My Baby Sitter

My Baby Sitter
Mendekati hari H


__ADS_3

Hari ini Mikha harus pergi ke Bandung untuk menemani Arin fitting kebaya pengantin. Sudah jauh-jauh hari Arin bersikeras jika kebaya untuk akad nikah ingin dibuatkan dari butik Mikha.


Demi menyenangkan sahabat sekaligus adik ipar tersayangnya Mikha pun menyanggupi membuatkan kebaya pengantin untuk Arin.


Mikha tampak kagum melihat kebaya yang akan dipakai pada acara akad nikah itu begitu pas ditubuh Arin. Begitu juga dengan setelan jas yang akan dipakai Seno. Arin dan Seno terlihat sangat serasi.


Selesai Fitting kebaya pengantin Seno minta ijin kepada Mikha untuk membawa Arin ke rumahnya.


"Boleh..tapi kamu harus kembalikan Arin dalam keadaan utuh tidak kurang satu apapun " ucap Mikha.


"Pasti " jawab Seno


"Dasar kakak ipar lebay " cibir Arin sambil pergi meninggalkan Mikha di butiknya.


Selagi Arin dan Seno pergi Mikha beristirahat di ruang kerjanya. Rencananya mereka akan kembali ke Jakarta setelah magrib.


Pada saat Mikha sedang beristirahat, Adam beberapa kali menghubungi Mikha untuk mengecek keberadaan istrinya.


"Mau balik ke Jakarta jam berapa ?" tanya Adam


"Sudah magrib..biar bisa istirahat dulu " jawab Mikha sambil merebahkan tubuhnya di sofa di ruang kerjanya.


"Bilang sama Seno hati-hati bawa mobilnya " pesan Adam.


"Iya Sayang " jawab Adam.


"Oke..dari kantor Abang langsung pulang ke rumah Mama..kamu jangan pulang ke apartemen " ujar Adam sebelum mengakhiri sambungan telepon.


*


Setelah magrib Seno dan Arin menjemput Mikha dibutik. Mereka bersiap akan kembali ke Jakarta saat itu juga.


Mikha yang sudah cukup istirahat dan sempat mandi terlihat segar berbeda dengan Arin dan Seno yang terlihat berwajah kusut.


Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta pasangan calon pengantin itu tidak banyak bicara. Arin yang biasanya lebih cerewet dari Mikha terlihat menekuk wajahnya.


Mikha menangkap ada yang tidak beres diantara Seno dan Arin. Mereka terlihat saling mendiamkan satu sama lain.


Tidak ingin turut campur dalam permasalahan mereka Mikha pun memilih memakai headset dan mendengarkan musik dari ponselnya.


Ketika rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang Seno memutuskan untuk beristirahat sejenak di rest area yang mereka lewati.


"Mau gantian aku yang nyetir ?" Mikha menawarkan diri.


"Tidak usah...sudah minum kopi pasti segar lagi " jawab Seno.


Arin tampak cuek dan terkesan tidak peduli jika Seno sedang merasa lelah dan mengantuk.


"Rin..kamu kenapa sih ?" Mikha yang sedari tadi menangkap keanehan pada sikap Arin akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Sudah biarin Kha..dia memang tidak peduli pada calon suami sendiri " ujar Seno.


Mikha menatap tajam penuh selidik kearah Seno dan Arin bergantian.


"Kalian sedang berantem ?" tanya Mikha.


Arin dan Seno tidak menjawab. Mereka memilih bungkam. Wajah Arin terlihat sinis menatap Seno.


"Sebentar lagi mau nikah malah berantem " gumam Mikha.Arin dan Seno saling membuang muka.


Setelah rasa kantuk Seno hilang, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Di jalan Seno dan Arin tetap saling mendiamkan, Mikha yang merasa tidak nyaman berada di situasi seperti itu akhirnya memilih tidur.


Setibanya di rumah Mama, Seno langsung pamit pulang. Ia menolak ketika Mama menyuruh menginap dan memilih tidur di hotel.


"Mereka sepertinya sedang bertengkar " ucap Mikha ketika sudah berada di kamar.


"Siapa yang bertengkar ?" tanya Adam.


"Arin sama Seno..dari tadi mereka perang dingin " Mikha melapor.


"Itu hal yang biasa terjadi pada saat menjelang pernikahan. Selalu ada perbedaan pendapat " ujar Adam.


"Iya sih " jawab Mikha.


Perlahan Mikha mendekat kepada Adam dan membawa tangan Adam untuk memijit pundaknya.

__ADS_1


"Pegel ya !" Adam memijit pundak Mikha dengan kedua tangannya.


"Iya " jawab Mikha sambil memejamkan matanya menikmati pijatan tangan Adam di pundaknya.


Selesai bagian pundak kini tangan Adam beralih memijit kepala Mikha.


"Sumpah enak banget Yang..aku mau dong sering-sering dipijit sama Abang " ujar Mikha.


