My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 118. Suami dan Istri


__ADS_3

Harusnya lebih awal aku menemukanmu.


Harusnya lebih awal aku memintamu menjadi kekasihku.


Harusnya lebih awal aku melamarmu menjadi calon istriku.


Dan saat ini tiada hal lain yang ingin ku lakukan untuk mulai menjalani sisa hidupku, bersamamu.


Wahai kekasihku, mari kita mulai menjalani sisa hidup kita sesegera mungkin.


Aku tak sabar untuk segera memanggilmu dengan mesra, Istriku.


♡♡♡♡♡♡♡


“Jangan bangunkan aku jika memang ini adalah mimpi.”


“Aku sungguh bahagia, netraku sungguh beruntung, mendapatkan kesempatan untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan dalam wujud bidadari cantik yang juga sedang menatapku.”


“Ya, dia menatapku. Bahkan dia tersenyum padaku. Lihatlah rona merah di pipinya, menggemaskan.”


“Inikan hanya mimpi, tak masalah jika aku berlari ke arahnya dan mendekap erat keindahan yang sangat sayang untuk disia-siakan.”


Farrel terus saja bermonolog dalam batinnya, hingga.......


Plaaakkk...


Farrel mengelus lembut lengannya yang baru saja mendapat tepukan keras dari Mama Anin.


“Aaauuucchhh....” Ringis Farrel.


“Sudah kukatakan jangan bangunkan aku!” Gerutu Farrel pada sosok sang Ibu yang duduk di sisinya.


Sesekali Mama Anin akan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ballroom yang sudah dihiasi oleh indahnya warna warni bunga sesuai pilihan yang empunya hajat.


Wanita paruh baya itu terus tersenyum dan mengangguk kecil secara bersamaan.


Sebagai permohonan maaf atas tingkah aneh yang baru dipertontonkan oleh putra semata wayangnya.


"Andai saja anak ini bukan tokoh utama, sudah sejak tadi ku kirim dia pakai paket ekspres ke planet mars." Batin Mama Anin yang kesal karena tingkah Farrel.


“Dasar anak nakal, malu-maluin kamu.” Geram Mama Anin, namun Ia tetap mempertahankan senyum di wajahnya.


Saat itulah kesadaran Farrel kembali ke tempatnya.


“Astaga... ku pikir ini hanya mimpi.” Lirihnya.


Namun sayang ucapannya tetap bisa didengar oleh beberapa orang yang posisinya tak jauh dari tempat yang menjadi pusat perhatian saat ini.


“Salahkan Cyrin yang sangat cantik seperti bidadari. Aku jadi mengira jika ini hanya mimpi.” Sambungnya.


Farrel tidak menghiraukan jika kini, calon Ayah mertuanya, saksi pernikahan dari dua keluarga, dan juga Pak Penghulu tengah menahan tawa.


Plaaaak....


Sekali lagi lengannya menjadi korban kekerasan oleh Mama Anin, tepat di hari yang sakral bagi Farrel dan Cyrin.


“Ma..... apaan sih,” gerutu Farrel.


“Kamu yang apa-apaan. Mimpi apa? Bidadari apa? Kalau kamu masih mau mimpi, sekalian saja kamu tak usah bangun lagi.” Balas Mama Anin mendebat putranya.


“Astaga, Mama... masa Mama tega jika Cyrin batal menjadi seorang istri?”


Sssstt..... Ssssstt...


Papa Jatmika segera menghentikan perdebatan pasangan Ibu dan Anak yang sedang berdebat tanpa kenal tempat dan suasana.


“Sudah, sudah. Berhenti berdebat. Jangan sampai Cyrin malah menolak untuk menikah karena kekacauan yang kalian buat." Ancamnya.

__ADS_1


Farrel berdecak, lalu memilih bungkam.


Lebih baik Ia kembali memusatkan perhatiannya pada bidadari yang benar-benar nyata, bahkan bidadari itu kini sedang melangkah perlahan ke arahnya.


Dalam hati, Farrel tak berhenti menerka-nerka berapa langkah lagi agar bidadari itu bisa berada di sisinya.


Dan sesaat kemudian,


Farrel terpaku.


Matanya tak bisa berkedip, bibirnya keluh tak bisa berucap.


Untung saja dia tak lupa caranya bernapas, jika itu terjadi maka semua ini benar-benar hanya akan menjadi mimpi baginya.


“Ekheem,”


Byanca dan Marsha berdeham bersamaan.


Jika sesuai dengan arahan dari pihak WO, saat ini Farrel harusnya berdiri, menyambut calon pengantin wanita, lalu menuntunnya duduk di tempat yang sudah disiapkan.


Farrel gelagapan.


Tuan Jatmika Ferrero kini mengambil alih tugas putranya.


Pria paruh baya yang disegani oleh para pengusaha muda, pria paruh baya yang menjadi panutan bagi para pengusaha muda dalam berbisnis.


Kini Tuan Jatmika dengan lembut mengulurkan tangannya agar segera disambut oleh wanita yang sebentar lagi menjadi menantunya, menjadi putri kebanggan keluarga Ferrero.


Dengan hati-hati Ia tuntun Cyrin yang kini mengenakan kebaya berwarna putih untuk duduk di kursinya.


Tepat di sisi Farrel, pria yang sebentar lagi akan mengucapkan janji setia, sehidup semati.


Janji untuk bertanggung jawab pada kebahagiaan jiwa dan raga istrinya.


Janji untuk membangun rumah tangga yang sesuai syariat agama.


Juga janji untuk menuntun istrinya agar menjadi calon pintu surga bagi putra-putri mereka kelak.


“Bagaimana, apa sudah boleh kita mulai?” tanya Pak Penghulu.


“Ya.” Jawab Farrel mantap, tanpa keraguan sedikitpun.


Tak ingin ada kesalahan atau hal bodoh lain yang sangat mungkin Ia lakukan.


Lantunan ayat-ayat suci mulai terdengar, membuat hati yang mendengarnya menjadi lebih tenang.


Suasana semakin khidmat, terlebih saat penghulu mulai memberikan khutbah nikah.


Baik Farrel maupun Cyrin mendengarnya dengan seksama, sebagai bekal bagi keduanya menjalani bahtera rumah tangga yang penuh akan ridha dari Sang Ilahi.


Hingga tiba saatnya bagi wali nikah untuk melaksanakan prosesi terpenting.


“Bismillahirrahmanirahim.”


Meski baru awalnya, suara Pak Ibrahim sudah terdengar bergetar.


Semua tahu jika suara itu berasal dari seorang Ayah yang dengan berat hati harus melepaskan tanggung jawabnya pada sang putri.


Suasana hening, kini mulai mengharu biru.


Beberapa kerabat terdekat yang turut hadir untuk memberi doa restu, sudah dibuat mulai berkaca-kaca.


“Saya nikahkan engkau ................ dengan mahar seperangkat alat shalat, uang tunai senilai 5.000 Dirham, dan sebuah cincin berlian, tunai karena Allah.”


Dengan kemantapan hati, tanpa keraguan, tanpa beban ataupun paksaan.


Farrel membalas Ijab yang diucapkan oleh Ayah kandung Cyrin, dengan ucapan kabul yang telah Ia hapalkan sejak berhari-hari yang lalu.

__ADS_1


“Saya terima nikahnya ..................... dengan mahar tersebut, tunai karena Allah.”


Hening.


Seolah detik demi detik waktu kini terasa sangat lama bagi Farrel dan Cyrin.


Keduanya saling menatap, keduanya tahu jika hanya satu kata yang mereka kini nantikan.


“SAH”


Jawab dua orang yang bertindak sebagai saksi pernikahan.


Terdengar sorakan yang beragam dari para tamu yang ikut menjadi saksi bersatunya dua anak manusia dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


Sah. Hanya satu kata yang mampu membuat Cyrin dan Farrel tersenyum juga menitikkan air mata secara bersamaan.


Satu kata yang sangat ditunggu oleh pasangan yang baru saja berganti status dari lajang menjadi menikah.


Satu kata yang mengantar sang pria untuk memasuki era baru kehidupannya, sebagai suami yang bertanggung jawab atas kebahagiaan lahir dan batin atas wanita yang baru saja halal baginya.


Menuntun istrinya dengan baik menyelesaikan ibadah mereka di dunia agar kelak mereka bisa bersama-sama hingga ke surga.


“Yeaaaaahhhh, akhirnya Cyrin menjadi istriku.” sorak Farrel dalam hati.


Andai bisa terdengar, mungkin sorakannya mengalahkan sorakan para tamu.


“Aku bersyukur, orang itu adalah kamu Mas. Aku bahagia kamu yang menjadi suamiku.” Batin Cyrin dengan setetes air mata yang jatuh dari pelupuk mata indahnya.


Setelah melanjutkan prosesi pernikahan yang lain, seperti pembacaan doa, penandatanganan buku nikah, serah terima mahar, tukar cincin lalu pemberian nasihat pernikahan.


Setelah dirasa semua prosesi akad nikah sudah selesai dan dilakukan dengan benar sesuai syariat agama, maka kini saatnya penghulu menutup semua prosesi yang sudah mengesahkan pasangan ini menjadi pasangan yang sah dimata hukum juga agama.


“Selamat dan semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan.” Ucap Pak Penghulu sebagai tanda berakhirnya prosesi nikah.


♡♡♡♡♡♡♡♡


Hari ini semua akhirnya berakhir.


Hari ini membuktikan jika mereka telah lulus dalam tahap awal hubungan yang mereka jalin.


Akankah perjalanan cinta mereka berakhir di sini? Tentu tidak karena ini adalah awal bagi keduanya melangkah dalam tingkatan yang lebih tinggi, yaitu rumah tangga.


“Hai, suami.” Sapa Cyrin dengan senyum termanisnya.


“Hai juga, istri.” Balas Farrel dengan senyum yang tak kalah menawan.


Ya, Suami dan Istri.


Itulah peran mereka yang baru.


♡♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡♡♡


Mari kita mulai sayangku,


Kita akan awali dengan secercah cahaya dari doa dan restu yang mengiringi ikatan suci ini.


Dan kita akhiri dengan keabadian, dengan sebuah pertemuan di surganya kelak.


⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘


Readers: UPnya lama bingiittssa thor.


Othor: Maap maap, aku hilappp


Readers: Banyak alasan


Othor: Oke jujur. UPnya lama karena Othor kudu ngumpulin kembang untuk dekorasi gedung nikahan si Mas.

__ADS_1


Readers: Sekarang udah selesai ngumpulinnya?


Othor: Belum. Ni aja modal nekat 🤣🤣🤣🤧🤧🤧. Makanya bantuin yah yah yah


__ADS_2