
Ardiansyah segera kembali ke rumah sakit saat di kabari oleh sang istri jika Jessica sudah sadar, ia sudah tidak memperdulikan lagi perusahaan-nya yang terpenting sekarang adalah anak-nya.
sesampainya ia di rumah sakit ia mendapati istri dan anak-nya menangis tersedu-sedu. Ardiansyah langsung memeluk sang istri untuk menenangkan dan bertanya kenapa mereka menangis.
"ada apa kenapa kalian menangis? Jessica kamu sudah baik-baik saja kan? " tanya Ardiansyah bertubi-tubi.
"Jessica cacat pah hiks, " jawab istri Ardiansyah menangis.
"apa? bagaimana bisa? " tanya nya lagi sedih.
saat siuman tadi, dokter menjelaskan keadaan Jessica tanpa terlewat sedikit pun, bagian punggung-nya terluka parah dan akan meninggalkan bekas di sana, bagian tangan dan kaki yang di pasung juga akan meninggalkan bekas yang menghitam.
dan kedua kaki Jessica patah akibat benturan benda tumpul yang sangat keras membuat kedua tulang kaki Jessica patah dan membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan kaki-nya, sontak Jessica dan mama Jessica yang mendengar itu jelas-jelas tidak menerima mereka ingin Nesa juga merasakan apa yang Jessica rasakan.
Ardiansyah hanya bisa memeluk sang istri menerima kenyataan ini, baru saja perusahaan-nya hampir bangkrut dan sekarang anak yang selalu ia banggakan sudah cacat dan belum lagi Karir-nya di bidang model apakah masih aman atau tidak mereka tidak tahu.
Ardiansyah berpikir apakah ini karma dari Tuhan untuk-nya? karena sudah mengkhianati istri yang sedang sakit dan bahkan mengusir anak semata wayang-nya karena hasutan dari istri dan anak sambung-nya? entah itu hanya ada di pikiran Ardiansyah.
karena hati-nya sudah sangat membenci Nesa hanya karena kata-kata anak dan istri yang belum tentu benar membuat ia buta dengan fakta kebenaran-nya. Ardiansyah hanya bisa terdiam mendengar tangisan anak istri-nya.
"aku mau papa membalas ini semua! " teriak Jessica murka.
"tidak bisa, papa tidak bisa membantu mu sekarang, " jawab Ardiansyah dengan cepat.
"tapi kenapa mas? apakah karena anak sialan itu? " tanya istri-nya dengan emosi.
Ardiansyah hanya diam, ia tidak bisa menjawab sejujurnya ia masih sangat menyayangi Nesa namun balik lagi ke awal jika ia tidak percaya akan kebenaran tentang putri kandungan-nya sendiri. istri Ardiansyah hendak kembali bicara namun terhenti karena manajer Jessica datang.
"maaf mengganggu kalian, tapi saya mau memberi informasi jika nona Jessica sudah tidak dapat berpartisipasi dalam dunia model, " ucap sang manajer.
"kenapa? kenapa aku tidak bisa menjadi model lagi? apa alasan-nya?! " tanya Jessica murka.
__ADS_1
manajer itu hanya menghela nafas kasar ia sempat berfikir apakah bos-nya ini tidak melihat keadaan diri-nya dan berita yang viral tadi? oh sungguh menyebalkan.
"nona apakah kamu tidak melihat video viral siang ini? dan juga apakah masih ada yang menerima model yang cacat seperti mu sekarang? " tanya manajer itu menusuk.
Jessica hanya diam, ia tidak bisa berkata-kata lagi karena keadaan-nya yang sudah cacat sudah pasti para majalah tidak akan mau menjadikan-nya model di majalah mereka terlebih video yang ia lihat tadi karena di beri tahu oleh mama-nya.
"baiklah dan mulai sekarang saya berhenti menjadi manajer anda nona, saya pamit, " ucap manajer itu dan pergi meninggalkan ruang rawat Jessica.
"NESA SIALAN KAMU HARUS MATI HIKS! " teriak Jessica tidak terima.
