
setelah acara peluk-pelukan sekarang Nesa dan Xavier tengah membahas kenapa Xavier bisa kecelakaan dan juga membahas hal-hal rendom. bunda dan ayah sudah pulang sedangkan Nesa tidak mau pulang katanya ia ingin menjaga Xavier yang belum di bolehkan untuk pulang.
"kenapa kamu bisa sampai kecelakaan sih? memangnya kamu tidak hati-hati? " tanya Nesa kesal.
"aku mengantuk sayang, jadi kurang fokus ke arah depan, " jawab Xavier seadanya.
"huftt, kenapa juga harus pulang selarut itu? kan bisa pulang lebih cepat, " ucap Nesa lagi.
"kerjaannya tidak bisa di tinggal, oh ya aku mau pulang sekarang ya? " ujar Xavier dan membujuk Nesa.
"apaan sih! kamu belum boleh pulang, tunggu 5 hari lagi, " sahut Nesa kesal.
Xavier menggeleng, ia tidak mau terlalu lama di rumah sakit toh dia juga masih bisa di rawat di rumah dengan dokter pribadi keluarga Miller. namun karena Nesa khawatir ia tidak mau Xavier pulang begitu cepat padahal baru tadi malam ia kecelakaan.
"ada dokter keluarga! aku bisa di infus di rumah dan juga ada kamu kan yang jagain, kalau dia rumah sakit aku kasihan sama kamu lagi hamil besar bulak balik ke rumah sakit terus kamu tidak boleh kecapean loh! " ujar Xavier mencoba bernegosiasi dengan Nesa.
"tapi kamu baru kecelakaan semalam! kamu masih pucat banget, nurut ya hanya 5 hari aja, " tidak mau kalah Nesa membantah.
"tidak sayang, pikirkan kondisi kamu! aku sudah tidak apa-apa hanya luka ringan aja, pikirin kandungan kamu Nesa, " Xavier kembali berucap membuat Nesa berpikir.
memang ada benarnya juga ucapan Xavier, tidak mungkin ia terus menerus bulak balik ke rumah dan rumah sakit terlebih jaraknya juga cukup jauh. Nesa menimang-nimang apakah Xavier keluar dari rumah sakit atau tidak.
ia bingung, di satu sisi ia tidak mungkin terus menerus menemani Xavier di rumah sakit karena kondisinya sekarang tapi di satu sisi Xavier baru saja mengalami kecelakaan dan belum pulih. Nesa bimbang menuruti perkataan suaminya atau dokter.
__ADS_1
"tapi kondisi kamu belum memungkinkan untuk pulang aku khawatir nan-
"stttt, aku tidak apa-apa sayang! yang harus di pikirin itu kamu jangan sampai kelelahan toh aku di rumah nanti bakal istirahat yang cukup, lagian ada kamu juga kan? setidaknya kamu tidak terlalu lelah, " ujar Xavier yang ada benarnya juga.
"baiklah, aku tanya bunda dulu kamu boleh pulang atau tidak, " sahut Nesa pasrah, namun ia belum memberikan jawaban pasti kepada Xavier.
"humm, ya sudah kalau kamu masih ragu aku boleh pulang atau tidak kita tanya sama bunda dan juga kamu sudah sarapan? aku dengar kamu pingsan tadi malam, " ucap Xavier mengalihkan pembicaraan.
"aku udah sarapan kok, ya aku karena terlalu terkejut dan terlalu banyak berpikir negatif jadinya pingsan, " jawab Nesa jujur.
"aihh, maaf yah tapi kamu sudah tidak apa-apa kan? " tanya Xavier lagi.
Nesa hanya mengangguk, lalu ia kembali memeluk Xavier yang langsung di balas. Nesa belum mandi ia masih menunggu bunda yang tengah pulang untuk mengambil pakaian dan mandi di rumah sedangkan Nesa menemani Xavier dan mengajak ngobrol laki-laki itu.
"terimakasih bunda, maaf merepotkan, " ucap Nesa tidak enak.
"tidak apa-apa sayang, sudah kamu mandi Xavier bunda yang jaga, " jawab bunda yang di angguki oleh Nesa.
lalu Nesa membawa paper bag yang berisi pakaian ke dalam kamar mandi, ia akan melakukan ritual mandinya. sedangkan Xavier yang di temani oleh bunda mereka malah saling diam, bunda fokus kepada handphone nya sedangkan Xavier terduduk bosan menatap bunda yang mengabaikannya.
"bunda, " panggil Xavier.
namun tidak ada jawaban dari bunda, Xavier benar-benar di diami oleh bunda. bunda fokus kepada handphone karena membalas pesan dari ayah yang sedang berada di perusahaan menggantikan Xavier sementara saat sedang sakit karena masalah kemarin belum selesai.
__ADS_1
tidak membutuhkan waktu yang lama Nesa sudah menyelesaikan mandinya dan keluar sambil membawa paper bag berisi baju kotor, ia melihat Xavier yang wajahnya di kusut bak jemuran yang belum di gosok dan melihat ke arah bunda yang asik bermain handphone.
"kamu kenapa? " tanya Nesa kepada Xavier.
"di diemin sama bunda, " jawab Xavier mengadu ke arah bunda.
"aih! ya sudah aku tanya dulu kamu boleh pulang atau tidak, " ucap Nesa dan Xavier hanya mengangguk saja.
Nesa berjalan menghampiri bunda yang tengah asik bermain handphone, lalu Nesa duduk di samping bunda dan menyenggol lengan bunda agar perhatian bunda teralihkan ke arahnya.
"ada apa sayang? " tanya bunda setelah sadar akan kehadiran Nesa.
"bunda, Xavier tadi minta pulang dan di rawat di rumah apa boleh? aku takut salah ngambil keputusan, " tanya Nesa jujur sedangkan Xavier yang memperhatikan kedua wanita itu berbicara dengan tatapan kesal.
"ya tidak apa-apa sebenarnya, toh dia yang minta kalau ada apa-apa ya salahin dia... dan juga kamu lagi hamil tidak mungkin bulak balik ke rumah sakit terus, kalau mau pulang nanti sore saja setelah dicek sama dokter ya, " jelas bunda setuju.
"baiklah, aku setuju nanti sore baru urus administrasi aku kasih tahu Xavier dulu ya bunda, " ucap Nesa yang mendapatkan anggukan dari bunda dan tersenyum.
Nesa Kembali ke Xavier, ia mengatakan apa yang di katakan bunda dan Xavier setuju untuk pulang nanti sore setelah pemeriksaan lagi.
"pulang nya sore, setelah pemeriksaan saja ya? " ucap Nesa.
"iya tidak apa-apa sayang, yang penting bisa pulang, " jawab Xavier dengan tersenyum.
__ADS_1