
sudah lima hari Nesa di rawat di rumah sakit, dan hari ini hari kepulangan Nesa dengan di bantu bunda yang mengemas pakaian-nya dan Xavier yang membawa koper milik-nya, Nesa benar-benar senang hari ini karena bisa pulang ia benar-benar sudah bosan di rumah sakit.
"sudah sayang? " tanya bunda ke Nesa.
"sudah bunda, " jawab Nesa sambil tersenyum.
"ya sudah ayok sekarang kita pulang, " ucap bunda dan menggandeng Nesa dan membiarkan Xavier membawa koper milik Nesa.
mereka kembali ke apartemen Xavier di mana Nesa tinggal sebelum mereka melaksanakan pertunangan, bunda sengaja memisahkan mereka berdua untuk beberapa hari tidak bertemu sebelum pertunangan tiba.
sesampainya di dalam mobil, Xavier hendak protes dengan pernyataan bunda-nya yang tiba-tiba namun melihat wajah galak sang bunda ia jadi mengurungkan niat-nya, ya semoga saja ia siap tidak bertemu selama tiga hari dengan Nesa.
"bunda, kasihan tuh pacarku tidak bisa bertemu 3 hari saja sudah seperti itu, " ujar Nesa yang mana semakin membuat Xavier kesal.
"biarkan saja, biarkan dia merasakan tidak bisa bertemu, toh hanya 3 hari bunda dulu sebulan, " ucap bunda ikut memanas-manasi.
"oh ayolah, kalian kenapa menjadi sangat menyebalkan seperti ini sih? " tanya Xavier dengan wajah kesal.
"hahaha, baiklah kamu fokus saja menyetir, " ucap bunda pada akhirnya mengalah.
Nesa hanya tertawa melihat tingkah Xavier yang memang tidak mau berpisah dengan-nya, namun apa daya ini tradisi keluarga setiap calon pengantin tidak boleh bertemu dalam waktu yang sudah di tentukan, namun karena Xavier menolak untuk tidak bertemu selama sebulan akhirnya di ubah menjadi tiga hari pun karena berdebat tadi pagi.
karena tradisi turun temurun, Xavier dan Nesa hanya bisa melaksanakan saja, toh hanya sebentar tidak begitu lama. selama perjalanan menuju apartemen, Xavier masih ngambek namun tidak di pedulikan oleh kedua wanita yang duduk di bangku penumpang dan asik mengobrol itu.
"aku bukan supir kenapa aku merasa jadi supir ya? " ujar Xavier entah pada siapa.
__ADS_1
"haha oh ayolah sayang, jangan ngambek gitu toh aku ngobrol sama bunda bukan sama laki-laki lain, " ucap Nesa yang sadar akan ujaran dari Xavier.
"ya aku tahu, tapi aku merasa jadi orang ketiga di sini, " jawab Xavier sedikit sinis.
"astaga, kamu sangat cemburuan toh bunda juga jarang-jarang mengobrol seperti ini dengan Nesa, " ucap bunda menggeleng kepala tidak habis pikir dengan sikap Xavier sekarang.
tidak lama dari itu mereka sampai di apartemen elit, mereka bertiga turun dan seperti tadi pagi hari ini Xavier menjadi babu kedua wanita itu, ia berjanji saat bunda-nya pulang nanti ia tidak akan melepaskan dan memberikan perhitungan kepada Nesa yang sejak pagi tadi lebih memilih mengobrol dengan bunda dari pada diri-nya.
sesampainya di unit apartemen milik Xavier, mereka bertiga masuk Xavier langsung menuju kamar karena menaruh koper milik Nesa terlebih dahulu sedangkan kedua wanita itu tengah berada di dapur membuat makan siang mereka.
"bunda biar aku saja yang masak, " ujar Nesa sungkan.
