
Waktu semakin cepat berlalu, Maura dan Milea semakin tidak bisa jauh dari Millie begitu juga dengan Wisnu.Mereka sudah saling membutuhkan satu sama lain.
Menjelang satu tahun berada di rumah Wisnu Millie semakin dilanda kegamangan. Ia bingung harus memilih diantara dua pilihan..
meninggalkan Wisnu dan anak-anak atau tetap tinggal .
Satu sisi ia tidak bisa jauh dari Maura dan Milea, ia sudah terlanjur menyayangi kedua anak itu namun disisi lain ia juga tidak mau mengecewakan Mamih dan Papihnya yang menginginkan Millie segera menyelesaikan kuliahnya dan tidak merestui hubungannya dengan Wisnu..sebuah pilihan yang sangat berat untuk Millie.
Meskipun Adam dan Mikha tidak merestui hubungan Millie dengan Wisnu namun kasih sayang mereka kepada Milea tidak berkurang sedikit pun.
Mikha tetap menyambut bocah berpipi bulat itu dengan penuh kasih sayang.Bahkan Adam membuatkan area tempat bermain untuk bocah yang ia panggil Gemoy itu.
Millie yang sedang memotong buah-buahan meringis ketika jarinya teriris pisau karena memotong buah sambil melamun.
Wisnu yang berada di dapur bersama Millie buru-buru memasukan jari Millie yang terluka kedalam mulutnya.
"Mas yakin kamu sedang menyembunyikan sesuatu..ingat ya Mas tidak mau kamu menyimpan rahasia apapun " ucap Wisnu tegas.
"Tidak ada yang aku sembunyikan..beneran " jawab Millie sambil tersenyum semanis mungkin.
Wisnu menatap tajam kearah Millie..ia tidak percaya dengan ucapan Millie.
"Besok kita ke Bandung..Ibu dan Bapak ingin bicara dengan kita " ujar Wisnu sambil meneruskan pekerjaan Millie memotong buah.
"Tentang apa ?" tanya Millie penasaran
"Pastinya tentang kita dan anak-anak " jawab Wisnu.
"Kok aku takut ya " gumam Millie
"Takut kenapa..bukannya kamu sudah biasa ketemu Bapak dan Ibu ?" tanya Wisnu.
"Entahlah.. tiba-tiba merasa takut saja " jawab Millie lirih.
"Kalau takut peluk Mas saja " ujar Wisnu
"Maunya kamu " cibir Millie.Wisnu pun tersenyum.
Millie menatap senyum Wisnu penuh dengan kekaguman. Berbulan-bulan tinggal di rumah Wisnu baru Sekarang Millie menyadari jika Wisnu memiliki senyum yang manis yang mampu membuat hatinya meleleh.
"Kenapa menatap Mas begitu..naksir ya ?" goda Wisnu membuat Millie tersipu malu.
Keesokannya mereka pun pergi ke Bandung. Sepanjang perjalanan Maura terus berceloteh dengan riang. Sedangkan Milea anteng dalam pangkuan Millie dengan mpeng di mulutnya.
"Kalau ngantuk tidur saja " ujar Wisnu ketika Maura dan Milea sudah mulai tertidur.
"Tidak..mau nemenin Mas Wisnu saja kasihan tidak ada teman ngobrol " jawab Millie.
"Baiklah " jawab Wisnu sambil mengambil tangan Millie dan menggenggamnya diatas paha kirinya
__ADS_1
"Sepertinya Bapak dan Ibu akan menyuruh kita cepat menikah " tebak Wisnu.
"Sok tau " jawab Millie
"Kamu lihat saja nanti.. siap-siap jadi nyonya Wisnu dan Mommy dari Maura dan Milea " ujar Wisnu yakin.
Millie tersenyum getir mendengar ucapan Wisnu yang penuh keyakinan. Jujur Millie sendiri tidak yakin semua akan berjalan mulus karena ada banyak kerikil tajam yang harus mereka lalui dan hanya Millie yang mengetahui nya.
"Mulai lagi melamunnya " Omel Wisnu sambil menyentakkan tangan Millie.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah orangtua Wisnu. Ini adalah untuk kedua kalinya Millie datang kesana.
Setelah cukup beristirahat orangtua Wisnu mengajak Millie dan Wisnu membahas masalah kelanjutan hubungan Millie dan Wisnu.
"Niat baik itu lebih baik disegerakan. Bapak dan Ibu sangat mendukung kalian menikah secepatnya " ucap ibu.
"Bapak dan ibu sudah tua..kami ingin kedua cucu kami berada bersama orang yang tepat, yang menyayangi mereka dengan setulus hati "
"Iya Bu..sepulang dari sini aku akan melamar Nina kepada orangtuanya " jawab Wisnu yakin sambil melirik kearah Millie yang duduk disampingnya.
Diam-diam Millie menunduk. Ia seperti sedang menyimpan dua buah bom yang siap meledak kapan pun.
"Bapak sangat mendukung niat baik kalian " ujar Bapak sambil menepuk pundak putranya.
Malam harinya Wisnu mengajak Millie keluar. Kebetulan Maura dan Milea cepat tertidur karena lelah setelah seharian bermain di halaman belakang.
"Dulu sebelum pindah ke Jakarta hampir setiap malam Minggu Mas nongkrong disini bersama teman-teman " Wisnu mengenang masa lalunya.
"Sama mbak Meta juga ?" tanya Millie
"Ya..salah satunya " jawab Wisnu.
"Hanya kamu dan Meta saja wanita yang pernah Mas ajak kesini " ujar Wisnu.
Disaat berdua seperti ini Millie mencoba memberanikan diri untuk mengatakan sebuah kebenaran yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Mas sebelum kita melangkah ke jenjang yang lebih jauh, aku ingin mengatakan sebuah pengakuan sama kamu " ucap Millie lirih.
"Tuh kan..dari kemarin-kemarin juga Mas yakin jika kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Mas " ujar Wisnu sambil menatap dalam kearah Millie.
"Iya Mas.. kemarin-kemarin aku belum berani untuk cerita..tapi aku tidak bisa terlalu lama menyembunyikan dari Mas..aku harus mengatakan semuanya sama Mas Wisnu "
"Katakan saja..mas siap mendengarnya " jawab Wisnu.
"Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu.. aku benar-benar minta maaf sama kamu dan anak-anak " Millie meraih kedua tangan Wisnu dan menggenggamnya erat.
"Anak-anak ?" dahi Wisnu mengernyit ketika mendengar Millie menyebut anak-anak.
"Apa hubungannya dengan anak-anak? kenapa kamu membawa-bawa mereka ?" tanya Wisnu.
__ADS_1
"A..aku..aku dan Ryan yang telah menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa mbak Meta " ucap Millie lirih nyaris tidak terdengar.
"Apa maksud kamu ?" wajah Wisnu langsung terlihat berubah.Millie diam tidak menjawab hanya air mata yang mulai luruh satu persatu.
"APA MAKSUD KAMU ?" bentak Wisnu.
"Karena keteledoran aku dan Ryan sehingga kecelakaan itu terjadi " jawab Millie sambil terisak.
Wisnu terdiam namun rahangnya terlihat mengeras menahan emosi yang siap akan meledak.
"Jadi tujuan kamu masuk ke rumah saya untuk apa?" tanya Wisnu dingin
"A..aku ingin menebus semua rasa bersalah aku..aku ingin.."
"Sepertinya saya salah telah berniat menjadikan kamu ibu untuk anak-anak saya..ternyata kamu tidak pantas menjadi pengasuh anak-anak saya apalagi menjadi ibu mereka " Wisnu menepiskan tangan Millie kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Millie sendirian. Millie terpekur sambil terisak. Akhirnya salah satu bom itu pun meledak.. menghancurkan segala asa yang sempat tersemat dihati menjadi puing-puing luka yang sangat dalam.
Untuk beberapa menit Millie menangis disana sendirian dalam kehampaan.Disaat tangisnya mulai mereda hanya satu yang ada di kepalanya yaitu pulang..tapi ia bingung harus pulang kemana karena Wisnu telah meninggalkannya seorang diri disana.
Dengan tangan yang bergetar Millie pun menghubungi Arin dan meminta Aunty nya menjemput disana.
Wisnu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin secepatnya menjauh dari orang yang telah merenggut cahaya dalam rumahnya..ibu dari kedua buah hatinya. Rasa sayang kepada Millie yang baru saja bersemi hilang seketika berganti dengan rasa benci yang mendalam.
Wisnu menyesali dirinya bagaimana bisa ia akan menikahi orang yang telah menyebabkan kedua putrinya kehilangan ibu mereka.
Setelah setengah perjalanan tiba-tiba Wisnu menghentikan laju mobilnya dan berbalik arah. Rasa kemanusiaan dalam dirinya mengatakan jika ia telah keterlaluan meninggalkan Millie seorang diri di coffee shop.
Wisnu memutuskan kembali bukan untuk memaafkan namun untuk mengantarkan kembali gadis itu ke Jakarta besok sekalian mengakhiri semuanya.
Begitu sampai ditempat yang tadi ternyata Millie sudah tidak ada di sana. Rasa benci dan khawatir langsung menderanya menjadi sebuah kepanikan.Ia pun mencari Millie ke setiap sudut coffee shop berharap Millie masih ada disana namun ternyata Millie sudah tidak ada disana.
"Mbak yang duduk disini pergi sambil menangis " pelayan yang ada disana memberitahu Wisnu.
Ditengah kepanikan Wisnu mengambil ponselnya dan menghubungi Millie namun tidak diangkat.
Nina kamu dimana..tolong balas !
Wisnu mengirimkan pesan kepada Millie namun hanya di read tanpa dibalas.
……………
Didalam mobil Millie terus menangis dalam pelukan Arin. Sementara Seno yang sedang menyetir hanya bisa menatap iba kepada keponakannya itu.
Baru saja Millie menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada Arin.
"Sudah jangan menangis..kakak sudah berusaha menebus kesalahan kakak meskipun tidak bisa mengembalikan ibu anak-anak itu. Soal jodoh dan maut itu ditangan Tuhan. Wisnu tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada kakak dan Ryan..mungkin sudah takdirnya Meta meninggal dengan cara seperti itu " nasehat Arin.
"Sekarang kakak tenangkan diri kakak dulu disini, jangan dulu pulang ke Jakarta " ujar Seno.
"Iya om " jawab Millie sambil terisak.
__ADS_1