Mr. AROGANT

Mr. AROGANT
Pisang Coklat


__ADS_3

karena perdebatan tadi di menangkan oleh Xavier, Nesa hanya bisa diam terduduk sambil menunggu pisang coklat-nya selesai di buatkan. dengan wajah yang cemberut Nesa menatap kesal kepada Xavier yang berada di hadapan Nesa yang hanya fokus kepada handphone-nya.


"ckk.. kenapa kamu malah fokus dengan handphone mu? " tanya Nesa kesal.


Xavier yang mendengar pertanyaan kesal dari Nesa mengangkat wajah-nya menatap Nesa yang tengah cemberut, Xavier tersenyum namun ia tidak menanggapi pertanyaan kesal Nesa dan kembali fokus dengan handphone-nya karena ia ada urusan penting dengan Daniel.


Nesa yang di diami semakin kesal, ia sangat bosan terlebih handphone-nya tertinggal di kamar tamu tadi, dan jadilah ia hanya memperhatikan Xavier bermain handphone sambil menunggu pisang coklat-nya jadi.


"apakah pisang coklat-nya masih lama? " tanya Nesa sambil melihat ke langit-langit ruang keluarga yang cukup tinggi.


"mungkin sebentar lagi jadi, bersabarlah sedikit, " jawab Xavier tanpa menoleh.


tidak lama dari itu, seorang pelayan wanita datang dengan membawa 2 piring isi pisang coklat penuh dan menaruh-nya di atas meja, setelah itu pelayan itu pamit undur diri untuk kembali bekerja.


mata Nesa berbinar kala melihat makanan sederhana namun sangat enak itu, terlebih coklat yang meleleh di atas pisang yang masih hangat membuat Nesa semakin tidak sabar untuk memakan-nya. saat hendak mengambil satu pisang coklat tangan Nesa di tahan oleh Xavier.


"kenapa? aku sudah tidak sabar memakan-nya, " tanya Nesa tidak sabaran.


"itu ada garpu jangan menggunakan tangan langsung, " ucap Xavier memberi tahu.


"oh hehe iya, " ucap Nesa cengengesan karena baru melihat ada garpu.



Nesa mengambil garpu itu dan menusuk salah satu pisang coklat setelah itu melahap-nya dengan senang, sudah lama juga ia tidak memakan pisang coklat terakhir saat masih di bangku perkuliahan. sedangkan Xavier menggeleng melihat cara makan Nesa seperti anak kecil hingga belepotan di sana sini.


Xavier mengambil tisu lalu mengelap coklat yang berada di pipi dan ujung bibir Nesa. perlakuan Xavier membuat jantung Nesa berdegup 2 kali lebih cepat dari biasanya, Nesa menatap wajah Xavier yang sedang fokus membersihkan coklat di pipi-nya.

__ADS_1


perlakuan itu membuat Nesa malu, pipi-nya sudah memerah layak-nya tomat yang siap di panen. Xavier bukan tidak sadar ia dengan jelas mendengar degup jantung Nesa membuat jantung-nya seperti lari marathon juga. namun ia menetralkan wajah menjadi datar agar tidak terlihat jika ia sedang gugup.


"te-terima kasih, " ucap Nesa setelah Xavier selesai membersihkan coklat yang berada di wajah-nya.


Xavier hanya mengangguk lalu ia kembali memakan pisang coklat menganggap tidak terjadi apa-apa, sedangkan Nesa kembali melanjutkan makan-nya dengan perasaan canggung juga malu yang tiada tara.


"setelah ini kamu mau kemana? " tanya Xavier memecahkan kecanggungan di antara mereka.


"aku belum tahu... eh BUKANKAH SEHARUSNYA AKU BEKERJA HARI INI? " Ucap Nesa dan berteriak ketika mengingat sesuatu.


"ouh itu... nanti saja lagi pula aku sudah minta Daniel untuk mengirim semua file dan juga berkas ke sini, jadi kita bisa kerjakan di rumah, " jawab Xavier santai.


"apa kamu memang sesantai ini? " tanya Nesa kebingungan sambil memasukkan satu potong pisang kedalam mulut.


"tidak juga, aku hanya tidak mau kamu kelelahan, " jawab Xavier dan kembali fokus dengan handphone-nya.


"oh dan satu hal lagi, setelah kita menikah kamu tidak usah bekerja lagi cukup di rumah saja, " lanjut Xavier memberi tahu.


"tidak-tidak! aku tidak mau, aku akan tetap bekerja lagi pula aku bekerja di perusahaan mu, " ujar Nesa menolak keras.


"kenapa kamu menolak? aku bisa memberikan segalanya untuk mu apa itu tidak cukup? " ucap Xavier dan bertanya.


"bukan itu maksud ku, "


"lalu apa maksud mu?! "


"huftt... aku akan berhenti bekerja jika nanti aku hamil dan setelah melahirkan aku juga tidak akan bekerja lagi aku memilih untuk menjaga anak saja maksud ku itu, " jelas Nesa.

__ADS_1


"ouh baiklah... setelah menikah sebaiknya kita cepat buat anak agar kamu tidak usah bekerja lagi, " ucap Xavier datar.


Nesa yang mendengar itu hanya bisa menggeleng, mau bagaimana pun ia akan kalah berdebat dengan Xavier jadi ya sekarang ia lebih memilih diam toh benar juga perkataan Xavier jika memiliki anak cepat lebih karena nanti tidak kesepian lagi.


"baiklah-baiklah terserah kamu saja, " ujar Nesa malas dan kembali memakan pisang coklat-nya.


tidak lama dari itu, sosok makhluk datang untuk mengantar pesanan sangat bos... Daniel siapa lagi jika bukab laki-laki itu, laki-laki itu membawa file dan juga berkas yang di minta Xavier dan langsung memberikan file dan berkas yang cukup banyak kepada Xavier.


"baiklah ini, aku tidak bisa lama di sini sampai jumpa, " ujar Daniel dan kembali pergi.


"astaga banyak sekali pekerjaan hari ini! " ucap Nesa sedikit terkejut melihat banyak-nya berkas dan file yang di bawa.


"seperti-nya kita akan lembur sayang, " ucap Xavier sambil menatap malas ke arah berkas itu.


"ya memang benar, tapi kerjakan saja setelah makan siang karena sebentar lagi waktu makan siang, " ujar Nesa dan langsung di angguki oleh Xavier.


setelah itu mereka kembali memakan pisang coklat hingga habis tidak tersisa lalu bersiap untuk makan siang. Nesa berencana untuk ikut memasak makan siang dan juga ada bunda Xavier yang membantu memasak makan siang jika sedang di rumah seperti ini.


"apa kamu bisa memasak sayang? " tanya bunda Xavier sambil menggoreng ayam.


"bisa bunda sedikit-sedikit, karena Nesa masih perlu banyak belajar, " jawab Nesa sambil memotong sayuran juga bawang dan lain-lainnya.


"ahh beruntung-nya Xavier memiliki calon istri seperti mu, kapan-kapan kita masak bersama lagi ya? " ucap bunda Xavier memuji.


"aih bunda bisa saja, hehe tentu saja kapanpun bunda mau akan aku usahakan, " ucap Nesa tersipu malu.


"ya sudah sekarang kita selesai kab ini sebelum para singa jantan marah karena terlalu lama haha, " ujar bunda Nesa sedikit bercanda.

__ADS_1


Nesa ikut tertawa lalu mereka larut dalam memasak, mereka cukup banyak memasak makan siang ini bahkan dari yang di goreng, oseng bahkan sayur pun ada, serta ada makanan pembuka juga penutup makan siang.


setelah mereka selesai masak, mereka berdua serta para pelayan menata makanan yang sudah matang di atas meja dengan rapih. setelah semuanya selesai mereka mulai makan siang di mulai dari kepala keluarga yang tidak lain ayah Xavier.


__ADS_2