My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 69 . Kabur


__ADS_3

Melihat Cyrin selesai menyantap makanannya , Ibu ingin mengajaknya naik ke kamar agar Farrel dan Bimo yang sampai sekarang masih bersembunyi di dapur bisa kabur .


Ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu itu akhirnya meninggalkan meja makan . Meninggalkan Bapak yang sampai sekarang masih duduk di meja makan .


Bapak memang paling tidak bisa diajak kerjasama dalam urusan yang seperti ini .


Farrel dan Bimo mendengar jika Cyrin dan Ibu akan naik ke kamar , dengan jalan menunduk dan mengendap ngendap mulai keluar dari dapur .


Mereka berhasil sampai di meja makan dan menemui Bapak .


" Pak , Ibu dan Cyrin udah naik ke atas ? " tanya Bimo .


" Udah . Kalian buruan pergi . Bapak jadi ndak bisa makan saking gugupnya . " Ujar Pak Ibrahim .


Ibu sudah mulai menapaki tangga , namun Cyrin melangkah ke arah berlawanan .


Cyrin mengambil kopernya yang masih ada di dekat pintu masuk rumah . Dan menariknya ke ruang utama .


" Rin... Cyrin ... kamu kemana ? " Teriak Ibu kembali turun dari lantai atas .


Bimo dan Farrel yang hampir berhasil kabur , harus berlari kembali ke dapur .


Pasalnya Cyrin yang mendengar teriakan Ibunya bergegas mendatangi sumber suara ,dan sudah pasti akan bertemu dengan Farrel dan Bimo andai saja kedua pria itu tidak berlari dengan cepat .


" Astagfirullah ..... "


Pak Ibrahim yang baru saja bisa menikmati makanannya dengan tenang , hampir saja memuntahkannya karena terkejut melihat Bimo dan Farrel berlari .


" Cyrin... cyrin.... kamu kok ndak ikut keatas ? Padahal Ibu nungguin loh . " keluh Ibu .


" He ... he... he ... Cyrin lagi buka koper yang isinya oleh oleh . " ujar Cyrin .


" Buka di kamar kamu aja yuk ... " bujuk Ibu .


" Jangan , oleh olehnya makanan . Nanti kamar Cyrin jadi banyak remahan makanan . " Tolak Cyrin .


" Ya udah tinggalin dulu aja . Nanti aja buka oleh olehnya . " ujar Ibu .


" Yakin Ibu gak mau buka sekarang ? Cyrin bawa kue banyak loh... " bujuk Cyrin yang sangat tahu kelemahan Ibunya .


" Kue ? " tanya Ibu memastikan .


" Iya Kue Bu ... ada dodol betawi , kue geplak , kue kembang goyang , kue akar kelapa , kue semprong , kue apa lagi yah... masih banyak deh " Ucap Cyrin mempengaruhi Ibunya sambil melangkah kembali ke ruang utama .


Tanpa dikomando , Ibu dengan suka rela mengikuti langkah Cyrin .


Ibu bahkan lupa dengan misi awalnya .


Melupakan Bimo dan Farrel yang menunggu untuk diselamatkan .



Bimo dan Farrel akhirnya bisa pergi dari rumah Cyrin saat wanita itu mengantuk dan tidur siang di kamarnya .



" Untung aja gak sampe ketahuan . " Ujar Farrel saat keduanya sudah dalam perjalanan kembali ke hotel .



" Gila yah.. seumur umur baru pertama kali aku ngumpet di rumah sendiri . " gerutu Bimo .



" Lah... memangnya yang nyuruh kamu ikutan ngumpet siapa ? " tanya Farrel .



" Iya juga yah.... ha ha ha ha "



Keduanya tertawa mengingat tindakan konyol yang baru saja mereka lakukan .



Hal seperti ini mungkin terakhir kali mereka lakukan saat masih SMA . Sejak mulai sibuk dengan perusahaan masing masing , rasanya mereka hampir lupa caranya bercanda .



Malam harinya , sudah jadi kebiasaan di keluarga Cyrin untuk berkumpul di ruang keluarga .

__ADS_1


Cyrin baru saja turun dari kamarnya segera menyusul kedua orang tuanya .


" Pak .. Bu ... kok aku gak lihat Mas Bimo seharian ? " tanya Cyrin .


" Mas mu lagi pergi acara reuni SMA nya . Dari siang udah sibuk  ngurusin persiapannya . " kilah Ibu .


Sementara Bapak tidak perlu di ragukan lagi  , saat diharuskan untuk berbohong ,


Pemilik pabrik batik terbesar di Solo itu seketika gugup .


" Padahal pagi sampai siang mobilnya Mas Bimo ada , tapi oranya gak ada . Malamnya malah mobilnya juga ikut ikutan gak ada . " Ujar Cyrin .


Sesuai rencana , harusnya saat ini kedua orang tua itu menjalankan rencananya untuk mengerjai Cyrin .


Ibu memberi kode pada suaminya untuk mulai berbicara .


" Rin ... dengerin dulu . Ada yang mau kami omongin . " Ujar Bapak .


" Soal Apa Pak ? " Cyrin juga berubah mode serius karena melihat raut wajah kedua orang tuanya .


" Begini Rin ... Kamu kan udah dewasa , udah .... ,udah.... "


Bapak mulai gugup lagi .


Cyrin mengernyitkan keningnya .


" Begini Rin  ... Ibu .... Ibu yang akan ngomong . "


Ujar Bapak menyelamatkan diri .


Ibu berdecak  , menatap tajam pada suaminya .


" Gini Rin ... Bapak sama Ibu udah tua . Kamu anak perempuan satu satunya , mana tinggalnya jauh lagi jadikan kami sering hawatir siapa yang jagain kamu disana . " Ujar Ibu .


" Terus ... "


" Terus Bapak sama Ibu akhirnya mutusin untuk nerima lamaran anak teman Bapak . " ujar Ibu .


" Nerima lamaran ? Lamaran untuk siapa ? " tanya Cyrin .


" Untuk kamu Rin . " jawab Ibu .


" Kok Bapak Ibu tega sih nerima lamaran tanpa ngomong dulu ke Cyrin . Apalagi ini soal masa depan Cyrin . " Ujar Cyrin .


" Pria itu anak yang baik Nak . Dari keluarga baik baik . Bapak dan Ibu sudah pernah ketemu , anaknya sangat sopan . " bujuk Ibu .


Ibu memberi kode pada suaminya untuk ikut membantu .


" Bapak dan Ibu nerima lamarannya karena tahu ini yang terbaik untuk kamu . " ujar Bapak akhirnya .


" Ini masalah hati Pak , Bu . Dan hati Cyrin hanya Cyrin sendiri yang tahu . Lagian Cyrin juga udah ada calonnya kok . Orangnya juga baik , mapan , dan dari keluarga baik baik juga . " ujar Cyrin .


" Tapi kamu ndak pernah ngenalin , kita mana tahu kalau kamu udah ada calonnya . " balas Ibu.


" Atau jangan jangan alasan kamu aja . Kalau memang benar minta dia datang besok ke acara perusahaan . " tantang Ibu .


" Cyrin serius Pak , Bu . Mana berani Cyrin bohong sama Bapak dan Ibu . Tapi untuk acara besok , dia gak bisa datang . Lagi ada kerjaan di luar kota . " Ucap Cyrin .


" Kalau gitu , mungkin aja calon kamu gak serius makanya gak mau ketemu sama keluarga kamu . "


Ibu sengaja menyudutkan Cyrin .


Cyrin menunduk . Air matanya sudah mengalir di pipinya .


" Ya udah , telepon aja . Bilang kalau Bapak mau ngomong . " usul Bapak .


Cyrin mengangguk .


Segera Ia ambil ponselnya dan menghubungi Farrel .


Tutt... tut... tut.... lama menunggu tapi tidak di jawab .


Cyrin mencoba lagi , masih tidak ada jawaban .


Sekali lagi ,tapi yang ada nomor ponsel Farrel malah tidak bisa dihubungi .


" Gak bisa Rin ? " tanya Ibu .


" Ya udah , berarti keputusan Bapak gak bisa diubah lagi yah . Besok pria itu akan datang ke acara perusahaan . Kalian biar ketemu dulu . Setelah itu , kita baru bahas persiapan pernikahan kalian . "  ujar Bapak .


Pasangan paruh baya itu lantas pergi ke kamar mereka . Meninggalkan Cyrin yang diam , dan menatap nanar pada ponselnya .

__ADS_1


Didalam kamar Bapak dan Ibu ber tos ria . Merasa akting mereka bagus dan Cyrin berhasil mereka tipu .


" Pak... seandainya Ibu tau dari dulu kalau Ibu punya bakat akting , Ibu udah ke Jakarta juga biar jadi artis . " ujar Ibu .



Meninggalkan pasangan suami istri yang sedang bahagia setelah mengerjai putri mereka.



Cyrin merasa sangat kacau . Kepulangannya kali ini ke Solo ternyata akan merubah masa depannya .



" Dari awal harusnya aku gak perlu bela-belain untuk pulang kalau bakal tahu akan dijodohin  . " gumam Cyrin .



Air matanya tidak bisa dihentikan .



" Mas Farrel juga tega , udah mencurigakan dari awal . Harusnya gak usah ngajak pacaran , bilang cinta lah ,sayang lah .. kalau ujung ujungnya malah menghilang . "



Cyrin lalu bergegas pergi dari rumah malam itu .


Dia harus menenangkan diri .



Beberapa jam kemudian , Ibu keluar kamar ingin memastikan kondisi Cyrin .


Mengingat air mata putrinya , Ia jadi tidak tega .


Ibu masuk ke kamar Cyrin , namun orang yang dicari tidak ada .


Ibu ke ruang keluarga , ke dapur , ke halaman belakang , ke taman , Cyrin juga gak ada .


Ibu membangunkan Bapak . Menceritakan apa yang terjadi .


Keduanya bergegas untuk mengecek CCTV , dan mereka berdua melihat putrinya berjalan keluar dari rumah seorang diri .


Keduanya saling tatap .


Ibu segera menghubungi Bimo .


" Halo Bim ... "


" Ya Bu... " Jawab Bimo .


" Cyrin Bim ... "


" Kenapa dengan Cyrin ? " tanya Bimo .


" Cyrin KABUR ..... " Jawab Ibu dengan suara bergetar .


.


.


.


.


.


"Dalam cinta, jika rasa sakit karena bertahan lebih besar daripada rasa sakit karena melepaskan, maka belajarlah merelakan."


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2