
Di lantai teratas gedung perusahaan Jatmika Company , seorang pria sedang sibuk membubuhkan tanda tangannya pada setiap berkas yang telah Ia periksa .
" Permisi Pak " , Ucap Daffin sekertarisnya .
" hemm.... " Farrel menjawab dengan dehaman .
" Saya menerima telepon dari Nona Cyrin . "
Sontak saja Farrel mengalihkan pandangannya dari kertas yang menjadi fokusnya sejak tadi .
" Kenapa dia menghubungimu ? Bukannya dia memiliki nomor ponselku . "
" Entahlah , Nona Cyrin hanya menyampaikan jika dia menerima tantangannya dan memintamu untum menemuinya hari ini untuk ..... "
Farrel menghentikan ucapan Daffin .
Segera Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Cyrin .
Daffim hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah bos sekaligus sahabatnya itu .
Cukup lama Farrel menunggu , lalu panggilan teleponnya di jawab oleh Cyrin .
" Pagi Pak Farrel . " Terdengar suara ceria Cyrin di seberang telepon .
" Apa ada yang ingin kamu katakan ? Jika Ya , sampaikan langsung padaku . Jangan menghubungi lewat sekertarisku lagi . "
Cyrin tentu saja dibuat bingung oleh sikap Farrel . Setahu dia , biasanya jika ingin berkomunikasi dengan seorang CEO maka harus lewat sekertarisnya dulu. Karena kakaknya Bimo yang kini memimpin perusahaan ayahnya juga seperti itu .
" Maaf Pak , saya pikir saya harus buat janji lewat sekertaris Bapak . " Bela Cyrin .
" Mulai sekarang , kamu hanya boleh menghubungi ke nomor ponselku saja . "
" Jadi apa yang ingin kamu katakan ? " Tanya Farrel .
" Saya menerima tantangan Bapak . Apakah Bapak punya waktu untuk pertemuan pertama hari ini ? "
Farrel berpikir sejenak. Sungguh sial hari ini dia sudah memiliki janji untuk makan malam di kediaman orang tuanya .
" Hari ini saya sudah ada janji makan malam . Bagaimana jika besok ? "
" Tak harus saat makan malam Pak , siang atau sore juga saya bisa ke kantor Bapak jika setuju . " Usul Cyrin .
" Tapi saya tidak setuju . Saya ingin suasana yang lebih santai , jadi sambil makan malam saya rasa waktu yang pas . " Tolak Farrel.
Tiba-tiba saja Farrel memiliki ide untuk mengajak Cyrin makan malam bersama orang tuanya .
Bisa saja orang tuanya akan berhenti menjodoh jodohkannya dengan wanita lain karena mengira Farrel sedang dekat dengan seorang wanita .
" Tapi karena aku tak ingin mengecewakanmu yang sudah menerima tantanganku , jadi baiklah aku akan menerima permintaanmu untuk bertemu malam ini . " Ucap Farrel .
" Cih.... siapa juga yang kecewa tidak bertemu dengannya . " Batin Cyrin .
Tapi apa daya , dia harus mengucapkan hal yang berbeda antara lisan dan hatinya .
" Terimakasih Pak . Terimakasih sudah bersedia bertemu denganku . Kirimkan alamatnya , aku akan kesana . "
" Aku akan menjemputmu sepulang kantor . Kita berangkat bersama . " Putus Farrel .
Setelah itu sambungan telepon terputus .
Farrel tak bisa menyembunyikan senyumnya .
" Hati hati Pak , benci dan cinta perbedaannya sangat tipis . " Nasehat Daffin .
" Ayolah Fin , it's just a game . Jangan terlalu menganggapnya serius . "
" Semoga saja Pak . Karena menurutku pesona nona Cyrin susah untuk di tolak . " Balas Daffin lagi sebelum pergi meninggalkan ruangan Farrel .
" Tidak akan . Aku tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama untuk ke 13 kalinya . So Just start the game. " Batin Farrel .
Sesuai janji mereka , sore ini tepat pukul 6 sore Cyrin sudah menunggu di depan pintu lobby kantornya .
Tak lama sebuah mobil Range Rover Sport 3.0 HSE berwarna hitam , memasuki halaman perusahaan Wiguna Elektronik .
Didalam mobil itu sudah ada Farrel dibalik kemudinya . Dari jauh dia sudah bisa melihat Cyrin yang memang selalu terlihat bersinar dengan kecantikannya dimanapun dia berada .
Mobil yang Farrel kemudikan berhenti tepat di depan Cyrin . Dengan menurunkan kaca mobilnya , Farrel meminta Cyrin untuk segera naik .
Sesegera mungkin Cyrin melangkahkan kakinya untuk naik ke mobil Farrel .
" Sore Pak . " Sapa Cyrin .
Farrel hanya mengangguk dengan wajah datarnya tanpa membalas sapaan Cyrin .
Mobilpun melaju menuju kediaman Bapak Jatmika Ferrero dan Ibu Anindira yang merupakan kedua orang tua Farrel .
Sebenarnya dalam hati Cyrin ingin sekali menanyakan kemana tujuan mereka untuk makan malam , tapi Ia urungkan niatnya karena melihat ekspresi datar dan dingin dari Farrel .
__ADS_1
Cyrin semakin bingung saat mobil Farrel memasuki area perumahan elit .
Mobil semakin melaju melewati beberapa rumah , hingga berhenti di sebuah rumah yang memiliki pagar tinggi dan sangat tertutup . Di depan pagar terdapat pos sekuriti yang saat ini terlihat kosong .
Beberapa kali membunyikan klakson hingga pagar terbuka otomatis lalu nampaklah seorang pria dengan tubuh kekar dan menggunakan seragam khas sekuriti . Pria itu sedikit menundukkan kepalanya saat mobil Farrel melewatinya .
Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya modern dengan kombinasi kayu dan kaca . Walaupun terkesan modern , tapi rumah bagian depan rumah ini di penuhi oleh lampu kuning yang memberi kesan hangat . Serta atap yang tinggi membuat bangunan rumah ini terlihat luas dan mewah . Jangan lupakan taman di depan rumah yang begitu asri dan terawat .

Cyrin mengamati bangunan di hadapannya . Di lihat dari segi manapun bangunan di depannya ini adalah sebuah rumah , bukan sebuah restauran. " Bukannya Pak Farrel mau membicarakan ini sambil makan malam ? " Batin Cyrin .
" Hei... kenapa kamu jadi melamun ? Ayo turun . " Farrel mengejutkan Cyrin .
" Tapi ini di mana Pak ? Bukankah kata Bapak ingin makan malam sambil membahas soal kerjasama . "
" Benar . Kita akan makan malam di sini . "
" Di sini ? Tapi ini bukan restauran . " Tanya Cyrin sekali lagi untuk meyakinkan . Ia bahkan belum melepas seatbeltnya .
" Memangnya makan malam hanya bisa di restaurant . Masakan mama ku juga tak kalah enaknya . "
" Mama ? Ini rumah Pak Farrel ? " Tanya Cyrin dengan membulatkan matanya .
Farrel hampir saja tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Cyrin yang sangat lucu . Apa lagi saat Ia mendekat ke arah Cyrin dan melepas seatbelt milik Cyrin . Farrel bahkan menyadari jika Cyrin menahan napasnya dan tidak berkedip ketika mereka dalam jarak yang sangat dekat .
" Ayo turun , jangan terlalu panik . Aku mengajakmu makan malam disini bukan seperti aku akan mengenalkanmu sebagai calon istriku . Jadi santai saja . " Ucap Farrel santai kemudian turun dari mobil .
Cyrin segera turun dan berlari kecil mengikuti langkah Farrel yang kini sudah menaiki tangga .
" Mari Nona bawaannya . Biar saya bantu . " Ucap salah satu pelayan .
Dengan berat hati Cyrin memberikan tas dan juga map yang Ia bawa sejak tadi .
Rumah Cyrin di solo juga memiliki banyak pelayan . Tapi mereka sudah memiliki tugas masing masing . Sehingga Cyrin dan Bimo di haruskan untuk bisa melakukan sendiri dan kadang membantu para pelayan .
Farrel segera mengajak Cyrin ke ruang makan .
