
¤¤¤¤Masih lanjutan Flashback yang sebelumnya yah ¤¤¤¤
Ceklek ,
Pintu ruangan Cyrin terbuka tanpa diketuk lebih dulu .
Cyrin dan Ibunya yang sedang sarapan sampai tersedak karena terkejut dengan tingkah bar bar dokter muda yang tampan itu .
" Astaga.... dokter Rasya , mengejutkan saja . " keluh Cyrin .
" Maaf ... maaf ... , " ucap sang dokter dan dengan cekatan menuangkan air minum di gelas untuk Ibu Hindun .
" Aku hanya terlalu senang mendengar kabar jika kau ingin menemui kakakmu . Ini bahkan belum seminggu dari waktu yang kurencanakan . " Ujarnya .
" Aku perlu mengkonfirmasi sesuatu , aku tak bisa menunggu seminggu . Itu terlalu lama . " balas Cyrin .
" Itu lebih baik , aku setuju . Tapi boleh ku tau mengapa tiba-tiba ? " tanya Dokter Rasya .
" Entah mimpi atau bukan , tapi sepertinya aku melihat Mas Bimo dan Farrel selalu bersama , tapi mereka memakai seragam SMA . "
" Bisa jadi itu adalah penggalan- penggalan ingatanmu Rin . Selamat yah, kamu sudah selangkah keluar dari kegelapanmu . " Ucap Dokter Rasya .
*Hari ini Cyrin bertemu Bimo , pertemuan yang sangat lama . Hampir seharian mereka bersama. Farrel yang hanya bisa melihat dari kejauhan sangat penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan* .
*Setiap cerita Bimo membawa Cyrin pada bayangan kejadian masa itu , sedikit demi sedikit ingatan yang Ia lupakan kembali dalam benaknya* .
*Bahkan setelah Bimo pulang , bayangan- bayangan masa lalunya terputar kembali di benaknya* .
*Entahlah , tapi jika orang lain melihatnya terus tersenyum sendiri mereka pasti maklum karena disini semua pasien hampir seperti itu* .
" *Kelihatannya kamu sangat senang Rin . " ucap Bu Hindun* .
" *Cyrin mulai mengingat sedikit demi sedikit masa lalu Cyrin . Dan ini semua berkat Ibu . Makasih yah Bu . " ucapnya tulus* .
" *Kok berkat Ibu* ? "
" *Iya dong karena ibu , Ibu mengerti apa yang sebenarnya aku butuhkan . " jawab Cyrin* .
" *Yang benar itu , ini semua karena dia yang berhasil mengetuk hatimu . " Sanggah Ibu* .
*Cyrin tersenyum , " Apa malam ini dia akan datang lagi* ? "
" *Jika kamu mengizinkan . " Jawab Ibu* .
"*Tolong rahasiakan ini dulu darinya yah Bu . Aku juga sudah minta dokter Rasya dan Mas Bimo untuk hal itu . " Pinta Cyrin* .
" *Aku hanya ingin memantaskan diriku dulu Bu , aku tidak ingin mengecewakan dia lagi . " lanjutnya* .
" *Kamu tidak pernah mengecewakan dia . Karena seandainya itu benar sudah sejak lama Ia meninggalkanmu . " ucap Ibu* .
" *Kamu harapannya Rin . Kamu ada dalam setiap doanya . Kamu ada dalam kehidupan masa depan yang dia rencanakan . " lanjut Ibu* .
" *Jangan pernah lagi berkecil hati Nak , kamu memang seistimewa itu dan pantas kami tunggu* . "
*Ibu dan putrinya itu berpelukan . Di saksikan oleh Farrel dan Bimo dari balik kaca buram* .
" *Aku juga kangen banget , mau peluk Cyrin ." Cicit Farrel* .
__ADS_1
*30 menit setelah itu , Ibu Hindun kembali memberikan kode pada Farrel agar masuk ke dalam* .
*Dengan semangat juang 45 yang meniru semangat para pahlawan , Farrel masuk ke ruangan* .
*Suasana masih sama seperti kemarin , Cyrin berbaring membelakangi Farrel . Hanya saja kali ini Ibu Hindun memilih menunggu diluar* .
*Farrel kembali mengusap lembut surai kekasihnya itu. Kini ia duduk di bagian brangkar yang kosong* .
*Farrel bercerita mengenai apa yang Ia lakukan sehaian ini . Ungkapan cintanya terus saja terucap disela sela ceritanya* .
*Kenyamanan bersama Farrel membuat Cyrin bahkan tak ingat kapan Ia mulai tertidur* .
*Begitulah Cyrin melewatkan hari - harinya sebulan ini . Bertemu orang - orang terdekatnya di siang hari , berbagi cerita , kenangan - kenangan mereka dulu* .
*Di malam harinya , Cyrin akan kembali menyamankan dirinya bersama Farrel . Terlelap dengan semua cerita pria yang sebenarnya tak pernah hilang dari hati dan pikirannya* .
*Cyrin akhirnya menyadari , di saat pikirannya dipaksa untuk membenci Farrel , hatinya terasa sakit kala itu . Ternyata itu bukan rasa sakit karena benci , tapi rasa sakit karena hatinya menolak untuk membenci seseorang yang memiliki tempat istimewa disana* .
¤¤¤¤ FLASHBACK OFF ¤¤¤¤¤¤
Pertemuan hari itu bersama Mama Anin dan Papa Jatmika sungguh jauh berbeda dari dugaannya .
Keduanya masih sehangat dulu . Tidak ada yang berubah , tidak ada kekecewaan yang mereka sampaikan . Hanya rasa syukur karena sekarang Cyrin sudah baik -baik saja .
Ibu Hindun menghubungi Farrel , namun sayang pria itu beralasan sedang banyak pekerjaan di kantor sehingga tidak bisa ke rumah sakit .
Cyrin nampak kecewa , tapi pelukan dari Ibunya bisa menenangkannya .
Dan semua yang terjadi malam itu , dapat Farrel lihat dari balik kaca yang selama ini menjadi saksi , menjadi pendengar setia doa-doa yang Ia panjatkan untuk sang kekasih .
Ia besyukur Cyrin sudah baik - baik saja sekarang , hanya Ia juga tidak bisa bohong jika Ia kecewa karena menjadi orang yang terakhir tau hal itu , bahkan Ia harus mengetahuinya dengan cara seperti ini .
" Jika memang seperti ini keinginanmu , apa yang bisa ku perbuat . Salahkan hatiku yang terlalu mencintaimu , walaupun kecewa tapi entah apa aku bisa bilang jika aku kecewa ? " batin Farrel .
Tiga hari berlalu , dan tiga hari ini Farrel juga tak pernah datang ke rumah sakit .
Dari Bimo , Cyrin mengetahui jika Farrel sedang ke Surabaya .
Ada rindu yang begitu besar kini Cyrin rasakan.
Dan Ia memilih untuk melepaskan penatnya duduk di kursi yang ada di bawah teduhnya pohon rindang .
" Akhirnya aku bisa juga kesini , pantas saja banyak pasien yang suka duduk disini . " batinnya.
Matanya terus memandangi kolam ikan besar di hadapannya . Matanya mengikuti gerak lincah para ikan yang berenang kesana kemari .
" Hai ... " sapa dokter Rasya yang langsung duduk tanpa permisi di samping Cyrin .
" Hai dok .... " balasnya .
" Sedang Apa ? "
" Hanya melihat -lihat . "
" Apa kau merindukan Farrel ? Ku lihat beberapa hari ini dia tidak pernah datang . "
__ADS_1
" Dia sedang keluar kota . Menyelesaikan pekerjaan . " ada nada kesal dalam ucapan Cyrin.
" Sampai kapan kamu mau seperti ini ? "
Cyrin mengangkat kedua bahunya .
" Rin .. sudahlah . Aku sebagai doktermu sudah menyatakan kesembuhanmu . Pulanglah , temui Farrel . Apa lagi yang kamu ragukan ? "
" Aku ragu , apa aku bisa kembali seperti dulu dengannya ? "
" Tentu saja bisa . Itu harapan terbesar Farrel asal kau tau . " Ucap dokter Rasya.
" Apa kau merindukan Farrel ? " tanyanya .
" Ya tentu saja . "
" Bayangkanlah bagaimana Farrel merindukanmu . Dia menunggumu selama ini , kesembuhanmu adalah harapan dan doa disetiap awal dan akhir harinya . " ucap sang dokter .
" Apa kamu masih tega terus membuatnya menunggu ? "
" Apa menurut dokter sudah saatnya aku jujur padanya ? "
Dokter Rasya menjentikkan jarinya di kening Cyrin .
" Harusnya dari dulu . Jika aku di posisi Farrel aku akan sedih saat tau akulah orang terakhir yang mengetahui kesembuhanmu . "
" Pulanglah Cyrin . " pintanya sekali lagi .
" Baru kali ini aku sebagai dokter memohon pada pasienku untuk keluar dari rumah sakit . Biasanya pasien disini tidak betah, bahkan ada yang berusaha kabur . " ujar dokter Rasya .
" Tapi kamu , ck ck , " Dokter Rasya berdecak .
" Lihatlah betapa nyamannya kamu duduk bersantai disini , bahkan tertawa melihat tingkah pasien lain . "
Beberapa hari kemudian :
Seminggu di Surabaya cukup melelahkan bagi Farrel . Fisiknya sudah pasti lelah karena banyak pekerjaan yang harus Ia selesaikan .
Tapi batinnya juga tak kalah lelahnya . Menahan rindu ternyata sangat menyesakkan .
Farrel tiba ketika malam sudah menjelang , Ia memutuskan untuk mengunjungi Cyrin besok saja.
Ketika sampai di kamarnya , siluet seorang wanita yang duduk di sofa cukup mengejutkannya .
Tangannya meraba ke dinding mencari saklar lampu .
Klik...
" Cyrin ? "
" Ya Mas , This is me . "
Senyum manis merekah di wajah cantik wanita yang kini berada di hadapannya .
.
.
.
.
“*Setiap rindu membutuhkan temu. Maka, temuilah saat aku lelah menghampirimu. Ceritakan segala keluh kesahmu padaku*.”
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue