My Baby Sitter

My Baby Sitter
7


__ADS_3

Tentu panik, suasana sudah sangat panas karena sudah hampir semua ruangan terbakar. Kini mereka masih berada di depan kamar yang digunakan untuk menyekap Gyuri yang belum tersentuh api.


Kraak ... Brugh ...


Jatuh sebuah tiang penyangga karena sudah terbakar, dan kini menghalangi langkah mereka. Dan di saat semua panik, Gyuri mulai sadar dan dia sangat terkejut melihat sekitarnya adalah api.


"Oppaa ... Akhirnya kita bertemu juga," Bisik Gyuri sambil memeluk Jungkook lebih erat.


"Ne chagi. Maaf oppa datang terlambat," ucap Jungkook sedih.


Gyuri mengecup bibir kekasihnya membuatnya terkejut.


"Jangan menyerah, jangan sedih oppa kita akan keluar dari sini," ucap Gyuri yakin.


Sementara yang lain sudah geleng-geleng kepala melihat mereka yang bermesraan di situasi yang tidak tepat.


Gyuri pun turun dari gendongan kekasihnya.


Ia berjalan kembali memasuki kamar yang mengurungnya. Ia mengambil kursi yang kebetulan ada di situ dan melemparkannya ke jendela dengan kuat. Ke tujuh pria itu terbengong menyaksikan aksi heroik Gyuri.


Jendela terbuka dan mereka bisa menyelamatkan diri. Satu persatu Setelah Gyuri para pria itu memanjat keluar dari jendela, begitu mereka semua berada di luar villa itu, villa itupun ambruk dan rata dengan tanah. Mereka semua bergidik ngeri menyaksikannya. Andai saja sedikit mereka terlambat keluar, mereka akan di temukan sudah menjadi mayat gosong.


"Jadi di mana sibrengsek pengecut itu! Hansung harus diselesaikan saat ini juga. Jika tidak, akan ada hal lainnya yang terjadi dikemudian hari." Hoseok mengingat Jungkook jika sang pelaku belum tertangkap.


Mereka menyerahkan kasus penculikan Gyuri, percobaan pembunuhan terhadap Jungkook yang di lakukan oleh Hansung kepada kepolisian terbaik. Satu Minggu sudah berlalu sejak kejadian penculikan itu. Dan kini Jungkook sudah aktif kembali di perusahaan miliknya. Park Jimin diangkat menjadi wakil Presdir dan Kim Taehyung sebagai sekretarisnya. Dan Gyuri, ia menjadi sekretaris ganda untuk Jungkook. Karena selain menjadi sekretaris dia juga adalah kekasih pemuda tampan itu.


Sementara Hansung, dia saat ini terkurung di rumah sakit jiwa karena terlalu frustasi dan stress. Ia bertingkah seperti anak kecil yang kekurangan kasih sayang dan slalu mencari nonanya yang sesungguhnya tidak pernah ada. Sementara Hanbin, ia dengan setia menjaga sahabatnya. Bahkan ia juga mendatangi keluarga Jeon untuk meminta maaf. Atas semua hal yang telah di lakukan oleh Hansung. Dan dia di maafkan.


***


Hari ini Jimin diharuskan untuk ke Jepang.

__ADS_1


Dikarenakan ia sekarang adalah wakil Presdir, ia diharuskan untuk menggantikan sang Presdir yang berhalangan hadir. Dengan ditemani Taehyung iapun setuju saat Jungkook mempercayakan tugas ini, karna termasuk berat. Ia harus berhasil membuat tuan Okinawa setuju bekerja sama dengan perusahaan.


Setelah Jimin dan Taehyung pergi ke jepang, tugas di kantor menjadi banyak dan menumpuk. Di tambah Jungkook sudah lama resain dari pekerja'annya dan juga karena lebih menggunakan, mempercayakan semua pekerjaan pada dua sahabatnya. Sekarang dia benar-benar stres melihat tumpukan berkas dan dokumen yang tak berkurang dari tadi ( secara cuma diliatin aja tu berkas , gak di kerjain. Makanya nambah banyak aja)


"kau ingin membuatku mati bosah Gyu," omel Jungkook saat sang skretaris kembali menambah pada tumpukan yang belum tersentuh.


"itu karna presdir hanya menatap tumpukan itu saja dan tidak mengerjakannya," balas Gyuri.


"kemari, aku butuh asupan energi terlebih dulu," ucap Jungkook sambil menghulurkan tangan kanannya.


Tanpa banyak tanya atau protes, Gyuri mendekat dan menerima uluran tangan dari bos sekaligus kekasihnya.


***


JEPANG...


Di salah satu hotel bintang 5. Taehyung sedang berbaring sambil memejamkan matanya. Sementara Jimin saat ini sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Mereka baru saja tiba di hotel tersebut beberapa waktu yang lalu.


"Tae, kau tak ingin ikut? Aku ingin mencari makanan," ucap Jimin, saat ini ia telah siap dengan pakaian kasualnya.


"baiklah, aku pergi dulu," tambah Jimin sambil berlalu.


Pemuda tampan itu terus berjalan menyusuri jalan setapak, sudah lebih dari 2 jam ia keluar dari hotel dan belum berniat untuk kembali.


Lagi pula masih sore, Ia terus menikmati sejuk udara di taman yang ia temukan. Kemudian ia duduk disalah satu bangku yang disediakan. Menatap anak-anak yang bermain bersama, hingga pandangannya tertuju pada seorang bocah laki-laki yang sedang menangis. Jimin mendekati anak laki-laki itu dan berjongkok didepannya.


"Kenapa menangis hemm?" tanya Jimin lembut.


"Sa- sakit hiks ... hiks ..." ucap anak itu sambil terus menangis, ia juga menunjukan lututnya yang berdarah.


"Hey ... Jagoan tidak boleh menangis ne, mari biar paman obati," kata Jimin lembut.

__ADS_1


"Tidak paman, terima kasih. Kata Eomma aku tidak boleh percaya pada orang asing," balas anak itu, ia sudah berhenti menangis.


Entah mengapa Jimin merasa ingin dekat dengan anak itu, bahkan hatinya berdenyut sakit saat anak kecil itu mengatakannya orang asing.


"Kalau begitu kita berkenalan dulu bagaimana? Agar kita bisa jadi teman," tawar Jimin semangat sambil mengelus lembut surai berwarna coklat terang itu. Warna yang sama dengan rambut aslinya saat ini.


"Baiklah paman. Kalau begitu paman duluan," ucap anak itu lagi.


"Baiklah. Nama paman adalah Jimin, usia paman tahun ini 29 tahun, dan paman tinggal di seol," ucap Jimin singkat.


"Seol? Paman tinggal di sana? Kata eomma appa juga tinggal di seol-seol itu untuk bekerja. Tapi hingga kini aku tak pernah berjumpa karna appa tak pernah menjemput ku, kata eomma mungkin appa lupa." Anak itu berbicara sambil tertunduk sedih.


"Hey jangan sedih, nanti paman traktir es cream bagaimana?" Bujuk Jimin lagi karna ia melihat anak itu hampir menangis lagi.


"Paman masih belum tau tentang mu?" Tambah jimin lagi.


"Ah iya paman, lupa. Namaku Jimnah, sebenarnya aku gak suka nama itu, seperti nama perempuan saja, padahal akukan laki-laki. Umurku 5 tahun dan aku tinggal gak jauh dari taman ini," ungkap anak yang mengaku namanya adalah Jimnah.


Sekilas Jimin merasa melihat dirinya sendiri saat kecil dulu. Mereka berdua cepat akrab, lutut itu juga sudah di obati oleh Jimin dan di tutup perban. Kini keduanya sedang menikmati es cream dengan rasa yang sama. Karena keduanya mengatakan pesanannya bersama'an. Karena hari sudah bertambah sore, Jimin memutuskan mengantar anak itu pulang. Dan benar saja kata anak itu, rumahnya tak jauh taman.


"Sebentar ya paman, aku panggi eomma dulu." Jimnah berlari kecil memasuki ruangan lain dan meninggalkan Jimin di ruang tamu.


"Siapa yang kau bawa sayang?" Tanya suara perempuan.


'DEG!'


suara itu Jimin mengenalnya, bahkan sangat ia rindukan selama ini. Hingga ia mencari sumber suara itu, Jimin mengikuti asal suara yang sangat ia rindukan.


"Eomma, aku memiliki teman baru, seorang paman tampan yang akan aku jodohkan sama eomma. Jadi kita tak perlu menunggu appa datang," kata Jimnah dengan wajah dan suara yang lucu.


"Hahaha... Sayang. Darimana kau tau kata-kata seperti itu hemm? Eomma..."

__ADS_1


"Kim Minah!" Bentak Jimin memotong pembicara'an antara anak dan ibu tersebut.


Mendengar namanya di panggil oleh suara yang amat ia rindukan selama ini. Kim Minah mematung tak percaya saat ini. Pria yang ia hindari saat ini berdiri dihadapannya dengan wajah penuh amarah.


__ADS_2