat mencintai Jessica tapi itu dulu.


"maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak mu, " ucap Xavier menyesal.


Nesa hanya mengangguk ia belum berani melihat ke arah Xavier. Xavier melepaskan pelukan mereka dan menatap intens ke arah Nesa yang tidak mau menatap-nya. Xavier mengangkat dagu Nesa menggunakan jari telunjuk-nya agar melihat ke arah-nya bukan ke arah bawah. memangnya di bawah ada apa? tidak ada kecoa bukan?

__ADS_1


"jadi apa jawaban mu? " tanya Xavier membutuhkan kepastian.


Nesa menatap Xavier takut-takut namun ia mengangguk, Xavier mengerti akan anggukan Nesa namun ia benar-benar ingin mendengar langsung dari suara lembut bercampur cempreng itu di hadapan-nya.


"aku mau mendengar langsung bukan anggukan yang aku inginkan, " ucap Xavier datar.


"aku mau, " cicit Nesa takut karena mendengar suara Xavier yang berubah menjadi dingin dan wajah-nya yang kembali datar.


tanpa berkata lagi Xavier kembali memeluk Nesa, entah sudah keberapa ia memeluk Nesa dengan perasaan yang senang dan juga bahagia. dan tanpa mereka sadari banyak masalah yang akan mereka lewati nanti-nya.


"heyy kalian jangan berpelukan terus, sebaiknya kalian bantuin bunda untuk memilih dekorasi pernikahan kalian sebulan lagi!" teriak bunda Xavier dari arah dalam.


"yes bunda, " balas Xavier teriak.


Xavier menatap Nesa dan menggenggam tangan Nesa membawa gadis-nya masuk untuk memilih dekorasi pernikahan mereka yang akan di laksanakan sebulan lagi. namun di hati kecil Nesa ada perasaan yang mengganjal ia merasa akan ada yang terjadi sebelum ia menikah.


bunda Xavier menyodorkan beberapa foto wedding kepada Xavier dan Nesa. Xavier dengan cekatan mengambil ipda dari tangan bunda-nya dan memilih wedding dekorasi bersama Nesa.


Nesa melihat banyak pilihan dan itu semua benar-benar sangat mewah. berapa banyak uang yang di keluarkan oleh keluarga Miller hanya untuk pernikahan mereka. Nesa hendak protes namun melihat tatapan tajam dari Xavier ia memilih untuk diam.


"kamu ingin yang mana sayang? " tanya Xavier dengan lembut.


"emm apakah kita tidak bisa melaksanakan dengan sederhana saja? " tanya Nesa takut-takut.


"tidak sayang, pernikahan kalian harus sangat mewah dan ya soal pertunangan kalian minggu depan akan di adakan di rumah Nesa, " ucap bunda Xavier menjawab.


Nesa yang mendengar ucapan bunda Xavier yang terakhir terkejut, bukan karena apa jika harus di rumah-nya tapi apakah keluarga-nya akan menerima pertunangan itu? dan ya Jessica adik tiri-nya tidak mau melepaskan Xavier terlebih ketika Jessica tahu jika Nesa kerja di perusahaan besar milik Xavier.

__ADS_1


"jangan di rumah ku!" ucap Nesa dengan cepat.


Xavier dan bunda Xavier yang mendengar itu mengerutkan kening mereka tanda tidak mengerti. Xavier bertanya kepada Nesa apa alasan Nesa menolak pertunangan di rumah-nya.


"loh memang-nya ada apa? dan ya aku juga belum mengetahui tentang keluarga mu karena kamu tidak mau memberi tahu, " ujar Xavier bertanya.


bunda Xavier yang mendengar itu jelas semakin bingung. putra-nya belum mengetahui keluarga sang kekasih? bukan kah Xavier benar-benar selalu menyelidiki siapa saja yang akan dekat oleh-nya bahkan akan menjadi istri-nya.


"maksudnya apa? " tanya bunda Xavier bingung sambil menatap Nesa dan Xavier bergantian.


"a-anu aku belum siap untuk menceritakan tentang keluarga ku, aku takut setelah kalian mengetahui masa lalu ku kalian akan membuang ku, " ujar Nesa lirih tanpa ia sadar ia menangis.


bunda Xavier yang melihat Nesa menangis merasa sedih, ia merasa jika masa lalu dan keluarga-nya benar-benar tidak keadaan dengan baik. Xavier yang melihat itu langsung memeluk Nesa untuk menenangkan.


"nak cerita lah, sekarang kita adalah keluarga mu juga... tapi apakah kami mengenal keluarga mu? " ujar bunda Xavier dan bertanya.


Nesa melepaskan pelukan Xavier dan menghapus air mata-nya. ia mengangguk karena keluarga-nya itu cukup terkenal siapa yang tidak mengenal keluarga Ardiansyah coba? yang baru beberapa minggu lalu bekerja sama dengan perusahaan Xavier.


mengingat keluarga-nya ia kembali mengingat di mana saat ibu-nya sakit sang ayah malah tidak perduli dan setelah kematian sang ibu ayah Nesa menikah kembali padahal ibu Nesa baru beberapa hari di kuburkan.


Nesa kembali menangis dan sekarang tangisan-nya histeris bahkan sampai membuat dada Nesa merasakan sakit yang teramat, mengingat semua perlakuan sang ayah kepada-nya setelah menikah lagi sampai-sampai ia di usir dari rumah kelahiran-nya sendiri.


Xavier dan bunda Xavier yang melihat tangisan Nesa semakin semakin keras membuat mereka panik. sungguh Xavier tidak pernah melihat Nesa menangis se histeris seperti ini... dengan cepat Xavier kembali menenangkan Nesa dalam dekapan-nya.


"cerita lah, kami siap untuk mendengar agar hatimu terasa lebih lega, " ucap bunda Xavier menenangkan.


"yang di katakan bunda benar, sebentar lagi kita akan menikah dan aku akan menjadi suami mu, aku harus tahu tentang mu dan masalah mu oke? " ujar Xavier yang masih memeluk Nesa dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2