
Setelah sampai di unit apartemennya , Farrel segera mendudukkan Cyrin di sebuah Sofa besar yang berada di tengah tengah ruangan .
Cyrin mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling ruangan . Sama seperti perkiraannya . Ruangan dengan bernuansa maskulin , terkesan sangat luas karena minim furniture . Hanya satu set sofa besar yang sedang Ia duduki , sebuah TV besar yang menempel di dinding , juga sebuah lemari kaca yang cukup tinggi yang di dalamnya berisi beberapa gelas wine dan beberapa pajangan .
Farrel sendiri sedang bergegas mengambil kotak P3K yang Ia letakkan di salah satu lemari yang ada di dapur .
Tak butuh waktu lama , Farrel segera kembali menemui Cyrin .
" Kemarikan kakinya . " Pinta Farrel sambil Ia duduk di samping Cyrin .
Cyrin merasa ragu untuk memberikan kakinya pada Farrel , sehingga pria itu berinisiatif mengangkat kedua kaki Cyrin dan meletakkan di atas pahanya . Sehingga kini posisi Cyrin duduk berselonjor di atas sofa dengan kaki yang berada di atas paha Farrel .
Cyrin segera memalingkan wajahnya . Ia tak ingin jika Farrel melihat wajahnya yang kini merona merah .
Farrel dengan perlahan mengusap kapas alkohol pada kaki Cyrin yang lecet . Cyrin sesekali meringis karena merasakan perih saat kapas alkohol mengenai lukanya .
" Aaauuww Mas , pelan pelan dong . Perih banget ini ..... "
" Iya iya .. maaf . Tahan sebentar yah , sedikit lagi . " Ucap Farrel .
Setelah memastikan luka Cyrin bersih , Farrel dengan lembut mengoleskan salep di kedua tumit Cyrin . Terakhir Ia menempelkan plester obat luka agar Cyrin merasa lebih nyaman .
" Sudah selesai . " Ucap Farrel lega .
Ia lantas berdiri dan terlihat memasuki sebuah ruangan yang Cyrin pikir itu adalah kamar tidurnya .
Cukup lama kali ini , tapi kemudian Farrel keluar dengan membawa sepasang sendal yang modelnya mirip seperti yang di sediakan di hotel hotel .
" Pakailah . Jangan gunakan dulu sepatumu supaya kakimu tidak makin lecet . " Ucapnya masih dengan nada datar dan tanpa ekspresi di wajahnya .
" Tapi ... "
Cyrin sangat ingin memperbaiki keadaan di antara mereka berdua . Sungguh Ia tak tahan jika harus saling bersikap acuh satu sama lain .
Hanya saja ucapannya di hentikan oleh Farrel .
" Nanti saja kita bahas . Aku harus mengerjakan sesuatu . " Ucap Farrel menyela ucapan Cyrin .
Cyrin berdiri dan menatap Farrel .
" Mas ini kenapa sih ... aku ingin mencoba berbaikan dengan Mas . Meluruskan kesalah pahaman kita . Tapi Mas kenapa bersikap ke kanak kanakan dengan mendiamiku ? "
Cyrin meluapkan semua yang di tahannya sejak tadi .
" Bukan mendiamimu , aku hanya butuh waktu untuk berpikir . Ku rasa aku sudah bersikap terlalu jauh dan terlalu berlebihan padamu . Seperti katamu , aku tidak punya hak dan aku bukan siapa siapa bagimu . "
Ucapan Farrel makin memancing emosi Cyrin .
" Aku jadi meragukan perasaan Mas padaku . Memang Mas tidak punya hak dan bukan siapa siapa bagiku , dan sepertinya Mas tidak ada niat untuk merubah itu semua . "
Setelah mengucapkan itu semua Cyrin segera pergi .
Namun saat akan membuka pintu Farrel segera menghentikannya dengan memeluk wanita itu dari belakang .
Cyrin sangat terkejut . Ia berdiri mematung .
Farrel yang merasa tak ada penolakan dari Cyrin, akhirnya membalik tubuh Cyrin hingga kini keduanya saling berhadapan .
Farrel memegang dagu Cyrin dan mengangkat wajah cantik wanita itu yang kini menunduk .
Dapat Farrel lihat wajah Cyrin yang merona menambah kecantikan wanita itu .
" Rin , maafkan aku . Maafkan aku yang sudah keras kepala dengan egoku . Ku mohon jangan ragukan perasaanku padamu . Kamu tahukan , aku bersikap seperti ini karena aku cemburu melihatmu berduaan bersama pria lain . Aku kecewa karena kamu bilang aku bukan siapa siapa bagimu . " Ucap Farrel menatap dalam mata Cyrin .
Cyrin masih diam . Dalam hati wanita itu terus berdoa agar suara detak jantungnya tak terdengar oleh Farrel .
" Rin , memilikimu adalah hal yang paling ku inginkan dalam hidupku . Kamu yang membalas perasaanku padamu adalah hal yang selalu ku harapkan Rin . Jadi jangan pernah mengira aku tidak serius denganmu . Aku hanya sedang menunggu saat yang tepat , sehingga saat itu tiba kamu tidak akan mudah melupakannya dan akan kita kenang selama sisa hidup kita berdua Rin ."
Cyrin hanya bisa mengangguk , Ia tak tahu harus berbuat apa .
Cyrin kini yakin dengan perasaan Farrel padanya . Tapi Ia bertanya tanya apa Farrel tadi meminta dirinya menjadi kekasih pria itu ? Karena Ia sama sekali tak mendengar Farrel mengucapkannya , Pikir Cyrin .
" Hei .. apa yang kamu pikirkan " Ujar Farrel .
Cyrin segera menggeleng .
__ADS_1
" Jadi kamu maukan maafin aku ? " Tanya Farrel .
Cyrin mengangguk .
Farrel merasa senang , Ia bersyukur karena sudah berbaikan lagi dengan Cyrin .
Ia lantas memeluk Cyrin . Ia memeluk wanita itu lama . Cyrin merasa sangat nyaman ketika menyandarkan kepalanya di dada bidang Farrel .
Farrel lalu mengubah posisi pelukan mereka . Kini Farrel memeluk pinggang ramping Cyrin , kemudian mengecup kening Cyrin dengan lembut .
Ini pertama kali bagi Cyrin berada dalam posisi sedekat ini dengan pria . Dan anehnya dia tidak merasakan ketakutan yang sering Ia alami .
Biasanya jika pria itu bukan Farrel , maka baru saja pria itu mencoba menggenggam tangannya maka Cyrin merasa seperti ada bayangan yang membuatnya merasa takut dan cemas .
Itulah kenapa selama Ia di London , tak ada satu pun pria yang berhasil medekatinya .
Kemudian Farrel beralih mengecup salah satu pipi Cyrin .
Jantung Cyrin sudah semakin berdetak tak karuan . Ia sudah tak sanggup lagi menatap Jackson karena sangat malu .
Tapi tiba tiba saja keduanya di kejutkan oleh pintu apartemen yang dibuka oleh Daffin .
Farrel dan Cyrin segera melepaskan pelukan mereka berdua, sedang Daffin segera mundur kembali keluar dan menutup pintu .
" Astaga ... hampir saja mata suciku ternodai . Lagian kenapa mereka berpelukan di balik pintu sih ? Apa tidak ada tempat lain yang lebih romantis dan pribadi untuk bermesraan . " Gerutu Daffin sambil berjalan kembali menuju unit apartemennya yang berada di lantai 8 gedung itu .
Setelah tadi dipergoki oleh Daffin tengah berpelukan , kini Farrel dan Cyrin sedang dalam perjalanan menuju apartemen Cyrin .
Farrel memutuskan untuk segera mengantar wanita itu pulang , Ia hawatir bisa bertindak lebih jauh lagi .
Suasana di dalam mobil masih hening . Bukan karena mereka bertengkar , tapi keduanya masih cukup malu untuk memulai pembicaraan setelah kejadian tadi .
" Aku minta Kak Nino berhenti mengharapkan hubungan yang lebih dariku , karena itu akan mengecewakannya . " Ucap Cyrin .
" Lalu Kak Nino juga yang meminta agar kami tetap menjadi teman saja . " Lanjutnya .
Farrel mengenggam salah satu pergelangan tangan Cyrin .
" Tapi kamu harus janji untuk tidak terlalu dekat dengannya . " Pinta Farrel .
Cyrin menatap Farrel dengan penuh tanda tanya .
" Rin ... aku kenal Nino , aku juga seorang pria . Tak ada istilah pertemanan antar pria dan wanita tanpa pernah melibatkan perasaan . " Jelas Farrel .
" Kamu mau kan berjanji ? "
" Iya . Aku janji . "
__ADS_1
Saat ini mobil Farrel telah berhenti dengan sempurna di depan lobby apartemen Cyrin .
" Ya udah aku turun yah . Mas hati hati . " Pamit Cyrin .
" Kamu beneran gak mau ikut makan malam bareng Mama dan Papa ku ? "
" Makasih Mas , tapi lain kali saja yah . Kasihan Byanca dan Marsha , dua hari mereka nginap di apartemenku tapi aku jarang tinggal di apartemen . "
" Oke . Tapi lain kali gak boleh nolak lagi yah . Istirahat gih . Besok pagi aku jemput pakai mobil kamu yah . "
Setelah itu Cyrin turun dari mobil Farrel dan tak lupa melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam gedung apartemennya .
Cyrin sudah akan masuk ke dalam lift saat mendengar namanya dipanggil .
" Rin ... Cyrin ... "
Wanita itu menghentikan langkahnya .
" Mas ? "
" Aku lupa ngasih ini . Tadi aku ke Mall sebenarnya beliin ini untuk kamu . Semoga kamu suka yah . " Ucap Farrel sambil memberikan sebuah paperbag coklat .
" Terimakasih Mas . " ucap Cyrin .
Kemudian Cyrin masuk ke lift dengan Farrel yang masih setia menatapnya hingga pintu lift benar benar tertutup .
.
.
.
.
.
.
"*Sesungguhnya di balik kata maaf ada janji untuk menjadi lebih baik dan tak akan mengulangi kesalahan yang sama*."
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1