Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
pulang


__ADS_3

sore harinya Xavier benar-benar pulang, dan sekarang Nesa tengah membereskan barang-barang Xavier sedangkan bunda menyelesaikan biaya administrasi. setelah selesai pemeriksaan dan sebenarnya belum boleh pulang Xavier tegap ingin pulang alasannya tidak mau istrinya kelelahan.


"sayang, mau aku bantu? " tawar Xavier yang duduk di atas kursi roda.


"tidak usah, sudah selesai nih tinggal nunggu bunda, " jawab Nesa dan merapikan koper ke dekat pintu.


Xavier hanya mengangguk saja. selagi menunggu bunda Nesa dan Xavier mengobrol ringan. bunda yang sudah selesai melakukan transaksi menghampiri Nesa dan Xavier di ruang rawat Xavier.


"sudah semua? kalau sudah ayok, " ujar bunda.


"kopernya di bawa sama supir aja bunda, " sahut Nesa saat bunda hendak mengambil koper.


"baiklah, " jawab bunda.


lalu mereka bertiga keluar dari ruang rawat inap menuju parkiran, Nesa mendorong kursi roda Xavier hingga parkiran baru di bantu saat masuk kedalam mobil. di dalam mobil mereka sama-sama terdiam tidak ada yang berniat bersuara.


selama perjalanan pada fokus dengan handphone masing-masing, Xavier pun sama ia juga fokus dengan handphone karena ingin menanyakan masalah perusahaan kepada sang ayah yang mengambil alih sementara hingga masalah selesai.


"kenapa? urusan perusahaan lagi? " tanya Nesa kepada Xavier.


"iya, aku cuma tanya aja sih tidak enak sama ayah, " jawab Xavier dan menaruh handphone nya kembali.


"ya mau bagaimana lagi? kondisi kamu kayak gini hanya bisa mengandalkan ayah dan Daniel saja, " ujar Nesa yang ada benarnya.


"sayang, kamu mikir ada yang aneh tidak dengan Daniel dan Shafira? " tanya Xavier karena kemarin Daniel terlihat sangat mesra dengan Shafira.

__ADS_1


"oh iya, aku juga sadar apa jangan-jangan mereka ada hubungan? " tebak Nesa sambil berpikir.


"hey, jangan gibah nanti juga di kasih tahu, " sahut bunda yang ada di depan.


"aih bunda tidak seru, " jawab Xavier dan Nesa barengan.


bunda hanya menggeleng, entah sejak kapan Xavier jadi suka gibah bahkan sahabat nya sendiri yang ia gibahin, begitu juga Nesa meski terlihat tidak pernah membicarakan orang nyatanya setiap orang pasti pernah membicarakan satu sama lain, benar tidak?


perjalanan menuju Mansion keluarga Miller tidak membutuhkan waktu yang lama, karena jalanan yang masih senggang membuat laju mobil tidak berhenti sama sekali. sesampainya di kediaman Miller.


Nesa membantu Xavier untuk turun dari mobil, ia memapah Xavier masuk kedalam rumah dan langsung ke kamar karena Xavier masih membutuhkan istirahat yang cukup dan juga harus langsung di pasang infus lagi.


koper di bawakan oleh supir hingga masuk kamar, dan dokter pribadi yang sudah menunggu kepulangan Xavier kembali memeriksa Xavier dan kembali memasang infus di tangan kekar Xavier.


"tuan muda sebaiknya istirahat, jangan terlalu banyak gerak dulu kondisi tuan muda masih belum stabil... baiklah tidak ada yang saya lakukan lagi kalau begitu saya permisi, " ucap sang dokter setelah memeriksa Xavier.


setelah itu Nesa kembali masuk kedalam kamar dan menyuruh Xavier untuk istirahat sedangkan ia akan membereskan koper yang belum di tata kembali. Nesa membantu Xavier untuk merebahkan diri setelah sudah Nesa menarik selimut hingga batas dada dan membiarkan Xavier untuk istirahat.


lalu karena Nesa belum mandi ia memilih untuk mandi terlebih dahulu baru akan membereskan koper yang berisi pakaian Xavier.


...****************...


Shafira yang hendak menjenguk Xavier sekalian bertemu dengan Nesa, di kabarkan jika sekarang Xavier sudah mau pulang awalnya Shafira hendak membantu namun Nesa melarang dan menyuruhnya untuk datang ke kediaman keluarga Miller malam nanti.


karena tidak jadi ke rumah sakit, Shafira memilih untuk ke cafe terdekat di tempat nya berada dan tidak menyangka ia akan bertemu dengan Daniel dan akhirnya mereka duduk di satu meja yang sama.

__ADS_1


"kamu mau kemana rapih sekali? " tanya Daniel memecahkan suasana.


"anu tadinya mau ke rumah sakit tapi katanya sudah pulang mungkin nanti habis isya aku ke rumah mereka, ingin bertemu Nesa juga, " jawab Shafira seadanya.


"ah kebetulan aku juga akan ke sana bagaimana jika kita berangkat bersama?" tawar Daniel.


"apa boleh? tapi aku takut merepotkan kamu, " ucap Shafira senang.


"tidak apa, tidak merepotkan, " jawab Daniel.


bukan merepotkan malah Daniel senang sejak bertemu dengan Shafira dia menyukai wanita itu namun tidak berani bicara, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya.


sama seperti Daniel, Shafira juga jatuh hati kepada laki-laki itu namun baru-baru ini tidak selama Daniel. kondisi mereka sekarang sangat canggung tidak ada yang berbicara beruntung ada pelayan yang menghampiri mereka sambil membawa pesanan mereka.


mereka berdua fokus dengan makanan mereka, sesekali Daniel mencuri pandang ke arah Shafira mungkin setelah selesai makan ia akan mengungkapkan nya. tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka makan sekarang mereka kembali terdiam.


"Shafira, " panggil Daniel.


"ya? " sahut Shafira.


"ak-aku menyukai mu! sudah lama aku menyukaimu namun aku tidak berani mengatakannya terlebih kamu saat itu masih memiliki kekasih... sekarang karena kamu sendiri aku menyatakan perasaan ku! apa kamu mau menjadi kekasihku? " ujar Daniel gugup.


Shafira yang mendengar itu tentu saja terkejut, wajah terkejut Shafira membuat Daniel takut akan di tolak, namun saat wajah Shafira berubah menjadi senyum membuat Daniel bingung.


"kamu serius? jadi aku tidak bertepuk sebelah tangan nih? " tanya Shafira sedikit terkekeh.

__ADS_1


"hah? jadi kamu juga suka sama aku? gimana jawabanmu? " tanya Daniel tidak percaya jika Shafira juga menyukainya.


tidak menjawab, Shafira hanya mengangguk saja Daniel yang melihat itu tentu saja sangat senang ia langsung memeluk Shafira tanpa rasa malu. namun karena Shafira yang malu langsung mengajak Daniel membayar makanan mereka dan pergi dari cafe.


__ADS_2