
Byanca bersyukur karena malam ini jalanan menuju apartemen Cyrin cukup lancar . Untuk pertama kalinya , malam ini Byanca melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi .
Ia tidak lagi memarkirkan mobilnya dengan baik , saat sampai di apartemen Cyrin Ia segera berlari menuju unit apartemen milik Cyrin .
Dalam setiap langkahnya , Byanca terus saja berdoa agar sahabatnya itu baik baik saja .
' Ting tong '
Byanca menekan bel apartemen Cyrin , namun tak ada tanda tanda pintu akan segera di buka .
Sambil terus menghubungi Cyrin , Byanca terus menekan bel apartemen
Ting tong...... ting tong ....... ting tong ......
Karena makin hawatir , Byanca kini tidak lagi menekan bel . Ia kini terus saja menggedor gedor pintu apartemen milik sahabatnya itu .
" Rin..... Rin.... Cyrin..... buka pintunya .... kamu baik baik saja kan ? " teriaknya dari luar sambil terus menggedor gedor pintu dan sesekali menekan bel .
Berkali kali melakukan hal itu ternyata tindakannya mendapat perhatian dari penghuni apartemen lainnya .
" Hei Nona... mengapa kamu membuat kegaduhan ? " tanya pemilik apartemen yang letaknya di samping apartemen milik Cyrin .
" Maaf Pak , aku hawatir terjadi sesuatu pada sahabatku yang tinggal di dalam . Sejak tadi dia belum membuka pintunya . " Jawab Byanca yang kini mulai terisak karena panik .
" Dari pada kamu membuat keributan , mending kamu turun ke kantor pengelola gedung ini . Mereka pasti punya cara untuk membuka pintu apartemen itu . "
Tanpa mengucapkan terimakasih karena sudah terlalu panik , Byanca segera berbalik dan berlari untuk melakukan apa yang di sarankan sang Bapak tadi .
Saking paniknya Ia bahkan sampai menabrak pria dengan tubuh kekar yang baru saja keluar dari lift .
" Auucchhh ..... " Ringis Byanca karena yang ada dia malah terjatuh saat menabrak pria itu .
" Maaf ... maaf Nona . Tapi apa kamu baik baik saja ? " Tanya sang pria sambil membantu Byanca berdiri .
" Tak apa . Maaf saya tadi terburu bu.... " Ucapan Byanca terhenti tatkala menyadari siapa pria yang di tabraknya .
" Mas Bimo . " Ucap Byanca terkejut .
" Byanca ? " balas Bimo tidak begitu yakin . Ia melihat Byanca kini sangat berbeda dengan yang dulu . Kini gadis itu sudah berubah menjadi sangat cantik saat dewasa .
" Syukurlah aku bertemu Mas . Tolong buka pintu apartemen Cyrin Mas , aku hawatir sesuatu terjadi padanya . " Pinta Byanca masih dengan kepanikannya .
Wanita itu bahkan lupa , jika biasanya saat bertemu Bimo Ia akan merona karena malu . Tapi malam ini Ia bahkan menarik lengan pria itu karena pria itu malah melamun menatapnya .
" Ayo Mas... buruan ..... " Ucap Byanca .
Bimo yang tersadar dari kekagumannya segera ikut mempercepat langkahnya .
Ia menekan angka yang menjadi sandi pintu apartemen Cyrin .
Pintu terbuka , Byanca langsung masuk dan berteriak teriak memanggil nama sahabatnya .
Tempat pertama yang wanita itu tuju adalah kamar Cyrin . Betapa terkejutnya Ia saat masuk dan melihat Cyrin tergeletak pingsan di lantai serta ada darah yang di lantai .
" Mas Bimo ... disini.. tolong bantuin... Cyrin pingsan Mas . " Teriak Byanca .
Mendengar teriakan Byanca , Bimo berlari ikut masuk ke kamar . Ia segera menghampiri adiknya yang dalam keadaan pingsan .
" Kenapa ini bisa terjadi By ? "
" Aku juga tak tahu Mas , yang jelas tadi Cyrin menghubungiku dan tidak bicara apa apa. Aku panik karena mendengar suara pecahan kaca akhirnya segera kemari . " Jelas Byanca .
Kepanikan mereka bertambah karena melihat ada darah yang disebabkan pecahan kaca yang mengenai lengan Cyrin .
Bimo segera menggendong adiknya . Lalu sambil berlari keluar dari apartemen diikuti Byanca . Tujuan mereka berdua yaitu rumah sakit .
Mobil Byanca yang masih terparkir asal di depan pintu lobby cukup menghemat waktu mereka berdua , " pakai mobilku saja Mas . " Usul Byanca yang segera masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin kendaraan .
__ADS_1
Byanca segera melajukan mobil dengan kecepatan tinggi lagi menuju rumah sakit terdekat .
Sesampainya di rumah sakit , Bimo segera membawa adiknya ke bagian UGD untuk segera di tangani .
Dokter segera meghentikan pendarahan luka di lengan Cyrin yang terkena pecahan kaca .
Sekitar 15 menit di tangani oleh dokter , Cyrin membuka matanya perlahan .
" Aaaiiirr .... " Ucapnya lirih .
Sang perawat yang menyadari jika pasien mulai sadar segera mengambil air yang ada di atas nakas , kemudian membantu Cyrin meminumnya .
Bimo dan Byanca yang melihat hal itu segera melihat dan mendekat ke bangkar tempat Cyrin tengah berbaring .
" Dek... Cyrin .. kamu sudah sadar ? " tanya Bimo.
" Ma..***.." jawab Cyrin masih lemah .
Byanca sungguh bersyukur kini sahabatnya sudah sadar , Ia menggatikan posisi Bimo yang berdiri di samping Cyrin karena Dokter meminta waktu untuk berbicara dengan pria itu .
" Pak .. kami telah melakukan pemeriksaan darah dan hasilnya baik baik saja terlepas dari luka di lengannya . Jadi kami sarankan agar pasien di rawat dulu , agar besok dapat melakukan CT Scan . Untuk mencari tahu kondisi kepalanya . Semoga tidak ada benturan parah yang terjadi saat pasien jatuh pingsan . " Ucap Dokter .
" Baik dokter. Lakukan yang terbaik saja untuk adik saya . "
Setelah itu Bimo mengurus administrasi dan pemindahan Cyrin ke kamar rawat VVIP .
Cyrin kini tertidur karena efek obat yang di berikan padanya tadi oleh dokter .
Sedang Byanca dan Bimo masih terus saja saling diam , suasana canggung baru terasa di antara mereka .
" Eheemm .... " Bimo berdeham .
" Sudah lama sekali kita tidak bertemu By , sekalinya bertemu kita malah harus dalam kondisi seperti ini . " Ucap Bimo .
" Iya Mas , bagaimana kabar Mas ? "
" Aku sama , aku juga baik saja . " Jawab Byanca singkat . Ia enggan membahas soal masa lalunya bersama Bimo .
Byanca terus saja duduk di kursi yang ada samping tempat tidur , ia hanya memfokuskan tatapannya pada wajah lemah sahabatnya yang sedang tertidur .
Sedang Bimo menyadari jika waktu dan tempat tidak pas untuk membahas masa lalu yang terjadi di antara mereka. Ia memilih untuk duduk di sofa dan menghubungi Farrel .
Tut... tut ... tut...
Nada tunggu panggilan telepon . Tak lama terdengar suara pria yang menjawab .
" Halo Bim .... " ucapnya .
" Rel , kamu dimana ? " tanya Bimo .
" Aku lagi di jalan menuju apartemen Cyrin . Aku terus menghubunginya namun tak di jawab . Aku hawatir . " Jawab Farrel .
" Kebetulan sekali , kalau begitu datanglah ke JM Hospital . Cyrin tadi pingsan , aku dan Byanca membawanya kesini . "
Farrel sangat terkejut dengan berita yang disampaikan Bimo .
Ia segera memutar laju kendaraannya menuju rumah sakit yang disebutkan Bimo .
Selama perjalanan , Ia terus saja menyesali dirinya yang tidak cepat menemui Cyrin saat wanita itu tidak menerima panggilan dan membalas pesannya .
" Bodoh ... bodoh kamu Rel . Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Cyrin sedang kamu dengan asiknya bersantai di rumah Mama dan Papa . " Batin Farrel .
Ia terus saja berdoa semoga wanita yang Ia cintai itu baik baik saja .
Ia melihat paperbag yang ada di kursi sampingnya , rencananya malam ini Ia ingin memberikan hadiah itu pada Cyrin .
Bukannya akan mendapat senyum manis sang pujaan hati , Ia malah mendapat kabar buruk mengenai Cyrin .
__ADS_1
Tak lama Farrel tiba di rumah sakit . Setelah memarkirkan mobilnya , Ia segera berlari ke kamar VVIP yang di sebutkan oleh Bimo .
Beberapa perawat dan dokter yang mengenali Farrel , menyapa pria itu dengan ramah . Maklum saja , rumah sakit ini adalah salah satu milik Jatmika Company .
Tanpa mengetuk Farrel memasuki ruang rawat Cyrin . Ia bisa melihat ada Bimo yang sedang duduk bersandar di sofa dan Byanca yang sedang duduk di samping bangkar Cyrin .
Farrel mendekati bangkar dan menggenggam tangan wanita itu . Ia sungguh tak kuasa melihat pujaan hatinya terbaring lemah .
" Apa yang terjadi padanya ? " tanyanya pada Byanca .
Dengan suara yang sengaja Ia pelankan , Byanca menceritakan kronologis kejadiannya .
Farrel merutuki dirinya yang tidak mendengar panggilan telepon Cyrin di ponselnya saat Ia sedang makan malam , Ia beranggapan mungkin saja saat itu Cyrin menghubunginya untuk minta tolong tapi Ia malah tidak menerimanya .
Bimo sendiri sudah menenangkan Farrel . Kini pria itu menggantikan posisi Byanca yang sejak tadi duduk di samping bangkar .
Ponsel Bimo terus saja bedering . Sesekali Ia menerima panggilan itu , dan meminta waktu sebentar pada lawan bicaranya yang entah siapa .
Byanca hanya menduga saja jika panggilan itu pasti dari pacar Bimo yang artis itu .
" Kenapa Bim ? " tanya Farrel .
" Aku sebenarnya ada janji dengan pacarku . Ia meminta aku membawaknnya sesuatu . Namun karena tadi panik aku meninggalkannya di mobilku . " Jelas Bimo .
" Kalau begitu , pergilah temui dia . Ku pikir hal itu sangat penting karena Ia terus menghubungimu . " Usul Farrel .
" Tapi Cyrin .... "
" Tak usah hawatir , aku akan terus disini menjaganya. Maafkan aku tadi sudah lalai menjaganya padahal aku sudah berjanji padamu. " Ucap Farrel .
" Tak perlu menyalahkan dirimu . Ini sudah musibah untuk Cyrin . " Ucap Bimo sambil menepuk pundak sahabatnya .
" By ... bisakah aku meminta tolong kamu mengantarku kembali ke apartemen ? Mobilku aku tinggalkan disana . " Pinta Bimo .
Byanca yang sejak tadi hanya menjadi pendengar , dengan terpaksa menyetujui permintaan Bimo .
Dengan langkah berat Byanca meninggalkan Farrel seorang diri untuk menunggui Cyrin . Ia dan Bimo berjalan menuju parkiran mobil rumah sakit . Byanca terus saja diam . Ia mencoba memberi jarak antara dirinya dan Bimo .
Rasanya apa yang ingin dilupakan Byanca tentang Bimo kini kembali teringat jelas . Ia hanya berharap agar Bimo tak akan membahas apapun soal kenangan masa lalu mereka .
.
.
.
.
.
.
"Cinta memang memberikan kenangan indah, tapi cinta juga memberikan luka yang akan selalu menjadi kenangan."
.
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1