"tidak perlu sungkan seperti itu, sebaiknya kita masak bersama saja ya? " ujar bunda dan di turuti oleh Nesa.
mereka berdua asik dengan memasak sambil mengobrol sedangkan Xavier menunggu masakan jadi dengan menghabiskan bermain game yang ada di apartemen-nya. selama itu pula ia memikirkan bagaimana cara agar tradisi ini tidak terlaksana namun tetap saja ia tidak menemukan cara apapun.
ia kembali menuju dapur membuat bunda bertanya-tanya karena datang sendiri dan Nesa mengambil dua tutup panci yang terbuat dari stenlis dan bunda yang mengerti maksud Nesa hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah calon menantu-nya itu.
Nesa berjalan mengendap-endap seperti maling menuju Xavier yang masih fokus dengan game, meski bosan ia tetap melanjutkan bermain game-nya. Nesa berdiri tepat di belakang Xavier dan siap untuk membenturkan kedua tutup panci itu tepat di samping telinga Xavier.
"1... 2...3..." belum sempat ia memukul Xavier sudah berbalik badan menghadap-nya.
"tidak perlu dengan cara itu, aku sudah mengetahui kedatangan mu, " ucap Xavier mengagetkan Nesa.
"eh, ihhh kenapa kamu bisa tahu? " ucap Nesa kesal.
__ADS_1
Xavier hanya menggeleng, lalu ia bangkit dari duduk-nya dan membiarkan Nesa yang kesal sendiri karena aksi-nya gagal dan di tambah sekarang di tinggal oleh Xavier membuat ia semakin kesal. Nesa menyusul Xavier dan mencubit pinggang Xavier namun yang di cubit tidak bereaksi apapun membuat ia menyerah dan memilih untuk duduk dan memakan makan siang-nya.
"hahah, sudah sebaiknya sekarang kita makan, " ucap bunda yang sejak tadi cekikikan melihat aksi Nesa yang gagal.
"iya bunda, " jawab kedua pasangan itu.
mereka bertiga melaksanakan makan siang, setelah selesai makan siang bunda berpamitan kepada mereka untuk pulang awal-nya bunda memaksa Xavier untuk ikut pulang namun apa daya, Xavier masih mau berlama-lama dengan Nesa membuat bunda hanya bisa membiarkan-nya saja.
"jangan berbuat macam-macam sebelum menikah... awas kamu Xavier, " nasehat bunda kepada Xavier dan setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan apartemen.
setelah kepergian bunda, Nesa dan Xavier kembali masuk kedalam... hari ini Xavier akan bermanja kepada Nesa sebelum besok mereka tidak bisa bertemu karena tradisi turun temurun itu beruntung ia bisa bernegosiasi dengan bunda meski ia harus mgocek dana yang cukup banyak.
mereka berdua sekarang berada di ruang televisi, Nesa menonton televisi sedangkan Xavier menidurkan diri di paha Nesa sambil memainkan handphone, Nesa yang melihat tingkah manja Xavier hanya bisa menggeleng.
namun tak ayal, Nesa terus mengelus dan memainkan rambut lebat dan hitam milik Xavier membuat Xavier semakin nyaman dan tidak mau berpisah dengan Nesa apalagi dengan jangka waktu yang cukup lama.
"apa tidak bisa kita tidak usah mengikuti tradisi ini? " tanya Xavier manja.
"hey, ini sudah turun temurun jadi harus di ikuti... hanya tiga hari sayang, " ucap Nesa memberikan pengertian kepada Xavier.
"tapi itu lama, " ucap Xavier dengan wajah yang membuat Nesa gemas.
"sudahlah, turuti saja hanya tiga hari memang-nya kamu mau sebulan hm? " tanya Nesa sambil terus mengelus kepala Xavier.
"No, aku tidak mau baiklah tiga hari, " ucap Xavier pada akhirnya pasrah.
__ADS_1
Nesa menggeleng dan ia kembali fokus menonton televisi sambil terus mengelus kepala Xavier yang lama kelamaan semakin nyaman dan tertidur di pangkuan Nesa membuat Nesa gemas sendiri di buat-nya.