
Cyrin tiba di perusahaan Jatmika tepat sebelum jam makan siang . Karyawan di sana sudah tak asing dengan sosoknya , selain karena Cyrin adalah karyawan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Jatmika juga Ia dikenal karena hubungan dekat yang terjalin dengan bos mereka .
Di depan ruangan Farrel , Cyrin bisa melihat Daffin yang sedang fokus dengan pekerjaannya sampai tak menyadari kehadiran dirinya .
Cyrin mengetuk pelan meja Daffin . " Selamat siang .... " , sapanya .
Daffin mengalihkan tatapannya dari monitor komputer dan melihat Cyrin . " Selamat siang Nona , syukurlah Nona datang kemari . "
Cyrin mengerutkan alisnya , " memangnya apa yang telah terjadi ? Apa Mas Farrel ada di dalam ? "
" Ceritanya panjang Nona , namun ku harap Nona bisa menghentikan penyiksaan ini . " Jawab Daffin .
" Nona mau menemui Pak Farrel kan ? " Daffin balik bertanya .
" Tentu saja . Memangnya untuk apa lagi aku kemari . "
Cyrin segera masuk ke ruangan Farrel seorang diri , Ia menolak Daffin yang ingin mengantarnya.
" Selamat siang . " Ucap Cyrin lembut .
Farrel yang sedang sibuk dengan berkasnya tidak berniat sama sekali mengalihkan pandangannya .
" Aku sedang tak ingin bertemu siapapun , tolong keluar . " Ucap Farrel datar tanpa melihat lawan bicaranya .
Cyrin sempat tertegun , apa Farrel semarah itu dan sudah tak ingin bertemu dengannya lagi .
" Mas Farrel .... " Panggil Cyrin .
Mendengar panggilan khas itu Farrel segera menatap ke sumber suara .
Farrel hanya menatap Cyrin tanpa memberikan reaksi apapun membuat Cyrin menjadi bingung harus bersikap seperti apa .
" Apa Mas sangat sibuk ? Jika iya aku akan kembali lain kali . " Ucap Cyrin yang masih berdiri tak jauh dari pintu .
Farrel masih diam , Ia tak menyangka jika Cyrin akan datang menemuinya lebih dulu . Ada perasaan senang dan kesal pada Cyrin . Tapi yang paling utama adalah besarnya rasa rindu Farrel pada Cyrin .
Cyrin sudah hendak berbalik untuk keluar dari ruangan Farrel karena tak mendapat jawaban dari pria itu . Namun niatnya terhenti karena Farrel mencegahnya .
" Sepertinya bukan aku yang sibuk , tapi kamu . Buktinya kamu bahkan melalaikan tugas mu untuk mengikuti meeting pagi tadi . " Ucap Farrel .
Walaupun nada bicaranya masih ketus tapi Cyrin bersyukur Farrel sudah mau bicara padanya .
" Oke .. oke ... aku yang sibuk . Maafkan aku Mas . " pinta Cyrin .
Farrel kembali diam .
" Jadi , apa sekarang aku boleh duduk dan bicara dengan mu ? " lanjutnya .
Farrel lalu berdiri dari kursi kebesarannya dan menuju sofa .
" Silahkan duduk . " ucap Farrel .
Cyrin segera mengambil tempat di samping Farrel .
" Mas... apa Mas masih marah padaku ? "
Farrel menggeleng . " Aku tidak punya hak untuk marah padamu . "
" Mas..... maafkan ucapanku saat itu . Aku sungguh merasa bersalah pada Kak Nino , aku cemas hingga aku tidak memperhatikan ucapanku yang mungkin menyakitimu Mas . " Jelas Cyrin .
__ADS_1
" Tapi yang kamu katakan memang benar . Kamu tidak punya alasan untuk mengikuti ucapanku . "
" Mas , kumohon berhentilah bersikap kekanak kanakan . Aku sadar jika ucapanku saat itu keterlaluan dan aku sudah minta maaf , tapi kenapa Mas masih bersikap seperti ini . " Balas Cyrin .
" Aku memang kekanak kanakan , tapi itu karena aku benar benar menyayangimu . Ku pikir setelah tahu dan menyadari perasaan masing masing , kita berdua bisa saling mengerti dan memahami . Tapi ternyata aku salah , kamu masih tidak bisa memahami hubungan kita . " Farrel berusaha mengungkapkan semua isi hatinya .
" Hubungan kita ? Memangnya apa hubungan kita Mas ? Apa selama ini Mas pernah memberiku kejelasan soal hubungan kita ? Hubungan apa yang harus ku pahami ? " Cyrin juga mengungkapkan semua pertanyaan yang selama ini Ia pendam .
" Rin , kita sudah sama sama dewasa . Perasaan kita berdua sama , aku menyayangimu bahkan berkali kali sudah ku katakan jika aku mencintaimu . Masih kurang jelas apa bagimu ? "
" Mas , aku juga sama seperti wanita lainnya . Aku juga ingin kejelasan Mas . " Cyrin akhirnya menunduk setelah mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya .
Farrel langsung memeluk Cyrin yang duduk di sampingnya .
" Maafkan aku yang tak mengerti keinginanmu . Ku pikir selama ini kita berdua baik baik saja , ku pikir dengan tahu perasaan masing masing itu sudah cukup bagi kita berdua Rin . Sungguh aku minta maaf . " ucap Farrel lembut .
Cyrin masih menunduk , Ia sangat malu . Sebenarnya Ia cukup hawatir seperti apa respon Farrel, tapi syukurnya Farrel merespon baik tindakannya barusan .
" Kamu maukan maafkan aku ? Maafkan aku yang tidak pengertian ini . Yang perlu kamu tahu aku sangat serius dengan perasaanku padamu Rin . Itulah mengapa aku merasa tak suka jika kamu lebih memedulikan pria lain . " Lanjut Farrel .
Cyrin akhirnya mau mengangkat kembali wajahnya . " Jadi Mas sekarang mengakui nih jika Mas memang sedang cemburu ? " tanya Cyrin yang masih dalam pelukan Farrel .
Farrel melepas pelukannya , Ia menatap dalam pada wanita yang kini ada di hadapannya . " Rin , apa masih perlu ku katakan ? "
Cyrin mengangguk .
" Iya aku cemburu . Aku sangat cemburu , mengetahui wanita yang ku cintai melupakan janjinya denganku bahkan membuatku sangat hawatir padanya hanya karena pria lain. " Ucap Farrel tegas .
Bukannya takut Cyrin malah tertawa . Baginya sungguh lucu melihat raut wajah Farrel saat ini .
" Kamu tertawa ? Serius ..... " Ucap Farrel sambil melotot namun Cyrin masih terus tertawa .
Cyrin berusaha sekuat tenaga menghentikan tawanya . Ia mengikuti Farrel ke meja kerjanya .
" Mas ... apa sekarang Mas malah merajuk karena aku tertawa ? " tanyanya sambil bersandar di pinggiran meja di samping kursi Farrel .
" Mas ... jangan ngambek dong , aku kan cuma tertawa saja . Aku senang Mas cemburu . " bujuk Cyrin .
Farrel memutar kursinya menghadap ke Cyrin , " kenapa hal itu membuatmu senang ? "
" Yah tentu saja , itu berarti Mas sangat sangat mencintaiku . " Jawab Cyrin dengan senyuman manisnya .
Mau tak mau Farrel ikut tersenyum melihat senyuman dari wanita yang sangat Ia cintai itu .
Dengan memberanikan diri Farrel berdiri tepat di hadapan Cyrin . Cyrin yang masih setengah duduk sambil bersandar di tepi meja akhirnya harus sedikit mendongak agar bisa menatap Farrel .
" Apa cemburuku membuatmu sesenang itu ? " tanya Farrel dengan suara semakin berat .
Cyri mengangguk .
Lalu sedetik kemudian , salah satu tangan Farrel segera meraih pinggang Cyrin dan mendekatkan tubuh wanita itu padanya . Sementara satu tangannya yang lain memegang dagu Cyrin agar wajah Cyrin tetap berhadapan dengannya .
Didorong dengan kerinduan yang teramat besar pada Cyrin dan suasana kini yang mendukung , dengan perlahan Farrel mendekatkan wajahnya hingga kini kedua bibir mereka bertemu .
Awalnya hanya kecupan biasa , namun cukup lama juga kedua bibir mereka bertemu .
Karena tak ada penolakan dari Cyrin membuat Farrel lebih berani melakukan aksinya . Ia mulai melakukan ciuman yang lebih dalam . Kedua tangan Cyrin juga kini memeluk pinggang Farrel .
Cukup lama mereka beradu dan bertukar saliva hingga dengan terpaksa harus melepaskan ciuman mereka karena masing masing butuh pasokan oksigen .
__ADS_1
" Maafkan perbuatanku barusan Rin . " Ucap Farrel saat melihat Cyrin yang kini menunduk .
" Sebenarnya bukan kata maaf yang ku harapkan sekarang Mas ucapkan . " balas Cyrin .
" Lalu ? Rin ... tolong katakan padaku , maafkan aku yang kurang pengertian ini . " ucap Farrel mulai merasa bersalah .
" Aku ingin tahu kejelasan hubungan diantara kita Mas . Bagi Mas , aku ini siapa ? "
Farrel kembali memeluk Cyrin . " Rin , bagiku kamu adalah satu satunya wanita yang ku cintai , Kamu segalanya bagiku , kamu yang mengisi seluruh ruang di hatiku karena kamu pemiliknya . Kamu milikku , dan kamu kekasihku . " Ucap Farrel dengan yakinnya membuat Cyrin tersenyum bahagia .
Cyrin lalu melepaskan diri dari pelukan Farrel . " Sepertinya Mas terlalu yakin jika aku bersedia menjadi kekasih Mas . "
Farrel kembali meraih pinggang Cyrin . Wajahnya semakin dekat , dan dengan suara yang serak dan berat Ia berkata " Aku tidak menerima penolakan sayang . "
Lalu Ia kembali mencium bibir Cyrin yang kini sudah jelas berstatus sebagai kekasihnya .
Cyrin juga sudah tak ragu lagi untuk menyambut ciuman Farrel . Ia merasa bahagia karena kini semua pertanyaan dalam hatinya sudah mendapat jawaban jelas .
Saat keduanya sedang menikmati ciuman , perut Cyrin berbunyi hingga menghentikan kegiatan mereka .
" Maaf Mas , tapi aku sungguh merasa lapar . Pagi tadi aku belum sempat sarapan karena harus menyelesaikan pekerjaan dari Mas . " Ucap Cyrin dengan manjanya .
" Uhhh.... sayang .... maafkan aku . Kalau begitu ayo kita makan di luar saja bagaimana ? " ajak Farrel .
" Tapi ... sepertinya pekerjaan Mas masih banyak . Aku tak apa jika harus makan sendirian . "
" Pilihanmu saat ini hanya dua . Satu , makan bersamaku . Dua , berhenti bekerja karena hal itu yang membuatmu sampai kelaparan . " Ucap Farrel tegas .
" Oh... no no no .... baiklah aku akan memilih pilihan pertama , tapi aku yang memilih menunya yah . "
" Apapun untukmu . " Ucap Farrel sebelum keduanya berjalan keluar bersama dengan Farrel yang terus menggenggam tangan Cyrin .
Kini raut wajah Farrel sudah kembali dihiasi dengan senyuman . Daffin dan beberapa karyawan yang menyadari itu sungguh bersyukur akhirnya bisa keluar situasi penuh penyiksaan akhir akhir ini .
" Huhh... untung saja pawangnya segera datang . " Batin Daffin sambil tersenyum senyum mengingat apa yang tadi sempat dilihatnya di dalam ruangan sang bos .
.
.
.
.
.
"Laki-laki sejati bukanlah seseorang yang mempunyai banyak teman wanita, tapi seorang lelaki yang bisa menampik beberapa wanita untuk seseorang yang disayanginya."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1