"Iya nanti Abang akan sering-sering pijat kamu " jawab Adam.


"Beruntungnya aku punya suami sudah ganteng, sayang istri pula " puji Mikha.


"Sekarang kamu tidur, harus banyak istirahat " Adam menyelimuti Mikha sampai dada setelah ia selesai memijat kepala Mikha.Tidak lama kemudian Mikha pun tertidur.


Setelah Mikha tidur, perlahan Adam beranjak menuju kamar Arin. Adam ingin melihat keadaan Arin setelah mendengar cerita dari Mikha jika Arin dan Seno seperti yang sedang bertengkar.


"Kamu sedang ada masalah sama Seno ?" tanya Adam begitu ia masuk ke kamar Arin.


"Tidak " jawab Arin berbohong.


"Kamu jangan bohong..sekarang kamu bilang sama Abang ada masalah apa antara kamu dengan Seno ?" tanya Adam dengan suara lembut.


Arin tidak menjawab ia hanya menunduk menyembunyikan wajah sendunya. Adam sempat melihat mata Arin yang sembab karena habis menangis.


Adam menatap lembut kepada Arin menunggu adiknya itu bercerita.Setelah sekian lama akhirnya Arin pun membuka mulutnya.


"Aku mau tanya bagaimana perasaan Abang jika Mikha masih mencintai mantan pacarnya ?" Arin memberi satu pertanyaan kepada Adam.


Adam menatap Arin lembut.. sepertinya Adam dapat membaca apa yang sedang terjadi diantara Arin dan Seno.


"Kemarin waktu di Bandung, aku tidak sengaja menemukan photo Mikha di dalam dompet Seno..ternyata diam-diam dia masih menyimpan photo Mikha " Arin mulai terisak.


Adam diam...ia tidak tau harus bicara apa. Kini Adam pun dapat merasakan apa yang sedang Arin rasakan. Rasa cemburu dan kesal tiba-tiba berbaur menjadi satu dalam hatinya.


"Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintai aku dan masih belum bisa melupakan masa lalunya " Isak Arin.


"Biar nanti Abang bicara sama Seno " ucap Adam lembut. Ia berusaha menekan semua rasa cemburu dan kesal yang sedang ia rasakan didepan Arin.


"Apakah Mikha tau masalah ini ?" tanya Adam


*


Keesokannya sebelum pergi ke kantor Adam mampir ke hotel tempat Seno menginap. Seno yang sedang memasukkan baju kedalam tas karena siang ini akan cekout tentu saja kaget dengan kehadiran calon kakak iparnya.


Seno sudah dapat menebak maksud dan tujuan Adam mendatanginya sepagi ini. Pasti Arin sudah mengadu kepada Adam tentang pertengkaran mereka kemarin kepada kakaknya


Seno meletakan satu cangkir kopi yang baru saja dibuatnya di meja. Setelah itu ia mundur dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak ingin jika Adam tiba-tiba memukulnya seperti dulu.


"Kamu masih mencintai Mikha ?" tanya Adam to the point.


"Kenapa Abang bertanya seperti itu ?" tanya Seno


"Arin sudah cerita semuanya " jawab Adam.


Seno terdiam. Sudah bisa ditebak Adam datang pasti untuk membahas masalah ini. Adam menatap tajam kearah Seno karena pria yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu hanya diam tidak bergeming.


"Kemarin itu Arin hanya salah paham Bang. Arin menemukan photo Mikha di dompet aku..aku juga tidak tau kalau masih ada photo Mikha disana, sepertinya terselip "


"Bertahun-tahun aku pacaran sama Mikha jujur sampai saat ini aku masih sayang sama dia, namun rasa sayang aku sama dia bukan rasa sayang seperti dulu..hanya sebatas calon adik dan kakak ipar "


"Bahkan Mikha sangat mendukung hubungan kami hingga menjadi serius seperti sekarang "


Adam mendengarkan cerita Seno dengan serius.


"Kamu yakin hanya sebatas rasa sayang kakak dan adik ipar ?" tanya Adam tidak yakin.


"Iya Bang..Pada saat Abang dan Mikha nyaris bercerai sebenarnya aku mempunyai kesempatan untuk mendekati Mikha lagi tapi tidak aku lakukan. Aku sudah memilih Arin..dan aku konsekwen dengan pilihan aku..karena hanya Arin lah yang aku cintai "


Adam kembali terdiam, walaupun Seno mengatakan menyayangi Mikha hanya sebatas adik kepada kakak ipar namun tidak membuat rasa cemburu Adam surut seketika.


"Sekarang kamu perbaiki hubungan kamu dengan Arin..jangan sampai berlarut-larut karena hari pernikahan kalian yang sudah semakin dekat " saran Adam sambil menyesap kopinya.


"Iya Bang " jawab Seno.


"Dan satu lagi..aku tidak mau kamu dekat-dekat dengan Mikha apapun alasannya..karena bukan hanya Arin yang tidak akan suka tapi aku juga " lanjut Adam.

__ADS_1


"Iya Bang " jawab Seno lagi.


Setelah mengatakan itu Adam pun pamit. Pria itu melanjutkan perjalanan ke kantornya. Sebelum pulang ke Bandung Seno menyempatkan mengajak Arin makan siang. Awalnya Arin menolak namun Seno berhasil memaksa gadis itu pergi ke sebuah restoran yang berada tidak jauh dari kantor Arin.


"Kamu itu maksa sekali " Arin berusaha menepiskan tangan Seno yang terus menggenggam tangannya erat sejak mereka keluar dari mobil.


Seno tidak mengindahkan meskipun Arin terus mengomel. Setelah mendapatkan meja barulah Seno melepaskan tangan Arin.


"Kamu mau pesen apa ?" Seno memperlihatkan daftar menu kepada Arin.


"Kamu saja yang pesen..aku sedang tidak ingin makan " jawab Arin ketus.


"Ya sudah kalau begitu aku saja yang pesan " jawab Seno.


Arin hanya diam sambil memainkan ponselnya ketika Seno memesan makanan sesuai dengan keinginannya.


Namun ketika pesanan datang Arin langsung melongo karena Seno memesan makanan yang cukup banyak.


"Yakin kamu bisa habiskan makanan sebanyak ini ?" tanya Arin


"Ya tidak lah..kan kita berdua yang akan menghabiskan nya " jawab Seno santai.


"Kamu saja yang makan..aku sedang tidak mau makan " jawab Arin.


"Aku tidak mau tau..pokoknya kamu harus makan " Seno menggeser duduknya semakin mendekat kearah Arin.


"Aku tidak mau..kamu itu pemaksa sekali " Arin langsung melotot kearah Seno.


"Kalau tidak mau biar aku yang suapin " Seno mengambil sendok dan hendak menyuapi Arin.


"Buka mulutnya " titah Seno. Dengan terpaksa Arin pun membuka mulutnya.


"Aku minta kamu jangan cemburu terus sama Mikha ya..aku tuh sudah tidak punya perasaan apapun sama dia..aku cintanya sama kamu " ujar Seno sambil menyuapi Arin makan.


"Tidak punya perasaan apapun tapi masih menyimpan photonya " sindir Arin.


"Sepertinya terselip bukan sengaja menyimpannya..mungkin di kamar aku juga masih ada beberapa photo dia..nanti kamu bantuin beresin ya. Kamu tau kan kalau aku malas beres-beres "


"Tuh kan masih ada lagi " Arin langsung cemberut.


"Kan aku bilang mungkin..nanti kamu bantuin beresin kamar aku takutnya masih ada nyelip nanti kamu marah lagi " jawab Seno.


"Kamu saja yang beresin kamar kamu sendiri, kenapa harus nyuruh aku "


"Kamu kan calon istri aku.. sebentar lagi juga kamar aku jadi kamar kamu juga " jawab Seno.


"Iya nanti kalau aku ke Bandung aku bantuin beresin " akhirnya Arin pun luluh.


"Nah gitu dong..ini baru calon istri yang baik " puji Seno sambil mengacak rambut Arin.


"Aku makan sendiri saja " Arin mengambil sendok dari tangan Seno. Ia merasa malu ketika menyadari ada banyak pasang mata yang diam-diam memperhatikan mereka.


"Habis nganterin kamu ke kantor aku langsung pulang ke Bandung ya " ucap Seno sambil mengunyah makanannya.


"Kenapa buru-buru pulang ?" tanya Arin. Ia sepertinya enggan melepaskan Seno pulang ke Bandung.


"Aku kan harus kerja, cari uang buat modal kawin " jawab Seno sambil tersenyum.


"Iya " jawab Arin.


"Nanti kalau sudah menikah kita tinggal di Bandung ya " ucap Seno.


"Iya..aku akan ikut kamu di Bandung " jawab Arin.


Setelah menyelesaikan makannya Seno mengantarkan Arin kembali ke kantor. Sebelum turun dari mobil Seno meraih wajah Arin dan memberikan satu ciuman panjang di bibir Arin. Arin pun membalasnya, kedua tangan Arin membelit leher Seno membuat ciuman mereka semakin dalam.


Arin dan Seno buru-buru saling melepaskan diri ketika terdengar kaca mobilnya ada yang mengetuk dari luar.


Diluar tampak Adam sedang bertolak pinggang sambil menatap tajam pada Arin dan Seno. Setelah merapikan bajunya Arin pun buru-buru keluar dari mobil.


"Dasar nakal..pacaran tidak tau tempat " omel Adam.


Adam yang baru selesai makan siang tidak sengaja memergoki pasangan mesum itu sedang berciuman di dalam mobil.


"Maaf Bang " ujar Arin sambil menggelendot manja ditangan Adam.

__ADS_1


Setelah Arin dan Adam masuk Seno pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor Adam menuju arah luar Jakarta untuk kembali ke Bandung.


__ADS_2