
Ting .... Tong ....
Cyrin mendengar suara bel apartemennya berbunyi . Seperti menulikan telinganya , Cyrin tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya .
Wanita itu masih sibuk menumpuk potongan roti gandum kemudian menambahkan salad tuna lalu beberapa lembar daun selada . Tak lupa Ia memberikan mayones rendah kalori sebagai dressing , terakhir Cyrin meletakkan satu potong roti gandum lagi diatasnya sehingga jadilah sandwich diet ala Cyrin .
Tak terdengar lagi suara bel pintu , digantikan dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya .
Dua lengan kekar melingkar dipinggangnya , membuat senyum menghiasi wajah cantik Cyrin. Lalu sebuah kecupan di pipinya membuat aktivitasnya membuat sandwich terusik .
" Kenapa kamu tidak membuka pintu ? " Tanya Farrel .
" Sengaja . Mas sudah tahu kodenya dan aku sedang sibuk membuat sarapan . "
" Alasan diterima . " Ujar Farrel lalu mengecup sekali di tengkuk Cyrin .
Pria itu beranjak duduk di meja makan , menunggu calon istrinya selesai menyiapkan sarapan .
Tak lama Cyrin datang dengan membawa satu piring berisi 3 potong sandwich di satu tangannya dan tangan lainnya memegang secangkir kopi .
" Minumlah kopinya . " Serunya .
Farrel mengamati sandwich buatan Cyrin , sedikit berbeda dari yang biasa Ia buat .
" Yang , mengapa sandwichnya terlihat berbeda ? " tanya Farrel .
" Itu sandwich tuna Mas . " Jawab Cyrin .
" Tuna ? Ikan tuna maksudmu ? "
Farrel sudah menatap horor sandwich dihadapannya .
Farrel memandangi Cyrin yang berjalan kembali ke meja makan dengan satu piring lagi di tangannya dan segelas jus berwarna hijau seperti warna tokoh Hulk di serial Avengers .
" Iya ikan tuna . Sandwich ini baik untuk orang yang lagi berdiet , Mas . " Jelas Cyrin .
" Makanya aku buatin nasi goreng spesial pakai cinta untuk Mas Farrel . " Ujarnya dengan senyum sembari meletakkan piring di hadapan Farrel .
Farrel akhirnya bisa bernapas lega , ternyata dia bisa bebas dari sandwich aneh buatan Cyrin .
Farrel menikmati nasi gorengnya dengan lahap . Sesekali Ia menatap Cyrin yang juga terlihat sangat menikmati sadwich buatannya .
" Kamu memangnya lagi diet Yang ? " tanya Farrel .
Cyrin menjawab dengan anggukan karena kini mulutnya sedang menguyah .
" Kenapa ? Kamu gak gendut kok . "
" Memangnya yang gendut aja yang boleh diet . Aku hanya ingin berat badan yang lebih proporsional aja Mas . Aku mau terlihat sempurna di hari pernikahan kita . " Ujar Cyrin .
Farrel mengecup punggung tangan calon istrinya itu ,
" Kamu udah sempurna di mata aku sayang , hanya itu yang penting . "
Cyrin terharu dengan ucapan romantis Farrel .
Kini wanita itu meminum jus yang dibuatnya , sesekali Ia menyipitkan sudut matanya karena rasa aneh dari jusnya . Hal itu tentu menjadi perhatian Farrel .
" Itu jus apa ? Jus diet juga ? " tanyanya .
" Hemm... aku buatnya dari buah pir , bayam dan sedikit daun seledri . " Jelas Cyrin .
Farrel membelalakkan matanya , " Kenapa gak sekalian kamu tambahin wortel dan kentang biar sekalian jadi lauk . " Sarkasnya .
Cyrin memukul pelan lengan Farrel . " Ih Mas kok gitu , calon istri mau tampil cantik malah diledekin . "
Farrel tertawa melihat raut wajah cemberut Cyrin . Hatinya menghangat , Ia sudah tak sabar untuk melewati setiap pagi dengan Cyrin nantinya setelah mereka menikah .
Cyrin yang kini sudah duduk dengan nyaman di kubikelnya kembali mengingat pembicaraannya bersama Farrel saat mereka dalam perjalanan tadi pagi .
" Kenapa pertanyaan Mas Farrel bisa sama dengan pesan yang dikirim Mas Bimo ? " batinnya .
Kedua pria itu sama sama bertanya pada Cyrin apakah dia merasa ada sesuatu yang aneh , seperti ada yang mengikutinya atau mungkin wanita itu merasa diawasi .
Selain seseorang yang tiba tiba saja memberinya bunga saat di restauran semalam , Cyrin pikir tidak ada lagi hal lain yang aneh menurutnya .
