
"dengan keluarga pasien? " tanya dokter.
"ya, kami keluarga nya... bagaimana dengan keadaan putraku dokter? " tanya ayah mewakili yang lain, sedangkan Nesa masih saja menangis di dalam pelukan bunda.
dokter itu menghela napas, wajahnya terlihat pucat dan lesu. lalu dokter itu menatap mereka bertiga bergantian dan menggeleng. Nesa yang melihat itu langsung terduduk dan menangis.
begitu juga dengan bunda yang langsung memeluk Nesa dan ayah yang menutup wajahnya menahan tangis. bahkan Daniel dan Shafira yang baru saja datang tidak percaya jika Xavier akan meninggalkan mereka.
"maaf, kami sudah berusaha semampu kami namun Tuhan lebih sayang kepada pasian... turut berduka cita akan kepergian pasien, " ujar dokter dengan menghela napas.
"TIDAK! TIDAK MUNGKIN SUAMIKU MENINGGALKAN KELUARGA KECILNYA! PASTI INI SALAH! tidak mungkin... hikss, " teriak Nesa dengan di iringi tangis.
"dokter! jangan bercanda! sahabat saya tidak mungkin meninggal! tadi dia masih sehat! dokter! " teriak Daniel di hadapan sang dokter sambil memegang kerah dokter tersebut.
"dok, ini pasti salah kan? anak saya masih hidup kan? " tanya ayah dengan ragu.
__ADS_1
namun dokter itu hanya diam, dia menggeleng dan pamit untuk pergi dan pihak keluarga sudah di perbolehkan untuk melihat pasien. Nesa menangis dengan terduduk dia masih tidak percaya akan kejadian ini. bahkan bunda hampir pingsan jika tidak di pegangin oleh ayah.
"nak kita lihat Xavier dulu ya? " pinta ayah dengan lembut.
"ayah! ini bohong kan? Xavier tidak mungkin meninggalkan kita kan? INI SEMUA BOHONG KAN?! HIKS, " teriak Nesa tidak percaya.
"ikhlaskan nak! " ayah hanya bisa berkata seperti itu dan membawa bunda masuk untuk melihat jasad Xavier.
Nesa menggeleng keras, ia tidak menerima kejadian ini! pagi tadi Xavier masih sangat sehat dia berjanji akan pulang dengan keadaan sehat walafiat. Shafira yang sedih melihat sahabatnya seperti itu langsung memeluk Nesa untuk menenangkan wanita itu.
saat berpapasan dengan Nesa yang masih menangis deras di depan pintu UGD, ia hanya tersenyum dan memeluk wanita itu sebentar setelah itu ia pergi. Shafira memapah Nesa untuk masuk ke dalam.
"ini pasti bohong! Xavier pasti lagi bohongin aku! " ucap Nesa saat sudah berada di hadapan jasad sang suami.
Nesa menatap wajah pucat yang ada bekas jahitan. dia langsung memeluk jasad Xavier dan menangis tersedu-sedu mencoba untuk membangunkan Xavier namun hasilnya tidak ada sama sekali. Nesa memukul dada Xavier kuat namun tidak ada respon sama sekali.
__ADS_1
"XAVIER BANGUN HIKS... AKU TAHU KAMU TIDAK AKAN MENINGGALKAN KAMI! KAMU SUDAH BERJANJI AKAN PULANG HIKS! jangan tinggalin aku! " ucap Nesa yang semakin melemah.
"sayang, ikhlaskan Xavier agar dia tenang, " ucap bunda dengan sedih.
"tidak bunda! Xavier masih hidup Xavier sudah berjanji akan pulang bunda hikss, "
"bangun Xavier! aku mohon bangun jangan tinggalin aku! "
semua yang ada di dalam ruangan menangis, terlebih suara tangis Nesa yang tidak bisa mengikhlaskan suaminya yang pergi membuat suasana semakin sedih. bunda memeluk ayah dengan erat tidak mau melihat Nesa yang menangis meraung di atas jenazah Xavier.
wajah tampan dengan kulit pucat itu sudah tidak bernapas, sudah tidak bisa melakukan apapun lagi. dia di panggil oleh Tuhan lebih cepat bahkan sebelum melihat kelahiran anak pertamanya. meninggalkan istri sangat mencintainya dan juga meninggalkan kedua orang tua yang sudah merawatnya sejak kecil.
Nesa tidak bisa terima dan terus memukul Xavier agar laki-laki itu bangun, namun para perawat menghampiri dan menjauhkan Nesa dari jenazah Xavier karena akan di mandikan. Nesa meraung minta di lepaskan saat wajah Xavier mulai di tutup dan di bawa pergi untuk di mandikan.
"ikhlaskan dia, bunda yakin ini jalan yang terbaik untuknya! demi bayi yang kamu kandung kamu harus melanjutkan hidup tanpanya sayang... bunda tahu ini berat tapi kita harus merelakan kepergiannya agar dia tenang di sana, "
__ADS_1