
Waktu terus berjalan maju , Sang Surya datang dan pergi tanpa bisa dicegah terus menerus , berulang-ulang . Satu bulan telah berlalu sejak penangkapan Olla dan Tomi . Sudah satu bulan juga , kehidupan seorang Farrel Antoine Jatmika hanya berkisar rumah - perusahaan - rumah sakit .
Banyak pihak yang menyayangkan batalnya pernikahan yang ditunggu - tunggu dalam dunia bisnis . Banyak pihak juga yang tentu hendak mengambil keuntungan dari kesulitan ini , tapi Tuhan selalu punya cara melindungi hati Farrel .
Benar jika waktu tak akan berhenti dan menunggumu untuk bangkit , tapi hidup juga tidak akan terus menuntutmu untuk berjalan maju , ada kalanya diperlukan langkah mundur untuk mengingat berkat- berkat yang telah kita terima .
Itulah yang Farrel lakukan kini . Setiap terjaga di pagi hari , setidaknya ada satu berkat yang akan Ia ingat . Farrel juga manusia biasa , semua cobaan yang menimpanya tentu saja menjadi beban yang menekan jiwa dan raganya .
Baginya beruntung dia memiliki Cyrin dengan kondisi seperti sekarang , hal itu memotivasinya untuk jadi lebih kuat demi wanita yang Ia cintai .
Farrel yang sudah selesai bersiap dengan setelan jas berwarna dark grey kini ikut bergabung dengan kedua orang tuanya untuk sarapan .
" Pagi Ma .... , " sapanya dan tak lupa satu kecupan Ia daratkan di pipi sang Ibu .
" Pagi Pa .... , " lanjutnya .
" Udah pada rapi , mau kemana ? " tanyanya .
" Loh , kami mau ke rumah sakit . Hari ini jadwalnya kami untuk bertemu Cyrin , " jawab Papa Jatmika .
" Iya... Mama udah gak sabar , kangen banget tau gak... hampir sebulan loh mama gak ngobrol dengan anak kesayangan Mama . "
Farrel sebenarnya baru tahu mengenai hal ini . Sudah 2 minggu dia kembali ke perusahaan , jadi tidak bisa lagi terus menerus mengawasi Cyrin .
Tapi setiap pagi sebelum bekerja , jam istirahat makan siang dan saat pulang kantor , Farrel selalu ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Cyrin .
Dan fakta mengejutkan baru Ia dengar pagi ini . " Sykurlah jika Cyrin sudah bisa bertemu dengan orang lain lagi , tapi Dokter Rasya gak ngomong apa-apa sama aku . "
" Mungkin lupa kali Rel , tapi setahu Mama dari Jeng Hindun Cyrin sudah menerima keluarganya yang datang membesuk , " ungkap Mama Anin .
Fakta baru yang sangat bagus mengenai perkembangan kesehatan Cyrin . Walau Ia bingung mengapa Ia tidak tahu apapun .
Sementara itu pagi ini Cyrin tengah menyisir rambutnya . Jika biasanya Ia akan menguncir , hari ini surai panjangnya Ia biarkan tergerai bebas .
Menggunakan sweater putih , Ia terus memandang ke kaca buram berbentuk persegi panjang yang menyatu dengan salah satu sisi dinding ruangan ini .

" Bu .... apa dia sudah ada di balik sana ? " tanyanya pada Ibu yang sebulan ini setia menemaninya .
" Sepertinya belum , tadi sempat Ibu lihat belum ada siapa - siapa di sana , " jawabnya .
" Hari ini jadwalnya kamu bertemu dengan calon mertua mu kan ? " tanya Bu Hindun .
Cyrin menunduk lesu , tangannya meraih undangan pernikahannya bersama Farrel yang akhirnya batal .
" Apa masih boleh aku menyebut mereka calon mertuaku ? Apa mereka mau menerimaku dengan kondisi seperti ini sebagai menantu ? "
" Husssstt , kamu itu ngomong apa sih . Kamu itu sakit sayang , dan sakit bukan suatu aib . Bahkan sakit itu bisa jadi penggugur dosa jika kamu ikhlas dan bertawakkal dalam menjalaninya . " Ujar Bu Hindun .
" Ibu gak mau kamu berkecil hati lagi , seharusnya kamu bersyukur keadaan kamu masih lebih baik dari pasien lain di sini . " Lanjut Bu Hindun sambil menatap taman lewat jendela . Di sana banyak sekali pasien lain yang kondisinya lebih memprihantinkan .
" Pagi ... , " sapa Dokter Rasya .
Obrolan Ibu dan putrinya itu akhirnya terhenti .
" Pagi juga dok , " balas Cyrin . " Dok , apa ..... "
Dokter Rasya segera menyela ucapan Cyrin , " Belum . Pak Farrel belum datang . Tapi dia sudah menghantuiku di telepon . "
Cyrin tertawa , " Maksud dokter ? "
" Dia marah karena tidak tahu soal kamu yang mulai bertemu dengan orang terdekat . Dia bertanya siapa- siapa saja yang telah kamu temui . " ujar Dokter Rasya .
" Ha.. ha.. dia memang selalu begitu , pemaksa . " celetuk Cyrin .
" Oh yah ? Apa ada ingatan baru lagi ? " tanya Dokter Rasya .
__ADS_1
Cyrin mengangguk , wajahnya tiba-tiba saja bersemu merah .
Dokter Rasya mendekat , duduk di sisi brangkar.
" Apakah ingatan itu tidak boleh diceritakan ? " tanyanya , berbisik dengan kedua alisnya naik turun .
Wajah Cyrin makin merona , " Sssstttttt ... jangan sampai Ibu tau . " Peringat Cyrin membuat dokter Rasya tertawa .
Yah begitulah keadaan Cyrin selama sebulan ini , kondisinya mengalami kemajuan yang baik . Semakin baik setiap harinya .
Jika dulu Ia selalu bersemangat menanti datangnya senja , dan terkadang mengutuk gelapnya malam yang mengganti langit jingga keemasan menjadi langit gelap dengan cahaya bintang .
Namun kini setiap hari Ia tidak sabar menunggu saat malam tiba. Rasanya Ia ingin meminta matahari untuk segera pulang beristirahat , agar malam dan cahaya bulan bintang bisa segera menggantikan tugasnya .
Semuanya berawal dari malam itu , ketika Ia memberanikan dirinya untuk melangkah keluar dari pintu yang mengurungnya dalam ruangan sempit di pikirannya .
**¤¤¤¤** ***Flash back ssatu bulan yang lalu*** **¤¤¤**
*Hari ini adalah hari pertama Cyrin menerima Ibu nya untuk menemani di ruangan . Tidak buruk ternyata , Ia memiliki teman mengobrol , teman makan bersama , yang pasti tidak se sunyi biasanya* .
*Namun di hatinya tetap terasa ada kehampaan disana ,sepertinya hatinya bukan membutuhkan keramaian , dia butuh orang yang tepat* .
*Hati seorang Ibu tentu bisa membaca perasaan darah dagingnya , Bu Hindun tentu tahu jika putrinya masih butuh satu hal untuk membantunya cepat sembuh* .
*Malampun tiba , Cyrin tengah berbaring memunggungi Ibunya yang sedang berkirim pesan pada suaminya* .
" *Rin , kamu percaya pada Ibu kan* ? "
" *Ibu tau kamu belum tidur , Ibu hanya memberitahu agar kamu tidak terlalu terkejut* . "
" *Ibu akan memanggil pria itu masuk . Kamu jangan takut , tetaplah seperti ini saja cukup dengarkan apa yang Ia ucapkan* . "
" *Ibu yang jamin dia tidak akan melukaimu . Dia pria yang sangat mencintaimu , pria selain Bapak dan Mas mu yang bahkan mau merelakan hidupnya untuk kamu Nak . Percaya pada Ibu , dulu kamu juga seperti itu padanya* . "
*Ujar Bu Hindun* .
*Bu Hindun sadar , apa yang Ia lakukan kali ini sangat beresiko . Tapi hati kecilnya mengatakan jika Farrel lah yang putrinya butuhkan* .
*Cyrin mulai menegang , tatkala Ia mendengar suara seorang pria bicara dengan Ibunya* .
" *Apa dia sudah tidur ? " tanya pria itu* .
" *Sudah . " Jawab Ibu* .
" *Apa benar tak apa Bu seperti ini ? " tanyanya lagi* .
" *Jika tidak di coba , kita tak akan tau* . "
*Lalu Cyrin bisa mendengar derap langkah yang semakin mendekat . Ada butiran peluh terasa mengalir dari keningnya .
Tapi Ia mencoba untuk bertahan , Ia menguatkan dirinya . Mengikuti ucapan sang Ibu , jika tidak mencoba maka tak akan pernah tau* .
" *Sayang ... , " ucap Farrel dengan suara lembut dan sangat pelan* .
*Deg* ... !
__ADS_1
" *Perasaan apa ini ? Kenapa jantungku berdebar? " batin Cyrin* .
" *Aku merindukanmu sayang , cepatlah kembali. " lirih Farrel* .
*Entah bagaimana , tapi Cyrin merasa kegelisahannya sedikit demi sedikit menghilang*.
*Rasa sesak di dadanya juga mulai menghilang* .
" *Apa benar selama ini aku sudah di bodohi oleh pikiran ku sendiri . " Batin Cyrin* .
*Malam itu Farrel tak banyak bicara , Ia terus saja mengusap surai panjang Cyrin . Dan secara ajaib tindakan sederhana itu membuat Cyrin lebih tenang* .
*Perlahan - lahan rasa kantuk menderanya , rasa yang sudah lama tidak Ia rasakan . Ketenangan itu membuat Cyrin perlahan memejamkan matanya* .
*Sebelum benar - benar terpejam , Ia sempat mendengar pria itu berbisik padanya* ,
" *Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Tak akan pernah berubah . Nikmati waktu sendirimu sayangku . Jangan pikirkan hal lain , cukup pikirkan hal-hal yang membuatmu bahagia . Walau kau tak melihatku , percayalah aku yang akan selalu melihat ke arahmu karena kamu akan selalu jadi porosku* . "
*Bulir air mata mengalir dari kelopak mata Cyrin yang terpejan* .
" *Pria itu memiliki cinta yang begitu besar untuknya , tapi mengapa di ingatannya pria itu adalah pria yang jahat* . "
*Perang antara batin dan logika Cyrin terjadi malam itu , hingga Farrel memberikan kecupan dikepalanya , di surai yang sejak tadi Ia usap lembut* .
" *Tidurlah sayang , besok banyak hal yang harus dilakukan . " Ucapnya , lalu derap langkah kakinya mulai menjauh hingga menghilang di balik pintu yang tertutup* .
" *Ya sepertinya pria itu benar , besok banyak hal yang harus ku lakukan . " batinnya sebelum mulai memasuki alam mimpi* .
Cahaya mentari bahkan menembus kaca jendela untuk menyorot mata Cyrin yang masih terpejam .
Cahayanya sungguh mengganggu , dengan tak rela Ia terbangun . Mendudukkan diri di brangkar , melihat Ibunya tengah menatap keluar jendela .
" Bu .... " panggilnya .
Ibu Hindun menoleh .
" Tolong sampaikan pada Mas Bimo ,aku ingin bertemu dengannya . " Pinta Cyrin .
Senyum terukir di wajah teduh wanita yang telah melahirkannya .
" Baik , Ibu akan minta Mas mu ke Jakarta segera . "
Netra kami bertemu , ku lihat matanya berkaca - kaca karena permintaan sederhana dariku .
" Terimakasih Bu . "
Hanya itu yang bisa ku ucapkan padanya . Pada Ibu , yang mengerti peasaan anaknya tanpa harus anaknya sampaikan .
.
.
.
" Tuhan , terimakasih telah menitipkanku terhadap malaikatmu yang kusebut Ibu . Ibu yang selalu mendengar apa yang ku katakan bahkan memahami apa yang belum katakan . Sehebat itulah Ia . "
.
.
.
.
To be continue
Jangan bosan-bosan dukung cerita ini yah readers kesayangan ... maafkan cerita ini yang memang sengaja othor tambahin bawang menjelang akhirnya ... ✌✌✌
Nih.... aku juga mau rekomendasiin karya othor favorit aku .... baca deh, ku yakin kalian juga pasti akan suka ... cuzzz segera mampir yah
__ADS_1