
Beberapa pasang mata wanita memandang lekat ke arah sosok pria berkacamata hitam yang baru saja turun dari mobil mewahnya . Ketampanannya tidak akan mampu ditolak, ditunjang dengan aroma kekayaan menguar dari mobil dan pakaian mahal di tubuhnya .
Sekumpulan wanita yag sejak tadi memperhatikan pria itu tentu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapat tangkapan besar .
Pria dengan setelan jas sebagai seragam kantornya menyadari jika yang jadi pusat perhatian kini adalah Farrel .
" Sore Pak Farrel , " sapanya ramah saat Farrel menunggu pintu lift terbuka .
Farrel melepas kacamata hitamnya , tersenyum pada pria yang menyapa membuat sudut matanya ikut menyipit .
Pria itu adalah salah satu karyawan hotel yang bertanggung jawab untuk pestanya .
Para wanita di sekitar mereka seperti melayang melihat senyum yang sebenarnya bukan untuk mereka .
" Kebetulan bertemu Anda disini , apa anda tahu kamar tunangan saya dimana ? " tanya Farrel .
Buuugghhhh....... buuuuggghhh.....
Duuuaaarrr......Duuuuuuaaarrr........
Jika bisa terdengar , mungkin suara benda benda berjatuhan akan memecah suasaana kala itu . Para wanita yang harusnya masih melayang-layang menikmati keindahan senyum seorang pria , harus rela di tarik kembali oleh gaya gravitasi Bumi agar bisa sadar jika pria itu sudah memiliki tunangan .
" Kamar tunangan Anda ? Hemm... hari ini kamar yang disiapkan untuk Jatmika Company ada banyak Pak , " ujarnya ragu .
" Jika Pak Farrel mau menunggu , saya akan cek dan cari dulu Pak . Bagaimana ? " tawarnya .
" No , thanks . Biar saya sendiri yang mencarinya , lain kali saya ingin keberadaan tunangan saya lebih diperhatikan lagi . " Tegas Farrel .
Pintu lift terbuka , Farrel masuk tanpa sepatah kata apapun meninggalkan karyawan itu dan wanita-wanita yang kembali mengaguminya .
" Sweet banget sih , tampan dan penyayang . Tuhan bisa kah kau sisakan satu stock pria seperti itu untukku ? " komentar salah satu wanita yang segera mendapat sorakan dari rekannya yang lain .
Sementara karyawan pria yang sedikit kemayu masih terpaku ditempatnya hingga seorang karyawan lain menegurnya " Pak.. kok diam di sini ? " tanyanya .
" Apa kamu tahu di mana kamar tunangannya CEO Jatmika ? " tanyanya .
" Tentu saja saya tahu Pak , di lt. 37 . President suit room nomor 3703 Pak . " Jawabnya lancar .
" Bagaimana kamu bisa tahu ? " Ia semakin bingung dengan ketidak tahuannya .
" Bukannya hal itu yang hari ini jadi priority Pak , semua karyawan diminta perhatikan pelayanan untuk room itu Pak. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun . Bahkan tadi kita semua ditunjukkan foto Nona itu . " Jelasnya dengan bangga karena sangat mengerti dengan tugasnya .
" Memangnya ada apa Pak ? " tanyanya melihat rekan kerjanya tampak pucat dan lesu tiba-tiba .
Tidak ada jawaban , Ia berlalu dengan menyesali kesalahannya . " Andai saja aku datang tepat waktu dan ikut briefing juga , " sesalnya .
Tanpa mereka sadari , kedua karyawan tadi telah membuat kesalahan . Seorang wanita yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar akhirnya dengan mudah bisa mengetahui dimana kamar wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaannya .
" Tunggu saja pembalasanku . Wanita gila seperti Cyrin harus tahu dimana tempatnya berada . "
Wanita berpakaian serba hitam dengan masker yang menutupi wajahnya segera berlalu meninggalkan hotel . Ia masih tak percaya karena percakapan dua karyawan bodoh tadi , dia bisa menyelesaikan tugasnya tanpa harus mengeluarkan tenaganya sedikitpun .
Wanita itu masuk kedalam sebuah mobil mewah yang menjemputnya di depan pintu lobby .
" Bagaimana Nona ? Jika sulit , biar saya saja yang mengerjakannya . " Ujar pria dengan punggung tangan dihiasi tatto bergambar pisau.
" Kau meragukanku ? Aku bisa lebih licik dari dugaanmu . Ayo jalan , kita masih bisa bersenang-senang beberapa ronde sebelum waktunya tiba . " Ujar wanita itu dengan seringai penuh kebencian di wajahnya .
Dengan kebahagiaan yang terpancar dari senyum di wajah tampannya , di kamar president suite Farrel sedang mencari-cari keberadaan Cyrin .
Tentu saja Farrel tahu dimana kamar Cyrin . Hal sepenting itu tentu tidak akan Ia lewatkan . Ia sengaja agar wanita wanita yang terus menatapnya tahu jika dirinya sudah ada yang punya , hanya milik Cyrin seorang .
" Yang.... Sayang .... bongkahan berlianku , dimana kamu ? " teriak Farrel membuat kegaduhan .
" Sayang ... kamu dimana ? Bongkahan berlianku dimana kemu bersembunyi ? Mas mu sudah datang , " teriaknya lagi tanpa malu .
" Yang ... sayang .... dimana kamu ? Mas merindukanmu ..... "
Mama Anin yang sedang berbaring di sofa dengan masker wajah serta irisan timun yang menutupi kedua matanya akhirnya buka suara menegur putranya yang terus berteriak seperti sorang tarzan di tengah hutan .
" Kamu baru datang tapi sudah buat keributan , malang sekali nasib calon mantuku itu . " tegur Mama Anin .
" Astaga Mama , ngagetin Farrel . Wajah mama kenapa ? " tanyanya penasaran .
Untung Farrel mengenali suara mamanya , jika tidak mungkin Ia akan mengira jika siang itu ada mbak kunti yang kerajinan , masih siang sudah mulai bekerja .
" Ini namanya masker wajah , biar mama makin glowing . " Jelas mamanya .
Di tengah perbincangan keduanya , sosok Cyrin keluar dari balik pintu .
__ADS_1
Farrel seketika terpaku ditempatnya . Mengagumi ciptaan Tuhan yang sungguh indah .
" Mas Farrel udah datang , " sapanya .
" Mas... " ulangnya .
Farrel menggelengkan kepalanya , menyingkirkan bayangan-bayangan mesum di otaknya .
" Hemm..... apa yang kalian pakaikan pada bongkahan berlianku ? " tanyanya .
Pertanyaan Farrel Ia tujukan pada dua orang karyawan butik yang membantu Cyrin mencoba beberapa gaun yang dipesan Mama Anin .
" Maksud Mas apa ? " tanya Cyrin .
" Gaun itu ? " tanya Farrel mengikuti langkah Cyrin kedepan cermin meja rias .
Ia ikut berdiri di belakang Cyrin yang sedang memandangi penampilannya .
" Memangnya kenapa Mas ? Jelek yah ? " tanya Cyrin .
Farrel melingkarkan tangan kirinya di pinggang Cyrin dari belakang, menarik wanita itu mendekat padanya .
Sementara tangan kananya , membelai lembut pundak Cyrin yang terbuka. Gaun putih berpotongan A line itu , gaun bertali spaghetti itu memiliki bagian punggung yang rendah .

Belaian Farrel di pundak Cyrin terus turun ke lengannya,
" siapa yang mengizinkanmu memakai ini sayang ? " tanyanya dengan suara berat.
" Ma... ma . " Jawab Cyrin terbata .
" Ma ... kenapa memesan gaun seperti ini untuknya ? " tanya Farrel tanpa menoleh ke arah mamanya .
Farrel dan Cyrin saling bertatapan melalui cermin di hadapan mereka .
" Kenapa ? Cantik kok . " Jawab Mama Anin .
" Rin, jangan dengarkan Farrel . Pakai yang itu saja , Mama yakin menantu Mama akan jadi bintangnya malam ini . " Ujar mama dengan bangga .
Farrel mendengus , " apa kamu juga setuju dengan Mama ?
Cyrin yang ditanya kembali menatap lekat dirinya di cermin .
" Cantik . Aku suka pakaian yang simple , dan tidak banyak motif atau hiasan . Warnanya putih , secerah bintang . Hemmm ku rasa Mama benar . " Jawab Cyrin .
Ia tahu kini Farrel pasti kesal .
Niat Farrel ingin menjahili tunangannya dengan julukan bongkahan berlian tapi malah berbalik menjadi dia yang dibuat kesal dengan dua orang wanita yang sangat Ia cintai .
" Aku tak izinkan . " Ujar Farrel .
" Tidak ada bantahan sayang . Pakai gaun yang sudah ku siapkan jika kamu tetap ingin datang ke pesta sayang . " Lanjutnya .
__ADS_1
" Tapi kalau kamu memaksa memakai gaun ini , maka jangan salahkan aku , jika kita berdua akan menghabiskan malam ini hanya di dalam kamar . " Ancam Farrel .
Pria itu sudah siap-siap mendaratkan ciuman pada tengkuk Cyrin , tapi .....
*Plaaaaaakkkkk* .....
Mama Anin mendaratkan pukulan di kepalanya dengan majalah yang tadi Ia baca .
" Ma ..... " protes Farrel .
" Kenapa ? Ngapain ngancam menantu mama semalam di dalam kamar ? " balas Mama Anin .
" Halalin dulu , baru boleh ngajak ke kamar . " Lanjutnya .
" Ya gak mukul kepala juga Ma , " ucapnya .
" Biar otak kamu bergeser kembali ke tempat yang benar . Memang kamu gak malu yah , mau cium cium dilihatin mama ? " ocehan Mama Anin seperti nyanyian yang tidak ada hentinya .
Mama Anin menarik tangan Cyrin untuk mengikutinya kembali ke dalam kamar .
" Yuk Rin , kita coba gaun yang lain lagi . Masih banyak pilihan kok , yang panjangnya hanya setengah paha juga ada . " Mama Anin sengaja menaikkan volume suaranya agar Farrel bisa mendengar .
Sebelum menutup pintu kamar , Cyrin menatapnya sambil mengedipkan satu matanya menggoda Farrel .

Farrel tertawa kecut , Mama Anin dan Cyrin sukses besar membuatnya kesal .
" Jika Mama dan Cyrin terus bersekutu , bisa gawat . Sekarang aja aku udah kalah duluan sebelum perang . " Batinnya .
Terlepas dari Farrel yang kesal diluar , kedua wanita itu kini sedang tertawa puas . Berkat Daffin yang tanpa sengaja membongkar rencana Farrel .
.
.
.
.
.
" *Aku memang pendiam, diam-diam aku jatuh cinta padamu*. "
" *Ada jamu, di atasnya kuku. Ternyata tawamu membekas di hatiku*. "
"*Berulang tahun memang indah. Akan tetapi lebih indah jika berulang kali bersamamu*."
"*Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end*. "
"*Angkutan kota jauh dekat 2.000, kalau kamu jauh dekat ya di hatiku*. "
" *Sebelum kamu mainin perasaanku, jangan lupa pencet tombol startnya yah* . "
.
.
.
.
.
To be continue.
__ADS_1
\*\* Readers kalian digombalin sama Farrel dan Cyrin . Yang jago nge-gombal jangan mau kalahhhhhh ,,,, balas dikomen yah \*\*\*\*