
Hari kembali berganti , pagi ini Cyrin harus bangun lebih awal karena mimpi buruk .
Cyrin masih berusaha menormalkan detak jantung dan penapasannya . Setelah terbangun dari mimpi buruknya .
Dalam mimpinya Ia melihat seorang wanita yang tengah memberontak untuk lepas dari kungkungan tubuh seorang pria . Tak jelas dalam penglihatannya wajah wanita itu . Dan bagaimana Cyrin ada disana , Ia pun tak tahu . Tapi teriakan dan tangisan wanita itu membuatnya melangkahkan kaki mendekat pada mereka . Semakin Ia mendekat tiba-tiba saja pria itu membalik badannya menatap Cyrin dengan tajam .
" Akhirnya kita bertemu lagi . " Ucap Pria itu dalam mimpinya .
Seketika Cyrin terbangun dari mimpinya . Rasa takut , sesak di dada , juga debaran jantung yang lebih cepat yang Cyrin rasakan dalam mimpinya membuat tubuhnya dibasahi dengan keringat .
" Siapa pria dan wanita itu ? Apa aku mengenalnya ? Mengapa wajah mereka tampak samar ? " batin Cyrin .
Ia melirik jam di atas nakas masih pukul 5 pagi .
Sungguh bodoh dirinya , apa yang Ia harapkan dari sebuah mimpi . Mimpi hanya bunga tidur , tidak perlu memikirkannya lebih jauh .
" Tak ada salahnya aku bersiap dari sekarang . " Putusnya .
Cyrin turun dari ranjangnya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi . Seketika langkahnya terhenti saat Ia melihat tas yang dipakainya kemarin .
" Surat itu . " Ujarnya .
Segera Ia alihkan langkahnya menuju meja rias tempat Ia meletakkan tas itu lalu beralih duduk di sofa yang ada di kamarnya . Cyrin menarik sedikit tirai sehingga ada celah yang memperlihatkan keadaan langit yang masih gelap .
" Mana yah surat itu ... " gumamnya sembari mengeluarkan satu per satu barang dari dalam tasnya dengan tidak sabar .
Matanya mendapati kertas putih yang sudah Ia remas remas sebesar bola golf terselip di salah satu sekat dalam tasnya .
" Ini dia . " Gumamnya .
Cyrin dengan sabar membuka lipatan lipatan kertas . Ia terkekeh saat mengingat bagaimana paniknya semalam saat Farrel tiba-tiba muncul dan dia meremas kertas itu dengan terburu-buru .
Setelah merasa tulisan di surat itu sudah bisa Ia baca kembali , dengan suara yang seperti berbisik Cyrin mulai membacanya .
' Akhirnya aku menemukanmu kasihku '
' Akhirnya aku bisa menatap wajahmu lagi wahai cintaku '
' Setelah ku pikirkan berkali-kali , kamu memang ditakdirkan untukku . Hanya untukku .'
' Jadi tunggulah aku akan segera menjemputmu. '
' Bersiaplah sayangku Cyrinda dan ku mohon jangan menolakku lagi . '
' Karena sekarang aku tidak akan mengalah . Akan ku dapatkan kau kembali , walau aku harus kembali memaksamu . '
" Siapa yang mengirim surat ini ? "
" Apa surat ini memang untukku ? Tapi jelas sekali jika Ia menyebut namaku . "
" Apa yang diinginkan pengirim surat ini ? Apa masih ada sesuatu yang tidak ku ketahui selain kecelakaanku ? Apa masih ada yang kulupakan?"
" Haruskah surat ini ku anggap sebagai ancaman ? "
Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepala Cyrin .
Seperti belum cukup bayangan mimpi buruknya yang seperti nyata , kini Ia harus memikirkan isi surat yang baru saja Ia baca .
" Aku harus cari tahu , apa aku pernah menjalin hubungan dengan pria di masa lalu ? Mungkin aku melupakannya karena penyakit amnesia sialan ini . " Gumam Cyrin .
Entah mengapa Cyrin kini mejadi paranoid setelah membaca surat itu . Di surat itu jelas tertulis jika orang itu akan datang menjemputnya .
" Orang ini sudah mengetahui tempat tinggalku . Itu berarti dia sudah mengawasiku . Sejauh mana yang Ia tahu tentangku ? " Batin Cyrin .
Tanpa sadar Cyrin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya . Ia jadi takut beranjak dari tempatnya .
Matanya mencari ke setiap sudut di kamarnya yang memungkinkan seseorang untuk bersembunyi .
Telinganya tiba-tiba terasa lebih peka akan suara . Banyak sekali suara suara yang kini Ia dengar . Suara langkah kaki , suara pintu yang di buka dan tutup , suara deru napas seseorang yang sedang memburu , hingga suara teriakan seorang wanita yang sukses membuat Cyrin ikut berteriak sambil menutup telinganya .
" Aaaaaaaarrrrrrgggghhhhhhhhh " Teriak Cyrin .
__ADS_1
" Stop... stop .... dari manapun sumber suara ini tolong hentikan . " Gumam Cyrin .
" Apa yang terjadi padaku ? Dari mana suara suara ini . " Ujar Cyrin di sela tangisannya .
Wajahnya penuh peluh bercampur air mata .
Tanpa Ia sadari dirinya mulai histeris .
Ia menutup kedua telinganya . Menekuk kedua kakinya di atas sofa yang tengah Ia duduki .
" Tidak... tidak... suara ini tidak nyata . " Gumamnya masih dengan tangan yang terus menutup kedua telinganya .
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kasar , berharap itu dapat mengusir semua suara yang menakutinya .
Suara suara itu perlahan menghilang seiring dengan air mata yang terus saja membasahi wajah Cyrin .
Baru saja Cyrin akan bernapas lega namun rasanya penyiksaan yang Ia terima saat itu belum cukup . Sekelebat bayangan kini terlintas di benaknya . Cyrin memejamkan kembali matanya ,
Ia melihat bayangan seorang wanita yang berjalan pelan lalu tiba-tiba mempercepat langkahnya sambil sesekali menengok kebelakang . Sepertinya wanita itu sedang ketakutan .
" Siapa wanita itu ? " tanya Cyrin dalam hatinya .
Ia masih di posisi yang sama, namun kini matanya yang tadi Ia pejamkan rasanya sangat berat untuk Ia buka .
Lalu sebuah bayangan kembali terputar di benaknya bagaikan sebuah film .
Cyrin melihat seorang wanita yang berbincang dengan seorang pria .
" Sorry , I Can't . " Ucap wanita itu .
" But I really love you . " Balas sang pria .
" You deserve better , trust me. Sorry . " Terdengar nada penyesalan dan rasa bersalah dalam nada suaranya.
Setelah pembicaraan keduanya , sang pria hanya bisa menatap kepergian wanita itu dengan tangan yang mengepal .
" Apa lagi ini ? Siapa mereka ? Mengapa aku tidak bisa melihat lebih jelas wajah mereka . " Gumamnya .
" Apa aku sekarang sedang bermimpi ? " batin Cyrin .
Kemudian pikirannya itu Ia tepis karena menyadari posisinya yang masih meringkuk sambil memeluk lututnya di atas sofa .
" Tidak mungkin aku tertidur dalam keadaan duduk . " Tepisnya .
Saat Cyrin masih memikirkan apa yang tengah terjadi padanya , tiba-tiba saja bayangan pria dan wanita yang tadi tergantikan dengan bayangan yang sama persis dengan mimpi buruknya semalam .
Dan sama seperti caranya terjaga dari tidurnya , akhirnya Cyrin bisa kembali membuka matanya saat pria dalam bayangannya itu tiba tiba seolah sedang menoleh padanya .
Huh.. Huh.. Huh.. Huh..
Cyrin kembali mengatur napasnya yang kembali memburu .
" Apa yang terjadi padaku sejak kemarin ? " Batinya penuh tanya .
