
Pagi ini Farrel berusaha melajukan mobilnya lebih cepat dari biasanya .
Umpatan sesekali terucap dari bibirnya saat ada kendaraan yang menghalangi lajunya .
" Shiiittt...... Ibu negara bisa ngomel lagi kalau dia sampai telat . " Gerutu Farrel .
Farrel kesal karena jalanan sudah mulai padat akan kendaraan yang saling memburu untuk memulai rutinitas tepat waktu .
Makin kesal lagi Ia saat Cyrin tidak menerima panggilannya .
Farrel memang bangun lebih lama hari ini . Semalam Ia baru meninggalkan apartemen Cyrin pukul 12 malam . Sebelum meninggalkan gedung apartemen , Ia masih menyempatkan bicara sebentar dengan dua pengawal yang Ia tempatkan untuk mengawasi calon istrinya .
Alhasil , Ia hanya bisa tidur tidak lebih dari 3 jam lalu harus bangun lagi .
Bisa saja Farrel mengizinkan Cyrin berangkat bekerja sendiri tapi dengan isu ancaman Aurora , Ia tidak ingin ambil resiko .
Mobil Farrel sudah memasuki halaman gedung apartemen . Setelah memarkirkan mobilnya , Ia segera melangkah cepat menuju unit apartemen Cyrin .
Farrel bernapas lega saat sudah tiba di depan pintu . Jarinya yang hendak menekan bel Ia urungkan , sebaiknya langsung masuk saja dengan raut wajah menyesal . Itulah rencananya kini .
Sebelum masuk , Farrel menoleh dan mendapati pengawal yang semalam masih berada tak jauh dari tempatnya .
Farrel menekan beberapa tombol lalu membuka pintu .
Gelap .
" Apa Cyrin sudah berangkat ? " batinnya .
Farrel berjalan ke sofa . Di lihatnya selimut yang mereka pakai semalam saat menonton film bersama masih berada di tempat yang sama .
" Apa Cyrin masih tidur ? " duganya .
Farrel sangat tahu kebiasaan calon istrinya yang akan memastikan rumahnya dalam keadaan rapih saat Ia tinggalkan . Jadi sangat tidak mungkin Ia sudah pergi .
" Yang .... Sayang ..... " teriaknya sambil berjalan menuju dapur .
Bersih .
Farrel terkekeh . Ia yakin Cyrin juga kesiangan bahkan bisa saja Ia masih tidur saat ini .
" Kalau benar Cyrin juga telat , sia sia dong rasa cemasku selama di jalan tadi . " Batinnya .
Kakinya melangkah pasti menuju kamar Cyrin . Perlahan Ia buka .
Hanya lampu tidur di atas nakas dan lampu di sudut sofa yang menyala .
Ranjangnya masih berantakan . Tapi kamar itu terlalu senyap .
Walaupun ragu , Farrel menggeser cermin besar yang merupakan pintu ke walk in closet tapi di sana juga kosong .
Matanya beralih ke kamar mandi ,
" apa mungkin Ia di kamar mandi ? Tp tak ada suara apapun dari sana . " Gumamnya .
" Yang... sayang ... Cyrin ... kamu di dalam ? " teriak Farrel dari depan pintu kamar mandi .
Tok.. tok.. tok..
Kini Ia mengetuk pintunya .
" Sepertinya dia tak ada di dalam . " Gumam Farrel .
Walaupun berpikir Cyrin tak ada di dalam tapi tangannya tetap meraih pegangan pada pintu , memutarnya dan mendorong sehingga pintu terbuka .
" Sayang . " teriaknya terkejut .
Ia mendorong pintu lebih kuat .
Pasalnya pintu itu tadi terhalang tubuh Cyrin yang terbaring di lantai tak sadarkan diri .
Farrel segera menggendong calon istrinya .
Melangkah dengan cepat meninggalkan apartemen .
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya . Bibirnya serasa keluh .
Dua orang pengawal yang melihat bosnya keluar menggendong wanita yang mereka jaga segera menghampiri .
" Ada apa ini Bos ? " tanya mereka bersamaan .
" Kau ikut aku ke rumah sakit , " ucapnya sambil menatap ke salah satu dari dua pria kekar dan berotot di hadapannya .
" Kau , periksa setiap sudut apartemen . Cari apapun yang mencurigakan . " Sambungnya .
Setelah itu Farrel melanjutkan langkahnya dengan salah satu pengawal .
Keduanya tergesa gesa , mereka tidak pedulikan lagi tatapan dari orang orang yang menatapnya .
Ketiganya kini dalam perjalanan menuju rumah sakit . Farrel duduk di kursi belakang , masih dengan Cyrin di gendongannya .
Farrel sangat kalut . Di perhatikannya kini wajah Cyrin nampak sangat pucat , bibirnya pinknya kini berwarna biru , dari sudut kepalanya ada aliran darah yang sebagian sudah mengering .
" Hubungi Daffin , minta menyusul kita ke rumah sakit sekarang . " Serunya pada pengawal .
" Apa yang telah terjadi ? Aku gagal lagi menjaganya . " Batin Farrel .
" Pastikan kalian berdua tahu apa penyebab . " Tegas Farrel .
__ADS_1
Selama perjalanan menuju rumah sakit segala doa telah Ia rapalkan demi keselamatan wanita yang ada di dekapannya . Wanita yang menjadi belahan jiwanya , wanita yang harusnya Ia lindungi .
" Aku tak akan memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu sayang . Harusnya hari ini aku datang lebih cepat , harusnya aku tidak kesiangan , atau harusnya aku tidak meninggalkamu semalam . Harusnya ...... "
Farrel mengakhiri segala penyesalannya dengan air mata yang berlinang tanpa izin sang empunya .
Setibanya di rumah sakit , Farrel membawa Cyrin ke UGD .
Cyrin segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang terbaik oleh dokter dan perawat yang bertugas .
Sementara Farrel dan pengawalnya hanya bisa menunggu di luar ruangan sembari terus mondar mandir .
Ia hanya berharap Tuhan tidak akan bosan mendengar doa yang terus terucap dari lubuk hatinya untuk keselamatan wanita yang dicintainya .
Tak lama Daffin tiba . Tatapannya tertuju pada sang bos yang terlihat sangat kalut .
Daffin memerintahkan pengawal yang bersama Farrel untuk kembali ke apartemen dan membantu mencari petunjuk di sana .
Farrel melirik Daffin yang mendekat kearahnya .
" Fin ... ini salahku . " lirihnya .
" Kami akan segera menemukan penyebabnya Pak . Kuat lah , nona membutuhkan anda . " Ujar Daffin .
Dari kejauhan , Mama Anin dan Papa Jatmika mempercepat langkahnya kala melihat sosok putranya berdiri di depan sebuah pintu .
" Rel ... apa yang terjadi ? Di mana Cyrin ? " tanya Mama Anin .
" Astaga .... Cyrin kesayangan Mama . "
Keluh Mama Anin .
" Kamu yakin ini bukan karena kamu ? "
Tatapannya kini mengarah pada putranya .
" Ma... apa maksud Mama ? Tidak mungkin aku menyakiti calon istriku . Aku sangat mencintainya . " Balas Farrel .
Papa Jatmika membelai punggung istrinya agar berhenti bicara . Ia tahu istrinya cemas , tapi ucapannya barusan sudah melukai putranya .
Pintu ruangan terbuka . Semua perhatian beralih pada dua orang berjas putih yang keluar dari sana .
" Bagaimana keadaan tunangan saya Dok ? " tanya Farrel tak sabar .
" Pasien atas nama Cyrinda sudah melewati masa kritisnya . Pasien mengalami gejala awal hipotermia , beruntung segera ditemukan . Mengenai luka di kepalanya sepertinya karena terbentur benda tumpul , sudah kami tangani dengan beberapa jahitan . " Jelas dokter .
" Suhu tubuh pasien sudah kembali normal . Kami sedang memasukkan obat obatan dan vitamin lewat cairan infus . Setelah selesai pasien bisa langsung di pindahkan ke ruang rawat . " Lanjutnya .
" Apa yang menyebabkan tunangan saya bisa pingsan dok ? " tanya Farrel lagi .
" Kami sedang menunggu hasil tes darahnya Pak . Dari sana kita bisa lihat , apa mungkin ada kandungan obat tertentu yang bisa saja membuat pasien tak sadarkan diri . Tapi jika semuanya normal , maka kemungkinan pasien tak sadarkan diri karena kelelahan , atau mengalami shock . " Jelasnya .
__ADS_1
" Kami permisi . " Ujar sang dokter mengakhiri percakapan mereka .
Farrel mengabaikan ucapan dokter yang berlalu meninggalkannya .
Papa Jatmika menatap Farrel dengan raut wajah penuh tanya .
Farrel jelas tahu apa yang menjadi kehawatiran Mama dan Papanya .
" Aku yakin malam itu Cyrin tidak meminum obat atau apapun , aku sangat mengenalnya . " Ujar Farrel .
" Malam itu kami berpisah sudah larut malam , setelah ku pastikan Cyrin tertidur barulah aku meninggalkannya . "
" Tak ada informasi dari pengawal jika setelah kepergianku ada yang mengunjungi apartemennya . "
Farrel mengakhiri penjelasannya tanpa menyadari tatapan kedua orang tuanya yang menatap tajam padanya .
" Farrel Antoine Jatmika ! "
Suara tegas Mama Anin mengalihkan semua perhatian padanya .
" Jelaskan pada Mama apa yang kami tidak ketahui . Jangan ada yang kamu tutupi , apalagi ini menyangkut Cyrin putri Mama . " Perintah Mama Anin .
" Akan ku jelaskan nanti Ma . Aku janji . "
" Sekarang . " Balas Mama Anin tidak menerima bantahan .
Farrel menghirup oksigen sebanyak yang Ia bisa. Menyebut nama Aurora di hadapan Mama Anin sama saja memancing Mama Anin mengeluarkan tanduk runcingnya .
Mama Anin sejak dulu tidak pernah menyetujui hubungan Aurora dan Farrel . Apalagi setelah Mama Anin mengetahui alasan putusnya mereka . Sejak saat itu nama Aurora berhasil menduduki peringkat teratas sebagai wanita yang dibenci oleh Mama Anin .
Untung saja beberapa perawat menginterupsi mereka .
" Permisi Pak , pasien akan kami dipindahkan ke ruang rawat . "
Yaaasssss.... perawat menyelamatkan Farrel dari Mama Anin .
Mama Anin melupakan pertanyaanya , dan kini melangkah cepat mengikuti perawat yang mendorong brankar Cyrin .
Farrel menyadari betapa hawatir kedua orang tuanya pada Cyrin . Cyrin tidak hanya berhasil memiliki hatinya , tapi juga hati kedua orangtuanya .
" Segeralah sadar sayang , banyak sekali yang menghawatirkanmu . Banyak cinta yang menantimu . " Batinnya .
.
.
.
.
.
"*Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna*."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue