My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 86 . Awal dari petaka


__ADS_3

Pagi ini Farrel berusaha melajukan mobilnya lebih  cepat dari biasanya .


Umpatan sesekali terucap dari bibirnya saat ada kendaraan yang menghalangi lajunya .


" Shiiittt...... Ibu negara bisa ngomel lagi kalau dia sampai telat . " Gerutu Farrel .


Farrel kesal karena jalanan sudah mulai padat akan kendaraan yang saling  memburu untuk memulai rutinitas tepat waktu .


Makin kesal lagi Ia saat Cyrin tidak menerima panggilannya . 


Farrel memang bangun lebih lama hari ini . Semalam Ia baru meninggalkan apartemen Cyrin pukul 12 malam . Sebelum meninggalkan gedung apartemen , Ia masih menyempatkan bicara sebentar dengan dua pengawal yang Ia tempatkan untuk mengawasi calon istrinya .


Alhasil , Ia hanya bisa tidur tidak lebih dari 3 jam lalu harus bangun lagi .


Bisa saja Farrel mengizinkan Cyrin berangkat bekerja sendiri tapi dengan isu ancaman Aurora , Ia tidak ingin ambil resiko .


Mobil Farrel sudah memasuki halaman gedung apartemen . Setelah memarkirkan mobilnya , Ia segera melangkah cepat menuju unit apartemen Cyrin .


Farrel bernapas lega saat sudah tiba di depan pintu . Jarinya yang hendak menekan bel Ia urungkan , sebaiknya langsung masuk saja dengan raut wajah menyesal . Itulah rencananya kini .


Sebelum masuk , Farrel menoleh dan mendapati pengawal yang semalam masih berada tak jauh dari tempatnya .


Farrel menekan beberapa tombol lalu membuka pintu .


Gelap .


" Apa Cyrin sudah berangkat ? "  batinnya .


Farrel berjalan ke sofa . Di lihatnya selimut yang mereka pakai semalam saat menonton film bersama masih berada di tempat yang sama .


" Apa Cyrin masih tidur ?  "  duganya .


Farrel sangat tahu kebiasaan calon istrinya yang akan memastikan rumahnya dalam keadaan rapih saat Ia tinggalkan . Jadi sangat tidak mungkin Ia sudah pergi .


" Yang .... Sayang ..... " teriaknya sambil berjalan menuju dapur .


Bersih .


Farrel terkekeh . Ia yakin Cyrin juga kesiangan bahkan bisa saja Ia masih tidur saat ini .


" Kalau benar Cyrin juga telat  ,  sia sia dong rasa cemasku selama di jalan tadi . " Batinnya .


Kakinya melangkah pasti menuju kamar Cyrin .  Perlahan Ia buka .


Hanya lampu tidur di atas nakas dan lampu di sudut sofa yang menyala .


Ranjangnya masih berantakan . Tapi kamar itu terlalu senyap .


Walaupun ragu , Farrel menggeser cermin besar yang merupakan pintu ke walk in closet tapi di sana juga kosong .


Matanya beralih ke kamar mandi ,


" apa mungkin Ia di kamar mandi ? Tp tak ada suara apapun dari sana . " Gumamnya .


" Yang... sayang ... Cyrin ... kamu di dalam ? " teriak Farrel dari depan pintu kamar mandi .


Tok.. tok.. tok..


Kini Ia mengetuk pintunya .


" Sepertinya dia tak ada di dalam . " Gumam Farrel .


Walaupun berpikir Cyrin tak ada di dalam tapi tangannya tetap meraih pegangan pada pintu , memutarnya dan mendorong sehingga pintu terbuka .


" Sayang . " teriaknya terkejut .


Ia mendorong pintu lebih kuat .


Pasalnya pintu itu tadi terhalang tubuh Cyrin yang terbaring di lantai tak sadarkan diri .


Farrel segera menggendong calon istrinya .


Melangkah dengan cepat meninggalkan apartemen .


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya . Bibirnya serasa keluh .


Dua orang pengawal yang melihat bosnya keluar menggendong wanita yang mereka jaga segera menghampiri .


" Ada apa ini Bos ? " tanya mereka bersamaan .


" Kau ikut aku ke rumah sakit , " ucapnya sambil menatap ke salah satu dari dua pria kekar dan  berotot di hadapannya .


" Kau , periksa setiap sudut apartemen . Cari apapun yang mencurigakan . " Sambungnya .


Setelah itu Farrel melanjutkan langkahnya dengan salah satu pengawal .


Keduanya tergesa gesa , mereka tidak pedulikan lagi tatapan dari orang orang yang menatapnya .


Ketiganya kini dalam perjalanan menuju rumah sakit . Farrel duduk di kursi belakang , masih dengan Cyrin di gendongannya .


Farrel sangat kalut . Di perhatikannya kini wajah Cyrin nampak sangat pucat , bibirnya pinknya kini berwarna biru , dari sudut kepalanya ada aliran darah yang sebagian sudah mengering .


" Hubungi Daffin , minta menyusul kita ke rumah sakit sekarang . " Serunya pada pengawal .


" Apa yang telah terjadi ? Aku gagal lagi menjaganya . " Batin Farrel .


" Pastikan kalian berdua tahu apa penyebab . " Tegas Farrel .

__ADS_1


Selama perjalanan menuju rumah sakit segala doa telah Ia rapalkan demi keselamatan wanita yang ada di dekapannya . Wanita yang menjadi belahan jiwanya , wanita yang harusnya Ia lindungi .


" Aku tak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu sayang . Harusnya hari ini aku datang lebih cepat , harusnya aku tidak kesiangan , atau harusnya aku tidak meninggalkamu semalam . Harusnya ...... "


Farrel mengakhiri segala penyesalannya dengan air mata yang berlinang tanpa izin sang empunya .




Setibanya di rumah sakit , Farrel membawa Cyrin ke UGD .



Cyrin segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang terbaik oleh dokter dan perawat yang bertugas .



Sementara Farrel dan pengawalnya hanya bisa menunggu di luar ruangan sembari terus mondar mandir .



Ia hanya berharap Tuhan tidak akan bosan mendengar doa yang terus terucap dari lubuk hatinya untuk keselamatan wanita yang dicintainya .



Tak lama Daffin tiba . Tatapannya tertuju pada sang bos yang terlihat sangat kalut .



Daffin memerintahkan pengawal yang bersama Farrel untuk kembali ke apartemen dan  membantu mencari petunjuk di sana .



Farrel melirik Daffin yang mendekat kearahnya .


" Fin ... ini salahku . " lirihnya .



" Kami akan segera menemukan penyebabnya Pak . Kuat lah , nona membutuhkan anda . " Ujar Daffin .



Dari kejauhan , Mama Anin dan Papa Jatmika mempercepat langkahnya kala melihat sosok putranya berdiri di depan sebuah pintu .



" Rel ... apa yang terjadi ? Di mana Cyrin ? " tanya Mama Anin .




" Astaga .... Cyrin kesayangan Mama . "


Keluh Mama Anin .



" Kamu yakin ini bukan karena kamu ? "


Tatapannya kini mengarah pada putranya .



" Ma... apa maksud Mama ? Tidak mungkin aku menyakiti calon istriku . Aku sangat mencintainya . " Balas Farrel .



Papa Jatmika membelai punggung istrinya agar berhenti bicara . Ia tahu istrinya cemas , tapi ucapannya barusan sudah melukai putranya .



Pintu ruangan terbuka . Semua perhatian beralih pada dua orang berjas putih yang keluar dari sana .



" Bagaimana keadaan tunangan saya Dok ? " tanya Farrel tak sabar .



" Pasien atas nama Cyrinda sudah melewati masa kritisnya . Pasien mengalami gejala awal hipotermia , beruntung segera ditemukan . Mengenai luka di kepalanya sepertinya karena terbentur benda tumpul , sudah kami tangani dengan beberapa jahitan .  "  Jelas dokter .



" Suhu tubuh pasien sudah kembali normal . Kami sedang memasukkan obat obatan dan vitamin lewat cairan infus . Setelah selesai pasien bisa langsung di pindahkan ke ruang rawat . " Lanjutnya .



" Apa yang menyebabkan tunangan saya bisa pingsan dok ? " tanya Farrel lagi .



" Kami sedang menunggu hasil tes darahnya Pak . Dari sana kita bisa lihat , apa mungkin ada kandungan obat tertentu yang bisa saja membuat pasien tak sadarkan diri . Tapi jika semuanya normal , maka kemungkinan pasien tak sadarkan diri karena kelelahan , atau mengalami shock . " Jelasnya .


__ADS_1


" Kami permisi . " Ujar sang dokter mengakhiri percakapan mereka .



Farrel mengabaikan ucapan dokter yang berlalu meninggalkannya .



Papa Jatmika menatap Farrel dengan raut wajah penuh tanya .



Farrel jelas tahu apa yang menjadi kehawatiran Mama dan Papanya .



" Aku yakin malam itu Cyrin tidak meminum obat atau apapun , aku sangat mengenalnya . " Ujar Farrel .



" Malam itu kami berpisah sudah larut malam , setelah ku pastikan Cyrin tertidur barulah aku meninggalkannya . "



" Tak ada informasi dari pengawal jika setelah kepergianku ada yang mengunjungi apartemennya . "



Farrel mengakhiri penjelasannya tanpa menyadari tatapan kedua orang tuanya yang menatap tajam padanya .



" Farrel Antoine Jatmika ! "


Suara tegas Mama Anin mengalihkan semua perhatian padanya .



" Jelaskan pada Mama apa yang kami tidak ketahui . Jangan ada yang kamu tutupi , apalagi ini menyangkut Cyrin putri Mama . "  Perintah Mama Anin .



" Akan ku jelaskan nanti Ma . Aku janji . "



" Sekarang . " Balas Mama Anin tidak menerima bantahan .



Farrel menghirup oksigen sebanyak yang Ia bisa. Menyebut nama Aurora di hadapan Mama Anin sama saja memancing Mama Anin mengeluarkan tanduk runcingnya .



Mama Anin sejak dulu tidak pernah menyetujui hubungan Aurora dan Farrel . Apalagi setelah Mama Anin mengetahui alasan putusnya mereka . Sejak saat itu nama Aurora berhasil menduduki peringkat teratas sebagai wanita yang dibenci oleh Mama Anin .



Untung saja beberapa perawat menginterupsi mereka .


" Permisi Pak , pasien akan kami dipindahkan ke ruang rawat . "



Yaaasssss.... perawat menyelamatkan Farrel dari Mama Anin .



Mama Anin melupakan pertanyaanya , dan kini melangkah cepat mengikuti perawat yang mendorong brankar Cyrin .



Farrel menyadari betapa hawatir kedua orang tuanya pada Cyrin .  Cyrin tidak hanya berhasil memiliki hatinya , tapi juga hati kedua orangtuanya .


" Segeralah sadar sayang , banyak sekali yang menghawatirkanmu . Banyak cinta yang menantimu . " Batinnya .



.


.


.


.


.


 "*Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna*."


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2