
Pagi ini di perusahaan Wiguna beberapa divisi sangat sibuk mempersiapkan materi yang akan mereka presentasikan pada Jatmika Company .
Begitu juga dengan divisi pemasaran , Angga dan Cyrin yang juga ikut bertanggung jawab untuk proyek ini sudah berulang kali merevisi bahan presentasi mereka .
" Ku pikir lebih baik kamu yang melakukannya . " Ucap Angga .
" Aku ? " Cyrin kembali memastikan .
" Iya kamu . Bolehkah kali ini saja kita memanfaatkan hubungan dekatmu dengan Pak Farrel ? " Ucap Angga ragu .
Cyrin terdiam cukup lama , membuat Angga merasa telah salah berucap .
" Maaf jika aku menyinggungmu . "
" Tak apa . Bukan seperti itu , tapi menurutku menggunakan ide itu saat ini tak akan berhasil . " Ucap Cyrin tak bersemangat .
Ia jadi kembali mengingat jika saat ini hubungannya dengan Farrel tidak begitu baik .
" Ohh baiklah. Kita percaya saja dengan hasil kerja keras kita sejak semalam . " lanjut Angga menyemangati membuat Cyrin kembali tersenyum .
Keduanya lalu kembali fokus melanjutkan untuk memeriksa kembali materi presentasi mereka .
Sementara di sebuah ruang rawat VVIP rumah sakit , Nino yang baru saja selesai menikmati sarapannya sedang menerima laporan dari Alvin terkait kondisi terkini perusahaan .
" Apa sih sebenarnya yang direncanakan pria itu ? " ucap Nino kesal setelah mengetahui permintaan Jatmika Company .
" Entahlah Pak , tapi saat ini semua divisi sedang mengusahakan yang terbaik . " Ucap Alvin .
" Tapi , Bapak juga sepertinya harus mengucapkan terimakasih pada Pak Farrel . Beliau juga ikut menunggui Bapak saat sedang dioperasi , hanya saja beliau langsung pergi ketika dokter telah menyatakan operasi selesai . " Lanjut Alvin .
" Oh yah , aku tak yakin dia melakukan itu karena benar benar peduli . Aku semakin yakin jika permintaan Jatmika ada sangkut pautnya dengan ini semua . " Pendapat Nino .
" Dimana Cyrin sekarang ? " tanya Nino .
" Di kantor . Dia bersama Pak Angga dan yang lainnya sedang mempersiapkan semuanya . "
" Tolong hubungi dia dan minta kesini . " perintah Nino .
" Apa Bapak ada ide , alasan yang harus ku katakan padanya untuk memintanya segera kemari padahal keadaan di perusahaan sedang sibuk sibuknya ? "
Keduanya terdiam sejenak , memikirkan alasan yang tepat untuk meminta Cyrin ke rumah sakit .
Bersamaan dengan masuknya Mama Nino ke dalam ruang rawat putranya .
__ADS_1
" Apa yang sedang kalian bicarakan , sepertinya sangat serius ? " ucap Mama Nino .
" Putra Nyonya sangat ingin bertemu pujaan hatinya , namun kami belum menemukan alasan untuk memintanya kemari . " Jawab Alvin jujur sehingga mendapatkan tatapan tajam dari sang bos .
" Ohh hanya itu . Serahkan saja pada Mama . "
Mama Nino segera mengambil ponselnya dan menghubungi Cyrin . Dengan alasan Nino yang yang sejak kemarin belum makan , Ia meminta Cyrin datang dan membantu membujuk Nino .
Nino bahkan ingin sekali protes dengan alasan yang baru saja diucapkan Mamanya . Bagaimana bisa Mamanya berpikir untuk berbohong . Namun setelah mendengar jika Cyrin setuju dan akan segera datang setelah mendapat izin dari Angga maka Nino membatalkan niatnya untuk protes .
Setelah permasalahan Cyrin selesai , Alvin segera pamit untuk kembali ke kantor meninggalkan sepasang Ibu dan Anak tersebut .
Di perusahaan Jatmika sendiri , Daffin sedang kewalahan menyiapkan keperluan rapat untuk presentasi produk baru oleh Perusahaan Wiguna .
Ditambah lagi dengan Farrel yang sejak pagi dalam suasana hati yang kurang baik membuat hampir setiap hal yang karyawannya lakukan tidak sesuai keinginannya . Alhasil sudah sejak pagi Farrel terus saja marah marah .
" Pak , tim dari perusahaan Wiguna sudah tiba di ruang rapat . " Ucap Daffin .
" Baguslah . Ayo kita kesana . " Jawab Farrel dengan tidak sabarnya .
Keduanya bergegas menuju ke ruang rapat . Hanya satu yang Farrel inginkan saat ini , adalah melihat wajah cantik Cyrin . Sejak kemarin dia sudah sangat merindukan wanita itu , namun ego nya masih terlalu besar .
Walaupun kecewa , tapi Farrel masih ingin berpikiran positif jika mungkin saja Cyrin akan datang terlambat .
Rapat sudah dimulai . Tim dari perusahaan Wiguna mulai mempresentasikan materi yang telah mereka siapkan . Di mulai dari pengenalan produk dan produksi produk .
