My Baby Sitter

My Baby Sitter
Penjemputan


__ADS_3

Martha tertunduk dibawah tatapan tajam Papa. Setelah beberapa kali mungkir akhirnya Martha mengaku jika ia telah membantu Adam kabur.


"Kamu itu bukannya membantu saya malah membantu anak bodoh itu " Hardik Papa.


"Maaf om..saya hanya kasihan melihat Adam yang begitu tertekan karena ia harus bertanggungjawab pada sesuatu yang tidak ia lakukan " ujar Martha sambil menunduk.


"Dengan membantu anak bodoh itu kabur justru semakin menambah masalah " omel Papa.


"Maaf Om " jawab Martha.


"Sepertinya kamu ingin saya pecat lagi ya " ancam Papa.


Martha terdiam. Sebetulnya jika Papa Adam memecatnya pun ia tidak masalah. Hidupnya tidak akan kelaparan meskipun ia menjadi pengangguran.


"Katakan pada saya dimana Adam sekarang berada " perintah Papa.


"Adam ada di pesantren milik teman saya di Surabaya " akhirnya Martha memberitahu keberadaan Adam.


"Di pesantren di Surabaya ?..kenapa kamu tidak sekalian ikut tinggal disana seperti Adam...biar insyaf " sindir Papa.


Martha hanya diam menunduk. Ia sadar sangat sulit menghilangkan image buruknya setelah skandalnya dengan Adam terungkap.


Setelah mendapatkan alamat pesantren tempat Adam bersembunyi, besoknya Papa ,Mama, Mikha dan Millie terbang ke Surabaya untuk menjemput Adam.


Setelah menempuh perjalanan cukup panjang akhirnya mereka pun sampai di sebuah pesantren tempat Martha menyembunyikan Adam.


Pemilik pesantren yang kebetulan teman Martha membawa mereka ke sebuah bangunan yang terpisah dengan bangunan utama.


"Bangunan ini sengaja kami buat khusus untuk orang-orang yang sedang membutuhkan ketenangan seperti mas Adam " ujar pemilik pesantren itu.


"Apiih ana mmiiih..?" Millie mulai tidak sabar ingin bertemu Papihnya.


"Papihnya ada disana " teman Martha menunjuk kearah satu bangunan yang lebih besar dari bangunan yang ada disana.


"Silahkan jika ingin bertemu dengan mas Adam..kalau begitu saya tinggal dulu " teman Martha pamit meninggalkan Papa, Mama, Mikha dan Millie didepan pintu kamar Adam.


Setelah teman Martha pergi, Papa mengetuk pintu kamar Adam yang tertutup rapat. Setelah beberapa kali diketuk pintu pun terbuka. Adam yang memakai kaos dan sarung bengong begitu melihat orang-orang tersayang nya sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Sejenak mata Adam langsung tertuju pada putri kecilnya yang berada dalam gendongan Mikha.


"Millie Sayang ini Papih Nak " Adam hendak meraih Millie dari gendongan Mikha namun Millie menolak. Millie menyembunyikan wajahnya dibahu Mikha.


Karena Millie terlihat takut Mikha pun membawa Millie keluar. Mikha membawa Millie duduk disebuah taman disebelah kamar Adam.


Beberapa bulan tidak bertemu membuat Millie tidak mengenali Papihnya karena kini Adam memanjangkan rambut dan janggutnya.


"Dasar anak bodoh.. seenaknya saja bersembunyi disini. Kamu itu bisa-bisanya lari dari tanggungjawab dan membebankan semua tanggung jawab kepada orangtua " Papa langsung memarahi Adam.


Adam tidak menjawab, ia sudah bisa menebak maksud kedatangan mereka adalah untuk membawanya pulang dan memaksa nya untuk menerima Cintya dan bayinya.


"Maaf Pah..Abang bukan lari dari tanggungjawab, tapi Abang tidak mau harus bertanggung jawab pada sesuatu yang tidak Abang lakukan " bela Adam.


"Kamu pikir Mikha dan Millie bukan tanggung jawab kamu ?" tanya Papa geram.


"Tentu saja tanggung jawab Abang " jawab Adam


"Lalu kenapa kamu tinggalkan ?" Mama yang daritadi diam akhirnya ikut bicara.


"Wajar istri kamu minta pisah..istri mana yang rela dimadu " hardik Mama.


"Abang dijebak Mah..Abang sudah insyaf..tapi kalian tidak ada yang percaya pada Abang " jawab Adam.


"Papa dan Mama sekarang sudah percaya sama kamu " Mama mengusap punggung putranya lembut.


"Maafkan kami ya sudah tidak percaya sama Abang " Papa memeluk bahu Adam.


"Sebaiknya kamu segera ikut pulang dengan kami dan secepatnya ceraikan Cintya mumpung dia belum kembali ke Canada " ujar Papa sambil mengurai pelukannya.


"Maksud Papa ?" tanya Adam tidak mengerti.


"Papa suruh orangtuanya untuk menjemput Cintya dan bayinya " jawab Papa


"Cintya sudah melahirkan ?" tanya Adam


"Iya..anaknya bule..makanya Mama yakin jika bukan kamu yang sudah menghamili dia " jawab Mama.

__ADS_1


"Akhirnya kalian percaya juga " gumam Adam.


"Kamu tidak kangen sama anak dan istri kamu ?" tanya Papa.


"Ya pasti kangen Pah..tapi Millie takut melihat aku " jawab Adam.


"Terus kamu mau biarkan mereka berdua diluar ?" tanya Mama.


Adam merapikan rambutnya sebelum keluar untuk menemui Mikha dan Miliie yang sedang duduk dibangku taman.


"Millie ini Papih Sayang " Adam mendekat kearah Mikha untuk mengambil Millie namun Millie menolak untuk Adam dekati.


"Millie takut lihat Abang..soalnya Abang sekarang jelek " ujar Mikha.


"Tapi kamu tidak takut kan sama Abang ?" tanya Adam mencoba menggoda Mikha.


Mikha tidak menjawab, ia hanya mengelus kepala Millie yang bersembunyi didadanya.


"Ngapain ikut jemput kesini kalau masih judes sama Abang " gumam Adam.


"Aku diajak Mama sama Papa " jawab Mikha. Mikha tidak mengaku jika ia sempat berkata pada Millie jika akan ikut membantu mencari Adam.


"Ooh..Abang pikir atas inisiatif kamu sendiri " ujar Adam sedikit kecewa.


Meskipun Millie masih menolak untuk Adam dekati, akhirnya Adam pun ikut pulang ke Jakarta keesokannya.


Di Jalan Adam menyempatkan diri untuk mampir di sebuah barber shop untuk mencukur rambut dan janggutnya yang mulai tumbuh di dagunya. Ia tidak ingin Millie terus-terusan takut padanya.


Setelah melihat penampilan Adam kembali rapi, barulah Millie mau di gendong oleh Adam.


Adam tidak henti-hentinya menciumi wajah Millie.


Beberapa bulan tidak bertemu Millie tentu saja membuat ia sangat rindu. Kalau dengan ibunya biarlah urusannya nanti setelah sampai rumah.


Sepanjang perjalanan Millie tidak mau lepas dari gendongan Adam. Bocah lucu yang sudah pintar berjalan itu terlihat sangat merindukan Papihnya.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka pun sampai ke Bandung. Setelah beristirahat sejenak Adam dan Papa kemudian pergi ke rumahsakit tempat Cintya melahirkan untuk menceraikan Cintya hari itu juga. Dengan berderai air mata akhirnya Cintya harus rela menerima nasibnya menjadi janda.

__ADS_1


__ADS_2