
Beberapa jam telah berlalu namun terasa lebih lama dan menyesakkan bagi Farrel .
Sejak Cyrin dipindahkan ke ruang perawatan , Farrel terus setia duduk di samping brankar untuk menunggunya kembali membuka mata .
Sekarang sudah hari kedua sejak Cyrin mulai dirawat , tapi belum ada tanda tanda Ia akan kembali sadar .
Bimo dan kedua orang tuanya segera berangkat ke Jakarta saat kemarin menerima kabar dari Daffin .
Semalam Farrel dan Bimo yang menjaga Cyrin di rumah sakit , sedang para orang tua kembali ke rumah untuk beristirahat .
Bimo merasa kasihan pada Farrel sahabatnya . Sejak kemarin Ia hanya akan meninggalkan tempat duduknya jika harus ke toilet atau saat mengisi perutnya .
Ceklek .
Pintu ruang perawatan terbuka lalu masuklah orang tua Farrel dan orang tua Cyrin .
Mama Anin menghampir Farrel , memberikan papper bag berisi pakaian bersih untuknya .
" Nak , pergilah bersihkan tubuhmu . Ganti pakaianmu , Mama sudah siapkan semuanya. "
Farrel menerima papper bag pemberian Mama Anin . Kembali Ia menatap pada calon istrinya yang masih betah menutup matanya .
" Kamu sudah terlalu lama tertidur sayang , " ujarnya .
" Ku mohon bangunlah sayang . " Ucapan Farrel diiringi sedikit isakannya .
Ia memberikan kecupan di kening Cyrin sebelum akhirnya menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya .
Ibu Hindun menggantikan posisi Farrel . Duduk di samping brankar , sesekali Ia akan mengelus surai lembut putrinya .
Air mata tertampung di pelupuk matanya , berusaha Ia tahan agar tak tumpah .
Masih jelas di ingatannya bagaimana dulu putrinya pernah tidak sadarkan diri berhari hari . Dan kejadian itu kini bagai terulang lagi .
" Cyrin pasti akan baik baik saja Bu , " ujar Pak Ibrahim menguatkan istrinya .
" Semoga sakitnya kali ini bisa menjadi penghapus dosa baginya . Kita doakan saja semoga putri kita cepat sadar . "
Semua orang di ruangan yang mendengar ucapan Pak Ibrahim segera mengaminkan .
" Apa dokter sudah datang memeriksa lagi ? " tanya Papa Jatmika .
" Belum Om , " jawab Bimo .
" Hasil tes laboratorium Cyrin semuanya baik . Tapi berdasarkan rekam medis Cyrin , hari ini akan ada psikiater yang memeriksanya . "
Mengenai masa lalu Cyrin , Bimo dan Farrel sudah menjelaskan pada kedua orang tua Farrel . Mama Anin tak berhenti menangis saat mendengar rentetan kejadian yang menimpa calon menantunya .
Farrel akhirnya keluar dari kamar mandi . Kini pria itu tampak lebih segar . Walau kesedihan masih sangat jelas nampak dari sorot matanya .
" Nak , makan dulu . " Ibu Hindun berdiri dari duduknya , menarik Farrel agar duduk disampingnya pada sofa .
Ibu Hindun membuka dua kotak bekal yang Ia siapkan .
" Ini untuk kamu , " ujarnya sembari memberi Farrel satu kotak .
" Dan ini juga untuk kamu . " Ibu Hindun memberi satu kotak lagi pada Bimo .
" Makanlah Nak . Kamu harus sehat , perlu tenaga untuk terus menemani Cyrin . " Ibu Hindun kini menepuk lembut pundak calon menantunya .
" Terimakasih Bu , " balas Farrel .
Papa Jatmika dan Mama Anin sungguh terharu melihat sikap Ibu Hindun pada putra mereka .
Mereka senang , karena Farrel tidak hanya mendapatkan calon istri yang sangat baik . Tapi juga Farrel mendapatkan calon mertua yang sangat penyayang .
Tak berselang lama , dua orang dokter dan dua orang perawat datang untuk memeriksa Cyrin .
Salah satunya adalah dokter yang merawat Cyrin saat di UGD .
" Pagi semuanya . " Sapanya ramah .
__ADS_1
" Saya datang bersama Dokter Rasya . " Dokter yang ditunjuk bernama Rasya itu tersenyum .
" Dokter Rasya ini adalah salah satu psikiater hebat di rumah sakit kami . " Jelasnya .
Dokter Rasya mendekat ke brankar Cyrin , lalu melakukan beberapa pemeriksaan .
" Bagaimana keadaan tunangan saya dok ? " tanya Farrel tak sabar .
" Baiklah , saya sudah menerima dan mempelajari rekam medis pasien . Bisa saja trauma di masa lalunya menjadi penyebab mengapa sampai saat ini pasien belum sadar . " Jelasnya perlahan agar lebih mudah dipahami .
" Saya butuh informasi mengenai apa saja kegiatan pasien yang mungkin saja bisa memicu trauma itu muncul kembali . "
Farrel mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama .
" Saya bersamanya malam itu . Saya baru pergi meninggalkannya saat Ia sudah tertidur . Dan saat itu Cyrin terlihat baik baik saja . Tidak ada tindakan dan ucapan yang aneh menurutku . "
Farrel mengulang kembali rentetan kejadian malam itu .
Tiba-tiba Daffin datang dan menginterupsi Farrel yang sedang bicara pada dokter .
" Anda harus melihat apa yang tertulis di kertas ini . Kami temukan pada tempat sampah di kamar mandi , " ujar Daffin .
Farrel menerima selembar kertas yang diberikan Daffin . Matanya membulat saat membaca apa yang tertulis di sana .
" Dari mana Cyrin mendapatkan ini ? " gumamnya .
Kertas itu kini berpindah ke Dokter Rasya , lalu beralih ke Bimo dan para orang tua .
" Mungkin surat ini adalah pemicunya . " Jelas Dokter Rasya .
" Lalu apa yang harus kami lakukan Dok ? "
" Kondisi pasien cukup baik dan stabil . Anda sebagai orang terdekatnya sering seringlah berbicara di dekatnya , hal itu juga cukup membantu untuk menstimulasi pasien . " Dokter Rasya memberikan sarannya .
" Kita tunggu sampai besok , jika masih belum ada perkembangan makan akan dilakukan tindakan medik . " Lanjutnya .
Farrel mengangguk , Ia mengerti dan menyetujui saran dari Dokter Rasya .
__ADS_1
Setelah para dokter dan perawat meninggalkan ruang perawatan , Farrel , Bimo , dan Daffin juga keluar dari sana .
Mereka menuju kantin untuk membahas mengenai kertas yang dibawa Daffin .
Dua orang pengawal yang saat itu berjaga di apartemen Cyrin juga menyusul ke kantin .
" Jelaskan padaku apa saja yang kalian kerjakan saat ku perintahkan mengawasi apartemen tunanganku hah? " bentak Farrel pada kedua pengawal .
" Ma..af Tu..an . Tapi sungguh selama kami menjaga tak ada yang datang mengunjungi apartemen Nona . Baik saat Nona ada di apartemen atau saat Nona tidak di sana . " Ujar salah satu pengawal .
" Pak ... tenang dulu , " Daffin menenangkan bosnya .
" Saya sudah periksa CCTV apartemen . Sesaat setelah Anda dan Nona masuk ke apartemen , mereka berdua terlihat pergi menjauh . " Ujar Daffin sambil menatap kedua pengawal .
" Aku yang menyuruh mereka untuk istirahat dan makan . Ku pikir tak apa karena ada aku saat itu . " Jelas Farrel .
Kedua pengawal bernapas lega . Bosnya mengucapkan hal yang sama seperti apa yang mereka jelaskan tadi pada Daffin .
" Tapi tak lama setelah pengawal pergi , seorang sekuriti mengunjungi apartemen Nona . " Lanjut Daffin .
" Selain sekuriti itu tidak ada lagi yang datang sampai sampai Anda pulang , dan kembali paginya . "
" Kamu sudah temukan sekuriti itu ? " kini Bimo yang bertanya pada Daffin .
" Sudah Pak . "
" Menurut informasi dari sekuriti , surat itu di titipkan oleh seorang pria . Yang paling Ia ingat di punggung tangan kanan pria itu ada tatto bergambar sebilah pisau . " Jelas Daffin .
" Yang menarik , keterangan sekuriti sama dengan keterangan yang diberi oleh pelayan restauran . Berarti pria yang memberi bunga dan surat ini adalah orang yang sama . "
Farrel menyeringai . " Kamu sudah menemukan pria bertatto itu ? "
Daffin mengangguk , " sudah Pak . "
" Dia adalah supir pribadi Pak Pratama rekan bisnis anda . Pemilik PH entertainment . "
Daffin menjawab dengan yakin . Orang suruhannya sudah memastikan hal ini . Beberapa foto pria itu juga Daffin tunjukkan .
" Memangnya kamu ada masalah dengan orang ini Rel ? " tanya Bimo .
Wajah Farrel memerah . Ia meremas foto yang ada di tangannya .
" Pak Pratama tidak punya masalah denganku . Pasti wanita simpanan pria itu yang berani melakukan semua ini . " Ujar Farrel .
" Wanita ? Siapa ? " tanya Bimo lagi masih tak mengerti siapa yang dimaksud Farrel .
" Aurora . " Jawabnya singkat .
" Hah ??? Sialan ... dasar wanita jal*ng . " Umpat Bimo .
.
.
.
.
.
.
" Haters only hate the things they can't have and the people they can't be. "
(Pembenci hanya membenci hal-hal yang tidak bisa mereka miliki dan orang-orang yang tidak bisa mereka miliki.)
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1