Sejauh ini masih berjalan lancar , walaupun tidak bisa fokus sepenuhnya tapi Farrel berusaha untuk tetap memperhatikan presentasi .
Beragam pertanyaan , kritik , juga saran terdengar diruangan tersebut dari masing masing perusahaan .
Sampai pada saatnya bagian pemasaran produk , Angga dengan penuh percaya diri mulai maju untuk menyampaikan presentasinya .
" Pak Angga bukannya di timmu, kamu tidak sendiri ? " tanya Farrel yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya .
" Benar Pak saya bersama rekan saya, Cyrinda . Namun mohon maaf , Cyrin saat ini berhalangan untuk hadir . " Jawab Angga .
Farrel mulai hawatir dengan keadaan Cyrin . Ia mulai cemas jika bisa saja Cyrin sakit dan kelelahan karena semalam harus lembur hingga larut malam .
Namun kehawatirannya tidak berlangsung lama , karena Ia mendapat pesan dari orang suruhannya yang mengikuti Cyrin jika wanita itu kini sedang berada di rumah sakit tempat Nino di rawat .
Farrel menjadi makin cemburu . Bahkan rasa cemburunya kini sudah mengalahlan profesionalitas yang selama ini Ia jaga . Itu semua karena Ia tak menyangka Cyrin sampai melalaikan tugasnya hanya untuk menemui seorang pria .
Angga yang baru saja memulai presentasinya segera di hentikan oleh Farrel .
" Stop . Aku rasa presentasimu cukup sampai disini saja . Kita lanjutkan saja rapat ini nanti saat perusahaan kalian bisa menghadirkan seluruh anggota tim . " Ucap Farrel kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan .
Daffin cukup terkejut dengan keputusan bosnya. Ia yakin saat ini Bos nya sedang tidak bisa berpikir secara profesional .
Daffin segera meminta maaf pada tim dari perusahaan Wiguna , kemudian mereka segera mengatur ulang jadwal meeting .
Kini Angga mengerti , jika hubungan antara Farrel dan Cyrin sepertinya sedang tidak baik .
__ADS_1
" Jadi ini alasan Cyrin menolak ideku tadi . " Batin Angga .
Walaupun merasa kecewa dan tidak suka dengan sikap Farrel , namun tim dari perusahaan Wiguna tidak bisa berbuat apa apa . Mereka sangat memerlukan keberhasilan proyek ini .
Ketua tim segera mengabari Alvin perihal yang terjadi . Lalu Alvin segera melaporkan hal itu pada Nino .
Nino semakin geram pada Farrel . Ia semakin yakin jika sikap Farrel ini sangat tidak profesional .
" Ada apa Kak ? Presentasinya berjalan lancar kan ? " tanya Cyrin yang sempat mendengar pembicaraan Nino dan Alvin di telepon .
Nino menggeleng . " Sepertinya CEO Jatmika sedang tidak berpikir rasional . "
" Maksudnya ? " tanya Cyrin ingin penjelasan .
Nino menceritakan pada Cyrin apa yang terjadi saat rapat .
Cyrin akhirnya ikut merasa kesal pada Farrel , pasalnya kerja keras mereka sejak kemarin sepertinya tidak bisa dihargai dengan baik olehnya .
Cyrin lalu pamit keluar sebentar pada Nino, Ia ingin menghubungi Daffin dan menanyakan ada apa sebenarnya dengan Farrel .
Cukup lama Cyrin menunggu Daffin menerima panggilannya .
" Halo . " Ucap Daffin .
" Halo Pak Daffin , ini saya Cyrin . "
" Oh ya Nona Cyrin . Apa ada yang bisa saya bantu ? " tanya Daffin .
" Aku hanya ingin tahu , ada apa dengan bos mu itu ? Mengapa Ia seenaknya saja menghentikan rapat . " Ucap Cyrin berapi api .
" Nona , mengapa tidak menanyakan langsung saja pada Pak Farrel . Aku juga bingung apa yang terjadi padanya . Sudah sejak kemarin suasana hatinya tak baik , semua yang kami lakukan selalu saja salah . " Jelas Daffin .
" Huhhh... dasar kekanak kanakan . "
" Maaf Nona , apa Nona baru saja bilang saya kekanak kanakan ? "
" Bukan ... bukan.. yang ku maksud adalah bos mu . Sekarang dia ada dimana ? " tanya Cyrin .
" Pak Farrel saat ini ada di ruangannya . Dan sepertinya sampai sore akan tetap di sana. Beliau telah membatalkan semua janji dan menolak kunjungan untuk hari ini . "
" Hehhh... terserah apa katanya . Kita lihat saja , apa dia bisa menolak untuk bertemu denganku . " Ucap Cyrin sebelum memutuskan panggilan teleponnya .
Setelah itu Cyrin segera pamit pada Nino . Ia ingin segera menemui Farrel dan meluruskan kesalah pahaman diantara mereka .
.
.
.
.
.
.
"Meski kecemburuan dihasilkan oleh cinta, seperti abu oleh api, kecemburuan memadamkan cinta seperti abu memadamkan api." - Margaret of Angouleme
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue