
Pukul 12.00 ( 14 jam setelah Cyrin hilang )
Seolah semesta tengah mengujinya , mobil van hitam yang dikendarai Bimo harus ikut bersabar dalam kemacetan yang terjadi karena adanya demo oleh sekelompok mahasiswa .
Hanya Daffin yang tidak terpengaruh dengan suasana hectic yang saat ini terjadi .
" Fin , apa ada yang mengganggu mu ? " tanya Farrel . Ia tahu asistennya itu sedang memikirkan hal lain .
" Maaf Pak , saya belum yakin tapi akan saya coba periksa lebih dulu . " Ujarnya .
Suasana kembali hening . Lalu ,
" Si*l .... " bentak Daffin setelah Ia menerima panggilan telepon .
" Amankan dia ke Jakarta , bawa wanita yang bersamanya ." Perintah Daffin .
" Kita di jebak Pak . Maafkan saya . " Sesal Daffin .
" Bre**s*k . " Umpat Farrel .
" Saya yakin seseorang yang ada dibalik ini semua pasti mengenal nona dengan baik . Dia bahkan sengaja menarik kita dengan gelang yang pada saat penculikan tidak digunakan Nona . " Ujar Daffin .
" Pak Bimo ... tidak perlu berbalik , saya sudah mengatur izin terbang helikopter di roof top hotel M . "
" Tapi ini hanya kecurigaanku saja , Perginya Tomi dari rumah tadi bersamaan dengan ada laporan penemuan pasien wanita di depan sebuah rumah sakit Ibu dan Anak . " Ujar Daffin .
" Lokasinya ? " tanya Farrel .
" Masih di Jakarta , tapi jauh dari kota . " jelas Daffin .
" Mengapa kecurigaanmu kesana Fin ? " tanya Farrel .
" Ponsel Tomi melakukan paggilan telepon pasien darurat ke rumah sakit itu ." Ujar Daffin .
" Tak lama setelah itu barulah ada laporan ke kepolisian setempat mengenai pasien tanpa identitas ." Lanjut Daffin .
" Tapi siapa yang bisa kita percaya untuk memeriksa kesana ?" Tanya Bimo .
" Nino . " ujar Farrel .
" Kamu gila ? Dia salah satu orang yang harus kita curigai . "
" Tapi hanya dia satu satunya orang yang tidak mungkin menyakiti Cyrin . " Lirih Farrel .
Yang terpenting bagi Farrel kini hanyalah keselamatan wanita yang Ia cintai .
Helikopter tengah mengudara Farrel kini menjadi co-pilot untuk penerbangan dari semarang .
5 menit mengudara , terdengar suara Daffin pada headphone.
" Pak sudah dikonfirmasi jika wanita itu adalah Nona Cyrin , " ucap Daffin.
" Sekarang bagaimana ? " tanya Farrel
" Pak Nino sedang mengurus kepindahannya ke Rumah sakit di tengah kota . " Ujar Daffin .
" Saya akan mengubah lokasi pendaratan . " Sambungnya .
Butuh waktu 5 menit untuk mengubah lokasi pendaratan mereka disetujui , hingga helikopter Farrel melanjutkan penerbangan.
Nino yang dipercayakan Farrel untuk mengurus segala urusan kepindahan Cyrin ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap di tengah kota .
Farrel meminta Nino melakukannya dengan tenang . Daffin juga akan membantu untuk memblokir beberapa media yang masih bertanya- tanya alasan batalnya konfrensi pers malam itu .
18. 00 ( 20 jam setelah Cyrin hilang )
Langkah kaki lebar Farrel menapaki lorong-lorong rumah sakit menuju sebuah kamar
VIP .
Daffin membukakan pintu untuk bosnya .
Farrel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang perawatan .
Ada Ibu Hindun yang duduk di atas kursi roda dan Mama Anin yang sedikit menunduk merangkul pundak Ibu Hindun .
" Kalian sudah tiba rupanya . " Sapa Papa Jatmika .
Farrel berjalan lurus menuju brankar .
Mama Anin , mendorong kursi Ibu Hindun sedikit menjauh .
__ADS_1
" Sa..yaang... " gumamnya lirih dengan bibir yang bergetar .
Bagaimana pria itu harus bereaksi ? Haruskah Ia bersyukur saat melihat wanita yang 20 jam terakhir membawa pergi separuh hidupnya, kini telah kembali namun dalam kondisi menyedihkan. Terbaring , tak sadarkan diri dengan wajah penuh lebam dan kepala terlilit perban . Hampir di seluruh tubuhnya di penuhi lupa bekas cambukan .
Tangan Farrel mengepal . Di dekatinya wajah Cyrin yang lenuh jejak birunkeunguan .
Dengan lembut Ia daratkan kecupan pada kening Cyrin.
Isakan mulai terdengar dari bibir seorang pria dewasa yang terkenal tangguh itu menyayat hati setiap orang yang mendengarnya .
" Tak apa sayang , selama kamu sudah kembali . Kita akan baik saja sayang . Jadi buka matamu ku mohon ." Pintanya
Ruang perawatan VVIP ini sangat mengutamakan kenyamanan pasien.
Dibuat terpisah dengan sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk menerima tamu .
**22.00 ( 24 Jam/ 1 hari setelah hilangnya Cyrin** .)
Farrel berdiri menatap Cyrin dari kejauhan. Ia bersandar pada jendela kaca dengan kedua tangan berada di saku . Dari jendela langit mempertontonkan terangnya bintang yang membuatnya nampak indah .
Dua kali moment terberat dalam hidupnya , yaitu saat Ia menunggu , Ia menanti penuh harap hingga putus asa , kedua Indra yang puja kembali terjaga .
Farrel membalikkan tubuhnya , kini Ia menatap keluar jendela . Ia pejamkan kedua matanya setelah mengagumi terangnya cahaya bintang .
" Bukankah Cyrin sangat menyukai bintang ? " batinnya membayangannya hangatnya pelukan keduanya karena betapa besar cinta yang dimiliki satu sama lain .
" Siii aappa Kaamu ? " suara seorang wanita lirih.
Farrel berbalik . Sorot matanya berbinar penuh syukur . Jantungnya yang berdetak cepat mendengar suara itu lagi .
" Saayang . " ucapnya lembut . " Kamu sudah bangun ? " suara Farrel semakin lembut .
" Tatapan mata itu benar tatapan mata wanitanya , tapi bukan tatapan mata yang biasa Ia terima ? " batin Farrel .
" Pergi kamu ... pergi .... " Usirnya . Ia berteriak histeris. "
Farrel mematung , keadaan seperti apa yang sedang terjadi ? saat ini .
" Yang ... ini aku Farrel , apa ada yang sakit ? Katakan padaku ?" Bujuk Farrel lembut .
" Peeeeeeeeeerrrrrrgggiiiiiiiiiiiiii " Teriak Cyrin masih dari atas brankar .
Farrel menjadi panik . Apa yang terjadi sebenarnya . Mengapa Cyrindanya , tunangannya menjadi seperti ini .
" Oke ... oke .. sayang tenang ... tenang... aku akan pergi jika itu maumu. "
Farrel menarik ucapannya yang tadi memuji kenyamanan ruang vvip ini .
Lihatlah kini Ia kesulitan sendiri tidak ada seorangpun di luar sana yang menyadari.
Cyrin masih duduk di atas brankar . Memeluk lututnya yang menekuk .
Tubuhnya bergetar hebat , wajahnya Ia tangkupkan pada lututnya . Bahkan jarum infusnya kini sudah terlepas .
" Peeergi kaau, jaangann menyentuhku . "
" Perrggiiii.... menjaauuh daaariku . "
__ADS_1
" Aaakuuuu ingin puuuulang . "
Gumaman demi gumaman terus terucap dari bibir mungilnya .
Disaat Cyrin menunduk Farrel gunakan saat itu untuk meraih ponselnya di atas meja .
Tanpa Ia duga Cyrn bergerak cepat turun dari brankar dan meraih pisau buah di atas nakas .
" Menjauh dariku atau kau akan melihatku kehilangan nyawaku saat ini juga . " Ancam Cyrin mendekatkan pisau ke nadinya .
" Sayang .... jangan main main ... itu berhahaya . " Peringat Farrel .
" Berhentiiii .... jangan memanggilku begitu.... aku tidak mengenalmu ... " teriakan histeris Cyrin bersamaan dengan munculnya Bimo yang membuka pintu diikuti dengan yang lainnya .
" Cyrin " teriak Bimo .
Cyrin menatap nyalang pada Farrel .
" Kau memang pembunuh . Kau yang telah membunuhku ." Ucapan terakhirnya bersamaan dengan pisau yang mengiris pergelangan tangan , tepat di nadinya .
Farrel berlari mendekat ke Cyrin , meraih tubuhnya agar tak terjatuh dengan tangan kirinya . Sedang tangan kanan Farrel kini Ia gunakan untuk menekan darah Cyrin terus bergetar hebat .
" Selamatkan nyawanya Tuhan . Ambil punyaku jika memang harus ada nyawa yang melayang malam ini . " batin .
Dokter dan perawat segera datang mengambil alih tubuh Cyrin dari dekapan Farrel .
Tubuh Farrel mendadak tak bertenaga, Ia terduduk dilantai dengan tubuh bergetar .
" Jika sesuatu terjadi pada Cyrkn , apakah aku ya sudsh membunuhnya ? " batin Farrel .
Jiwa Farrel seperti di deru ombak kencang , menghancurkan dinding dinding pertahanan tubuhnya .
Hanya dalam 24 jam , dunianya hancur berkeping kepi
" Apa yang terjadi padanya ? "
Pada siapa harus Farrel tanyakan hal itu
.
.
.
.
.
"*If dreaming is the only way to be with you, then I’ll never open my eyes*."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1