
Sementara di lain tempat , kata kata umpatan tidak henti hentinya terdengar dari bibir seorang pria tampan .
" Sial , siapa dia ? CCTV ini tidak berguna sama sekali . " gerutunya .
" Berani sekali pria itu memberikan bunga pada calon istriku . " sambungnya .
" Tunggu sampai aku menemukanmu . " Batinnya .
Pria itu adalah Farrel . Daffin berhasil mendapatkan rekaman CCTV malam itu dari restauran .
Dari rekaman CCTV , seorang pria terlihat masuk ke restauran tak lama setelah Cyrin dan Farrel masuk . Pria itu memakai jaket dan menutupi wajahnya dengan topi . Sulit untuk melihat wajahnya karena pria itu terus menunduk , seolah Ia memang menghindari wajahnya tertangkap kamera pengawas .
" Pak ... ku pikir pria itu memang sudah mengikuti kalian sebelum ke restauran . " Ujar Daffin memberikan pendapatnya .
Farrel menatap pada Daffin , meminta penjelasan .
" Mana ada seorang pria yang kemana mana membawa setangkai bunga . Pak Farrel lihat sendirikan dia mengeluarkan bunga dari saku jaketnya . " Jelas Daffin .
" Jadi menurutmu ini semua sudah direncanakan ? "
Daffin mengangguk mantap .
" Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Nino semalam ? " Farrel meminta dukungan Daffin atas dugaannya .
" Saya sepemikiran dengan Anda . " Jawab Daffin mantap .
" Sekarang , lakukan apapun untuk mengetahui wajah pria itu . Minta informasi dari pelayan restauran , karena dia yang berinteraksi paling dekat dengannya . " Ujar Farrel memberi perintahnya pada Daffin .
" Lalu , lacak keberadaan Aurora sekarang dimana . Jika ucapan Nino benar , maka wanita itu pasti masih ada di kota ini . " Ujar Farrel .
" Tidak ada salahnya Fin kita menemui dia lagi . Memberi kejutan kecil padanya . " Lanjutnya sambil menyeringai .
Daffin menelan salivanya . Ia paham benar arti seringai di wajah Farrel .
" Baik Pak ... saya permisi untuk segera mengerjakan semuanya . " Ujar Daffin .
Daffin melangkah keluar dari ruangan Farrel .
" Fin .... " panggilan Farrel menghentikan langkahnya .
" Apa ada kabar dari pengawal yang kamu tempatkan untuk mengawasi Cyrin ? " tanya Farrel .
" Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan . Tapi tadi salah satu pengawal mengatakan jika sepertinya Nona tidak sehat . Ia terlihat sering meringis sambil memegang kepalanya . Terakhir , Nona terlihat sedang meminum obat di pantry kantornya . " Jawab Daffin .
" Bodoh . " Bentak Farrel .
" Kenapa tidak memberitahuku sejak tadi jika Cyrin sakit . " lanjutnya .
" Ma..af Pak . " Sesal Daffin .
Daffin segera keluar dari ruangan Farrel setelah melihat kode tangan dari bosnya .
" Yang dari tadi ngajak ngobrol terus kan dia . Mana sempat aku sampaikan tentang kondisi Nona . " Gerutu Daffin dalam hatinya .
" Sabar ..... sabar Daffin ... kalau kamu udah gak bisa sabar maka segeralah jadi bos juga . " Ucapnya menenangkan dirinya.
Sore ini Farrel datang 30 menit lebih cepat untuk menjemput calon istrinya pulang bekerja .
Sejak siang tadi saat menghubungi Cyrin dan menanyakan keadaannya , Farrel sudah tidak bisa konsentrasi lagi .
Walaupun tadi Cyrin sempat curiga padanya dari mana Ia tahu jika Cyrin sedang sakit kepala . Hampir saja Ia ketahuan jika menempatkan pengawal untuk mengawasi Cyrin . Farrel terus memikirkan kesehatan Cyrin , terdengar suaranya sangat lemah saat berbicara di telepon .
Dari dalam mobil yang Ia parkirkan , Farrel bisa melihat calon istrinya keluar dari lobby gedung perusahaan Wiguna .
Cyrin menengok ke kiri dan kanan mencari di mana Farrel memarkirkan mobilnya . Tak lama mobil yang Ia cari berhenti tepat di depannya .
__ADS_1
Farrel turun dari mobil , merangkul pundak Cyrin dan membantunya naik ke mobil .
Saat Farrel berjalan memutari mobil untuk kembali ke pintu kemudi , matanya sempat melihat Nino yang berdiri tak jauh dari mereka . Nino sedang menatap Cyrin dan Farrel .
Farrel mengangkat satu tangannya , seperti sedang menyapa Nino . Dia juga sedikit menganggukkan kepalanya . Farrel berterimakasih karena telah mengawasi Cyrin di kantor dan sekarang saatnya dia yang akan menjaga calon istrinya . Nino juga membalas Farrel dengan anggukan , seolah mengerti maksud gerakan pria itu .
Gerak gerik Farrel tak luput dari pengamatan Cyrin . " Demi apa ? Apa mataku salah lihat , barusan Mas Farrel dan Kak Nino saling menyapa ? " Cyrin bertanya pada dirinya sendiri .
" Apa yang sudah ku lewatkan antara Mas Farrel dan Kak Nino . " Batinnya .
Cyrin menatap pada Farrel saat pria itu sudah mulai melajukan mobilnya . Tatapan penuh tanda tanya .
" Ada apa Yang ? Kepalamu masih sakit ? " tanya Farrel sambil tetap fokus pada jalanan yang cukup padat di depannya .
" Kepalaku sudah tidak sakit lagi . Harusnya aku tetap bisa pergi bersama Byanca dan Marsha mencari kain untuk bridesmaid ku . " Ujar Cyrin kesal karena rencananya bersama dua sahabatnya gagal .
Farrel mengelus lembut puncak kepala Cyrin .
" Pergilah besok sayang . Kesehatanmu lebih penting dari itu semua , jika perlu aku akan mengatur agar pemilik toko kainnya membawakan contoh kain ke apartemen agar kamu bisa memilihnya . Bagaimana ? "
" Mas ... apa ada yang ku lewatkan antar kamu dan Kak Nino ? " tanya Cyrin .
Farrel paham maksud pertanyaan Cyrin .
" Nino sudah bisa merelakan perasaannya padamu . Tak ada lagi masalah antara kami . Kami berdua rekan bisnis , sudah seharusnya kami tidak bermusuhan . " Jelas Farrel .
Cyrin segera menghadiahi Farrel dengan kecupan di pipinya .
" Apa ini ? " tanya Farrel sambil memegang pipinya .
" Hadiah . Hadiah karena Mas Farrel kesayanganku bisa berbesar hati dan bersikap lebih dewasa . " Jawab Cyrin .
" Aku suka hadiahmu sayang . Tapi tolong jangan berikan hadiah seperti ini pada orang lain . "
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Cyrin dan Farrel tiba di apartemen Cyrin .
Farrel langsung berlari menuju ke toilet untuk mengeluarkan apa yang sudah Ia tahan sejak tadi .
__ADS_1
Sedang Cyrin masih melepas sepatunya dan menatanya di rak sepatu .
Baru selangkah lalu bel pintu berbunyi sehingga Cyrin memutar langkahnya kembali menuju pintu .
" Sore Non... " sapa sekuriti apartemen .
" Sore Pak , ada yang bisa saya bantu ? " tanya Cyrin . Baru pertama kali sekuriti menemui di unitnya , biasanya mereka bertemu di parkiran atau di pos jaga depan .
" Ini Non , tadi ada yang titipin surat untuk Nona . " Ujarnya ramah mengulurkan sebuah amplop putih .
" Kok dititip ke Bapak ? Biasanya untuk surat menyurat pasti disimpan ke kotak surat dibawah . " Tanya Cyrin .
Si Bapak hanya mengedikkan bahunya .
" Bapak juga gak tahu Non. Pria tadi cuma bilang ini penting . Dan harus Nona langsung yang menerimanya . "
Cyrin menerima surat itu , kemudian berterimakasih pada Pak Securiti yang Ia juga tak tahu namanya .
Setelah menutup pintu kembali , Cyrin menuju sofa . Ia mendudukkan dirinya bersiap untuk membaca isi surat tadi .
Dibaliknya amplop itu , di bagian belakang tertulis ' Untuk wanita tercintaku ' .
Cyrin mengernyitkan keningnya , " Surat dari siapa ini ? Aku tidak pernah merasa dekat dengan pria lain selain Mas Farrel . " Batinnya .
Cyrin mengeluarkan kertas putih dari dalam amplop setelah susah payah melepas rekatannya .
' Akhirnya aku menemukanmu kasihku '
' Akhirnya aku bisa menatap wajahmu lagi wahai cintaku '
Baru sempat membaca dua baris dari isi surat tadi , Cyrin sudah dikejutkan oleh Farrel yang berjalan kearahnya .
" Tadi siapa yang datang Yang ? " tanyanya.
Cyrin segera meremas surat tadi lalu menyelipkannya ke dalam tas yang ada di pangkuannya .
" Pak Sekuriti yang biasa berjaga di pos depan ." Jawab Cyrin jujur .
" Dia perlu apa ? "
" Hemm... dia mengantarkan surat . Tapi ternyata untuk unit di bawah . " Jawab Cyrin .
" Maafkan aku Mas telah berbohong , " batinnya .
Farrel berdecak , " Ckck ... zaman sekarang masih ada saja orang yang tidak tahu fungsi kotak surat . " Ujar Farrel berkomentar .
Cyrin hanya tersenyum , tak menanggapi komentar Farrel . Ia memilih berlalu kekamarnya untuk menyegarkan diri dan berganti pakaian . Sedang Farrel kini sibuk menekan tombol tombol di remot TV mencari siaran yang menarik untuk Ia tonton .
.
.
.
.
.
.
"Setiap matahari terbenam adalah bukti bahwa segala sesuatu memiliki akhir."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue