
" apa saya boleh meminta semua paperbag yang dipegang ade.! ucap doni masih dengan lembut sambil menujuk kearah paperbag.
" ohhh ini.! sahut remaja itu sambil tersenyum malu karna tidak mengerti akan maksudnya. dengan senang hati remaja itu menyodorkan beberapa paperbag itu namun saat doni hendak mengambilnya remaja itu dengan cepat menyembunyikan semua paperbag dibelakang badannya, remaja itu menelisik wajah pria itu sambil berpikir apa urusan pria itu dengan barang-barang milik orang lain.
" aku tidak akan memberikan ini? kenapa aku harus memberikan semua barang-barang ini, maaf ya om semua barang ini bukan milik anda jadi aku tidak akan memberikannya! dosa tau om ngambil barang milik orang lain kalo aku bukan mau mengambilnya tapi justru ingin mengembalikan ini semua ke pemilik sebenarnya.! seloroh remaja itu tanpa titik koma membuat doni menepuk jidatnya karna selain tulalit ternyata remaja yang berdiri didepannya juga polos.
doni kembali menarik napas panjang.
" ade manis semua barang-barang ini milik atasan saya dikantor! dia yang memerintahkan saya untuk mengambilkan semua barang ini.! ucap doni dengan lembut mencoba menjelaskan siapa jati dirinya.
" ohhh.! sahut singkat remaja itu tanpa rasa bersalah. ia mengembalikan semua paperbag itu menyimpannya dipaha doni hingga menutupi tubuhnya.
" kalo begitu saya pamit dulu ya om.! ucap remaja itu sambil melambaikan tangan dan tersenyum tipis, lalu ia pergi kearah mall.
__ADS_1
meskipun remaja itu tulalit tapi senyumnya sangat manis membuat doni terkagum akan keindahan senyumnya.
doni menatap remaja itu melalui kaca spion mobil, terlihat jika remaja itu sedang menelepon seseorang sambil menatap sekeliling mencari seseorang.
" cantik, manis tapi sayang tulalit.! desis doni sambil tersenyum tipis.
ia pun menancap gas mobilnya untuk segera pergi ke rumah sakit menemani tuannya.
sebelum memasuki ruang operasi bryan mencium tangan dan kening ghea dengan mata yang berbinar-binar.
" jangan merubah keputusan mu.! lirih ghea sambil menatap suaminya dengan deraian air mata.
bryan mengangguk mengiyakan permintaan sang istri, meskipun berat tapi keputusan itu harus tetap ia jalani demi janjinya pada yang sangat dicintainya.
__ADS_1
ghea meminta izin untuk mencium bryan sebagai tanda perpisahan darinya, meskipun sangat berat tapi keputusan inilah yang tetap ia ambil, ia bisa saja ikhlas jika harus kehilangan nyawanya sendiri tapi tidak untuk kedua putranya.
pasangan suami istri itu saling berpelukan dan berpegangan tangan seolah tidak ingin saling melepaskan satu sama lain.
dua jam kemudian.
didalam sana ghea dan para tenaga medis sedang saling berjuang menyelamatkan tiga nyawa yang tuhan percayakan pada mereka meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya setidaknya mereka semua sudah saling berusaha.
diluar ruangan bryan, rizal, daniel dan doni sedang menunggu penuh kekhawatiran, tidak ada yang saling bicara.
rizal duduk membungkuk menatap kebawah menyembunyikan segala kesedihannya daniel yang sedang duduk tepat disebelah unclenya tidak bisa melakukan banyak hal selain tetap berada disampingnya untuk saat ini dalam melewati masa-masa sulit baginya, berbeda dengan bryan yang sejak tadi sibuk mondar-mandir tidak jelas sambil sesekali menatap ke ruang operasi dalam lubuk hatinya ia sangat berharap akan adanya keajaiban tuhan, keajaiban yang begitu diharapkannya selama ini.
disebrang duduk sana doni yang sedang memperhatikan kekacauan yang menimpa ketiga pria didepannya, ia juga merasakan kesedihan yang mendalam akan kondisi sekarang, sedih tentu saja apalagi ia sudah menjadi bagian dari keluarga richard dan adhitama.
__ADS_1