Ardiansyah dan istri langsung menenangkan Jessica yang sudah mulai memberontak bahkan melempar benda yang bisa ia jangkau di sekitar-nya. Jessica sedang mengalami kehancuran sedangkan Xavier dan Nesa sedang bermesraan di ruang rawat inap Nesa.
Nesa memang belum mengetahui kehancuran keluarga-nya, karena Xavier memang tidak memberi tahu secara rinci ia hanya memberi tahu akan membalas perbuatan keluarga Nesa yang sudah memperlakukan buruk Nesa.
"hey lepaskan aku! kamu berat tahu, " pinta Nesa dan mencoba untuk lepas dari pelukan Xavier.
"haha baiklah, apa kamu lapar? " ucap Xavier dan bertanya.
"lalu kamu mau makan apa? " tanya Xavier sambil membenarkan selimut Nesa.
"aku ingin makanan manis apa boleh? " tanya Nesa manja.
"hanya ini saja, kamu belum benar-benar sembuh, " ujar Xavier pasrah.
ia tidak bisa apa-apa jika Nesa sudah berubah menjadi sangat manja, Nesa yang mendengar itu sontak kesenangan ia langsung memeluk dan mencium pipi Xavier yang tanpa Nesa sadari membuat jantung Xavier berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"baiklah kamu mau apa? " tanya Xavier merubah raut wajah-nya agar tidak terlihat sedang salah tingkah.
"aku ingin makan macaroon rasa strawberry and susu putih, " jawab Nesa dengan cepat.
"baiklah aku suruh anak buah ku beli duku, "ujar Xavier dan mengelus pucuk kepala Nesa dan berjalan keluar untuk menemui bodyguard yang berjaga di depan pintu.
__ADS_1
setelah sudah menyuruh bodyguard itu Xavier kembali masuk kedalam dan menghampiri Nesa yang tersenyum dengan lebar ke arah-nya. Xavier duduk di kasur samping Nesa duduk.
ia menatap lekat-lekat Nesa membuat Nesa kebingungan dengan tingkah Xavier, Xavier membelai pipi Nesa membuat jantung Nesa berdegup dua kali lebih cepat, semakin lama jari Xavier semakin nakal Xavier mengelus bibir Nesa yang masih terlihat pucat itu.
"ka-kamu mau apa? " tanya Nesa saat Xavier mendekat kan wajah-nya.
"sttt, nikmati saja sayang, " jawab Xavier.
Xavier langsung melahap bibir ranum Nesa ia ******* dan mengecap rasa bibir Nesa yang manis... semakin lama Xavier ******* bibir-nya Nesa ikut menikmati permainan bibir Xavier yang cukup lincah itu.
dan saat sedang asik bercumbu sang bodyguard datang di waktu yang tidak tepat, bodyguard itu ingin keluar namun mereka berdua sudah melepaskan cumbuan mereka karena kedatangan bodyguard itu.
"ma-maaf tuan saya seperti-nya masuk di waktu yang tidak tepat, " ucap bodyguard itu sambil berbalik badan.
"ck kamu benar-benar mengganggu, baiklah mana pesanan ku? "jawab Xavier dengan kesal karena aksi-nya selalu di ganggu.
bodyguard itu memberikan pesanan Xavier dan langsung melenggang pergi, sedangkan Nesa masih nyaman di dalam dekapan Xavier ia malu karena terpergok oleh bodyguard Xavier membuat-nya masih sembunyi di dada bidang Xavier.
"sudah dia sudah pergi, ini pesanan mu, " ucap Xavier dan mengelus pucuk kepala Nesa.
"aku malu, " ujar Nesa membuat Xavier tertawa terbahak-bahak.
"hahah, sudah lagi pula dia sudah pergi cepat makan ini, " ucap Xavier sambil tertawa.
"jangan tertawa, " ucap Nesa sambil mengambil kantung berisi macaroon pesanan-nya.
Xavier hanya menggeleng saja melihat Nesa yang salah tingkah karena terpergok, sungguh menggemaskan wajah memerah Nesa bagi Xavier.
"Terima kasih, " ucap Nesa dan mulai menyantap macaroon strawberry kesukaannya dan di temani susu putih hangat.
__ADS_1