
Mikha yang baru keluar dari kamar mandi kaget ketika mendapati Adam tiba-tiba sudah ada di kamar nya. Namun yang lebih membuat Mikha kaget adalah wajah tampan Adam yang dipenuhi luka lebam.
"Wajah Abang kenapa ?" Mikha meraih wajah Adam.
"Tidak apa-apa " Adam menepiskan tangan Mikha dari wajahnya.
"Tidak apa-apa bagaimana.. lebam-lebam begini " Mikha kembali memeriksa wajah Adam namun kembali Adam tepiskan.
"Abang bilang tidak apa-apa " Adam beranjak keluar dari kamar.
Mikha melongo menatap kepergian Adam dengan wajah bingung. Ia tidak mengerti kenapa Adam bersikap begitu kepadanya.
Mikha keluar dari kamar ketika mendengar Mama dan Arin yang khawatir melihat wajah Adam yang dipenuhi luka lebam.
"Kha..kompres pake air es..trus kasih Betadine " Mama memberikan kapas dan Betadine kepada Mikha.Sementara Arin menyiapkan baskom kecil berisi air es dan handuk kecil.
Dengan sedikit takut Mikha mendekat hendak mengobati wajah Adam.Meskipun terlihat tidak suka tapi Adam tidak menolak.
"Diobatin nya dikamar saja " Adam beranjak kembali ke kamar untuk menghindari pertanyaan dari Mama dan Arin.
Mikha mengikuti Adam kembali ke kamar dengan baskom dan Betadine ditangannya.
"Abang habis berantem dengan siapa sampai luka lebam begini ?" tanya Mikha sambil mengobati luka diwajah Adam.
"Bukan urusan kamu " jawab Adam.
"Mana bisa bukan urusan aku..Abang itu suami aku " pungkas Mikha
"Kamu itu cerewet sekali..obati saja..dan jangan sok peduli " semprot Adam.
"Bukan sok peduli..tapi aku memang peduli karena Abang itu suami aku " jawab Mikha lirih. Ia berusaha menahan untuk tidak menangis dihadapan Adam.
"Auww..sakit Mikha.." Adam meringis ketika Mikha tidak sengaja menyentuh luka disudut bibir Adam terlalu keras
"Maaf Bang tidak sengaja " Mikha buru-buru meminta maaf.
"Sudah biar Abang obati sendiri saja..diobati kamu bukannya sembuh malah tambah sakit " Adam mengambil Betadine dan kapas ditangan Mikha kemudian mengobati lukanya sendiri di depan cermin.
Mikha yang terlihat sangat terluka dengan ucapan Adam akhirnya memilih keluar dari kamar dan menyibukkan diri dengan putri kecilnya.
"Abang kenapa Kha mukanya pada bonyok begitu ?" tanya Mama.
"Mikha tidak tau mah..Abang tidak mau cerita " jawab Mikha lirih.
"Paling berantem.. laki-laki berantem itu wajar " ujar Papa.
"Tapi berantem nya karena apa dulu " pungkas Mama.
"Tanya dong sama Abang " jawab Papa.
__ADS_1
"Kan tadi Mikha bilang kalau Abang tidak mau cerita " jawab Mama.
"Aneh sekali anak itu " gumam Papa.
"Iya " jawab Mama.
Mikha membawa Millie yang sudah mulai mengantuk ke kamar untuk ia tidurkan. Dikamar Adam terlihat sedang berbaring diatas sofa sambil memainkan ponselnya.
Tanpa banyak bicara Mikha mengeloni Millie hingga bocah cantik berpipi gembul itu pun tertidur.
Mikha yang merasa sakit hati atas perlakuan Adam kepadanya akhirnya memilih mendiamkan Adam dan tidur sambil memeluk Millie.
Malam itu Adam memilih tidur di sofa. Mikha yang sempat terbangun karena ingin buang air kecil sempat menyuruh Adam pindah ke kasur mereka namun Adam menolak.
Rasa sakit hati Mikha semakin dalam manakala keesokannya Adam berkemas hendak kembali ke Jakarta.
"Abang mau kembali ke Jakarta sekarang ?" tanya Mikha.
"Ya " jawab Adam singkat.
Mikha termangu, ia heran dengan sikap Adam yang tidak biasa. Untuk apa ia kemarin sore pulang jika paginya harus kembali lagi ke Jakarta..Namun melihat sikap Adam yang dingin padanya Mikha pun memilih tidak banyak bertanya.
"Kalian sedang bertengkar ?" tanya Mama sambil berusaha meredakan Millie yang terus menangis karena kepergian Adam.
"Tidak Mah..Mikha juga tidak tau Abang seperti yang marah sama aku " jawab Mikha sendu.
"Iya Mah " jawab Mikha.
Malamnya Mikha berusaha menghubungi Adam, ia ingin menanyakan tentang apa yang terjadi tapi Adam mengabaikannya.
*
Adam memasukan beberapa bajunya kedalam tas karena besok pagi ia harus pergi ke Lombok untuk urusan pekerjaan.Rencananya ia akan berada disana sampai hari Sabtu, dan kemungkinan weekend ini ia tidak akan pulang ke Bandung.
Ddrt..ddrrt..
Ponsel Adam menggelepar-gelepar diatas nakas. Adam mengabaikannya seperti beberapa hari belakangan ini yang selalu mengabaikan jika Mikha menghubunginya.
Ddrrt..drrt... Ponsel Adam terus bergetar. Dengan enggan Adam mengambil ponselnya. Ternyata panggilan itu dari Arin.
"Ada apa ?" tanya Adam
'Abang..apa benar kemarin Abang berantem sama Seno ?" tanya Arin.
"Pasti Mikha ngadu sama kamu " jawab Adam malas.
"Mikha tidak ngadu apa-apa..bahkan dia tidak tau kalau Abang berantem sama Seno..Aku tau karena Seno yang cerita " jawab Arin.
"Iya..Abang berantem sama dia " jawab Adam akhirnya.
__ADS_1
"Seno bilang Abang yang pertama pukul dia "
"Abang pukul dia karena dia sudah berani ketemuan sama Mikha dibelakang Abang.. diam-diam mereka masih berhubungan "
"Abaaang..Abang salah. Seno dan Mikha sudah tidak ada hubungan apa-apa .Kemarin Seno mendatangi Mikha di butik hanya untuk meminta tolong....Dia berniat melamar aku Bang "
"Melamar kamu..kalian pacaran ?" Adam langsung melotot.
"Iya Bang " jawab Arin.
"Sabtu ini keluarga Seno akan datang ke rumah.Sebaiknya Abang tidak usah datang " ujar Arin kesal.
Adam melongo.Ia tidak menyangka jika ia sudah salah paham kepada Mikha.
"Iya Abang tidak akan datang " ujar Adam.ia tau Arin sangat marah padanya.
"Awas kalau Abang datang dan bikin kacau " ancam Arin sebelum mengakhiri sambungan telepon.Arin benar-benar marah kepada Adam.
Kepergian Adam ke Lombok pagi ini membawa kegundahan di hati Adam. Dari semalam setelah percakapan dirinya dengan Arin,Adam berusaha menghubungi Mikha tapi tidak pernah diangkat.
Adam tau Mikha tidak mau menerima telepon darinya karena marah atas perlakuan Adam tempo hari.
Jika tidak ada pekerjaan yang sangat penting ingin sekali Adam pulang ke Bandung saat itu juga untuk meminta maaf kepada istrinya.Tapi urusannya di Lombok benar-benar tidak bisa ia tinggalkan.
Mama beberapa kali menghubungi Adam untuk mengabari jika Arin akan ada yang melamar. Namun Adam mencari alasan sedang sibuk karena Arin melarangnya untuk datang.
Selama hampir satu minggu di Lombok, Adam tidak bisa menghubungi Mikha. Ia hanya bisa melepas rindu dengan Millie saja itupun melalui ponsel Mama nya karena Arin pun sama seperti Mikha sedang marah karena insiden pemukulan itu.
Karena tidak tahan selalu diabaikan oleh Mikha akhirnya hari sabtu Adam pun memutuskan pulang ke Bandung.Ia tidak peduli meskipun Arin yang sedang marah kepadanya melarang pulang di acara lamarannya.
Ketika Adam sampai di Bandung, di rumah sudah ada beberapa mobil keluarga Seno. Mikha dan Arin tampak cemberut melihat kedatangan Adam.Berbeda dengan Millie yang langsung menyambut Adam dengan berjalan tertatih-tatih.
"Kalian itu kenapa sih seperti yang tidak senang melihat Abang pulang " omel Mama kepada Arin dan Mikha.
Meski tidak sempat mengikuti semua rangkaian acara lamaran dari awal, namun Adam terlihat sangat bahagia karena bisa datang meskipun Arin melarangnya.
Selesai acara inti seluruh keluarga mulai menikmati hidangan yang Keluarga Arin siapkan.
Pada saat makan Adam mengajak Seno ke teras belakang untuk ngobrol berdua. Arin sempat menatap curiga pada Abangnya. Seno memberi isyarat kepada Arin untuk membiarkan mereka berdua berbicara.
"Aku minta maaf atas kesalah pahaman yang terjadi kemarin.. seharusnya aku memberi kesempatan kamu untuk menjelaskan " ucap Adam tulus.
"Tidak apa-apa..mungkin aku juga kalau di posisi Abang akan melakukan hal yang sama " jawab Seno.
"Karena terlalu cinta dan takut kehilangan bisa membuat kita bertindak bodoh " ujar Adam sambil tertawa sumbang.
Seno mengangguk.Ia sudah melihat itu ketika ia berusaha mengajak Mikha kabur namun tidak berhasil. Walaupun saat itu Adam dan Mikha tidak memiliki hubungan namun Seno melihat ada cinta yang tidak bisa disembunyikan di mata Adam.
Arin yang diam-diam mengintip tersenyum lega ketika melihat Adam dan Seno saling bersalaman.Ketakutan Arin kalau Adam akan membuat keributan akhirnya tidak terbukti.
__ADS_1