
"sebenarnya ada apa? apa yang terjadi? " tanya Nesa seraya mengelus kepala Xavier.
"kenapa kamu bisa ke sini? " bukannya menjawab Xavier justru balik bertanya dan menatap Daniel yang sedang berjalan keluar.
"Daniel ngehubungin aku, katanya kamu mual-mual kenapa? pulang aja yuk, " jawab Nesa dan mengajak Xavier pulang dengan lembut.
Xavier menatap Nesa dengan wajah menggemaskan nya, lalu ia menggeleng membuat Nesa kebingungan bertanya-tanya. Xavier kembali menghadap laptop dan kembali memeriksa berkas membiarkan Nesa terus mengelus kepalanya.
Nesa yang melihat Xavier kembali bekerja tahu masalah kenapa Xavier tidak mau pulang meski keadaan nya kurang baik, Nesa membiarkan saja jika mual nya kambuh lagi baru ia akan memaksa Xavier untuk pulang dari pada harus memaksakan diri bekerja.
Nesa juga bingung kenapa Xavier bisa mual-mual padahal tadi pagi masih baik-baik saja. namun ia mengingat jika ia tadi membeli alat tes kehamilan dan sadar mungkin saja apa yang di alami Xavier adalah gejala kehamilan Nesa.
15 menit berlalu dan mual kembali datang, Xavier yang tidak bisa fokus karena mual langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya lagi. Nesa tersenyum dan memanfaatkan keadaan ini untuk mengajak Xavier pulang.
Nesa menghampiri Xavier dan membantu Xavier mengeluarkan isi perutnya dengan mengurut tengkuk Xavier dengan pelan, setelah semuanya selesai Nesa memberikan tisu kepada Xavier yang langsung di terima oleh Xavier.
"pulang saja! jangan membantah lagi, masih ada hari esok pentingkan kondisi mu dulu, " ujar Nesa dan tidak mau di bantah.
"tapi sayang, pekerjaan ku sangat banyak harus segera di selesai kan, " ucap Xavier memelas.
"tidak, masih ada besok sekarang kita pulang aku tidak mau menerima bantahan! " ucap Nesa tegas dan meninggalkan Xavier di kamar mandi.
Xavier yang mendengar itu hanya pasrah dan keluar kamar mandi lalu mengikuti Nesa yang sudah selesai membereskan perlengkapan yang Xavier bawa tadi. keadaan Xavier benar-benar berantakan membuat Nesa harus merapihkan pakaian Xavier sebelum mereka keluar dari ruangan Xavier.
__ADS_1
setelah selesai Nesa menggandeng Xavier keluar dari ruangan nya, Xavier dengan lemas mengikuti langkah Nesa hingga sampai di loby, beruntung tadi pagi Xavier di antar supir jika tidak akan sulit mencari taksi lagi dengan kondisi Xavier yang lemah seperti itu.
mereka berdua masuk kedalam mobil dan Xavier langsung memeluk Nesa dengan manja dari samping sedangkan Nesa memaklumi dan mengelus pelan kepala Xavier dengan lembut, namun tiba-tiba Xavier bersuara.
"aku mau makan bubur ayam, " ujar Xavier memejamkan mata.
"baiklah nanti aku buatkan di rumah, " jawab Nesa.
mobil mulai berjalan meninggalkan perusahaan, Xavier terus memeluk Nesa sedangkan Nesa tengah mencari tasnya untuk memastikan jika alat tes kehamilan yang ia beli terbawa jika tidak akan sulit lagi untuk beli. Nesa belum bilang kepada Xavier tentang ia membeli alat tes kehamilan.
perjalanan menuju mansion sangat sepi hanya ada suara dari klakson yang bersahutan di jalan dan deruman mobil atau sepeda motor. mobil mulai memasuki kawasan mansion dan berhenti di pintu utama.
mereka berdua turun Xavier langsung berlari masuk ke dalam rumah karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isi perutnya kembali, bunda yang tengah berada di ruang keluarga melihat Xavier yang berlari ke kamar dengan keadaan pucat dan menahan sesuatu kebingungan.
"ada apa bunda? " tanya Nesa saat sudah di hadapan bunda.
"apa yang terjadi Nesa? kenapa Xavier sangat pucat? " tanya bunda penasaran.
"oh itu, Xavier mual-mual sejak tadi makanya seperti itu, " jawab Nesa sambil tersenyum.
"ouh, apakah kamu sudah membeli alat tes kehamilan? " tanya bunda.
ya memang usulan dari bunda untuk membeli alat tes kehamilan saat melihat Nesa sangat antusias saat makan rujak buah. Nesa mengangguk menjawab pertanyaan bunda dan izin untuk kedapur membuatkan bubur ayam untuk Xavier.
__ADS_1
"ya sudah bunda, aku mau buat bubur ayam dulu... Xavier memintanya tadi, " ujar Nesa meminta izin.
"baiklah hati-hati saat memasak, " nasihat bunda.
Nesa mengangguk lalu meninggalkan bunda di ruang keluarga dan langsung menuju dapur untuk membuatkan bubur ayam untuk Xavier agar laki-laki itu tidak menunggu lebih lama dan mengamuk nantinya. sesampainya di dapur Nesa langsung menyiapkan semua bahan-bahan dan mulai memasak satu persatu.
sedangkan Xavier sedang mengeluarkan kembali isi perutnya, setelah itu ia langsung mandi karena merasa tubuhnya sudah lengket. setelah selesai mandi Xavier memakai pakaiannya dan menunggu Nesa sambil merebahkan diri di ranjang.
"huh, apa yang di katakan Daniel tadi benar, aku akan bertanya kepada Nesa nanti! "
*****************
halo author bawa rekomendasi nih, jangan lupa mampir ya.
Sekadar Istri Siri
Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa.
Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut.
Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?
__ADS_1