My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 83 . Bayangan masa lalu


__ADS_3

Ting .... Tong ....


Cyrin mendengar suara bel apartemennya berbunyi . Seperti menulikan telinganya , Cyrin  tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya .


Wanita itu masih sibuk menumpuk potongan roti gandum kemudian menambahkan salad tuna  lalu beberapa lembar daun selada . Tak lupa Ia memberikan mayones rendah kalori sebagai dressing , terakhir Cyrin meletakkan satu potong roti gandum lagi diatasnya sehingga jadilah sandwich diet ala Cyrin .


Tak terdengar lagi suara bel pintu , digantikan dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya .


Dua lengan kekar melingkar dipinggangnya , membuat senyum menghiasi wajah cantik Cyrin. Lalu sebuah kecupan di pipinya membuat aktivitasnya membuat sandwich terusik .


" Kenapa kamu tidak membuka pintu ? " Tanya Farrel .


" Sengaja . Mas sudah tahu kodenya dan aku sedang sibuk membuat sarapan . "


" Alasan diterima . " Ujar Farrel lalu mengecup sekali di tengkuk Cyrin .


Pria itu beranjak duduk di meja makan , menunggu calon istrinya selesai menyiapkan sarapan .


Tak lama Cyrin datang dengan membawa satu piring berisi 3 potong sandwich di satu tangannya dan tangan lainnya memegang secangkir kopi .


" Minumlah kopinya . " Serunya .


Farrel mengamati sandwich buatan Cyrin , sedikit berbeda dari yang biasa Ia buat .


" Yang , mengapa sandwichnya terlihat berbeda ? " tanya Farrel .


" Itu sandwich tuna Mas . " Jawab Cyrin .


" Tuna ? Ikan tuna maksudmu ? "


Farrel sudah menatap horor sandwich dihadapannya .


Farrel memandangi Cyrin yang berjalan kembali ke meja makan dengan satu piring lagi di tangannya dan segelas jus berwarna hijau seperti warna tokoh Hulk di serial Avengers .


" Iya ikan tuna . Sandwich ini baik untuk orang yang lagi berdiet  , Mas . " Jelas Cyrin .


" Makanya aku buatin nasi goreng spesial pakai cinta untuk Mas Farrel . " Ujarnya dengan senyum sembari meletakkan piring di hadapan Farrel .


Farrel akhirnya bisa bernapas lega , ternyata dia bisa bebas dari sandwich aneh buatan Cyrin .


Farrel menikmati nasi gorengnya dengan lahap . Sesekali Ia menatap Cyrin yang juga terlihat sangat menikmati sadwich buatannya .


" Kamu memangnya lagi diet Yang ? " tanya Farrel .


Cyrin menjawab dengan anggukan karena kini mulutnya sedang menguyah .


" Kenapa ? Kamu gak gendut kok . "


" Memangnya yang gendut aja yang boleh diet . Aku hanya ingin berat badan yang lebih proporsional aja Mas . Aku mau terlihat sempurna di hari pernikahan kita . " Ujar Cyrin .


Farrel mengecup punggung tangan calon istrinya itu ,


" Kamu udah sempurna di mata aku sayang , hanya itu yang penting . "


Cyrin terharu dengan ucapan romantis Farrel .


Kini wanita itu meminum jus yang dibuatnya , sesekali Ia menyipitkan sudut matanya karena rasa aneh dari jusnya . Hal itu tentu menjadi perhatian Farrel .


" Itu jus apa ? Jus diet juga ? " tanyanya .


" Hemm... aku buatnya dari buah pir , bayam dan sedikit daun seledri . " Jelas Cyrin .


Farrel membelalakkan matanya , " Kenapa gak sekalian kamu tambahin wortel dan kentang biar sekalian jadi lauk . " Sarkasnya .


Cyrin memukul pelan lengan Farrel . " Ih Mas kok gitu , calon istri mau tampil cantik malah diledekin . "


Farrel tertawa melihat raut wajah cemberut Cyrin . Hatinya menghangat , Ia sudah tak sabar untuk melewati setiap pagi dengan Cyrin nantinya setelah mereka menikah .



Cyrin yang kini sudah duduk dengan nyaman di kubikelnya kembali mengingat pembicaraannya bersama Farrel saat mereka dalam perjalanan tadi pagi .



" Kenapa pertanyaan Mas Farrel bisa sama dengan pesan yang dikirim Mas Bimo ? " batinnya .



Kedua pria itu sama sama bertanya pada Cyrin apakah dia merasa ada sesuatu yang aneh , seperti ada yang mengikutinya atau mungkin wanita itu merasa diawasi .



Selain seseorang yang tiba tiba saja memberinya bunga saat di restauran semalam , Cyrin pikir tidak ada lagi hal lain yang aneh menurutnya .



Tiba tiba ponsel Cyrin bergetar , dengan penuh semangat Ia meraih ponselnya . Namun sesaat raut wajah sumringahnya karena mengira yang menghubunginya adalah Farrel berubah menjadi kebingungan .

__ADS_1



" Privat number . " Cyrin mengucapkannya dalam hati .



Ia ragu untuk menerima panggilan itu , tapi panggilan itu terus masuk berulang ulang .



Entah mengapa Cyrin merasa degup jantungnya semakin cepat . Dadanya terasa sesak seperti ada yang menghimpitnya .



" Kenapa hanya karena sebuah panggilan yang bahkan belum ku terima , tapi aku merasa sangat takut dan gelisah . " batinnya .



Dengan ragu Cyrin menggeser tombol hijau di layar ponselnya .



" Halo ... " sapa Cyrin dengan ragu .



Tak ada sahutan dari si penelepon .



" Halo ... maaf ada yang bisa saya bantu ? "


Cyrin kembali berbicara setelah beberapa detik ikut diam menunggu .



" Maaf saya tutup teleponnya . " Ujar Cyrin akhirnya setelah beberapa detik lagi masih tidak ada sahutan .



Lalu tiba tiba suara berat seorang pria menghentikan Cyrin memutus sambungan telepon itu .



 " Kamu lari, aku lari. Kamu berjalan, aku ikuti. Tolong jangan tinggalkan aku sendiri dalam kesedihan, tanpa dirimu. " Ujar si Penelepon .




" Siapa dia ? Siapa pria itu ? Apa maksudnya ? " batin dan pikiran Cyrin kompak menanyakan hal yang sama .



Entah mengapa ucapan pria di telepon tadi terus terngiang di kepalanya .



" *Jangan tinggalkan aku sendiri dalam kesedihan* . "



Kalimat itu terus berputar putar di kepala Cyrin . Kalimat romantis penuh harap itu terasa menakutkan baginya .



Kepala Cyrin tiba-tiba terasa sakit .


Hingga terbersit suatu bayangan ketika Cyrin melihat dirinya sendiri menampakkan raut wajah ketakutan setelah menerima panggilan di ponsel .



" Aauuccchhh .... "


Cyrin mengaduh karena semakin jelas bayangan itu , kepalanya juga semakin sakit .



Marsha yang kubikelnya bersebelahan dengan Cyrin segera menghampiri sahabatnya yang kini terlihat menunduk menumpukan kepalanya di meja .



" Rin .. Cyrin ... kamu kenapa ? " tanya Marsha hawatir .



" Aaauuuccchhhh ..... " Cyrin kembali mengaduh.

__ADS_1


Bayangan raut wajahnya yang ketakutan semakin jelas terlihat menambah rasa sakit di kepalanya lagi .



Marsha menepuk lembut pundak Cyrin .


" Rin ... apa yang sakit ? " tanyanya  .



Tepukan Marsha di pundaknya seperti menarik Cyrin kembali dari pikirannya yang seperti sedang menampilkan potongan bayangan dari masa lalunya .



Dengan perlahan Cyrin coba menegakkan kembali kepalanya .



" Aku cuma sakit kepala , Sha . Tidak perlu terlalu cemas . " Ujarnya dengan memaksakan senyum .



Marsha mengambil botol yang berisi air minum di sudut meja Cyrin kemudian membuka tutupnya .


" Minumlah . "



Cyrin menerima botol itu lalu perlahan meneguk isinya .



Setelah itu Ia berdiri .


" Sha... aku ke pantry dulu . Sepertinya aku perlu minuman manis . " Pamit Cyrin .



" Apa perlu aku menemanimu ? "



Cyrin menggeleng , " lanjutkan saja pekerjaanmu , sore nanti kamu masih harus menemaniku mencari kain . "



Sepanjang perjalanan menuju pantry , Cyrin tak hentinya berusaha mengingat kembali bayangan masa lalunya yang sempat terlintas tadi .



" Bayangan apa itu ? Mengapa terasa begitu nyata ? Ketakutan itu nyata , tapi mengapa aku tidak mengingat kapan kejadiannya . " Batin Cyrin.



Sementara di lain tempat ,  kata kata umpatan tidak henti hentinya terdengar dari bibir seorang pria tampan .


" Sial , siapa dia ? CCTV ini tidak berguna sama sekali . " gerutunya .


" Berani sekali pria itu memberikan bunga pada calon istriku . " sambungnya .


" Tunggu sampai aku menemukanmu . " Batinnya .


.


.


.


.


.


"Masa lalu berbicara kepada kita dalam ribuan suara, peringatan dan penghiburan, menjiwai dan menggerakkan untuk bertindak." - Felix Adler


.


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2