
"baiklah aku akan cerita, karena kalian juga berhak tahu tentang ku, " ujar Nesa setelah ia sudah tenang.
"tadi saat bunda bertanya tentang keluarga mu, kami mengenal atau tidak dan kamu mengangguk apa benar kami mengenal-nya? dan apakah dia cukup terkenal? " ucap Xavier dan bertanya hati-hati.
Nesa tersenyum mendengar pertanyaan dari sang kekasih, ia mengangguk lalu ia mengambil nafas dalam-dalam sebelum menceritakan masa lalu-nya dan siapa keluarga-nya.
"baiklah akan aku jawab... keluarga ku adalah keluarga yang cukup harmonis saat itu namun semenjak ibuku jatuh sakit dan mengharuskan ia di rawat inap di rumah sakit, ayahku tidak perduli lagi bahkan ayah jarang sekali menemani ibu... sampai di mana ibu menghembuskan nafas terakhir ayah pun tidak datang di pemakaman pun aku hanya sendiri bersama keluarga besar ayah dan ibuku, saat itu aku sudah menghubungi ayah berkali-kali namun tidak ada jawaban sama sekali, " ucap Nesa panjang lebar.
"singkat cerita ayah menikah lagi, setelah 3hari ibu di makamkan, aku shok saat tahu ayah menikah diam-diam dan membawa anak dan istri baru-nya ke rumah aku baru mengetahui itu... ibu tiri ku tidak menerima ku juga adik tiri ku, entah apa yang sudah di lakukan oleh ibu tiri ku sampai-sampai ayah murka dan mengusir ku dari rumah kejadian aku di usir sekitar 4 tahun lalu saat aku baru masuk ke bangku perkuliahan dan aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan ku, aku sangat beruntung saat itu aku mendapatkan beasiswa saat masuk bangku kuliah... dan semenjak aku di usir aku tidak tahu tentang keluarga ayahku bukan tidak tahu hanya saja aku memang benar-benar tidak ingin tahu tentang laki-laki itu lagi, " lanjut Nesa, Nesa ingin menangis namun ia tahan.
Xavier dan bunda yang mendengar cerita Nesa merasakan sakit, sungguh ayah yang tidak bertanggung jawab dan kejam karena telah menelantarkan anak secantik dan sepintar Nesa. Xavier yang mendengar kan cerita Nesa merasakan sakit di dada-nya, ia berjanji akan membuat hancur keluarga yang telah membuang kekasih-nya tanpa belas kasihan.
"jadi siapa ayah kamu itu? " tanya Xavier sedikit bergetar.
Nesa menatap Xavier tidak yakin, namun ia melihat tatapan Xavier yang meyakinkan membuat-nya menghela nafas panjang... ia benar-benar ragu untuk mengatakan hal ini kepada Xavier.
"katakan saja nak, " pinta bubda Xavier lembut.
"Ardiansyah Gerald Smit, " ucap Nesa cepat.
"APA?! " teriak bunda dan Xavier bersama.
"kamu serius sayang? dia salah satu pebisnis sukses, " ucap Xavier tidak percaya.
"pantas saja saat meeting waktu itu, dia menatap mu dengan tajam, " lanjut Xavier dan mengepalkan tangan-nya geram.
"iya, aku tidak menggunakan nama belakang ku karena aku tidak mau merusak reputasi ayahku, " jawab Nesa lirih.
"it's okay, tenang kan dirimu... apakah kamu mau memberi tahu pernikahan kita? " tanya Xavier sambil menenangkan Nesa.
__ADS_1
"aku ingin memberi tahu, tapi tidak sekarang, " jawab Nesa sambil menatap wajah datar Xavier.
"kenapa? " tanya Xavier datar tidak suka dengan keputusan Nesa.
"aku tahu, dia berhak tahu tentang lamaran mu tapi... Aku takut jika Jessica akan sangat marah dan mencoba merebut mu dari ku, " ujar Nesa gemetar.
"ah soal Jessica ya? tidak usah khawatir nak... sejak dulu bunda dan ayah tidak pernah setuju tentang hubungan Xavier dan Jessica karena sifat Jessica yang membuat bunda teramat tidak menyukai-nya dan juga ia hanya menginginkan harta Xavier saja, " jelas bunda Xavier panjang lebar.
"baiklah, aku mengerti, " ucap Nesa sambil tersenyum.
"jadi kapan kamu akan memberi tahu ayahmu itu? " tanya Xavier lagi.
"emmm... mungkin saat tunangan saja kita undang mereka, " jawab Nesa.
"ah begini saja, lebih baik pertunangan kalian di gedung saja dan undang para kolega bisnis mu dan bisnis ayah bagaimana? " tanya bunda antusias.
Nesa melihat ke arah Xavier yang masih memasang wajah datar, entah apa yang ia rencana kan. Xavier yeng mengerti dengan tatapan Nesa mengangguk dan membiarkan saja bunda yang mengatur semuanya dan soal ayah Nesa akan Xavier yang urus ia memiliki rencana untuk menghancurkan pria paruh baya itu.
"baiklah aku serahkan ini kepada bunda aku tidak tahu harus melakukan apa saja hehe, " jawab Nesa sambil cengengesan.
"oke nanti akan bunda siapkan, kalian cukup pilih tema dekorasi-nya saja soal bayaran itu gampang, " ucap bunda Xavier.
"ya sudah kalau begitu bunda ke kamar dulu ya? " ujar bunda Xavier dan meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di ruang keluarga.
Nesa memperhatikan Xavier yang sejak tadi hanya diam saja, ia bingung entah apa yang sedang di pikirkan oleh Xavier sampai-sampai ia terlihat sangat emosi dan juga tangan yang mengepal sangat kuat.
"hey... kamu kenapa? " tanya Nesa mengguncang lengan Xavier.
"hah? " beo Xavier.
__ADS_1
karena guncangan di lengan-nya ia baru tersadar jika ia tengah melamun karena mengingat masa lalu yang cukup menyakitkan untuk-nya terlebih ia di manfaatkan selama setahun lebih.
"kamu kenapa? " tanya Nesa lagi.
"ah tidak hanya ada yang mengganggu pikiran ku saja, " jawab Xavier sambil menatap Nesa yang kebingungan.
"kamu yakin tidak apa-apa? dan apa yang kamu pikirkan? " tanya Nesa beruntun.
"aku tidak apa-apa, hanya soal Daniel yang sampai saat ini belum mengabari ku lagi, " jawab Xavier alasan.
"oh baiklah, " ucap Nesa seadanya.
lalu mereka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, Nesa yang memikirkan ingin makan pisang coklat sedangkan Xavier sedang memikirkan apa rencana kedepan-nya untuk menghancurkan Jessica dan keluarga-nya.
"Xavier apa kamu lapar? " tanya Nesa memecah keheningan tanpa melihat ke arah Xavier.
"tidak.. apa kamu lapar? " ujar Xavier dan balik bertanya.
"sedikit... Tiba-tiba aku menginginkan pisang coklat Xavier, " jawab Nesa sambil membayangkan pisang coklat yang menggoda di hadapan-nya.
"kamu ingin itu? baiklah biar aku minta kepada pelayan untuk membuatkan-nya, " ujar Xavier dan hendak bangkit namun di tahan oleh Nesa.
"tidak usah, " ucap Nesa cepat.
Xavier mengerutkan kening bingung, tadi Nesa ingin makan pisang coklat saat ia ingin menyuruh pelayan untuk membuat kan Nesa malah melarang apakah jadi laki-laki memang harus ekstra sabar menghadapi gadis seperti ini?
"aku ingin membuat sendiri, apakah ada bahan-nya? " ujar Nesa dan bertanya kepada Xavier.
"tidak aku tidak mau kamu buat sendiri lalu untuk apa banyak pelayan di sini? hah, " ucap Xavier kesal.
__ADS_1
"tapi aku ingin buat sendiri, " pinta Nesa memohon.
"aku bilang tidak ya tidak! " tegas Xavier, dan Nesa hanya bisa pasrah akan perintah Xavier mutlak.