
Nesa yang haus terbangun dari tidurnya dan langsung menuju dapur. ia mengambil minum dan tanpa sengaja cangkir yang ia pegang jatuh dan pecah. perasannya pun tiba-tiba sangat buruk hingga jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"astaga ada apa ini? semoga saja tidak ada apa-apa, " gumam Nesa.
lalu ia mulai membereskan pecahan kaca yang berserakan. saat tengah membereskan pecahan kaca, bunda turun dengan membawa handphone Nesa dengan terburu-buru. Nesa kebingungan saat bunda sampai di hadapannya. hingga dua kata yang keluar dari mulut bunda Nesa benar-benar terkejut.
"Nesa! Xavier kecelakaan! " ucap bunda terengah-engah.
"a-apa? Xavier kecelakaan? " tanya Nesa memastikan.
"sudah, cepat kamu bereskan itu dan bersiap untuk ke rumah sakit, bunda bangunkan ayah dulu... kamu harus tenang oke Xavier pasti tidak akan kenapa-kenapa, " ujar bunda dan di angguki oleh Nesa.
"baiklah! bunda cepat ya hiks, " ucap Nesa dan langsung menangis sambil mulai memindahkan pecahan kaca.
Nesa menangis dan dengan cepat Nesa membuang pecahan gelas sambil menangis. firasatnya sudah mengatakan jika akan terjadi hal buruk hari ini, dan ia tidak menyangka jika itu benar-benar terjadi kepada suaminya. Nesa berjalan dengan pelan menuju kamar untuk mengambil jaket dan dompet.
__ADS_1
meski ia sudah panik namun ia harus bersikap tenang dan tidak terburu-buru karena ia tengah mengandung besar, bahaya jika ia jatuh nanti. Nesa kembali ke bawah dan mendapati bunda dan ayah yang sudah siap.
lalu mereka bertiga meminta supir untuk mengantar mereka menuju rumah sakit. di dalam mobil nesa terus menangis di dalam pelukan bunda. ayah yang duduk di samping supir masih mengantuk namun karena terkejut dengan berita putranya kecelakaan membuatnya khawatir akan terjadi apa-apa kepada putra tunggalnya itu.
"sayang tenanglah, Xavier pasti akan baik-baik saja, " ucap bunda sambil memeluk erat Nesa.
"semoga saja bunda, " sahut Nesa dan menenggelamkan diri di pelukan bunda.
tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di rumah sakit. mereka semua turun dari mobil dan langsung menuju resepsionis untuk bertanya korban kecelakaan berada di ruang mana. saat sudah tahu dan di antar oleh salah satu perawat.
"bertahanlah, demi aku dan anakmu sayang, " batin Nesa berbicara.
Nesa memejamkan mata, berusaha untuk tidak menangis namun tetap saja ia hanya manusia biasa yang dapat merasakan sedih terlebih itu adalah orang terdekat dan orang yang paling ia cintai.
"kita berdoa saja sayang, semoga Xavier baik-baik saja, " ujar bunda yang senantiasa berada di sampingnya.
__ADS_1
"iya bunda, aku percaya bahwa Xavier akan baik-baik saja... " sahur Nesa dan tersenyum paksa.
mereka kembali berpelukan untuk saling menguatkan, ayah yang melihat itu juga sedih tidak mungkin Xavier akan meninggalkan mereka dengan cepat. pasti anaknya itu akan bangun demi keluarga nya demi bayi yang belum lahir di dalam perut Nesa.
ayah berdiri di depan pintu UGD berharap dokter cepat keluar dan mengatakan jika putranya baik-baik saja. namun sudah sejam berlalu belum ada dokter yang keluar bahkan hanya ada perawat yang keluar masuk untuk mengambil cairan infus dan darah.
"ayah, kenapa belum keluar? apa Xavier akan baik-baik saja kan? dia tidak akan meninggalkan kita kan? hikss, " tanya Nesa dan berdiri mendekati ayah.
"tenang nak, Xavier pasti selamat kamu tenang lah, " ungkap ayah tidak yakin.
lalu tiba-tiba pintu UGD terbuka dan keluarlah seorang dokter yang menangani Xavier. wajahnya terlihat lelah, Nesa, bunda dan ayah langsung menghampiri dokter itu untuk menanyakan keadaan Xavier.
"dengan keluarga pasien? " tanya dokter.
"ya, kami keluarga nya... bagaimana dengan keadaan putraku dokter? " tanya ayah mewakili yang lain, sedangkan Nesa masih saja menangis di dalam pelukan bunda.
__ADS_1