Semua di awali dari panggilan telepon misterius yang Ia terima yang kemudian membuat Cyrin mulai melihat bayangan bayangan aneh di benaknya .
" Aaauuuccchhhh .... " ringisnya .
Tangannya terulur memijit keningnya . Kepalanya mulai merasakan sakit yang sama seperti kemarin . Tapi kali ini lebih parah karena didukung dengan waktu tidurnya yang tidak cukup dan tangisannya tadi saat ketakutan .
Perlahan cahaya mulai menerpa wajah cantik Cyrin melewati celah horden yang tadi sedikit Ia buka .
Harusnya aku sudah selesai bersiap dan tidak harus mengalami hal mengerikan jika aku tidak membaca surat ini .
" Semua karena surat bodoh ini . " Rutuknya .
Tangannya kembali meremas surat itu . Dengan susah payah , Ia beranjak dari sofa dan berjalan perlahan menuju kamar mandi .
__ADS_1
Kini Ia berdiri di depan cermin yang cukup besar di kamar mandinya . Bayangan hitam terlihat jelas di bagian bawah mata indahnya menandakan wanita ini memiliki masalah dengan jam istirahatnya . Mata sembabnya karena tadi Ia menangis saat tiba -tiba mendengar suara aneh .
Cyrin menyalakan keran air , menadah air hangat dengan kedua telapak tangannya setelah sebelumnya Ia membuang surat itu ke dalam tempat sampah .
Ia basuh wajahnya , berharap ada keajaiban yang membuat wajah sembabnya menghilang dan diganti dengan wajah ceria .
Entah apa yang membuatnya tiba tiba merasa ketakutan saat tak sengaja matanya melirik surat misterius yang sudah Ia buang .
Kepalanya kembali terasa berdenyut lebih kuat dari sebelumnya .
Sakit , kepalanya sangat sakit . Ia hanya bisa mengeluh dalam hati .
Lalu kemudian pandangannya mulai kabur , badanya terasa tak bertenaga , kakinya rasanya berubah menjadi jelly yang akhirnya membuatnya terjatuh kelantai kamar mandi yang dingin karena tak bisa lagi menahan berat tubuhnya .
Di sisa sisa kesadarannya Cyrin mencium ada aroma darah . Pandangannya semakin kabur matanya perlahan memejam tanpa bisa Ia hentikan .
" *Akan ku dapatkan kau kembali , walau aku harus kembali memaksamu* . ''
Akhir dari surat yang Ia baca tadi menjadi hal yang mengantar Cyrin sebelum matanya terpejam sempurna .
" Aku takut . Siapapun , tak perlu bangunkan aku . Aku hawatir jika semua bayangan yang tadi ku lihat malah akan menyakitiku . Rasanya , tak sadar akan menjadi pilihan yang lebih baik . Jadi , biarkan aku tenang . "
Hanya itu yang sempat pikirkan sebelum akhirnya kesaradarannya benar benar menghilang .
.
.
.
.
.
.
" People try to hide their pain. But they’re wrong. Pain is something to carry, like a radio. You feel your strength in the experience of pain. It’s all in how you carry it. That’s what matters. Pain is a feeling. Your feelings are a part of you. Your own reality. If you feel ashamed of them, and hide them, you’re letting society destroy your reality. You should stand up for your right to feel your pain.”- Jim Morrison
( Orang-orang berusaha menyembunyikan rasa sakit mereka. Tapi mereka salah. Rasa sakit adalah sesuatu untuk dibawa, seperti radio. Kamu bisa merasakan kekuatan saat mengalami rasa sakit. Itu semua tergantung bagaimana kamu membawanya. Itu yang penting. Rasa sakit adalah perasaan. Perasaanmu adalah bagian dari diri kamu sendiri. Realitas dirimu. Jika kamu merasa malu, dan menyembunyikannya, kamu justru membiarkan orang lain menghancurkannya. Kamu punya hak untuk merasakan perasaanmu.)
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue