
Minggu pagi Marvin sudah berpakaian rapi. Hari ini ia meminta ijin kepada Adam dan Mikha untuk membeli sepatu dan peralatan sekolah.
Melihat Marvin yang sudah berpakaian rapi Maura merengek kepada Millie ingin ikut dengan Marvin.
"Mommy..aku ingin ikut dengan Om Marvin " Maura menarik-narik tangan Millie.
"Jangan Sayang..Om Marvin nantinya repot " Millie melarang.
Karena tidak diperbolehkan ikut oleh Millie, Maura pun beralih merengek kepada Adam. Maura yakin jika Adam tidak akan melarangnya untuk ikut dengan Om Marvin nya.
"Papih..aku ingin ikut dengan Om Marvin " Maura mulai merengek kepada Adam yang sedang duduk di teras belakang sambil minum kopi bersama Wisnu.
"Memang Om Marvin nya mau kemana ?" Adam malah balas bertanya.
"Aku tidak tau " jawab Maura.
"Coba panggil Om Marvinnya kesini " titah Adam.
Maura pun langsung berlari menuju kamar Marvin dimana ABG tampan itu sedang memakai sepatunya.
"Om dipanggil Papih " Maura menarik-narik tangan Marvin.
"Iya sebentar kak..Om Marvin nya pake sepatu dulu " jawab Marvin sambil buru-buru menyelesaikan memakai sepatunya. Maura berdiri menunggui Marvin di sebelahnya.
Setelah selesai memakai sepatunya Marvin pun menghampiri Adam yang sedang duduk diteras belakang bersama Wisnu. Maura mengikuti Marvin dari dibelakangnya.
"Kamu mau pergi kemana ?" tanya Adam.
"Tadi kan aku sudah bilang mau beli sepatu dan peralatan sekolah Pih " jawab Marvin.
"Kamu ajak Maura ya..katanya Maura ingin ikut " titah Adam.
Marvin menoleh kearah belakang dimana Maura sedang berdiri sambil menunduk dengan wajah harap-harap cemas.
"Kakak mau ikut sama Om Marvin ?" tanya Marvin kepada Maura.
"Iya Om " jawab Maura lirih.
"Ya sudah kita pergi " ajak Marvin. Ia tidak tega melihat wajah Maura yang terlihat memelas.
Mendengar jawaban dari Marvin Maura pun langsung tersenyum senang.
"Yeyeye..ikut Om Marvin " Maura berjingkrak-jingkrak dengan riangnya.
"Kak..jangan nakal ya. Jangan merepotkan Om Marvin " pesan Wisnu.
"Iya Dad " jawab Maura sambil melambaikan tangannya kepada Adam dan Wisnu ketika Marvin menuntunnya menuju halaman dimana mobilnya terparkir.
"Om.. sebetulnya mau pergi kemana ?" tanya Maura setelah duduk manis di samping kursi kemudi.
"Kan tadi Om sudah bilang mau beli sepatu sama peralatan sekolah " jawab Marvin.
"Aku juga mau beli " Maura ikut-ikutan.
"Beli sepatu juga ?..kalau mau beli sepatu lebih baik sama Mommy saja, Om takut salah " ucap Marvin.
"Tidak..beli peralatan sekolah saja.. beli tas, buku, pensil, penggaris..." Maura terus mengoceh mengabsen peralatan sekolah yang ingin dibeli nya.
__ADS_1
"Waduh banyak banget " keluh Marvin.
"Iya Om..nanti hari Senin aku ingin peralatan sekolah aku semuanya baru " jawab Maura.
"Iya..iya..nanti Om belikan " Marvin mengacak rambut Maura hingga poni nya menjadi berantakan. Maura mencebik sambil merapikan kembali poninya.
"Kakak kenapa suka ingin ikut kalau om Marvin pergi ?" tanya Marvin.
"Suka karena Om Marvin itu baik, sama seperti Papih dan Mamih " jawab Maura.
"Oh begitu " gumam Marvin sambil tersenyum simpul.
"Tapi kadang Om Marvin juga suka nakal..suka ledekin aku sampai nangis..sangat menyebalkan " lanjut Maura. Senyum Marvin pun seketika lenyap.
Setibanya di parkiran sebuah Mall Marvin menuntun Maura turun dari mobil kemudian masuk ke sebuah toko sepatu langganannya.
Selagi Marvin memilih sepatu yang diinginkannya Maura tampak duduk manis di kursi yang disediakan disana.
Di toko sepatu Marvin bertemu dengan Nisa teman wanita sekelasnya yang juga sedang membeli sepatu disana.
"Kamu sama siapa Vin ?" tanya Nisa.
"Sama keponakan aku " jawab Marvin sambil menunjuk kearah Maura yang sedang duduk manis sambil menikmati coklatnya.
"Hai cantik " Nisa melambaikan tangannya kearah Maura.
Maura tidak menanggapi lambaian tangan Nisa karena gadis kecil itu tidak kenal kepada teman Marvin.
"Keponakan kamu cantik..tapi judes " bisik Nisa sambil terkikik.
"Sebetulnya dia anak yang manis..cuma mungkin karena tidak kenal saja " jawab Marvin.
"Mau beli peralatan sekolah " jawab Nisa.
Karena tujuan mereka sama akhirnya Marvin pun mengajak Nisa belanja bersama sekalian bisa membantu Maura mencari barang yang diinginkannya karena Marvin yang tidak paham selera anak perempuan seperti Maura.
"Adik namanya siapa ?" tanya Nisa ketika mereka berjalan beriringan menuju ke sebuah toko yang menjual perlengkapan sekolah.
"Maura " jawab Maura.
"Nama yang cantik..secantik kamu " puji Nisa.
"Kakak namanya siapa ?" tanya Maura sambil menatap kearah Nisa.
"Kakak namanya Nisa..kakak teman sekolah Om Marvin " Nisa memperkenalkan dirinya. Maura mengangguk.
Ketika sampai di toko Maura tampak bingung mencari barang yang diinginkannya.
"Maura mencari apa biar kakak bantu " Nisa menawarkan bantuan.
"Aku mau beli tas, buku, pensil,crayon, kotak pensil..semuanya yang berwarna merah muda "
"Kamu suka warna merah muda ?" tanya Nisa. Maura mengangguk
"Baiklah..ayok kita cari !" Nisa menuntun Maura untuk mencari barang yang diinginkannya yang semua berwarna merah muda.
Marvin tersenyum melihat Maura dan Nisa yang cepat akrab meskipun baru pertama kali bertemu.
__ADS_1
"Om..aku sudah dapat semuanya " Maura mendorong troli berisi peralatan sekolah yang semuanya berwarna merah muda. Nisa pun tampak membawa keranjang belanjaan sendiri.
Ketika sudah didepan kasir Marvin mengambil keranjang belanjaan Nisa dan membayarnya sekalian.
"Tidak usah Vin..biar aku bayar sendiri " Nisa menolak namun Marvin memaksa.
"Ya sudah karena kamu sudah bayarin aku bagaimana kalau kalian aku traktir makan biar impas " ujar Nisa.
"Maura mau makan ayam disana tidak ?" tanya Nisa kepada Maura karena Marvin seperti yang akan menolak tawarannya.
"Mau kak " jawab Maura cepat.
"Tuh Maura saja mau " ujar Nisa sambil tersenyum kearah Marvin.
Karena Maura bilang mau akhirnya Marvin pun menerima ajakan Nisa untuk makan.
Mereka makan sambil mengobrol dan bersenda gurau.Ternyata Maura itu tidak sejudes yang Nisa kira.
Setelah cukup lama mengobrol ternyata Maura itu anaknya sangat menyenangkan dan lucu.
Setelah selesai makan mereka melanjutkan dengan main bersama.Marvin baru mengajak Maura pulang ketika Mikha terus menghubunginya menanyakan keberadaan mereka. Mikha khawatir karena Marvin membawa Maura terlalu lama.
"Maura nanti kita main bersama lagi ya " ajak Nisa sebelum mereka berpisah.
"Iya Kak " jawab Maura sambil melambaikan tangannya ketika mereka berpisah.
"Om..kakak Nisa itu cantik ya " puji Maura ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Iya " jawab Marvin.Nisa memang cantik, dia adalah idola di sekolah dan banyak teman-teman nya yang naksir pada Nisa.
Namun sejauh ini Marvin tidak pernah mendengar Nisa pacaran dengan salahsatu diantara mereka.
Sepertinya Nisa menerapkan standard yang tinggi untuk menjadi pacarnya karena selain cantik Nisa juga anak paling pintar di sekolah.
"Kalian kemana dulu sih bikin khawatir saja " omel Mikha ketika mereka sampai di rumah.
"Beli sepatu sama peralatan sekolah terus makan .." jawab Marvin.
"Sudah makan kita langsung main Mih..sama kak Nisa " tambah Maura.
"Siapa kak Nisa ?" tanya Mikha.
"Temen sekolah aku Mih.. kebetulan kita tidak sengaja bertemu " jawab Marvin.
"Bener tidak sengaja bertemu..atau malah janjian " sindir Millie.
"Beneran Kak..tanya saja sama Maura " jawab Marvin.
"Bener Mom " Maura ikut menjawab.
"Temannya kak Marvin cantik tidak ?" tanya Millie penasaran.
"Cantik Mom..tapi cantikan mommy " jawab Maura sambil memeluk perut Millie.
"Terimakasih Sayang " Millie mencium puncak kepala Maura.
Sejak pertemuannya dengan Nisa, Marvin menjadi semakin akrab dengan gadis itu. Bahkan mereka beberapa kali janjian mengajak Maura bermain bersama.Setelah beberapa bulan kemudian mereka pun resmi pacaran dengan disaksikan oleh Maura yang selalu mengikuti kemana mereka pergi.
__ADS_1
Marvin dan Nisa samasekali tidak keberatan jika acara kencan mereka selalu direcoki oleh Maura.