
Sambil menggerutu akhirnya Gyuri kembali ke dapur, ia memilih untuk membereskan dapur yang sedikit berantakan karena ia menggunakannya tadi. Setelah selesai, Gyuri kembali ke kamar tuan mudanya, lebih tepatnya menunggu di luar pintu kamar ia berdiri. Satu jam berlalu dan ia masih di situ.
"Sedang apa kau berdiri di sini Gyuri ah?masuklah," ucapan yang tiba-tiba menyapa membuatnya sedikit terkejut.
"Ah ... Nyonya, Saya tidak berani masuk. Takut tuan muda marah lagi," ucap Gyuri sambil menunduk.
"Hmm ... Anak itu. Susah sekali di atur!" gerutu Nyonya Jeon sambil membuka pintu kamar Jungkook.
"Ayo masuk. Tak usah takut," tambah Nyonya Jeon lagi. Dan Gyuripun menurut.
"Jungkook ah ... kenapa kau membiarkan perawatmu berdiri di luar?" Nyonya jeon berucap tanpa basa-basi.
"Eomma, berapa kali aku bilang? tak butuh perawat! aku bukan balita yang memerlukan baby sister sepertinya," sentak Jungkook acuh, ia bahkan tidak melepas pandangannya dari ponselnya.
"Ini yang terakhir kokie ah ... Eomma mohon jangan mempersulit eomma dengan sifat keras kepalamu itu," Tambah Nyonya Jeon, Jungkook menatap eommanya yang kini juga sedang menatapnya dengan pandangan sayu plus sedihnya.
"Huuhh ... Baiklah, demi Eomma senang.
Aku akan menerimanya, dan kita lihat seberapa lama ia betah melayani ku," sinis Jungkook sambil menatap Gyuri tajam.
__ADS_1
Sementara yang di tatap hanya dapat menundukkan kepalanya, ia enggan untuk membalas tatapan Jungkook yang mengintidimasinya.
"Eomma senang sekarang, juga tenang karena eomma akan pergi menyusul appamu," ujar Nyonya Juga dan, melangkah keluar dari kamar putra tersayangnya.
"Apa eomma akan lama di Brazil?" Jungkook mengikuti eommanya menuju pintu depan.
"Maaf Nyonya, mobil sudah siap dan barang-barang Nyonya juga sudah di dalam bagasi," tutur supir kepercayaan keluarga Jeon.
Setelah melaporkan hal tersebut, sang supir pun undur diri.
"Eomma tak lama kookie, begitu urusan appa mu selesai kami akan segera pulang." Nyonya Jeon mengusap lembut Surai halus milik putranya. Sebenarnya Nyonya Eunha berat untuk meninggalkan Jungkook di rumah, namun suaminya membutuhkan bantuannya.
"Baiklah eomma, eomma baik-baik di sana dan jaga kesehatan eomma. Sampaikan salamku untuk appa," ucap jungkook.
Nyonya Eunha hanya tersenyum menanggapi Jungkook yang terlihat khawatir.
"Gyuri, tolong jaga dengan baik putra kesayanganku ini. Dia mungkin akan sedikit kasar padamu, namun bertahanlah." Nyonya Eunha berbicara setelah membawa Gyuri sedikit menjauh dari Jungkook.
"Baiklah Nyonya, tak usah khawatir." Gyuri berujar sambil menunduk karena majikannya terlihat akan memasuki mobilnya, dan perlahan kendaraan itu melaju meninggalkan halaman rumah yang luas itu.
__ADS_1
"Huuff ... ." Gyuri menarik napas untuk menenangkan diri.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ? cepat masuk dan buatkan kue atau camilan karena sebentar lagi teman-temanku akan datang." Ucapan khas seorang Jeon Jungkook kembali menyapa pendengarannya, dingin dan ketus.
Namun Gyuri sudah berjanji pada nyonya Jeon bahwa ia akan bersabar.
***
Di saat Gyuri sedang sibuk di dapur membuat makanan ringan sesuai permintaan, ah tidak!perintah tepatnya. Tiba-tiba saja terdengar suara yang heboh dari arah kamar tuan mudanya.
"Mereka pasti sudah datang," gumam Gyuri sambil memasukan makanan yang ia buat ke dalam wadah. Lalu ia mengambil beberapa minuman kaleng dari dalam kulkas untuk melengkapi bawaannya. Kemudian segera menuju ke kamar tuannya. Karena pintu tak di tutup Gyuri langsung masuk saja.
"Bagaimana menurutmu Presdir Jang? apakah pekerjaan kami memuaskanmu." Terdengar oleh Gyuri suara seseorang yang tak asing di telinganya.
"Maaf tuan muda. Ini pesanan anda," ucap Gyuri sambil melangkah masuk dan langsung menuju ke meja yang berada di sudut kamar, dan meletakan semua bawaannya.
"Hann Gyuri?! benarkah ini kau?" terka salah satu tamu tuan mudanya.
"S-sunbae park? " gugup Gyuri saat melihat siapa yang memanggilnya. "S-sunbae Kim?" tambah Gyuri saat tau bahwa bukan satu orang saja yang ia kenal sebagai tamu dari tuan mudanya.
__ADS_1