My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 41. Pertengkaran


__ADS_3

Cyrin berusaha mengikuti langkah Farrel yang berjalan dengan cepat menuju parkiran mall .


" Mas , jalannya pelan dikit dong . Aku pakai heels nih . " Pinta Cyrin .


Namun Farrel seakan tidak mendengarkan ucapan Cyrin . Dengan tangan yang terus merangkul pundak wanita itu , Ia terus saja berjalan dengan tempo cepat tanpa memerdulikan Cyrin yang kesulitan mengikutinya .


Cyrin mulai kesal pada Farrel , pasalnya dia sudah memilih untuk ikut pulang dengannya karena tahu jika Ia salah telah berbohong . Tapi Farrel malah bersikap acuh padanya .


Saat sampai di parkiran mobil , Farrel membuka pintu mobilnya dan meminta Cyrin masuk namun wanita itu menolak .


" Aku akan pulang sendiri . Aku juga bawa mobil . " Ucapnya ketus lalu hendak meninggalkan Farrel .


Daffin sendiri hanya diam saja melihat drama bosnya  . Sebenarnya sudah sejak tadi Daffin ingin menegur Farrel jika Cyrin sepertinya kesulitan mengikuti langkahnya , hanya saja Ia lebih takut jika nanti bosnya itu marah padanya .


" Masuk dan kemarikan kunci mobilmu . " Ucap Farrel tegas .


" Tidak . Aku akan pulang sendiri . "


Cyrin masih bersikap keras kepala dan hendak melangkah pergi . Namun tangannya segera di tahan oleh Farrel .


" Sekali lagi aku minta padamu , kemarikan kunci mobil mu dan masuk kedalam mobil . "


Akhirnya Cyrin mengalah . Ia memberikan kunci mobilnya pada Farrel lalu masuk ke dalam mobil milik pria itu dengan menutup kasar pintunya .


" Fin , tolong kamu urus mobilnya . "


" Baik Pak . Tapi tolong jangan terlalu keras dengan dia . " Ucap Daffin mengingatkan Farrel.


Daffin yang tahu betul bagaimana sikap tempramen dan pencemburunya Farrel membuatnya sedikit hawatir dengan Cyrin .


Daffin hanya bisa melihat mobil Farrel yang melaju meninggalkan parkiran .


" Astaga... aku sampai lupa tanyakan tiket parkirnya , semoga saja Cyrin menyimpannya dalam mobil . "


Setelah memeriksa di dalam mobil wanita itu , ternyata yang di hawatirkan Daffin terjadi . Cyrin tidak meninggalkan tiket parkir di dalam mobilnya . Alhasil sore itu Ia harus berurusan dulu dengan keamanan dan bagian parkir Mall sebelum akhirnya bisa keluar dengan mobil milik Cyrin .




Cyrin merasa kesal dengan Farrel . Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi . Sesekali menyalip mobil di depan yang menghalanginya , membuat Cyrin sedikit takut .



" Mas ... pelan pelan saja . " Peringatnya .



Farrel hanya diam , dan tetap melajukan mobil dengan cepat .



" Mas... ku bilang pelan pelan saja . " Ucap Cyrin sekali lagi tapi Farrel masih mengacuhkannya .



" Mas. Berhenti . Turunkan aku disini . " Teriaknya .



Mendengar Cyrin yang berteriak padanya membuatnya makin emosi .



Farrel segera menepikan mobilnya dan berhenti .



Setelah mobil berhenti Ia melepas seatbelt dan berbalik ke arah Cyrin .



Ia melihat wanita itu sedang merapikan tasnya dan hendak membuka seatbeltnya juga .



Farrel segera mengunci pintu mobil .



" Oh jadi begini caramu . Setelah ketahuan bohong bukannya menjelaskan kebenarannya tapi kamu malah mau pergi saja . Bagus Cyrinda .... bagus .... " Ucap Farrel .



" Aku akan menjelaskan semuanya pada Mas , tapi nanti saat Mas tidak emosi lagi seperti sekarang . "


__ADS_1


" Tidak ada nanti Cyrinda . Aku ingin sekarang . Katakan padaku darimana saja kamu bersama pria itu dan kenapa harus berbohong padaku . "



" Aku hanya menepati janjiku padanya untuk menemaninya menonton film di bioskop . Setelah itu kami ke cafe . "



Cyrin akhirnya mengalah . Ia menjawab pertanyaan Farrel .



" Aku berbohong karena aku tahu Mas pasti melarangku . "



" Jika kamu tahu aku akan melarangmu , lalu mengapa kamu tetap pergi . "



" Aku berniat menjelaskan pada Kak Nino jika aku tidak akan bisa jika dia mengharapkan sesuatu yang lebih dariku . Aku hanya bisa berteman dengannya . Niatku bertemu dengannya memang untuk memberi batasan yang jelas antara kami . "



Farrel tertawa . " Ha... ha... ha ... lalu apa katanya ? Dia mau hanya berteman denganmu ? Dia mau menerima batasan yang kamu buat ? "



Cyrin mengangguk . " Kak Nino sudah bisa menerima keputusanku . Batasannya sudah jelas , kami hanya berteman dan juga bos dan atasan . Itu saja . "



" Entahlah Cyrinda.. apa kamu bodoh atau kamu terlalu naif . Tidak akan ada pertemanan antara pria dan wanita . Apalagi dengan Nino yang sudah jelas jelas memiliki perasaan padamu . "



Cyrin merasa kesal Farrel mengatainya bodoh .



" Yah , memang aku bodoh . Kenapa aku harus repit repot menjelaskan pada Mas sedang kita berdua tidak ada hubungan apa apa . " Ucap Cyrin dengan emosi .



Ucapannya barusan rasanya seperti menampar wajah Farrel .




" Rin , apa sampai sekarang kamu tidak bisa merasakan bagaimana perasaanku padamu ? " tanya Farrel .



" Aku tahu perasaan Mas padaku . Tapi apa Mas juga tahu kalau yang Mas lakukan sekarang itu sama saja dengan menggantungkan perasaanku ? Mas sama saja memberi harapan tapi tidak ada kejelasan . Jadi sebenarnya Mas tidak punya hak untuk marah atau mengurusi kehidupanku . Mas bukan siapa siapa bagiku  , status antara aku dan Mas juga status antara aku dan Kak Nino sama yaitu kita teman . Alasan jika Mas Bimo memintamu menjagaku itu alasan konyol , aku bukan anak kecil lagi yang masih perlu di jaga oleh kalian . " Ucap Cyrin



Farrel terperangah . Cyrin mengungkapkan semua isi hatinya . Ada rasa senang di hati Farrel karena ternyata Cyrin juga mengharapkan hubungan yang lebih dengannya . Tapi ada juga rasa sedih karena ucapan Cyrin yang mengatakan jika dirinya bukan siapa siapa bagi Cyrin .



Farrel mengusap kasar wajahnya . Lalu Ia keluar dari mobil . Sepertinya Ia butuh udara segar .



Cyrin tidak mencegah Farrel. Ia hanya melihat pria itu sepertinya cukup kaget mendegar ucapannya .



Sekitar 15 menit , Farrel kembali masuk kedalam mobil .



" Aku akan mengantarmu pulang . " Ucap Farrel dingin .



" Tidak perlu . Aku hanya ingin mobilku . " Tolak Cyrin tak kalah dingin karena masih kesal pada Farrel .



Farrel menghubungi Daffin menanyakan keberadaan mobil Cyrin , setelah itu melajukan mobilnya ke tempat yang di beritahu Daffin .



Setelah beberapa menit mobil melaju dalam keheningan , Cyrin melihat mobil Farrel memasuki sebuah parkiran salah satu apartemen mewah .

__ADS_1



" Loh kita kenapa kemari ? Ini apartemen siapa ? " tanya Cyrin .



" Apartemenku . Kamu mau mobil mu kan ? Daffin membawanya kesini . Kebetulan Daffin juga tinggal di apartemen ini . " Jelas Farrel .



Tanpa aba aba Ia meninggalkan Cyrin . Pria itu turun dan menuju ke security yang ada di pos parkiran untuk meminta kunci mobil yang di titipkan Daffin .



Cyrin juga ikut turun hendak mengikuti kemana Farrel , tapi kakinya sakit karena lecet setelah berjalan cepat di Mall membuatnya sedikit meringis setiap melangkah .



Farrel yang sudah mendapatkan kunci mobil Cyrin ,menghampiri kembali wanita itu . Namun di lihatnya Cyrin sepertinya sedang berjalan sambil menahan sakit .



" Kamu kenapa ? Apa ada yang sakit ? " Tanyanya hawatir .



Cyrin menggeleng . " Tak apa. Kakiku hanya sedikit lecet . " Jawab Cyrin jujur .



Tak Ia sangka Farrel segera berjongkok dan memeriksa kaki Cyrin. Pria itu melihat tumit Cyrin yang memerah dan  luka .



" Kita ke masuk dulu sebentar , kita obati kakimu . "



" Tidak perlu . Aku bisa melepas sepatuku di mobil . " Tolak Cyrin .



Tanpa menghiraukan kata kata Cyrin , Farrel segera menggendong Cyrin ala bridal style .



Tujuannya saat ini adalah unit apartemennya untuk mengobati kaki Cyrin .



Farrel merasa sangat bersalah , Ia yakin jika kaki Cyrin sampai lecet seperti itu karena ulahnya yang memaksa Cyrin berjalan dengan cepat saat tadi mereka meninggalkan Mall .



Lain halnya dengan Cyrin yang wajahnya sudah merah merona karena malu di lihat sedang di gendong oleh orang lain , Farrel malah bersikap cuek .



Pria itu tak memikirkan pikiran atau pandangan orang lain . Yang Ia inginkan sekarang bisa sampai lebih cepat di apartemennya yang berada di lantai 10 gedung ini untuk mengobati kaki wanita yang Ia cintai .



Cyrin hanya bisa meyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Farrel dan berdoa semoga pria ini tidak bisa merasakan degupan jantungnya yang seakan sedang lari maraton .



.


.


.


.


.


"*Menaruh hati di atas ketidakpastian sikap sama saja seperti menaruh tangan di tangan seseorang yang tidak mau menggenggam*."


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


\*\*\* maaf yah baru UP lagi . Jaringan internet di daerahku lg bermasalah nih readers , jadi baru bisa UP lagi . Enjoy reading all 😉 \*\*\*\*


__ADS_2