Tiba tiba ponsel Cyrin bergetar , dengan penuh semangat Ia meraih ponselnya . Namun sesaat raut wajah sumringahnya karena mengira yang menghubunginya adalah Farrel berubah menjadi kebingungan .
__ADS_1
" Privat number . " Cyrin mengucapkannya dalam hati .
Ia ragu untuk menerima panggilan itu , tapi panggilan itu terus masuk berulang ulang .
Entah mengapa Cyrin merasa degup jantungnya semakin cepat . Dadanya terasa sesak seperti ada yang menghimpitnya .
" Kenapa hanya karena sebuah panggilan yang bahkan belum ku terima , tapi aku merasa sangat takut dan gelisah . " batinnya .
Dengan ragu Cyrin menggeser tombol hijau di layar ponselnya .
" Halo ... " sapa Cyrin dengan ragu .
Tak ada sahutan dari si penelepon .
" Halo ... maaf ada yang bisa saya bantu ? "
Cyrin kembali berbicara setelah beberapa detik ikut diam menunggu .
" Maaf saya tutup teleponnya . " Ujar Cyrin akhirnya setelah beberapa detik lagi masih tidak ada sahutan .
Lalu tiba tiba suara berat seorang pria menghentikan Cyrin memutus sambungan telepon itu .
" Kamu lari, aku lari. Kamu berjalan, aku ikuti. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri dalam kesedihan, tanpa dirimu. " Ujar si Penelepon .
" Siapa dia ? Siapa pria itu ? Apa maksudnya ? " batin dan pikiran Cyrin kompak menanyakan hal yang sama .
Entah mengapa ucapan pria di telepon tadi terus terngiang di kepalanya .
" *Jangan tinggalkan aku sendiri dalam kesedihan* . "
Kalimat itu terus berputar putar di kepala Cyrin . Kalimat romantis penuh harap itu terasa menakutkan baginya .
Kepala Cyrin tiba-tiba terasa sakit .
Hingga terbersit suatu bayangan ketika Cyrin melihat dirinya sendiri menampakkan raut wajah ketakutan setelah menerima panggilan di ponsel .
" Aauuccchhh .... "
Cyrin mengaduh karena semakin jelas bayangan itu , kepalanya juga semakin sakit .
Marsha yang kubikelnya bersebelahan dengan Cyrin segera menghampiri sahabatnya yang kini terlihat menunduk menumpukan kepalanya di meja .
" Rin .. Cyrin ... kamu kenapa ? " tanya Marsha hawatir .
" Aaauuuccchhhh ..... " Cyrin kembali mengaduh.
__ADS_1
Bayangan raut wajahnya yang ketakutan semakin jelas terlihat menambah rasa sakit di kepalanya lagi .
Marsha menepuk lembut pundak Cyrin .
" Rin ... apa yang sakit ? " tanyanya .
Tepukan Marsha di pundaknya seperti menarik Cyrin kembali dari pikirannya yang seperti sedang menampilkan potongan bayangan dari masa lalunya .
Dengan perlahan Cyrin coba menegakkan kembali kepalanya .
" Aku cuma sakit kepala , Sha . Tidak perlu terlalu cemas . " Ujarnya dengan memaksakan senyum .
Marsha mengambil botol yang berisi air minum di sudut meja Cyrin kemudian membuka tutupnya .
" Minumlah . "
Cyrin menerima botol itu lalu perlahan meneguk isinya .
Setelah itu Ia berdiri .
" Sha... aku ke pantry dulu . Sepertinya aku perlu minuman manis . " Pamit Cyrin .
" Apa perlu aku menemanimu ? "
Cyrin menggeleng , " lanjutkan saja pekerjaanmu , sore nanti kamu masih harus menemaniku mencari kain . "
Sepanjang perjalanan menuju pantry , Cyrin tak hentinya berusaha mengingat kembali bayangan masa lalunya yang sempat terlintas tadi .
" Bayangan apa itu ? Mengapa terasa begitu nyata ? Ketakutan itu nyata , tapi mengapa aku tidak mengingat kapan kejadiannya . " Batin Cyrin.
Sementara di lain tempat , kata kata umpatan tidak henti hentinya terdengar dari bibir seorang pria tampan .
" Sial , siapa dia ? CCTV ini tidak berguna sama sekali . " gerutunya .
" Berani sekali pria itu memberikan bunga pada calon istriku . " sambungnya .
" Tunggu sampai aku menemukanmu . " Batinnya .
.
.
.
.
.
"Masa lalu berbicara kepada kita dalam ribuan suara, peringatan dan penghiburan, menjiwai dan menggerakkan untuk bertindak." - Felix Adler
.
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1