My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 12 . Let's start the game


__ADS_3

Di lantai teratas gedung perusahaan Jatmika Company , seorang pria sedang sibuk membubuhkan tanda tangannya pada setiap berkas yang telah Ia periksa .


" Permisi Pak " , Ucap Daffin sekertarisnya .


" hemm.... " Farrel menjawab dengan dehaman .


" Saya menerima telepon dari Nona Cyrin . "


Sontak saja Farrel mengalihkan pandangannya dari kertas yang menjadi fokusnya sejak tadi .


" Kenapa dia menghubungimu ? Bukannya dia memiliki nomor ponselku . "


" Entahlah , Nona Cyrin hanya menyampaikan jika dia menerima tantangannya  dan memintamu untum menemuinya hari ini untuk ..... "


Farrel menghentikan ucapan Daffin .


Segera Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Cyrin .


Daffim hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah bos sekaligus sahabatnya itu .


Cukup lama Farrel menunggu , lalu panggilan teleponnya di jawab oleh Cyrin .


" Pagi Pak Farrel . " Terdengar suara ceria Cyrin di seberang telepon .


" Apa ada yang ingin kamu katakan ? Jika Ya , sampaikan langsung padaku . Jangan menghubungi lewat sekertarisku lagi . "


Cyrin tentu saja dibuat bingung oleh sikap Farrel . Setahu dia , biasanya jika ingin berkomunikasi dengan seorang CEO maka harus lewat sekertarisnya dulu. Karena kakaknya Bimo yang kini memimpin perusahaan ayahnya juga seperti itu .


" Maaf Pak , saya pikir saya harus buat janji lewat sekertaris Bapak . " Bela Cyrin .


" Mulai sekarang , kamu hanya boleh menghubungi ke nomor ponselku saja . "


" Jadi apa yang ingin kamu katakan ? " Tanya Farrel .


" Saya menerima tantangan Bapak . Apakah Bapak punya waktu untuk pertemuan pertama hari ini ? "


Farrel berpikir sejenak. Sungguh sial hari ini dia sudah memiliki janji untuk makan malam di kediaman orang tuanya .


" Hari ini saya sudah ada janji makan malam . Bagaimana jika besok ? "


" Tak harus saat makan malam Pak , siang atau sore juga saya bisa ke kantor Bapak jika setuju . " Usul Cyrin .


" Tapi saya tidak setuju . Saya ingin suasana yang lebih santai , jadi sambil makan malam saya rasa waktu yang pas . " Tolak Farrel.


Tiba-tiba saja Farrel memiliki ide untuk mengajak Cyrin makan malam bersama orang tuanya .


Bisa saja orang tuanya akan berhenti menjodoh jodohkannya dengan wanita lain karena mengira Farrel sedang dekat dengan seorang wanita .


" Tapi karena aku tak ingin mengecewakanmu yang sudah menerima tantanganku , jadi baiklah aku akan menerima permintaanmu untuk bertemu malam ini . " Ucap Farrel .


" Cih.... siapa juga yang kecewa tidak bertemu dengannya . " Batin Cyrin .


Tapi apa daya , dia harus mengucapkan hal yang berbeda antara lisan dan hatinya .


" Terimakasih Pak . Terimakasih sudah bersedia bertemu denganku . Kirimkan alamatnya , aku akan kesana . "


" Aku akan menjemputmu sepulang kantor . Kita berangkat bersama . " Putus Farrel .


Setelah itu sambungan telepon terputus .


Farrel tak bisa menyembunyikan senyumnya .


" Hati hati Pak  , benci dan cinta perbedaannya sangat tipis . " Nasehat Daffin .


" Ayolah Fin , it's just a game . Jangan terlalu menganggapnya serius . "


" Semoga saja Pak . Karena menurutku pesona nona Cyrin susah untuk di tolak . " Balas Daffin lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan Farrel .


" Tidak akan . Aku tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama untuk ke 13 kalinya . So Just start the game. " Batin Farrel .




Sesuai janji mereka , sore ini tepat pukul 6 sore Cyrin sudah menunggu di depan pintu lobby kantornya .



Tak lama sebuah mobil Range Rover Sport 3.0 HSE berwarna hitam , memasuki halaman perusahaan Wiguna Elektronik  .



Didalam mobil itu sudah ada Farrel dibalik kemudinya . Dari jauh dia sudah bisa melihat Cyrin yang memang selalu terlihat bersinar dengan kecantikannya dimanapun dia berada .



Mobil yang Farrel kemudikan berhenti tepat di depan Cyrin . Dengan menurunkan kaca mobilnya , Farrel meminta Cyrin untuk segera naik .



Sesegera mungkin Cyrin melangkahkan kakinya untuk naik ke mobil Farrel .



" Sore Pak . " Sapa Cyrin .



Farrel hanya mengangguk dengan wajah datarnya tanpa membalas sapaan Cyrin .



Mobilpun melaju menuju kediaman Bapak Jatmika Ferrero dan Ibu Anindira yang merupakan kedua orang tua Farrel .



Sebenarnya dalam hati Cyrin ingin sekali menanyakan kemana tujuan mereka untuk makan malam , tapi Ia urungkan niatnya karena melihat ekspresi datar dan dingin dari Farrel .


__ADS_1


Cyrin semakin bingung saat mobil Farrel memasuki area perumahan elit .



Mobil semakin melaju melewati beberapa rumah , hingga berhenti di sebuah rumah yang memiliki pagar tinggi dan sangat tertutup . Di depan pagar terdapat pos sekuriti yang saat ini terlihat kosong .



Beberapa kali membunyikan klakson hingga pagar terbuka otomatis lalu nampaklah seorang pria dengan tubuh kekar dan menggunakan seragam khas sekuriti . Pria itu sedikit menundukkan kepalanya saat mobil Farrel melewatinya .



Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya modern dengan kombinasi kayu dan kaca . Walaupun terkesan modern , tapi rumah bagian depan rumah ini di penuhi oleh lampu kuning yang memberi kesan hangat . Serta atap yang tinggi membuat bangunan rumah ini terlihat luas dan mewah . Jangan lupakan taman di depan rumah yang begitu asri dan terawat .



![](contribute/fiction/3200397/markdown/14234181/1632743219043.jpg)



Cyrin mengamati bangunan di hadapannya . Di lihat dari segi manapun bangunan di depannya ini adalah sebuah rumah , bukan sebuah restauran. " Bukannya Pak Farrel mau membicarakan ini sambil makan malam ? " Batin Cyrin .



" Hei... kenapa kamu jadi melamun ? Ayo turun . " Farrel mengejutkan Cyrin .



" Tapi ini di mana Pak ? Bukankah kata Bapak ingin makan malam sambil membahas soal kerjasama . "



" Benar . Kita akan makan malam di sini . "



" Di sini ? Tapi ini bukan restauran . " Tanya Cyrin sekali lagi untuk meyakinkan . Ia bahkan belum melepas seatbeltnya .



" Memangnya makan malam hanya bisa di restaurant . Masakan mama ku juga tak kalah enaknya . "



" Mama  ? Ini rumah Pak Farrel ? " Tanya Cyrin dengan membulatkan matanya .



Farrel hampir saja tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Cyrin yang sangat lucu . Apa lagi saat Ia mendekat ke arah Cyrin dan melepas seatbelt milik Cyrin . Farrel bahkan menyadari jika Cyrin menahan napasnya dan tidak berkedip ketika mereka dalam jarak yang sangat dekat .



" Ayo turun , jangan terlalu panik . Aku mengajakmu makan malam disini bukan seperti aku akan mengenalkanmu sebagai calon istriku  . Jadi santai saja . " Ucap Farrel santai kemudian turun dari mobil .



Cyrin segera turun dan berlari kecil mengikuti langkah Farrel yang kini sudah menaiki tangga .




" Mari Nona bawaannya . Biar saya bantu . " Ucap salah satu pelayan .



Dengan berat hati Cyrin memberikan tas dan juga map yang Ia bawa sejak tadi .



Rumah Cyrin di solo juga memiliki banyak pelayan . Tapi mereka sudah memiliki tugas masing masing . Sehingga Cyrin dan Bimo di haruskan untuk bisa melakukan sendiri dan kadang membantu para pelayan .



Farrel segera mengajak Cyrin ke ruang makan .


Sudah duduk dua orang paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dan tampan .



" Ma... Pa .... " Ucap Farrel sambil mencium pipi mereka satu persatu .



" Wahh.. baru kali ini Farrel datang tidak sendirian . Mama senang " Ucap Mama .



" Oh iya , kenalin ini Cyrinda . Junior Farrel saat di SMA . "  Ucap Farrel



Sedang Cyrin menghampiri Papa dan Mama Farrel untuk menjabat dan mengecup punggung tangan mereka .



Cyrin sempat bingung mengapa dia di akui sebagai teman SMA Farrel . Dia saja tak tahu dimana Farrel sekolah .



" Cantik banget sih kamu . " Ucap Mama Anin , begitu sapaan yang Mama Farrel inginkan .



" Terimakasih Mama Anin . "



Farrel hanya tersenyum saja melihat Cyrin yang merasa sangat canggung .

__ADS_1



Sepanjang makan malam Cyrin terus saja di interogasi oleh kedua paruh baya itu .



Satu hal yang Cyrin kagumi , mereka berdua tidak pernah menanyakan asal usul keluarga Cyrin . Mereka sepertinya paham , mana hal yang pribadi dan yang bukan .



Mereka hanya bertanya soal pendidikan Cyrin, sekarang Cyrin bekerja dimana , makanan sampai olah raga favorit Cyrin . Semua tentang Cyrin tanpa ada menyinggung keluarga Cyrin yang lain  .



Setelah makan malam yang durasinya menjadi dua kali lebih lama dari biasanya , akhirnya Farrel dan Cyrin berhasil lolos dari jerat kedua orang tua  Farrel .



Farrel mengajak Cyrin untuk mengobrol di halaman belakang rumah . Cyrin kembali dibuat kagum dengan desain tempat itu  . Taman hijau , kolam renang dan sebuah gazebo besar melengkapi keindahan bagian belakang rumah tersebut . Lampu kuning masih mendominasi pencahayaan sehingga kesan hangat rumah ini konsisten dari depan hingga kini di bagian belakang rumah .



![](contribute/fiction/3200397/markdown/14234181/1632743219045.jpg)



" Silahkan Pak . " Cyrin memberikan map berisi berkas yang terlah Ia siapkan .



Cyrin berharap Farrel segera menerima alasan pertama yang  telah Ia siapkan tanpa drama sehingga tinggal 11 kali lagi penderitaan Cyrin .



Farrel membaca dengan seksama , memberikan beberapa pertanyaan yang mampu di jawab Cyrin dengan baik .



" Maaf , walaupun ini sudah baik tapi belum cukup untuk memenuhi standarku . " Ucap Farrel dengan arogannya .



" Huhh.. memang harapan kadang tak sesuai dengan kenyataan ", Batin Cyrin .



" Boleh tahu di bagian mananya Pak yang kurang memuaskan Bapak  ? " Tanya Cyrin .



" Itu tugasmu Cyrin untuk mencari tahu . Tapi kamu bisa kok merubah keputusanku dengan mudah . "



Senyum mengemban di wajah Cyrin . Dalam hati Ia bersorak gembira .



" Biarkan aku berbuat baik malam ini dan juga besok pagi . " Lanjut Farrel .



Cyrin mengerutkan keningnya tanda Ia tak mengerti maksud Farrel .



" Malam ini aku akan mengantarmu pulang , dan besok pagi aku akan menjemputmu untuk berangkat ke kantor . Mobil mu masih tertinggal di kantor kan ? "



Cyrin mengangguk .



" Dasar raja drama . Bilang saja mau antarin pulang susah banget , pakai harus menolak dulu . " Batin Cyrin .



" Tapi Bapak akan terima alasan pertamaku kan ? Berarti tinggal 11 pertemuan lagi kan Pak  ? "



Farrel mengangguk .



" Oke. Deal . " Ucap Cyrin bersemangat .



Farrel tidak kuat lagi menahan tawanya . Akhirnya Ia tersenyum melihat tingkah Cyrin .


.


.


.


.


.


"Ada yang diam-diam masih menaruh harap, dia rajin memintamu dalam doanya walaupun ia tahu keterkabulan doanya sepertinya jauh dari kata mungkin." - Ferryanugerah


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2