My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 88 . Halusinasi


__ADS_3

" Hah ??? Sialan ... dasar wanita jal*ng . " Umpat Bimo .


" Kamu benar Bim , dia memang wanita jal*ng . "  Berbeda dengan Bimo yang kini emosinya meledak-ledak , Farrel jauh lebih tenang .


" Aku akan memberi Aurora pelajaran yang setimpal , " balas Bimo .


" Tenanglah Bim . Jangan mengotori tangan kita untuk orang rendahan seperti mereka . "


" Aku sudah memikirkan rencana yang bagus untuk membalas mereka , " ujar Farrel .


Bimo akhirnya bisa menguasai emosinya . Saat ini Ia akan percaya pada Farrel . Ia yakin Farrel tidak akan membiarkan siapapun yang telah menyakiti wanita yang dicintainya .


" Aku percaya padamu . Aku mengandalkanmu Rel . Katakan jika kamu perlu bantuanku , " ujar Bimo .


" Fin  , lakukan sebagaimana yang sering kita lakukan .  Aku mau pria itu yang datang memohon dan menemuiku secepatnya . "


Perintah Farrel sudah sangat jelas bagi Daffin yang telah bertahun-tahun menjadi asistennya .


Daffin mengangguk lalu undur diri agar segera melaksanakan perintah bosnya .



Farrel kembali ke ruang rawat Cyrin seorang diri . Ia tak menyangka jika Cyrin akan celaka seperti ini karena wanita yang pernah ada di masa lalunya .



Orang tuanya dan orang tua Cyrin akan pergi untuk makan siang . Jadilah kini hanya tersisa Farrel sendiri yang menjaga Cyrin .



Farrel duduk di samping brankar , menggenggam tangan Cyrin . Mengusap punggung tangan Cyrin dengan lembut .



" Sayang , kata dokter aku harus terus mengajakmu bercerita karena itu bisa membantumu sadar lebih cepat . "



Farrel berharap Cyrin bisa mendengarnya .



" Aku ingin minta maaf padamu . Maafkan aku yang lalai menjagamu . Seharusnya malam itu aku tidak meninggalkanmu , sehingga kejadian ini tidak akan terjadi , " sesalnya .



Farrel tertawa , namun tawanya terdengar sangat memilukan .



" Aku sengaja minta maaf saat kamu belum sadar , karena aku malu jika harus minta maaf lagi padamu . Sudah terlalu banyak maaf yang kamu beri padaku sayang . "



" Jadi bersiaplah , saat kamu bangun nanti aku akan gantian mengomelimu karena sudah tak jujur padaku soal surat aneh yang kamu terima . "



" Walaupun aku sangat berharap kamu bangun segera , tapi aku tidak ingin memaksamu Yang . Jika kamu masih butuh waktu lebih lama tertidur seperti ini , maka tidurlah sayang . Aku akan menunggu , menunggumu sampai kamu siap untuk bangun dan berkumpul bersama kami lagi . "



Farrel menelungkupkan wajahnya di tepian tempat tidur . Rasanya lebih lega saat Ia sudah menyampaikan penyesalannya dan isi hatinya pada Cyrin .



Farrel juga sudah memutuskan untuk meneriman keadaan . Apapun keadaannya,  perasaannya pada Cyrin tak akan pernah berubah .



Rasa kantuk yang mendera membuat Farrel mulai memejamkan matanya .



Entah sudah berapa lama Ia tertidur . Tapi Farrel terbangun saat alat patient monitor  berbunyi .



Farrel panik saat melihat tubuh Cyrin kejang-kejang  . Segera Ia tekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat .



Farrel memegang kedua lengan Cyrin , " sayang .... sayang ....ada apa denganmu . "



" Sayang , sayang .... Cyrin .... jangan membuatku takut Yang . "



Farrel berusaha menahan gerakan tubuh Cyrin.



Dokter dan beberapa perawat masuk .

__ADS_1



" Pak , tolong tunggu di luar sebentar , " ujar salah satu perawat .



" Tapi .... "



" Kami mohon Pak , bekerjasamalah . "


Perawat mendorong Farrel menjauh dari brankar Cyrin .



Farrel masih terus mengawasi keadaan Cyrin .


" harusnya aku tidak tertidur tadi , " rutuknya .



" Dok , frekuensi napas dan denyut nadi pasien meningkat dok . " Ucapan salah satu perawat yang bisa di dengar Farrel .



Farrel mengepal kuat tangannya untuk mengontrol kepanikannya .



Farrel mengamati Dokter yang melakukan beberapa tindakan medik , salah satunya menyuntikkan sesuatu di selang infus Cyrin .



Tak berapa lama akhirnya tubuh Cyrin berhenti kejang .



" Nona .... Nona .... apa anda bisa mendengar suara saya . " Dokter sedikit meninggikan suaranya .



Dari jauh Farrel bisa melihat kepala Cyrin bergerak ke kiri dan kanan . Dia tidak tahu apakah itu pertanda baik atau buruk .



Dokter kembali memanggil Cyrin dengan cara yang sama .




Farrel mendekat , rasanya ada angin sejuk berhembus di hatinya saat melihat senyum di wajah dokter .



" Silahkan Pak . Anda boleh coba membangunkannya . Pasien sudah mulai merespon dengan baik , " ujar dokter .



Farrel segera melakukan apa yang dikatakan dokter .



" Yang ... sayang ... apa kamu akan bangun sekarang ? Cobalah buka matamu sayang . Aku disini menunggumu . "



Farrel mengucapkan kata demi katanya dengan lembut .



" Cyrinda Gayatri Al Amin , ayo buka matamu . Kamu masih harus menyiapkan keperluan  pernikahan kita sayang . "



Alat patient monitor menampakkan frekuensi napas Cyrin kembali meningkat .



Lalu ......



" Farrel  ...... " suara  Cyrin akhirnya terdengar .


Matanya perlahan terbuka , sedikit demi sedikit .



Farrel menggenggam tangan Cyrin , mengecup punggung tangannya .



" Aku di sini sayang , aku di sini . Ayo bangunlah . "

__ADS_1



Akhirnya yang diharapkannya terwujud . Cyrin membuka sempurna matanya , menatap pada Farrel  .



" Mas .... aa..ku.. ta..kut.... " ujarnya terbata-bata .



Farrel memeluk Cyrin , pria itu bahkan menangis sebagai ungkapan syukurnya .


" Tenanglah , ada aku yang akan menjagamu sayang . "



Alat patient monitor mulai menunjukkan tanda-tanda vital pasien berangsur normal .



Tidak ingin mengganggu Farrel dan Cyrin , Dokter dan para perawat dengan perlahan meninggalkan ruangan saat tanda-tanda vital Cyrin sudah dalam keadaan normal dan stabil .



Pasangan kekasih itu masih belum ingin melepaskan pelukannya .



Sampai Bimo dan para orang tua mereka kembali . Mereka terkejut , sangat bahagia melihat Cyrin sudah sadar .


Kedatangan mereka membuat Farrel harus rela melepas pelukannya .



Satu per satu bergantian memeluk Cyrin . Sore itu dipenuhi dengan rasa syukur bagi dua keluarga yang sebentar lagi akan dipersatukan melalui pernikahan putra putri mereka .



Tanpa terasa sang surya sudah mulai bergerak kembali ke peraduannya . Langit yang awalnya berwarna biru cerah  kini mulai membiaskan warna jingga . Mengingatkan kita jika sudah saatnya bersiap untuk  rehat dari apapun yang telah kita kerjakan hari ini .


Di ruang perawatan vvip yang tadinya ramai kini mendadak sepi setelah para orang tua sudah kembali ke rumah untuk istirahat dan Bimo sedang menjemput Byanca .


Kini hanya tersisa Cyrin yang duduk di atas brankarnya bersandar pada dada bidang Aydin .


" Mas .... aku ingin ceritakan padamu kejadian hari itu , " ujar Cyrin .


Farrel mengecup pundak Cyrin , " nanti saja sayang .  Tidak perlu dipaksakan . "


" Tapi ...... "


Farrel meletakkan jari telunjuknya di bibir Cyrin , " sssssttttt ... aku tidak ingin kamu banyak pikiran . "


" Tapi aku takut Mas , " keluh Cyrin .


" Baiklah , katakan semua yang ingin kamu katakan . Aku akan dengarkan apapun itu . "


Farrel melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cyrin . Mendekap erat calon istrinya , menyiratkan jika tak ada yang perlu Ia takutkan karena ada Farrel yang akan selalu menjaganya .


Cyrin mulai menceritakan dari awal . Mengenai telepon dari privat number , lalu surat yang Ia terima , bahkan mimpinya yang terasa seperti nyata .


" Mas , yang membuatku takut karena aku serasa dihantui oleh bayangan kejadian yang tidak ada di ingatanku . " Cyrin mulai terisak.


" Bahkan kemarin aku mendengar banyak suara suara aneh Mas , " lanjutnya .


Salah satu tangan Farrel meraih satu tangan Cyrin . Menggenggamnya erat .


" Mas , jujur padaku ... apa menurutmu aku berhalusinasi dengan semua bayangan dan suara suara itu ? " tanyanya .


Farrel menghirup napas panjang , mengumpulkan oksigen sebanyak -banyaknya . Dadanya terasa sesak melihat bagaimana frustasinya wanita yang Ia cintai saat terus dihantui oleh bayangan masa lalu yang Ia lupakan . Bahkan Ia mengira hal itu adalah halusinasinya .


" Tuhan ... bisakah aku meminta satu hal yang mungkin  mustahil ? Tolong hentikan waktu untuk sesaat . Walaupun hanya sesaat , tapi ku harap wanita yang kucintai ini bisa berhenti terbebani oleh pikirannya  , " batin Farrel .


Pria itu memejamkan matanya , memikirkan jawaban apa yang  tepat .


.


.


.


.


.


" Berbahagialah bukan hanya karena segala sesuatunya baik, tetapi karena kamu masih mampu melihat hal baik dari segala sesuatu yang ada."


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2