
Setelah memastikan Cyrin telah duduk dengan nyaman di dalam mobilnya , Farrel segera melaju meninggalkan restauran .
Farrel masih sempat melihat ke arah Nino yang menatap kepergian mereka dari kaca spion mobil .
Saat tadi Cyrin masuk ke mobil sebenarnya Ia sedikit terkejut melihat di kursi belakang ada boneka beruang yang sangat besar berwarna kuning lengkap dengan madu di pelukannya .
Cyrin sudah ingin menanyakan pada Farrel , apa boneka itu untuknya . Pasalnya sejak dulu dia sangat menyukai karakter kartun Winnie The Pooh .
Tapi Cyrin mengurungkan niatnya bertanya karena malu jika andai saja boneka itu untuk orang lain .
Sesekali Cyrin melihat ke arah kursi belakang lewat spion tengah .
Farrel yang menyadari hal itu tentu saja tersenyum .
" Kenapa Rin ? Kok kayaknya gelisah gitu , masih mikirin Nino yah ? "
" Tidak . Kenapa harus mikirin Kak Nino . "
" Lalu mikirin apa dong ? Dari tadi kok diam saja . "
" Emmmm..... Mas juga suka sama Winnie The Pooh yah ? "
" Apa ? Winnie the ... apa ? Mas gak tahu Rin yang kamu maksud . "
" Loh kok gak tau sih . Terus ngapain beli bonekanya yang sebesar itu . " Ucap Cyrin sambil menoleh menatap boneka beruang itu .
" Ohh jadi itu nama bonekanya . Itu bukan untuk aku Rin . Tapi untuk orang lain . "
" Oohhh..... " Jawab Cyrin singkat . Pupus sudah harapannya bisa memiliki boneka itu .
Cyrin bahkan berniat akan mencari boneka yang serupa besok . Lumayan untuk menemaninya tidur , pikir Cyrin .
" Kok cuma oohh doang sih Rin ? " Tanya Farrel .
" Terus aku harus bilang apa dong Mas ? "
Farrel makin sulit menahan senyumnya .
" Memangnya kamu suka Rin sama boneka itu ? "
" Hemmm .... " Cyrin menjawab dengan dehaman .
" Kok gak di jawab Rin ? "
" Udah aku jawab tadi . Aku bilang hemmm hemm . " Ucap Cyrin .
Farrel menghentikan mobilnya karena bertepatan dengan lampu merah .
" Syukur deh kalau kamu suka , karena boneka itu memang untuk kamu . " Ucap Farrel .
Cyrin menoleh pada Farrel . Ia mencari kebohongan pada raut wajah Farrel .
" Serius Mas ? "
" Iya ... memangnya untuk siapa lagi . " Balas Farrel .
Tanpa aba aba Cyrin segera menarik boneka beruang besar itu ke pangkuannya .
Ia memeluk boneka beruang itu sambil tersenyum .
Farrel jadi makin gemas melihat tingkah Cyrin barusan . Senyumnya dan caranya memeluk boneka itu masih sama dengan 6 tahun lalu saat Farrel juga memberikan hadiah yang sama .
" Gimana Rin , suka ? " Tanya Farrel yang mulai melajukan mobilnya lagi setelah lampu sudah berubah menjadi hijau .
" Suka banget . Mas ternyata tahu juga kalau aku suka sama boneka ini . "
" Tentu aku tahu dong . Entah kamu ingat atau tidak , tapi dulu aku juga pernah ngasih kamu boneka yang sama . "
" Oh yahh ? Kapan Mas ? Waktu aku ulang tahun yah ? " tanya Cyrin penasaran .
Farrel menggeleng . " Bukan . "
" Aku ngasih kamu boneka seperti ini , saat aku menyatakan perasaanku padamu yang kedua kalinya . "
" Oh... pantas saja Mas , di kamarku yang di Solo ada boneka yang sama . Sebesar ini juga . Kupikir aku yang membelinya karena aku memang menyukai karakter kartu itu , ternyata itu dari Mas . " Ucap Cyrin .
Cyrin mencoba mengingat ingat lagi tentang ucapan Farrel , namun semakin Ia mencoba mengingat kepalanya terasa mulai sakit lagi .
__ADS_1
Farrel menyadari hal itu dari raut wajah Cyrin yang seperti meringis .
" Udah... gak perlu dipaksain ingat . " Ucapnya sambil mengelus lembut lengan Cyrin dan sontak saja Cyrin kembali merona .
" Untung saja disini gelap , jadi Farrel tidak melihat pipiku yang pasti sudah memerah . " Batin Cyrin .
Farrel merasa agak kesulitan mengemudi karena pandanganya pada kaca spion sebelah kiri terhalang oleh boneka beruang besar yang masih dipangku Cyrin .
" Rin ... bonekanya bisa pindahin ke belakang lagi gak ? Aku agak sulit mengemudinya . "
Cyrin segera memindahkan boneka itu kembali ke kursi belakang .
Setelah beberapa menit mobil Farrel akhirnya tiba di depan lobby apartemen Cyrin .
" Mas tadi udah makan malam ? " tanya Cyrin saat mereka berada di lift .
Farrel menggeleng .
" Mas mau aku masakin makan malam gak ? " Tawar Cyrin .
" Memangnya gak merepotkan ? Tadi aja kamu udah buatin bekal . "
Cyrin menggeleng . " Gak ngerepotin , Mas kan tahu aku suka masak . "
Akhirnya keduanya berjalan beriringan dengan Farrel yang menggendong boneka beruang besar menuju ke unit apartemen Cyrin .
" Bonekanya aku taruh di sofa yah Rin . " Teriak Farrel .
Pria itu juga ikut mendudukkan dirinya di samping boneka besar .
" Ahh... astaga sampai lupa soal mawarnya . "
Farrel kemudian pamit sebentar untuk turun ke bawah mengambil sesuatu yang Ia lupa tampa mengunci pintu agar Ia bisa masuk kembali dengan mudah . Sementara Cyrin meneruskan kegiatannya di dapur memasak untuk Farrel .
Tak lama setelah itu Farrel sudah kembali ke apartemen namun hal itu tidak disadari Cyrin .
Bahkan karena seriusnya memasak , Cyrin sampai tak menyadari jika Farrel kini berdiri di belakangnya .
" Rin.... " Panggilnya .
Cyrin berbalik dan terkejut Farrel berada sangat dekat dengannya .
Cyrin tersenyum manis sambil menerima bunga itu .
Senyuman Cyrin rasanya menghipnotis Farrel . Hingga tak bisa Ia tahan lagi , pria itu dengan berani mengecup kening Cyrin .
Sudah pasti Cyrin terkejut . Rasanya Ia ingin marah tapi degupan jantungnya seperti meredam emosinya . Yang ada Ia malah malu dan akhirnya menunduk .
Farrel melihat tak ada penolakan dari Cyrin .
" Rin.. maaf . " Ucapnya tapi Ia sama sekali tak berpindah dari posisinya .
Cyrin mengangkat wajahnya dan menatap Farrel . Tanpa mereka berdua sadari , posisi wajah mereka semakin dekat .
Sedikit lagi bibir mereka akan menyatu namun ...............
Ting tong... ting tong....
Suara bel apartemen menggagalkan semuanya .
Kesadaran Cyrin seolah kembali . Saking terkejutnya Ia segera memalingkan wajahnya ,
" sepertinya ada yang datang , aku lihat dulu yah . "
Cyrin kemudian segera berlalu menuju pintu untuk melihat siapa yang datang .
Farrel mengikuti langkah Cyrin di belakangnya .
" Siapa Rin ? " tanyanya .
" Byanca dan Marsha . "
" Ya udah kalau gitu aku pulang saja yah . "
" Loh kok gitu . Mas makan aja dulu . Masakannya udah jadi kok . "
__ADS_1
Mau tak mau Farrel harus mengikuti ucapan Cyrin . Ia berjalan kembali ke meja makan dan menunggu Cyrin membuka pintu untuk kedua sahabatnya .
" Kamu lagi ngapain Rin , lama banget buka pintunya . " Ucap Marsha dengan manjanya .
Byanca yang menyadari jika ada sepatu pria disana ,menatap curiga pada Cyrin .
" Rin.. jangan jangan kamu lagi ........ " Ucap Byanca sambil menunjuk sepatu Farrel .
Cyrin mengetahui apa yang hendak diucapkan Byanca segera menghentikan ucapan sahabatnya itu .
" Gila... yah enggak lah . Aku lagi masak untuk Mas Farrel . "
" Ayo masuk , aku kenalin . " Ucap Cyrin .
" Mas ?! " Ucap Byanca dan Marsha bersamaan dan saling berpandangan .
Mereka berdua mengikuti langkah Cyrin menuju meja makan dan melihat di sana sudah ada Farrel .
" Mas ,kenalin ini sahabat sahabat aku di kantor . Yang ini Marsha dan yang ini Byanca . " Ucap Cyrin mengenalkan mereka .
Ketiganya saling berjabat tangan .
Lain halnya dengan Marsha yang sampai terbengong melihat salah satu ciptaan Tuhan yang sungguh indah , Byanca malah terlihat lebih santai .
" Kak Farrel masih ingat aku gak ? Aku sahabat Cyrin sejak SMA. " Ucap Byanca .
Farrel mengingat ingat .
" Ohh iya , aku ingat . Kalian berdua kan kemana mana selalu berdua . "
Cyrin dan Byanca tersenyum .
Cyrin menghidangkan makanan untuk Farrel . Awalnya Farrel merasa canggung karena hanya dirinya yang makan , sedang ketiga wanita itu menolak karena baru saja sudah makan malam bersama Nino .
Tapi karena masakan Cyrin yang memang sangat enak , lama kelamaan Farrel akhirnya sangat menikmati makan malamnya .
Setelah itu , keempatnya melanjutkan dengan mengobrol . Farrel ternyata mudah sekali akrab dengan kedua sahabat Cyrin , terutama Byanca.
Mereka sesekali saling meledek . Byanca meledek Farrel yang terus di tolak oleh Cyrin , sedang Farrel meledek Byanca yang sering curi curi pandang pada Bimo .
Cukup lama mengobrol , malam semakin larut . Farrel akhirnya pamit untuk pulang. Pria itu juga menawarkan untuk mengantar Byanca dan Marsha pulang . Tapi kedua wanita itu memilih untuk menginap saja , dengan alasan ingin menginterogasi seseorang .
Dan benar saja , malam itu Cyrin seperti di sidang oleh kedua sahabatnya .
Alhasil , dengan menahan kantuk Cyrin menceritakan semua yang terjadi padanya dan Farrel . Mulai dari bertemu Bimo , cerita masa lalunya dengan Farrel dan Nino , saat mereka pergi ke kebun teh ,hadiah dari Farrel , sampai kejadian malam ini .
Semua Cyrin ceritakan tanpa mengurangi hal apapun .
Kedua sahabatnya itu sangat antusias dan mendukung hubungannya dengan Farrel .
Setelah puas mengobrol , ketiganya kemudian tertidur .
Sementara pada salah satu kamar di sebuah rumah mewah , Nino sedang marah marah meluapkan semua emosinya .
Belum cukup Cyrin pergi dengan Farrel saat mereka sedang makan malam , tadi Nino meminta Alvin untuk mengantarnya ke apartemen Cyrin . Dan yang Ia dapati malah mobil Farrel yang masih terparkir disana .
" Sial... sial.... sial.... sepertinya Farrel sudah lebih dekat dengan Cyrin . Aku tidak boleh kalah . Aku harus bergerak lebih cepat mendekati Cyrin . " Ucap Nino dengan penuh emosi .
.
.
.
.
.
" Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri." - Tere Liye
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue