
" Hah ??? Sialan ... dasar wanita jal*ng . " Umpat Bimo .
" Kamu benar Bim , dia memang wanita jal*ng . " Berbeda dengan Bimo yang kini emosinya meledak-ledak , Farrel jauh lebih tenang .
" Aku akan memberi Aurora pelajaran yang setimpal , " balas Bimo .
" Tenanglah Bim . Jangan mengotori tangan kita untuk orang rendahan seperti mereka . "
" Aku sudah memikirkan rencana yang bagus untuk membalas mereka , " ujar Farrel .
Bimo akhirnya bisa menguasai emosinya . Saat ini Ia akan percaya pada Farrel . Ia yakin Farrel tidak akan membiarkan siapapun yang telah menyakiti wanita yang dicintainya .
" Aku percaya padamu . Aku mengandalkanmu Rel . Katakan jika kamu perlu bantuanku , " ujar Bimo .
" Fin , lakukan sebagaimana yang sering kita lakukan . Aku mau pria itu yang datang memohon dan menemuiku secepatnya . "
Perintah Farrel sudah sangat jelas bagi Daffin yang telah bertahun-tahun menjadi asistennya .
Daffin mengangguk lalu undur diri agar segera melaksanakan perintah bosnya .
Farrel kembali ke ruang rawat Cyrin seorang diri . Ia tak menyangka jika Cyrin akan celaka seperti ini karena wanita yang pernah ada di masa lalunya .
Orang tuanya dan orang tua Cyrin akan pergi untuk makan siang . Jadilah kini hanya tersisa Farrel sendiri yang menjaga Cyrin .
Farrel duduk di samping brankar , menggenggam tangan Cyrin . Mengusap punggung tangan Cyrin dengan lembut .
" Sayang , kata dokter aku harus terus mengajakmu bercerita karena itu bisa membantumu sadar lebih cepat . "
Farrel berharap Cyrin bisa mendengarnya .
" Aku ingin minta maaf padamu . Maafkan aku yang lalai menjagamu . Seharusnya malam itu aku tidak meninggalkanmu , sehingga kejadian ini tidak akan terjadi , " sesalnya .
Farrel tertawa , namun tawanya terdengar sangat memilukan .
" Aku sengaja minta maaf saat kamu belum sadar , karena aku malu jika harus minta maaf lagi padamu . Sudah terlalu banyak maaf yang kamu beri padaku sayang . "
" Jadi bersiaplah , saat kamu bangun nanti aku akan gantian mengomelimu karena sudah tak jujur padaku soal surat aneh yang kamu terima . "
" Walaupun aku sangat berharap kamu bangun segera , tapi aku tidak ingin memaksamu Yang . Jika kamu masih butuh waktu lebih lama tertidur seperti ini , maka tidurlah sayang . Aku akan menunggu , menunggumu sampai kamu siap untuk bangun dan berkumpul bersama kami lagi . "
Farrel menelungkupkan wajahnya di tepian tempat tidur . Rasanya lebih lega saat Ia sudah menyampaikan penyesalannya dan isi hatinya pada Cyrin .
Farrel juga sudah memutuskan untuk meneriman keadaan . Apapun keadaannya, perasaannya pada Cyrin tak akan pernah berubah .
Rasa kantuk yang mendera membuat Farrel mulai memejamkan matanya .
Entah sudah berapa lama Ia tertidur . Tapi Farrel terbangun saat alat patient monitor berbunyi .
Farrel panik saat melihat tubuh Cyrin kejang-kejang . Segera Ia tekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat .
Farrel memegang kedua lengan Cyrin , " sayang .... sayang ....ada apa denganmu . "
" Sayang , sayang .... Cyrin .... jangan membuatku takut Yang . "
Farrel berusaha menahan gerakan tubuh Cyrin.
Dokter dan beberapa perawat masuk .
__ADS_1
" Pak , tolong tunggu di luar sebentar , " ujar salah satu perawat .
" Tapi .... "
" Kami mohon Pak , bekerjasamalah . "
Perawat mendorong Farrel menjauh dari brankar Cyrin .
Farrel masih terus mengawasi keadaan Cyrin .
" harusnya aku tidak tertidur tadi , " rutuknya .
" Dok , frekuensi napas dan denyut nadi pasien meningkat dok . " Ucapan salah satu perawat yang bisa di dengar Farrel .
Farrel mengepal kuat tangannya untuk mengontrol kepanikannya .
Farrel mengamati Dokter yang melakukan beberapa tindakan medik , salah satunya menyuntikkan sesuatu di selang infus Cyrin .
Tak berapa lama akhirnya tubuh Cyrin berhenti kejang .
" Nona .... Nona .... apa anda bisa mendengar suara saya . " Dokter sedikit meninggikan suaranya .
Dari jauh Farrel bisa melihat kepala Cyrin bergerak ke kiri dan kanan . Dia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk .
Dokter kembali memanggil Cyrin dengan cara yang sama .
Farrel mendekat , rasanya ada angin sejuk berhembus di hatinya saat melihat senyum di wajah dokter .
" Silahkan Pak . Anda boleh coba membangunkannya . Pasien sudah mulai merespon dengan baik , " ujar dokter .
Farrel segera melakukan apa yang dikatakan dokter .
" Yang ... sayang ... apa kamu akan bangun sekarang ? Cobalah buka matamu sayang . Aku disini menunggumu . "
Farrel mengucapkan kata demi katanya dengan lembut .
" Cyrinda Gayatri Al Amin , ayo buka matamu . Kamu masih harus menyiapkan keperluan pernikahan kita sayang . "
Alat patient monitor menampakkan frekuensi napas Cyrin kembali meningkat .
Lalu ......
" Farrel ...... " suara Cyrin akhirnya terdengar .
Matanya perlahan terbuka , sedikit demi sedikit .
Farrel menggenggam tangan Cyrin , mengecup punggung tangannya .
" Aku di sini sayang , aku di sini . Ayo bangunlah . "
__ADS_1
Akhirnya yang diharapkannya terwujud . Cyrin membuka sempurna matanya , menatap pada Farrel .
" Mas .... aa..ku.. ta..kut.... " ujarnya terbata-bata .
Farrel memeluk Cyrin , pria itu bahkan menangis sebagai ungkapan syukurnya .
" Tenanglah , ada aku yang akan menjagamu sayang . "
Alat patient monitor mulai menunjukkan tanda-tanda vital pasien berangsur normal .
Tidak ingin mengganggu Farrel dan Cyrin , Dokter dan para perawat dengan perlahan meninggalkan ruangan saat tanda-tanda vital Cyrin sudah dalam keadaan normal dan stabil .
Pasangan kekasih itu masih belum ingin melepaskan pelukannya .
Sampai Bimo dan para orang tua mereka kembali . Mereka terkejut , sangat bahagia melihat Cyrin sudah sadar .
Kedatangan mereka membuat Farrel harus rela melepas pelukannya .
Satu per satu bergantian memeluk Cyrin . Sore itu dipenuhi dengan rasa syukur bagi dua keluarga yang sebentar lagi akan dipersatukan melalui pernikahan putra putri mereka .
Tanpa terasa sang surya sudah mulai bergerak kembali ke peraduannya . Langit yang awalnya berwarna biru cerah kini mulai membiaskan warna jingga . Mengingatkan kita jika sudah saatnya bersiap untuk rehat dari apapun yang telah kita kerjakan hari ini .
Di ruang perawatan vvip yang tadinya ramai kini mendadak sepi setelah para orang tua sudah kembali ke rumah untuk istirahat dan Bimo sedang menjemput Byanca .
Kini hanya tersisa Cyrin yang duduk di atas brankarnya bersandar pada dada bidang Aydin .
" Mas .... aku ingin ceritakan padamu kejadian hari itu , " ujar Cyrin .
Farrel mengecup pundak Cyrin , " nanti saja sayang . Tidak perlu dipaksakan . "
" Tapi ...... "
Farrel meletakkan jari telunjuknya di bibir Cyrin , " sssssttttt ... aku tidak ingin kamu banyak pikiran . "
" Tapi aku takut Mas , " keluh Cyrin .
" Baiklah , katakan semua yang ingin kamu katakan . Aku akan dengarkan apapun itu . "
Farrel melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cyrin . Mendekap erat calon istrinya , menyiratkan jika tak ada yang perlu Ia takutkan karena ada Farrel yang akan selalu menjaganya .
Cyrin mulai menceritakan dari awal . Mengenai telepon dari privat number , lalu surat yang Ia terima , bahkan mimpinya yang terasa seperti nyata .
" Mas , yang membuatku takut karena aku serasa dihantui oleh bayangan kejadian yang tidak ada di ingatanku . " Cyrin mulai terisak.
" Bahkan kemarin aku mendengar banyak suara suara aneh Mas , " lanjutnya .
Salah satu tangan Farrel meraih satu tangan Cyrin . Menggenggamnya erat .
" Mas , jujur padaku ... apa menurutmu aku berhalusinasi dengan semua bayangan dan suara suara itu ? " tanyanya .
Farrel menghirup napas panjang , mengumpulkan oksigen sebanyak -banyaknya . Dadanya terasa sesak melihat bagaimana frustasinya wanita yang Ia cintai saat terus dihantui oleh bayangan masa lalu yang Ia lupakan . Bahkan Ia mengira hal itu adalah halusinasinya .
" Tuhan ... bisakah aku meminta satu hal yang mungkin mustahil ? Tolong hentikan waktu untuk sesaat . Walaupun hanya sesaat , tapi ku harap wanita yang kucintai ini bisa berhenti terbebani oleh pikirannya , " batin Farrel .
Pria itu memejamkan matanya , memikirkan jawaban apa yang tepat .
.
.
.
.
.
" Berbahagialah bukan hanya karena segala sesuatunya baik, tetapi karena kamu masih mampu melihat hal baik dari segala sesuatu yang ada."
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue