
"Ji- Jimin," lirih Kim Minah tergagap.
"Dia anakmu dan pria lain atau denganku!" ucap Jimin.
"Dia anakku dan pria ..."
"Jangan berbohong denganku Minah! Aku mengenalmu bukan sebulan dua bulan.
Lagi pula Jimnah telah mengatakan padaku jika dia tak pernah bertemu appanya. Kenapa kau tega berbohong padanya dan padaku. Katakan!!!" Amarah Jimin meluap tanpa memerhatikan jika ada seorang anak yang ketakutan saat ini mendengar teriakannya.
"Eomma," rengek Jimnah ketakutan.
"Tidak apa sayang, paman itu tidak jahat.
dia teman eomma dulu, kau faham maksud eomma kan sayang?" tanya Minah lembut agar putranya faham. Dan sang putra mengangguk mengerti.
"Paman? kau bilang padanya aku adalah paman. Kenapa kau terus berbohong?" Jimin masih belum bisa menguasai amarahnya.
"Maafkan aku Jimin ah," gumam Minah lemah, ia sadar telah bersalah.
Ia telah menyembunyikan fakta bahwa ia memiliki putra dari seorang sahabat yang sangat ia cintai. Tanpa berkata apa-apa Jimin melangkah dengan memburu, kemudian memeluk seseorang yang sangat ia rindukan. Dan Minah tak bisa berbuat apa-apa selain membalas pelukan itu Karena ia juga merindukan sosok pria yang tengah memeluknya kini.
"Tolong jangan menghilang lagi Minah, aku tidak akan sanggup jika kau kembali menghilang dengan membawa serta putraku, lagi. Aku bisa mati karenamu kali ini," Isak Jimin mengeratkan pelukannya, airmata mengalir tanpa perintah dan membasahi baju Minah, begitu juga dengan Minah yang juga menangis antara bahagia dan sedih.
__ADS_1
"Katakan jika Jimnah benar-benar putraku, putra kita." Jimin memohon dengan suara bergetar menahan tangisnya. Dan ia merasakan jika Minah mengangguk di dalam pelukannya.
Jimin merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata yang membasahi wajah cantik wanita yang ia cintai.
Perlahan ia menunduk dan kemudian dengan perlahan ia mencium lembut bibir merah alami wanitanya. Walau Minah tau apa yang akan Jimin lakukan, tapi wanita itu tak menghindar justru membalas setiap ciuman yang Jimin berikan pada bibirnya.
"Eomma sedang apa??" Jimnah bertanya dengan wajah polos saat melihat eommanya sedang berpelukan dan berciuman.
Dengan segera Minah mendorong tubuh Jimin saat mendengar suara anaknya.
"A-ahh... ti-tidak, eomma tidak sedang apa2
-apa. Kemarilah sayang, bukankah kau ingin bertemu appamu?" tanya Minah sambil membimbing sang anak untuk mendekat ke arah Jimin yang kini tengah tersenyum menatap putranya yang tampak masih ketakutan padanya.
"Maafkan appa berteriak tadi, Jim. Karena eomma sangat nakal, ia pergi tidak pamit pada appa, bukankah itu tidak baik?" tanya Jimin membujuk anaknya dan ia melihat sang putra mengangguk faham atas ucapannya membuatnya tersenyum bahagia saat sang anak memeluknya erat.
***
Saat ini Jimin tengah menemani putranya tidur, putra yang keberadaannya tidak ia ketahui yang bahkan baru ia temukan. Jimin akan bertanya nanti pada Minah tentang alasan kenapa ia pergi dulu. Sang putra telah tertidur dengan memeluk tubuhnya erat.
Tampaknya sang putra sangat bahagia saat ini. 30 menit kemudian ia keluar dari kamar tersebut dan mencari keberadaan Minah.
Ia bahkan tidak memberitahu Taehyung tentang keberadaannya saat ini.
__ADS_1
'Biarlah', fikirnya. Jam telah menunjukkan bahwa saat ini sudah pukul 10 malam, namun ia tidak berniat kembali ke hotel. Jimin menemukan Minah yang sedari tadi dicarinya di taman belakang, walau taman itu sederhana namun tampak indah.
"Ah... Kau mengejutkanku," kata Minah saat tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang rampingnya.
"Hmm ... Aku sangat merindukanmu, " ungkap Jimin sambil menciumi tengkuk Minah.
"Bagaimana hubunganmu dengan kristal setelah aku pergi?" tanya Minah.
"Kristal?? Kenapa kau bertanya tentang kristal," heran Jimin.
"Bukankah kau mencintainya. Aku melihatmu memeluknya di apartemenmu ..."
"Jangan bilang kau pergi setelah kau melihat aku berpelukan dengan kristal," Potong Jimin cepat, namun ia tau jika wanitanya mengangguk.
"Malam itu aku datang keapartemenmu untuk mengatakan jika aku hamil. Aku berfikir walaupun saat itu terjadi kau dalam keadaan tidak sadar, tapi seperti permintaanmu. Jika terjadi sesuatu aku harus memberitahukanmu, namun aku malah melihat kalian berpelukan." Minah menyamankan dirinya di pelukan hangat Jimin.
"Kau jelas salah faham, saat itu aku memeluknya untuk menenangkannya yang sedang sedih," ungkap Jimin sambil membalikan tubuh Minah agar berhadapan dengannya.
"Dengar ... aku mencintaimu dari dulu, dari saat kita masih bersahabat. Dan aku melakukannya dengan kesadaran penuh, kau salah jika beranggapan aku mabuk saat itu.
Aku melakukannya karena aku tak ingin kehilanganmu dengan kau menjadi milik pria lain saat itu." Jimin memilih untuk jujur, dan perkataannya sontak saja membuat air mata mengalir Di wajah Minah.
"Jadi kau sengaja? jadi kau mencintaiku? lalu kenapa kau tak mengatakannya sedari awal, jika kau jujur dari awal, aku tak akan menderita membesarkan putra kita sendiri, " ucap Minah yang sudah terisak di pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku begitu takut kau menolakku dan persahabatan kita berakhir."
Dan setelah masalah kesalah-fahaman yang terjadi selesai. Kini mereka saling melepas rindu. Berbagi kehangatan yang mana kali ini menggunakan perasaan bahagia dan juga rasa lega pada diri mereka masing-masing.