Sudah duduk dua orang paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dan tampan .
" Ma... Pa .... " Ucap Farrel sambil mencium pipi mereka satu persatu .
" Wahh.. baru kali ini Farrel datang tidak sendirian . Mama senang " Ucap Mama .
" Oh iya , kenalin ini Cyrinda . Junior Farrel saat di SMA . " Ucap Farrel
Sedang Cyrin menghampiri Papa dan Mama Farrel untuk menjabat dan mengecup punggung tangan mereka .
Cyrin sempat bingung mengapa dia di akui sebagai teman SMA Farrel . Dia saja tak tahu dimana Farrel sekolah .
" Cantik banget sih kamu . " Ucap Mama Anin , begitu sapaan yang Mama Farrel inginkan .
" Terimakasih Mama Anin . "
Farrel hanya tersenyum saja melihat Cyrin yang merasa sangat canggung .
__ADS_1
Sepanjang makan malam Cyrin terus saja di interogasi oleh kedua paruh baya itu .
Satu hal yang Cyrin kagumi , mereka berdua tidak pernah menanyakan asal usul keluarga Cyrin . Mereka sepertinya paham , mana hal yang pribadi dan yang bukan .
Mereka hanya bertanya soal pendidikan Cyrin, sekarang Cyrin bekerja dimana , makanan sampai olah raga favorit Cyrin . Semua tentang Cyrin tanpa ada menyinggung keluarga Cyrin yang lain .
Setelah makan malam yang durasinya menjadi dua kali lebih lama dari biasanya , akhirnya Farrel dan Cyrin berhasil lolos dari jerat kedua orang tua Farrel .
Farrel mengajak Cyrin untuk mengobrol di halaman belakang rumah . Cyrin kembali dibuat kagum dengan desain tempat itu . Taman hijau , kolam renang dan sebuah gazebo besar melengkapi keindahan bagian belakang rumah tersebut . Lampu kuning masih mendominasi pencahayaan sehingga kesan hangat rumah ini konsisten dari depan hingga kini di bagian belakang rumah .

" Silahkan Pak . " Cyrin memberikan map berisi berkas yang terlah Ia siapkan .
Cyrin berharap Farrel segera menerima alasan pertama yang telah Ia siapkan tanpa drama sehingga tinggal 11 kali lagi penderitaan Cyrin .
Farrel membaca dengan seksama , memberikan beberapa pertanyaan yang mampu di jawab Cyrin dengan baik .
" Maaf , walaupun ini sudah baik tapi belum cukup untuk memenuhi standarku . " Ucap Farrel dengan arogannya .
" Huhh.. memang harapan kadang tak sesuai dengan kenyataan ", Batin Cyrin .
" Boleh tahu di bagian mananya Pak yang kurang memuaskan Bapak ? " Tanya Cyrin .
" Itu tugasmu Cyrin untuk mencari tahu . Tapi kamu bisa kok merubah keputusanku dengan mudah . "
Senyum mengemban di wajah Cyrin . Dalam hati Ia bersorak gembira .
" Biarkan aku berbuat baik malam ini dan juga besok pagi . " Lanjut Farrel .
Cyrin mengerutkan keningnya tanda Ia tak mengerti maksud Farrel .
" Malam ini aku akan mengantarmu pulang , dan besok pagi aku akan menjemputmu untuk berangkat ke kantor . Mobil mu masih tertinggal di kantor kan ? "
Cyrin mengangguk .
" Dasar raja drama . Bilang saja mau antarin pulang susah banget , pakai harus menolak dulu . " Batin Cyrin .
" Tapi Bapak akan terima alasan pertamaku kan ? Berarti tinggal 11 pertemuan lagi kan Pak ? "
Farrel mengangguk .
" Oke. Deal . " Ucap Cyrin bersemangat .
Farrel tidak kuat lagi menahan tawanya . Akhirnya Ia tersenyum melihat tingkah Cyrin .
.
.
.
.
.
"Ada yang diam-diam masih menaruh harap, dia rajin memintamu dalam doanya walaupun ia tahu keterkabulan doanya sepertinya jauh dari kata mungkin." - Ferryanugerah
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue