Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
penculikan


__ADS_3

"Xavier sudahlah, aku bisa sendiri kamu tidak perlu khawatir, " pinta Nesa.


"firasat ku tidak enak Nesa! biar ku antar jangan ngeyel, " ucap Xavier tegas.


sore ini Nesa ingin mengunjungi Shafira, karena ia sudah lama juga tidak main ke sana tapi perdebatan antara diri-nya dan Xavier malah terjadi lama. ya sejak tadi Nesa tidak berangkat-berangkat karena Xavier ingin mengantar Nesa ke kostan Shafira, namun Nesa tidak mau membuat perdebatan ini semakin panjang. entah kenapa Xavier merasakan hal yang bahaya akan menimpa Nesa makan dari itu ia kekeuh ingin mengantar.


"Xavier pleaseee, aku bisa sendiri... aku janji akan pulang dengan selamat! " ujar Nesa memohon dan berjanji.


"aku tidak setuju aku mau ikut! " tegas Xavier.


Nesa menggeleng ia tidak mau Xavier ikut, terlebih laki-laki itu belum istirahat. ingin Nesa Xavier istirahat toh ia hanya akan ke rumah Shafira dan juga jarak-nya tidak terlalu jauh jadi aman saja kan, saat ia pergi sendiri?


"tidak Xavier, sebaiknya kamu istirahat! kamu juga kekurangan tidur... lihat mata mu itu sudah hampir seperti panda, " ucap Nesa sedikit mengejek agar Xavier menurut dan sedikit berbohong .


"" aku tidak percaya dengan ucapan mu itu, " ujar Xavier dingin.


pupus sudah harapan Nesa, Xavier sungguh benar-benar tidak mau istirahat. Nesa menghembuskan nafasg usar ia menatap Xavier yang juga tengah menatap-nya dengan datar, Nesa tersenyum dan kembali memohon serta merengek.


"ku mohon aku berjanji tidak akan pulang larut ya? kumohon Xavier, " pinta Nesa merengek.


Xavier yang tidak bisa mendengar rengekan Nesa akhirnya mengangguk dengan tidak rela. ia menghembuskan nafas gusar dan menyetujui jika Nesa pergi sendiri namun bukan Xavier yang akan mengizinkan gadis-nya sendiri.


"baiklah kamu boleh pergi... tapi ingat jangan pulang larut! " ujar Xavier dan menasehati.


tentu saja hal itu membuat Nesa senang, Nesa melompat-lompat dan langsung menerjang Xavier dengan pelukan-nya. Xavier hanya menggeleng dengan tingkah Nesa yang seperti anak kecil sehabis di berikan permen lalu ia membalas pelukan Nesa.


"baiklah aku pergi dulu, aku janji tidak akan pulang larut, " ucap Nesa.


Xavier mengangguk saja. Nesa berjalan meninggalkan Xavier menuju halte bus untuk ia naiki hingga sampai halte dekat kostan Shafira. namun setelah Nesa berada di halte bus Xavier dengan cepat mengambil mobil satu-nya lagi untuk mengikuti Nesa. ia tidak mau nanti terjadi apa-apa kepada Nesa.

__ADS_1


Xavier diam-diam mengikuti bus yang Nesa naiki dengan jarak yang aman dan tidak akan di ketahui oleh Nesa karena jarak yang cukup jauh. Nesa memainkan handphone-nya dan menelepon seseorang.


Nesa mencari nama Shafira untuk menghubungi sahabat-nya itu jika ia sudah di perjalanan. tanpa Nesa ketahui ada seorang laki-laki mengenakan masker dan hoodie memperhatikan-nya sejak tadi.


"halo, aku sudah di perjalanan, kamu di mana? "


"ah ya, aku sedang perjalanan pulang sehabis dari minimarket, "


"baiklah tunggu aku di sana ya, dan ya jangan lupa siapkan cemilan, "


"Baiklah-baiklah akan aku siapkan untuk sahabat tercinta ku, "


"ya sudah kalau begitu aku tutup ya? "


"ya sampai jumpa, "


tut


Nesa yang awalnya tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan-nya sejak tadi. sekarang ia merasakan jika seseorang memperhatikan-nya, nesa menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang memanglingkan wajah-nya.


Nesa takut melihat orang itu ia langsung menjadi waspada, seperti-nya ia salah telah menolak Xavier untuk mengantar-nya. dan selama di perjalanan pun laki-laki itu terus memperhatikan Nesa bahkan sampai Nesa turun laki-laki itu ikut turun dan mengikuti Nesa dari jarak yang jauh.


"kenapa dia mengikuti ku? " tanya Nesa pelan.


"aku menyesal tidak menerima tawaran Xavier, "


Nesa berjalan cepat tanpa dia duga laki-laki itu berlari ke arah-nya dengan cepat. Nesa lari namun lari-nya kalah cepat dengan laki-laki itu dan hingga tangan Nesa di tarik oleh laki-laki itu.


"lepaskan! TOLONG! " teriak Nesa.

__ADS_1


"husttt, percuma kamu berteriak di sini sepi, " ucap laki-laki itu.


Nesa melihat sekitar dan benar saja, jalanan itu benar-benar sepi. Nesa memberontak agar tidak di bawa oleh laki-laki itu. namun karena kekuatan Nesa dan laki-laki itu berbanding jauh, Nesa bisa di seret hingga beberapa meter tempat Nesa tadi berdiri hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.


bughh


laki-laki itu tersungkur ke tanah setelah mendapat kan bogeman mentah dari seseorang. Nesa bersyukur karena laki-laki itu jatuh namun hanya sebentar laki-laki itu bangkit dan ingin membalas memukul orang yang sudah memukul-nya.


tapi pukul-nya tidak sampai hingga ke wajah orang yang sudah memukul-nya, tangan laki-laki itu yang mengepal melayang di udara karena di tahan oleh orang itu. Nesa yang mengetahui orang itu siapa menganga tidak percaya.


"Xavier sudah, sebaiknya kita pergi saja, " pinta Nesa yang hampir menangis.


"jangan pernah melukai kekasih ku! jika tidak jangan salahkan aku jika salah satu tangan mu tidak utuh! " ancam Xavier.


lalu Xavier melepaskan genggaman nya dengan kasar, ia menarik Nesa menjauh dari laki-laki itu yang tengah kesal karena misi-nya belum berhasil, lalu laki-laki itu pergi dari tempat itu untuk menemui siapa yang menyuruh-nya.


sedangkan Xavier dan Nesa yang berada di dalam mobil, hanya berdiam. Nesa sudah memeluk Xavier dan meminta maaf karena tidak mendengar kan ucapan laki-laki itu, namun Xavier tetap diam dan tidak berbicara sama sekali.


"maafkan aku seharusnya tadi aku menurutmu, " ujar Nesa mulai menangis.


Xavier menghela nafas melihat Nesa yang menangis sungguh Xavier benar-benar tidak tega jika harus melihat Nesa menangis seperti ini. Xavier membalas pelukan Nesa namun masih belum mengeluarkan suara membiarkan Nesa menangis ketakutan.


"pulang, " cicit Nesa.


"baiklah... tapi jangan menolak seperti tadi dan menurut lah, " ucap Xavier tenang padahal ia tengah menahan amarah.


Nesa mengangguk, setelah Nesa sudah lebih tenang Xavier menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat kejadian. beruntung Xavier mengikuti Nesa jika tidak entah seperti apa nasib Nesa nanti-nya. selama perjalanan pun Xavier hanya diam Nesa yang mengetahui itu menjadi merasa bersalah juga takut saat melihat wajah datar milik Xavier.


"kita pulang ke rumah ku, " ujar Xavier tidak terbantahkan.

__ADS_1


Nesa hanya mengangguk dan menurut, saat ini ia benar-benar masih di ke adaan yang ketakutan dengan kejadian tadi namun Xavier menenangkan meski dengan wajah datar-nya bahkan hingga sampai ke kediaman Xavier ia tetap diam dan hanya memeluk Nesa untuk menenangkan.


__ADS_2