
Pagi hari menyapa dan sekarang Xavier tengah menyiapkan sesuatu untuk sang istri dari pagi ia sudah sibuk sendiri dan ketika waktu sarapan sudah hampir tiba Xavier menyuruh Nesa untuk menutup mata dengan kain yang sudah ia sediakan sejak subuh tadi.
"Mas, apa ini? Jangan tinggalin aku ya? Aku takut, " Ucap Nesa waspada.
"Tenang sayang, aku tidak akan meninggalkan mu pegang tanganku, " Jawab Xavier sambil menggandeng Nesa dan membawa Nesa masuk ke dalam mobil.
Setelah mereka sudah berada di dalam mobil Xavier menyuruh supir untuk menjalankan mobil menuju tempat yang sudah di siapkan dari jauh-jauh hari, selama perjalanan pun Nesa takut namun ia percaya kepada Xavier jadi ia mencoba menghilangkan rasa ketakutan itu di hatinya.
Sekitar 15 menit perjalanan mereka menuju pelabuhan. Sesampainya di pelabuhan Xavier mengajak Nesa turun perlahan-lahan dan mengajak Nesa naik ke atas perahu yang cukup besar dan mewah yang sudah ia sewa.
"Eh kok, ini di mana? " Tanya Nesa terkejut karena yang ia pijak sedikit bergoyang.
"Nanti kamu akan tahu sayang, ikuti aku ya? " Pinta Xavier dan menggiring nesa menuju atas perahu yang sudah ia design dengan romantis.
Setelah sampai di atas Xavier membuka penutup mata Nesa, Nesa belum membuka mata ia masih takut namun setelah intruksi dari Xavier ia membuka mata dan terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang. Meja yang penuh dengan makanan untuk sarapan dan pemandangan yang langsung ke arah laut membuat Nesa sangat bahagia.
Nesa langsung memeluk Xavier dengan haru, Xavier membalas pelukan Nesa yang cukup erat itu dengan tiikalah eratnya lalu ia mengajak Nesa untuk duduk dan sarapan sedangkan perahu sudah berlayar sejak mereka menginjak kan kaki di atas.
"Ini kamu yang menyiapkan nya? " Tanya Nesa sambil menatap lurus ke arah Xavier.
"Ya tentu, aku ingin membuat mu bahagia sayang, " Jawab Xavier dan ia mengambil roti dan di supi ke arah Nesa.
Nesa menerima suapan itu dengan senyum yang mengembang tanpa sadar ia meneteskan air mata bukan air mata sedih melainkan air mata bahagia, Xavier yang tidak mengerti kenapa Nesa menangis ia malah menjadi panik sendiri.
"Hey ada apa? Apa aku salah bicara? Maafkan aku sayang, " Ucap Xavier panik dan langsung memeluk Nesa.
__ADS_1
"No, tidak apa-apa aku menyukainya terimakasih, " Jawab Nesa sambil menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Xavier.
"Aku pikir ada apa, apa kamu suka? " Tanya Xavier sambil memandang ke arah laut.
Begitu juga dengan Nesa ia juga memandang ke arah laut biru yang luas, Nesa mengangguk ia memegang lengan Xavier dengan lembut, Xavier tersenyum dan memegang tangan Nesa yang tengah memegangi lengannya itu.
"Sudah ayok sarapan setelah itu kita nikmati pemandangan ini, " Ujar Xavier yang langsung di turuti oleh Nesa.
"Apa ini tidak terlalu kebanyakan? Nanti kalau tidak habis bagaimana? " Tanya Nesa ngeri melihat sarapan yang sangat banyak.
"Jika tidak habis ada pak supir dan yang lain, gampang bukan? " Ucap Xavier yang memang ada benarnya juga.
Nesa menyetujui dan memilih untuk memakan sarapannya dengan sesekali memandang ke arah laut, begitu juga dengan Xavier ia terus memperhatikan wajah cantik Nesa yang sangat bahagia hanya karena hal sepele seperti ini.
"Sepertinya ini kurang romantis, " Celetuk Xavier tiba-tiba.
Bukannya menjawab Xavier justru tersenyum dan berdiri dari duduknya, lalu ia menarik tangan Nesa pelan dan membawa Nesa ke dekat penghalang perahu agar tidak jatuh dan menempatkan Nesa di depannya lalu ia memeluk Nesa dari belakang, awalnya Nesa tidak mengerti namun setelah Xavier memeluk dirinya dari belakang sekarang ia mengerti.
"Bagaimana, lebih indah bukan? " Tanya Xavier sambil mengecup pipi Nesa.
"Ya memang indah, " Jawab Nesa sambil melihat ke arah laut lepas.
Mereka menikmati pagi yang cerah ini dengan berlayar di laut lepas, menikmati dengan orang yang kita cintai itu lebih bahagia dari pada menikmati nya sendiri, memang memiliki kesamaan hanya saja pasti berbeda. Saat sedang asik menikmati pemandangan tiba-tiba suara perut Nesa berbunyi membuat mereka berdua tertawa lepas.
Kruyuk... Kruyukkk
__ADS_1
"Hahah maaf, aku masih lapar, "
"Astaga, ya sudah kita habiskan dulu sarapan setelah ini apakah kamu mau ke pantai? " Ujar Xavier dan bertanya.
Mereka berdua kembali duduk di meja makan dan kembali menikmati sarapan yang baru habis setengah di piring mereka masing-masing, Nesa berpikir sebentar akan tawaran dari Xavier namun tidak lama kemudian ia mengangguk setuju.
"Baiklah, aku ingin lihat bedanya pantai di sini dan di Indonesia, "
...PROMOSI KARYA...
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
__ADS_1
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?