My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 99 . 24 jam menuju kehancuran


__ADS_3

Pukul 12.00   ( 14 jam setelah Cyrin hilang )


Seolah semesta tengah mengujinya , mobil van hitam  yang dikendarai Bimo harus ikut bersabar dalam kemacetan yang terjadi karena adanya demo oleh sekelompok mahasiswa .


Hanya Daffin yang tidak terpengaruh dengan suasana hectic yang saat ini terjadi .


" Fin , apa ada yang mengganggu mu ? " tanya Farrel . Ia tahu asistennya itu sedang memikirkan hal lain .


" Maaf Pak , saya  belum yakin  tapi akan saya coba periksa lebih dulu . "  Ujarnya .


Suasana kembali hening . Lalu ,


" Si*l .... " bentak Daffin setelah Ia menerima panggilan telepon .


" Amankan dia ke Jakarta , bawa wanita yang bersamanya ." Perintah Daffin .


" Kita di jebak  Pak  . Maafkan saya . " Sesal Daffin .


" Bre**s*k . " Umpat Farrel .


" Saya yakin seseorang yang ada dibalik ini semua pasti mengenal nona dengan baik . Dia bahkan  sengaja menarik kita dengan gelang yang  pada saat penculikan tidak digunakan Nona . " Ujar Daffin .


" Pak Bimo ... tidak perlu berbalik , saya sudah mengatur izin terbang helikopter di roof top hotel M . "


" Tapi ini hanya kecurigaanku saja , Perginya Tomi dari rumah tadi bersamaan dengan ada laporan  penemuan pasien wanita di depan sebuah rumah sakit Ibu dan Anak . "  Ujar Daffin .


" Lokasinya  ? " tanya Farrel .


" Masih di Jakarta , tapi jauh dari kota . "  jelas Daffin .


" Mengapa kecurigaanmu kesana Fin ? " tanya Farrel .


" Ponsel Tomi melakukan paggilan telepon pasien darurat ke rumah sakit  itu ."  Ujar Daffin .


" Tak lama setelah itu   barulah ada laporan ke kepolisian   setempat mengenai pasien tanpa identitas ." Lanjut Daffin .


" Tapi siapa yang bisa kita percaya   untuk memeriksa kesana ?" Tanya Bimo .


" Nino . " ujar Farrel .


" Kamu gila ?  Dia salah satu orang yang harus kita curigai . " 


" Tapi hanya dia satu satunya orang yang tidak mungkin menyakiti Cyrin . " Lirih Farrel .


Yang terpenting bagi Farrel kini hanyalah keselamatan wanita yang Ia cintai .



Helikopter tengah mengudara  Farrel kini menjadi co-pilot untuk penerbangan dari semarang .



5 menit mengudara ,  terdengar suara Daffin pada headphone.



" Pak sudah dikonfirmasi  jika wanita itu adalah Nona Cyrin , " ucap Daffin.



" Sekarang bagaimana ? "  tanya Farrel


" Pak Nino sedang mengurus kepindahannya ke Rumah sakit di tengah kota . " Ujar Daffin .



" Saya akan mengubah lokasi pendaratan . " Sambungnya .



Butuh waktu 5 menit untuk mengubah lokasi pendaratan  mereka disetujui , hingga helikopter Farrel melanjutkan penerbangan.



Nino yang dipercayakan Farrel untuk mengurus segala urusan kepindahan Cyrin ke rumah sakit yang lebih besar dan lebih lengkap di tengah kota .



Farrel meminta Nino melakukannya dengan tenang .  Daffin juga akan membantu untuk memblokir beberapa media yang masih bertanya- tanya alasan batalnya konfrensi pers malam itu .



18. 00 ( 20 jam setelah Cyrin hilang )


Langkah kaki lebar Farrel menapaki lorong-lorong rumah sakit  menuju sebuah kamar


VIP  .


Daffin membukakan pintu untuk bosnya .


Farrel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang perawatan .


Ada Ibu Hindun yang duduk di atas kursi roda dan Mama Anin yang sedikit menunduk merangkul pundak Ibu Hindun .


" Kalian sudah tiba rupanya . " Sapa Papa Jatmika .


Farrel berjalan lurus menuju brankar .


Mama Anin , mendorong kursi Ibu Hindun sedikit menjauh .

__ADS_1


" Sa..yaang... " gumamnya lirih dengan bibir yang bergetar .


Bagaimana pria itu harus bereaksi ? Haruskah Ia bersyukur saat melihat wanita yang 20 jam terakhir membawa pergi separuh hidupnya, kini telah kembali namun dalam kondisi menyedihkan. Terbaring , tak sadarkan diri dengan wajah penuh lebam dan kepala terlilit perban . Hampir di seluruh tubuhnya di penuhi lupa bekas cambukan .


Tangan Farrel mengepal . Di dekatinya wajah Cyrin yang lenuh jejak birunkeunguan .


Dengan lembut Ia daratkan kecupan pada kening Cyrin.


Isakan mulai terdengar dari bibir seorang pria dewasa yang terkenal tangguh itu menyayat hati setiap orang yang mendengarnya .


" Tak apa sayang , selama kamu sudah kembali . Kita akan baik saja sayang . Jadi buka matamu ku mohon ." Pintanya


Ruang perawatan VVIP ini sangat mengutamakan kenyamanan pasien.


Dibuat terpisah dengan sebuah ruangan yang bisa digunakan untuk menerima tamu .




**22.00 ( 24 Jam/ 1 hari setelah hilangnya Cyrin** .)



Farrel  berdiri menatap Cyrin dari kejauhan. Ia bersandar pada jendela kaca dengan kedua tangan berada di saku . Dari jendela langit mempertontonkan terangnya bintang yang membuatnya nampak indah .



Dua kali moment terberat dalam hidupnya , yaitu saat Ia menunggu , Ia menanti penuh harap hingga putus asa , kedua Indra yang puja kembali terjaga .



Farrel membalikkan tubuhnya , kini Ia menatap keluar jendela . Ia pejamkan kedua matanya setelah mengagumi terangnya cahaya bintang .



" Bukankah Cyrin sangat menyukai bintang ? " batinnya membayangannya hangatnya pelukan keduanya karena betapa besar cinta yang dimiliki satu sama lain .



" Siii aappa Kaamu ? " suara seorang wanita lirih.



Farrel berbalik . Sorot matanya berbinar penuh syukur . Jantungnya yang berdetak cepat mendengar suara itu lagi .



" Saayang . " ucapnya lembut . " Kamu sudah bangun ? " suara Farrel semakin lembut .



" Tatapan mata itu benar tatapan mata wanitanya , tapi bukan tatapan mata yang biasa Ia terima ? " batin Farrel .



" Pergi kamu ... pergi .... " Usirnya . Ia berteriak histeris. "



Farrel mematung , keadaan seperti apa yang sedang terjadi ? saat ini .



" Yang ... ini aku Farrel , apa ada yang sakit ? Katakan padaku ?"  Bujuk Farrel lembut .



" Peeeeeeeeeerrrrrrgggiiiiiiiiiiiiii " Teriak Cyrin masih dari atas brankar .



Farrel menjadi panik . Apa yang terjadi sebenarnya . Mengapa Cyrindanya , tunangannya menjadi seperti ini .



" Oke ... oke .. sayang tenang ... tenang... aku akan pergi jika itu maumu. "



Farrel menarik ucapannya yang tadi memuji kenyamanan ruang vvip ini .



Lihatlah kini Ia kesulitan sendiri tidak ada seorangpun di luar sana yang menyadari.



Cyrin masih duduk  di atas brankar . Memeluk lututnya yang menekuk .


Tubuhnya bergetar hebat , wajahnya Ia tangkupkan pada lututnya . Bahkan jarum infusnya kini sudah terlepas . 



" Peeergi kaau, jaangann menyentuhku . "



" Perrggiiii.... menjaauuh daaariku  . "

__ADS_1



" Aaakuuuu ingin puuuulang . "



Gumaman demi gumaman terus terucap dari bibir mungilnya .



Disaat Cyrin menunduk Farrel gunakan saat itu untuk meraih ponselnya di atas meja .



Tanpa Ia duga Cyrn bergerak cepat turun dari brankar dan meraih pisau buah di atas nakas .



" Menjauh dariku atau kau akan melihatku  kehilangan nyawaku saat ini juga . " Ancam Cyrin mendekatkan pisau ke nadinya .



" Sayang .... jangan main main ... itu berhahaya . " Peringat Farrel .



" Berhentiiii .... jangan memanggilku begitu.... aku tidak mengenalmu ... " teriakan histeris Cyrin bersamaan dengan munculnya Bimo yang membuka pintu diikuti dengan yang lainnya .



" Cyrin " teriak Bimo .



Cyrin menatap nyalang pada Farrel .


" Kau memang pembunuh . Kau yang telah membunuhku ." Ucapan terakhirnya bersamaan dengan pisau yang mengiris pergelangan tangan , tepat di nadinya .



Farrel berlari mendekat ke Cyrin , meraih tubuhnya agar tak terjatuh dengan tangan kirinya . Sedang tangan kanan Farrel kini Ia gunakan untuk menekan darah Cyrin terus bergetar hebat .



" Selamatkan nyawanya Tuhan . Ambil punyaku jika memang harus ada nyawa yang melayang malam ini . " batin .



Dokter dan perawat segera datang mengambil alih tubuh Cyrin dari dekapan Farrel .



Tubuh Farrel mendadak tak bertenaga,  Ia terduduk dilantai dengan  tubuh bergetar .



" Jika sesuatu terjadi pada Cyrkn , apakah aku ya sudsh membunuhnya ? " batin Farrel .



Jiwa Farrel seperti di deru ombak kencang , menghancurkan dinding dinding pertahanan tubuhnya .



Hanya dalam 24 jam , dunianya hancur berkeping kepi



" Apa yang terjadi padanya ? "


Pada siapa harus Farrel tanyakan hal itu



.


.


.


.


.



"*If dreaming is the only way to be with you, then I’ll never open my eyes*."


.


.


.


.


.


To be continue

__ADS_1


__ADS_2