My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 105 . Finally , this is me


__ADS_3

¤¤¤¤Masih lanjutan Flashback yang sebelumnya yah ¤¤¤¤


Ceklek ,


Pintu ruangan Cyrin terbuka tanpa diketuk lebih dulu .


Cyrin dan Ibunya yang sedang sarapan sampai tersedak karena terkejut dengan tingkah bar bar dokter muda yang tampan itu .


" Astaga.... dokter Rasya , mengejutkan saja . " keluh Cyrin .


" Maaf ... maaf ... , " ucap sang dokter dan dengan cekatan menuangkan air minum di gelas untuk Ibu Hindun .


" Aku hanya terlalu senang mendengar kabar jika kau ingin menemui kakakmu . Ini bahkan belum seminggu dari waktu yang kurencanakan . " Ujarnya .


" Aku perlu mengkonfirmasi sesuatu  ,  aku tak bisa menunggu seminggu . Itu terlalu lama . "  balas Cyrin .


" Itu lebih baik , aku setuju . Tapi boleh ku tau mengapa tiba-tiba  ? " tanya Dokter Rasya .


" Entah mimpi atau bukan , tapi sepertinya aku melihat Mas Bimo dan Farrel selalu bersama , tapi mereka memakai seragam SMA . "


" Bisa jadi itu adalah penggalan- penggalan ingatanmu Rin . Selamat yah, kamu sudah selangkah keluar dari kegelapanmu . " Ucap Dokter Rasya .



*Hari ini Cyrin bertemu Bimo  , pertemuan yang sangat lama . Hampir seharian mereka bersama. Farrel yang hanya bisa melihat dari kejauhan sangat penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan* .



*Setiap cerita Bimo membawa Cyrin pada bayangan kejadian masa itu , sedikit demi sedikit ingatan yang Ia lupakan kembali dalam benaknya* .



*Bahkan setelah Bimo pulang , bayangan- bayangan masa lalunya terputar kembali di benaknya* .



*Entahlah , tapi jika orang lain melihatnya terus tersenyum sendiri mereka pasti maklum karena disini semua pasien hampir seperti itu* .



" *Kelihatannya kamu sangat senang Rin . " ucap Bu Hindun* .



" *Cyrin mulai mengingat sedikit demi sedikit masa lalu Cyrin . Dan ini semua berkat Ibu . Makasih yah Bu . " ucapnya tulus* .



" *Kok berkat Ibu* ? "



"  *Iya dong karena ibu , Ibu mengerti  apa yang sebenarnya aku butuhkan . "  jawab Cyrin* .



" *Yang benar itu , ini semua karena dia yang berhasil mengetuk hatimu . " Sanggah Ibu* .



*Cyrin tersenyum , " Apa malam ini dia akan datang lagi* ? "



" *Jika kamu mengizinkan . " Jawab Ibu* .



"*Tolong rahasiakan ini dulu darinya yah Bu . Aku juga sudah minta dokter Rasya dan  Mas Bimo untuk hal itu . " Pinta Cyrin* .



" *Aku hanya ingin memantaskan diriku dulu Bu , aku tidak ingin mengecewakan dia lagi . " lanjutnya* .



" *Kamu tidak pernah mengecewakan dia . Karena seandainya itu benar sudah sejak lama Ia meninggalkanmu . " ucap Ibu* .



" *Kamu harapannya Rin . Kamu ada dalam setiap doanya . Kamu ada dalam kehidupan masa depan yang dia rencanakan . " lanjut Ibu* .



" *Jangan pernah lagi berkecil hati Nak , kamu memang seistimewa itu dan pantas kami tunggu* . "



*Ibu dan putrinya itu berpelukan . Di saksikan oleh Farrel dan Bimo dari balik kaca buram* .



" *Aku juga kangen banget , mau peluk Cyrin ."  Cicit Farrel* .

__ADS_1



*30 menit setelah itu , Ibu Hindun kembali memberikan kode pada Farrel agar masuk ke dalam* .



*Dengan semangat juang 45 yang meniru semangat para pahlawan , Farrel masuk ke ruangan* .



*Suasana masih sama seperti kemarin , Cyrin berbaring membelakangi Farrel . Hanya saja kali ini Ibu Hindun memilih menunggu diluar* .



*Farrel kembali mengusap lembut surai kekasihnya itu. Kini ia duduk di bagian brangkar yang kosong* .



*Farrel bercerita mengenai apa yang Ia lakukan sehaian ini . Ungkapan cintanya terus saja terucap disela sela ceritanya* .



*Kenyamanan bersama Farrel membuat Cyrin bahkan tak ingat kapan Ia mulai tertidur* .



*Begitulah Cyrin melewatkan hari - harinya sebulan ini . Bertemu orang - orang terdekatnya di siang hari , berbagi cerita , kenangan - kenangan mereka dulu* .



*Di malam harinya , Cyrin akan kembali menyamankan dirinya bersama Farrel . Terlelap dengan semua cerita pria yang sebenarnya tak pernah hilang dari hati dan pikirannya* .



*Cyrin akhirnya menyadari , di saat pikirannya dipaksa untuk membenci Farrel , hatinya terasa sakit kala itu . Ternyata itu bukan rasa sakit karena benci , tapi rasa sakit karena hatinya menolak untuk membenci seseorang yang memiliki tempat istimewa disana* .



¤¤¤¤ FLASHBACK OFF ¤¤¤¤¤¤



Pertemuan hari itu bersama Mama Anin dan Papa Jatmika sungguh jauh berbeda dari dugaannya .



Keduanya masih sehangat dulu . Tidak ada yang berubah , tidak ada kekecewaan yang mereka sampaikan . Hanya rasa syukur karena sekarang Cyrin sudah baik -baik saja .




Ibu Hindun menghubungi Farrel , namun sayang pria itu beralasan sedang banyak pekerjaan di kantor sehingga tidak bisa ke rumah sakit .



Cyrin nampak kecewa , tapi pelukan dari Ibunya bisa menenangkannya .



Dan semua yang terjadi malam itu , dapat Farrel lihat dari balik kaca yang selama ini menjadi saksi , menjadi pendengar setia doa-doa yang Ia panjatkan untuk sang kekasih .



Ia besyukur Cyrin sudah baik - baik saja sekarang , hanya Ia juga tidak bisa bohong jika Ia kecewa karena menjadi orang yang terakhir tau hal itu , bahkan Ia harus mengetahuinya dengan cara seperti ini .



" Jika memang seperti ini keinginanmu , apa yang bisa ku perbuat . Salahkan hatiku yang terlalu mencintaimu , walaupun kecewa tapi entah apa aku bisa bilang jika aku kecewa ? " batin Farrel .



Tiga hari berlalu , dan tiga hari ini Farrel juga tak pernah datang ke rumah sakit .


Dari Bimo , Cyrin mengetahui jika Farrel sedang ke Surabaya .


Ada rindu yang begitu besar kini Cyrin rasakan.


Dan Ia memilih untuk melepaskan penatnya duduk di kursi yang ada di bawah teduhnya pohon rindang .


" Akhirnya aku bisa juga kesini , pantas saja banyak pasien yang suka duduk disini . " batinnya.


Matanya terus memandangi kolam ikan besar di hadapannya . Matanya mengikuti gerak lincah para ikan yang berenang kesana kemari .


" Hai ... " sapa dokter Rasya yang langsung duduk tanpa permisi di samping Cyrin .


" Hai dok .... " balasnya .


" Sedang Apa ? "


" Hanya melihat -lihat . "


" Apa kau merindukan Farrel ? Ku lihat beberapa hari ini dia tidak pernah datang . "

__ADS_1


" Dia sedang keluar kota . Menyelesaikan pekerjaan . " ada nada kesal dalam ucapan Cyrin.


" Sampai kapan kamu mau seperti ini ? "


Cyrin mengangkat kedua bahunya .


" Rin .. sudahlah . Aku sebagai doktermu sudah menyatakan kesembuhanmu . Pulanglah , temui Farrel . Apa lagi yang kamu ragukan ? "


" Aku ragu , apa aku bisa kembali seperti dulu dengannya ? "


" Tentu saja bisa . Itu harapan terbesar Farrel asal kau tau . " Ucap dokter Rasya.


" Apa kau merindukan Farrel ? " tanyanya .


" Ya tentu saja . "


" Bayangkanlah bagaimana Farrel merindukanmu . Dia menunggumu selama ini , kesembuhanmu adalah harapan dan doa disetiap awal dan akhir harinya . "  ucap sang dokter .


" Apa kamu masih tega terus membuatnya menunggu ? "


" Apa menurut dokter sudah saatnya aku jujur padanya ? "


Dokter Rasya menjentikkan jarinya di kening Cyrin .


" Harusnya dari dulu . Jika aku di posisi Farrel aku akan sedih saat tau akulah orang terakhir yang mengetahui  kesembuhanmu . "


" Pulanglah Cyrin . "  pintanya sekali lagi .


" Baru kali ini aku sebagai dokter memohon pada pasienku untuk keluar dari rumah sakit . Biasanya pasien disini tidak betah, bahkan ada yang berusaha kabur . " ujar dokter Rasya .


" Tapi kamu , ck ck , " Dokter Rasya berdecak .


" Lihatlah betapa nyamannya kamu duduk bersantai disini , bahkan tertawa melihat tingkah pasien lain . "




Beberapa hari kemudian :



Seminggu di Surabaya cukup melelahkan bagi Farrel . Fisiknya sudah pasti lelah  karena banyak pekerjaan yang harus Ia selesaikan .


Tapi batinnya juga tak kalah lelahnya . Menahan rindu ternyata sangat menyesakkan .



Farrel tiba ketika malam sudah menjelang , Ia memutuskan untuk mengunjungi Cyrin besok saja.



Ketika sampai di kamarnya , siluet seorang wanita yang duduk di sofa cukup mengejutkannya .



Tangannya meraba ke dinding mencari saklar lampu .



Klik...



" Cyrin ? "



" Ya Mas , This is me  . " 



Senyum manis merekah di wajah cantik wanita yang kini berada di hadapannya .



.


.


.


.


“*Setiap rindu membutuhkan temu. Maka, temuilah saat aku lelah menghampirimu. Ceritakan segala keluh kesahmu padaku*.” 


.


.


.


.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2