
Akhirnya hari ini adalan perayaan ulang tahun perusahaan milik keluarga Cyrin , Al-Amin Garmen .
Perusahaan yang bergerak di industri produksi pakaian , sudah terkenal menjadi perusahaan terbesar selama 3 generasi di kota Solo .
Hingga kini perusahaan itu dipimpin oleh Bimo Al-Amin, putra tertua di keluarga Al-Amin .
Semua orang menyambut bahagia hari ini . Bapak Ibrahim Al Amin juga Ibu Hindun tak sabar menunggu hingga malam tiba . Perayaan ini termasuk salah satu bentuk terimakasihnya pada para pekerja yang selama ini membantu mereka .
Jika biasanya saat perusahaan lain merayakan ulang tahun dengan mengundang klien dan orang orang penting , berbeda dengan Al-Amin selain mengundang klien mereka juga mengundang semua karyawan mereka beserta keluarga tanpa terkecuali . Mulai dari cleaning service , Staff kantor , bahkan buruh pabrik .
Berbeda dengan kedua orang tuanya , Bimo dan Cyrin tidak antusias menantikan perayaan ini .
Jika Cyrin hawatir mengenai perjodohan yang dikatakan orang tuanya .
Lain dengan Bimo . Harusnya hari ini Ia mengenalkan Aurora pada keluarganya sebagai wanita yang akan Ia nikahi . Namun wanita itu menolak dengan alasan belum siap .
Pertengkaran keduanya tak terelakkan lagi .
Bertempat di sebuah kamar president suite hotel kini Aurora dan Bimo sedang beradu argumen .
" Berikan satu alasan padaku mengapa kamu selalu menolak jika ingin ku ajak serius ? " Tanya Bimo menekankan setiap perkataannya pada Aurora .
" Bim ... aku masih harus berkarir . Aku merintisnya sejak lama dan belum siap meninggalkannya . " ujar Aurora .
" Jadi apa kamu lebih siap meninggalkanku ? Jangan jangan kamu tidak pernah serius dengan hubungan kita . "
" Bim .. mana bisa aku meninggalkanmu tapi banyak kontrak yang sudah ku tanda tangani dan masih harus ku selesaikan . Berhenti berpikir aku tidak serius . " ujar Aurora .
" Maaf jika aku akan mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu , tapi aku jadi teringat ucapan adikku yang selalu menanyakan pekerjaanmu . Kamu selalu berdalih sibuk dan kontrak , tapi selama ini aku bahkan jarang sekali melihat hasil pekerjaan mu dimana mana . " ujar Bimo .
Aurora mengumpat dalam hati pada Cyrin . Mana mungkin Aurora akan jujur jika kontrak yang dia maksud adalah kontrak dengan daddy daddy yang menjadi sumber uang dan kepuasannya selama ini .
" Sekarang tidak ada pilihan lain , kamu sudah disini . Malam nanti akan ku kenalkan dengan kedua orang tuaku . Jika mereka meminta kita segera menikah maka aku bersedia membayar semua denda yang timbul dari pembatalan kontrakmu . Aku tidak bisa bersabar lebih lama lagi . "
Bimo harus bersikap tegas pada wanita ini ,pikirnya .
" Bim ...apa kamu mulai meragukan keseriusanku ? " tanya Aurora . Kini Ia melengkapi perannya dengan tangisan .
" Bukannya aku memang harusnya begitu ? " ujar Bimo .
" Bim .. sudah berapa kali ku katakan padamu . Ambillah kesucianku , kuberikan pada mu mahkotaku agar kamu percaya jika aku tak akan berpaling darimu . Jadikan itu bukti keseriusanku . " pinta Aurora .
Bimo mengusap wajahnya kasar .
" Sejak berkomitmen denganmu aku selalu menghormatimu . Tapi mengapa kamu berkata seolah aku ingin menikahimu hanya karena menginginkan kesucianmu . "
" Cukup Aurora . Istirahatlah . Malam nanti aku akan menjemputmu , jadi bersiaplah . " ujar Bimo .
Malam haripun tiba . Bapak Ibrahim Al Amin beserta istrinya menyambut para tamu dengan rona wajah yang bahagia .
Perhatian para tamu terus tertuju pada kehadiran putri bungsu keluarga Al-Amin yang selama ini tak pernah dikenal publik .
Menurut berita yang beredar jika malam ini , keluarga Al Amin akan memperkenalkan putri penguasa industri garmen di Solo bersama calon suaminya yang juga seorang pengusaha terkenal .
Beragam pujian terlontar untuk Cyrin , terutama memuji kecantikan dan kesantunannya .
Namun siapa sangka dibalik senyumnya , hati wanita itu kini menangis . Ia tak sanggup menjelaskan pada Farrel jika nanti berita soal pria yang akan dijodohkan dengannya sampai ditelinga pria itu .
" Rin , kamu tahu gak Mas kamu kemana ? " bisik Ibu yang dari tadi mencari sosok Bimo .
" Gak tahu . " jawab Cyrin .
Tak berselang lama , sosok yang dicaripun muncul .
Cyrin yang awalnya tersenyum melihat sang kakak tiba tiba raut wajahnya berubah tak suka saat melihat sosok yang datang bersama kakaknya .
" Oh , jadi wanita gila itu sudah mau bertemu keluargaku . Apalagi rencananya kali ini . " Batin Cyrin .
Bimo mengenalkan Aurora pada orang tuanya . Dan Aurora sungguh memainkan perannya dengan sangat baik .
__ADS_1
Ibunya memuji kecantikan Aurora , apalagi jika wanita itu bisa berpenampilan lebih tertutup . Tapi tak apa karena jika menjadi istri Bimo , Ibunya yakin Bimo bisa mengarahkan Aurora .
Meja meja yang tersedia sudah hampir terisi , kini acaranya akan segera dimulai .
Cyrin melirik kursi kosong di sampingnya . Kata Ibu , kursi itu untuk calon suami .
" Huhhh, pertemuan pertama saja dia sudah telat . Aku sudah memberimu nilai minus . " Gumam Cyrin .
Wanita itu tak menyadari jika dibelakangnya kini sudah berdiri seorang pria yang mendengar apa yang Ia ucapkan .
" Berapa nilai minus yang akan kamu berikan padaku sayang ? " bisik Farrel .
Cyrin mendengar suara pria yang sangat familiar baginya .
" Mas Farrel . " serunya .
" Pak, Bu , Bim , maaf Farrel telat . " ujarnya sambil menyalami punggung tangan Bapak dan Ibu .
Pandangan Cyrin terus mengikuti Farrel hingga pria itu duduk disampingnya .
" Mas , kok bisa disini ? Bukannya lagi diluar kota ? " tanya Cyrin tak sabar .
" Kejutan sayang . " ujarnya lembut .
Cyrin beralih menatap Bapak dan Ibunya yang tersenyum padanya .
" Bapak dan Ibu juga ikut ikutan ngerjain aku ? " tanya Cyrin tak percaya .
Manik mata Farrel bertemu dengan Aurora . Ada raut wajah tak suka disana . Namun Farrel berusaha tak peduli .
Hingga acara dimulai dari Bimo sebagai CEO yang membuka acara . Lalu perkenalan Cyrin sebagai putri dan juga pewaris Al-Amin .
Semua rangkaian acara inti sudah selesai , saatnya para tamu menikmati hidangan makan malam .
Farrel dan Cyrin sangat mesra , membuat Aurora geram .
" Rel... Rin.... ,wartawan mau wawancara kalian berdua . Gimana ? " tanya Bimo yang mendapat kabar dari sekertarisnya .
" It's Oke . Selama Cyrin gak terganggu . " jawab Farrel .
Para pemburu berita memang tak akan melewatkan berita ini , desas desus putri bungsu keluarga ini akan menikah memang sudah terdengar beberapa hari yang lalu .
Namun kehadiran Farrel sosok pengusaha muda sukses yang diduga calonnya akan menjadi topik hangat pemberitaan .
" Memangnya mau wawancara soal apa ? " tanya Cyrin .
" Soal pernikahan kalian lah . " seru Bimo .
__ADS_1
" Pernikahan ? " Cyrin terlihat bingung .
" Bentar Bim , kami perlu ngomong berdua . "
Farrel pamit untuk membicarakan hal ini pada kekasihnya .
Kini mereka berdua berada di salah satu ruangan yang jauh dari kerumunan orang .
" Pernikahan apa Mas ? " tanya Cyrin tak sabar .
" Sayang maafkan aku harusnya aku bertanya padamu lebih dulu . Aku sudah meminta izin pada Bapak dan Ibu untuk membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius . Tapi tak kusangka Bapak ingin semuanya lebih cepat . Katanya tak baik berlama lama kita bersama di Jakarta tanpa ikatan . " jelas Farrel .
" Aku juga gak nyangka kalau beritanya akan secepat ini menyebar . Rencananya , aku ingin melamarmu dulu baru kita publikasikan . "
" Sekarang aku tanya sama kamu , kamu cinta sama aku kan ? " tanya Farrel .
Cyrin mengangguk .
" Kamu mau menjadi istri aku ? Pendamping hidup aku ? " tanya Farrel .
" Aku mau . " jawab Cyrin setelah beberapa saat terdiam .
Farrel memeluk Cyrin , lalu memberikan kecupan dibibirnya .
Akhirnya dia bisa tenang setelah dua hari ini terus cemas jika Cyrin akan menolaknya .
" Mas jangan senang dulu . Cyrin belum maafin Mas karena dua hari ini Mas udah buat Cyrin berpikir macam macam . " ujar Cyrin .
Acara sudah selesai . Ballroom yang tadinya penuh mulai nampak kosong .
Sebentar lagi akan ada sesi wawancara dengan para pemburu berita .
" Mas , aku ngantuk .... " ujar Cyrin manja .
" Sabar yah , setelah wawancara kita pulang . " balas Farrel .
" Aku ke toilet dulu yah . Aku tinggal bentar . "
Farrel lalu berjalan keluar dari ballroom menuju toilet . Tanpa Ia sadari Aurora mengikuti langkah Farrel .
Saat Farrel keluar dari toilet , Aurora segera mencegahnya .
" Kita harus bicara . " Ujar Aurora .
Farrel berdecih . " Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi . "
Farrel sudah akan meninggalkan Aurora , namun wanita itu memeluk lengan Farrel .
Dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang menatap kepada Aurora dan Farrel dengan penuh tanda tanya apa yang terjadi antara kedua orang itu .
.
.
.
.
" Selama dengan orang yang tepat , proses lamaran seperti apapun tak akan jadi masalah ."
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue