Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
ketemu lagi.


__ADS_3

sinar matahari kembali menyinari seluruh permukaan bumi, Nesa mengerjap-ngerjapkan mata kala sina mata hari menelusup masuk kedalam kamar Nesa dari sela-sela gorden.


Nesa bangun dan duduk di aas kasur ia menguap dan meregangkan otot-otot badan-nya yang terasa kamu, lalu ia tersenyum menatap gorden yang terang karena tersinari oleh cahaya matahari yang menembus kain itu.


"kamu sudah bangun sayang? " ucap Xavier yang masuk kedalam kamar Nesa.


besa yang di panggil seperti itu mendelik namun pipinya berubah menjadi kemerahan karena malu di panggil seperti itu.


"kenapa kamu ke sini? " tanya Nesa ketika Xavier duduk di pinggir kasur.


"ini kan rumah orang tuaku jadi aku bebas dong untuk kemana aja? " ucap Xavier bersender kepada kepala ranjang.


Nesa yang mendengar jawaban dari Xavier hanya memutar bola mata-nya jengah, iya Nesa juga tahu jika rumah yang ia inapi rumah orang tua Xavier ia tidak pikun.


"aku tahu aku tidak pikun... hanya saja mengapa kamu menghampiri ku? " ucap Nesa dan berakhir dengan pertanyaan.


"aku hanya ingin mengantarkan ini dan... cepatlah bersiap jika tidak kita akan terlambat, " ucap Xavier sambil memperlihatkan paper bag kepada Nesa.


Nesa memperhatikan penampilan Xavier yang sudah rapih dengan tuksedo-nya yang melapisi kemeja hitam-nya, lalu ia mengangguk dan menyuruh Xavier untuk keluar dari kanar-nya.


"baiklah kamu bisa keluar, " pinta Nesa dan menerima paper bag itu.


Xavier hanya mengangguk lalu ia melenggang pergi meninggalkan kamar Nesa tidak lupa ia menutup pintu kembali. setelah Xavier benar-benar keluar dari kamar-nya, Nesa dengan cepat memegang dada-nya yang berdetak dua kali lipat.


lalu Nesa beranjak dari duduk-nya menuju pintu kamar untuk mengunci-nya agar tidak ada yang masuk ketika Nesa mandi nanti. setelah mengunci pintu Nesa langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nesa masuk kedalam kamar mandi tidak lupa membawa handuk, dan saat ia memasuki kamar mandi ia kembali di buat kagum. kamar mandi saja tidak kalah mewah dengan kamar tidur-nya. Nesa cukup lama mengagumi kamar mandi lalu ia teringat jika nanti ia akan telat.


maka dari itu dengan cepat Nesa melucuti pakaian-nya dan langsung mandi agar tidak memakan waktu lama ia mandi menggunakan shower dari pada harus berendam dahulu di bath tub.


sekitar 10 menit Nesa mandi, ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke tempat tidur di mana di atasnya berada paper bag yang berisi baju kerja-nya, yang mungkin baru di beli oleh Xavier.


Nesa membuka paper bag itu dan betapa terkejut-nya ia ketika melihat baju yang cukup ketat dan minim bahan itu, ia menatap tidak percaya. sungguh ia paling tidak suka menggunakan baju seperti itu apa lagi di gunakan untuk berangkat kerja.


baju berwarna pink soft yang memperlihatkan paha nesa jika ia pakai dan belahan dada cukup rendah membuat-nya sedikit risi kala memakai pakaian itu. sungguh Nesa akan memaraih Xavier nanti.

__ADS_1


Nesa menghela nafas kala ia sudah memakai baju itu, ia mematut diri-nya di cermin lalu ia merapihkan dandanan-nya dan dengan cepat ia keluar dari kamar dengan perasaan tidak nyaman.


ia berjalan, sebenarnya ia tidak tahu di mana letak ruang makan dan saat ia melihat salah satu pelayan ia bertanya di mana letak ruang makan berada.


"hey, " ucap Nesa.


"ada yang bisa saya bantu nona? " tanya pelayan itu.


"aku ingin bertanya di mana letak ruang makan? " tanya Nesa kepada pelayan itu.


"ah mari saya antar nona, " ucap pelayan itu dan menggiring Nesa menuju ruang makan berada.


Nesa berjalan menuju ruang makan di antar oleh pelayan itu, sebenarnya ia masih risih dengan pakaian itu namun mau bagaimana lagi? Xavier memilihkan pakaian kekurangan bahan itu dan bagaimana ia tahu ukuran Nesa?


setelah sampai di rumah makan yang sudah ada Xavier dan kedua orang tua Xavier Nesa menyapa mereka dan pelayan tadi undur diri untuk kembali melakukan pekerjaan-nya.


"selamat pagi, " sapa Nesa dan duduk di samping Xavier.


"pagi sayang, " jawab bunda Xavier sedangkan kedua laki-laki itu tengah fokus dengan sarapan-nya.


Xavier selesai lebih dulu, ia menunggu Nesa selesai sarapan dan berangkat untuk kekantor. setelah Nesa selesai memakan habis sarapan-nya mereka berdua izin untuk berangkat kekantor.


"bunda ayah, kita berangkat dulu, " pamit Xavier.


setelah mendapat kan izin mereka berdua bergegas keluar rumah karena mereka hampir telat dan kali ini Xavier kembali tidak memakai supir pribadi-nya.


di dalam mobil pun hanya terjadi keheningan tidak ada yang membuka suara, Nesa yang fokus dengan handphone-nya karena menanyakan kostan yang kosong sedangkan Xavier yang fokus mengemudi.


tak terasa mereka sudah mulai memasuki kawasan perusahaan, Xavier memberhentikan mobil-nya tepat di pintu masuk perusahaan, Xavier turun lebih dahulu baru di susul oleh Nesa.


sejujurnya Nesa paling malas menjadi pusat perhatian seperti hari ini, ketika ia berangkat bersama bos-nya atau kekasih pura-pura nya, banyak karyawan kantor yang memandang iri dan juga kagum.


Nesa dengan cepat mengikuti langkah Xavier menuju lift khusus orang-orang penting saja, di dalam lift pun tidak ada yang berbicara sama sekali.


ting..

__ADS_1


pintu lift terbuka, Xavier jalan lebih dahulu baru di ikuti oleh Nesa dari belakang, Xavier memasuki ruangan-nya sedangkan Nesa memasuki ruangan khusus sekertaris.


"pagi mba Sinta, " sapa Nesa riang.


"pagi... oh ya aku di sini tinggal dua hati lagi loh, " ucap Sinta membalas sapaan Nesa.


"oh iya... cepat banget perasaan deh, " ucap Nesa sendu dan duduk di kursi-nya.


"kamu harus semangat dong... aku tidak bisa bertahan soalnya dokter sudah memvonis jika sekitar 2 minggu lagi aku melahirkan, " ucap Sinta memberi tahu.


"huh selamat yah mba sebentar lagi baby-nya lahir, " ucap Nesa kembali senang kala mendengar kabar itu.


Sinta mengangguk dan mengucapkan kata terima kasih, lalau mereka kembali sibuk Nesa kembali mendengarkan apa saja yang harus di lakukan dan hari ini kembali ada meeting bersama kolega-kolega bisnis Xavier.


"oh ya sudah mba, Nesa ke bos dulu ya mau memberi tahu, " ucap Nesa.


Sinta mengangguk lalau Nesa berjalan menuju ruangan sang big bos. ketika sudah berada di hadapan pintu besar itu Nesa memberanikan diri untuk mengetuk-nya.


tok... tok... tok


"masuk! " ucap orang yang di dalam.


ketika mendengar interupsi menyuruhnya masuk Nesa masuk kedalam sambil membawa catatan, ia melihat Xavier tengah fokus dengan berkas-berkas yang berada di hadapan-nya.


"pak 10 menit lagi akan ada meeting, " ucap Nesa memberi tahu ketika sudah sampai di hadapan Xavier.


"baiklah apa tempat meeting sudah di siapkan? " tanya Xavier sambil mengalihkan tatapan-nya menjadi menatap Nesa.


"sudah pak, " jawab Nesa mantap.


Xavier mengangguk lalu, ia bangkit tidak lupa meminta berkas apa yang akan di bahas nantinya. setelah itu Xavier melangkah kan kaki-nya menuju ruang meeting yang sudah di siapkan.


Nesa mengikuti langkah Xavier dari belakang. saat sudah sampai di ruangan meeting mereka berdua masuk dan tatapan Nesa mendarat kepada orang yang tidak asing lagi bagi-nya.


orang itu juga menatap Nesa tidak suka dan juga kebencian entah Nesa salah apa sampai-sampai ia membenci Nesa seperti itu. tidak mau menghiraukan tatapan orang itu Nesa segera menyusul duduk di samping Xavier. dan meeting di mulai agak sedikit tegang.

__ADS_1


__ADS_2