
Bahagiaku adalah kamu.
Titik.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Sejak kapan kisah cinta ini dimulai?
Bagi Farrel, mencintai tidaklah sulit, bertahan tidak akan membebani, dan memaafkan tidak akan pernah meyesakkan, jika wanita itu adalah Cyrinda.
Gadis percaya diri yang pertama kali Ia temui di taman, membuatnya tertarik dengan keberanian yang Ia miliki.
Gadis yang memegang teguh prinsipnya, patuh terhadap kedua orang tuanya, dan bertanggung jawab atas apa yang Ia perbuat.
Lantas, bagaimana Farrel bisa berpaling dari wanita seluar biasa Cyrin.
“Jika memang harus selamanya aku menunggu, jika memang semua yang kupunya harus kuberi, maka keduanya akan ku lakukan.”
Ujar Farrel saat Ia ditanya sebesar apa cintanya pada Cyrin.
♡♡♡♡♡
Meski belum resmi buka, namun hingga malam tiba di dapur restauran miliknya, Cyrin masih sibuk dengan bahan-bahan makanan yang akan Ia olah menjadi hidangan yang lezat.
“Apa yang akan kamu masak sayang?” tanya Farrel.
“Entahlah,” jawab Cyrin.
Besok adalah grand opening restauran Cyrin yang Ia beri nama Mhuy-Mhiy Restaurant.
Dan beginilah seorang Cyrin, jika Ia sedang gugup, marah, sedih, ataupun bahagia maka memasak adalah caranya menyalurkan semua perasaannya.
“Cicipilah,” ucapnya.
Cyrin meletakkan piring yang berisi sebuah pie di hadapan Farrel.
Cyrin duduk disamping pria yang 5 hari lagi akan menjadi suaminya.
Dengan cekatan Ia memotong Pie menjadi potongan yang lebih kecil lalu menyuapkannya pada Farrel.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Emhh, eh..nahhkk,” jawab Farrel.
Cyrin tertawa karena Farrel berbicara dengan mulut yang masih terus mengunyah pie mushroom and cheese buatannya.
“Mana pie untukmu? Kamu tidak makan sayang?” Tanya Farrel setelah sadar pie yang di piringnya telah habis tak bersisa.
“Aku hanya buat 1, hanya untuk mu,” jawab Cyrin.
“Kamu kebiasaan begitu sayang, sudah berapa kali ku katakan padamu untuk utamakan dirimu lebih dulu lalu orang lain.”
“Kamu bukan orang lain, kamu belahan jiwaku.” Ucapan Cyrin membuat Farrel tersipu.
“Katakan padaku dari mana kamu belajar gombal seperti itu?”
__ADS_1
“Aku tidak gombal sayang, haruskah ku belah dadaku lalu kamu bisa melihat
sendiri separuh hatiku itu adalah kamu.”
Cyrin semakin menggoda Farrel.
“Haruskah kulakukan? Membelah dadamu?” ulang Farrel membalas Cyrin yang terus menggodanya.
Farrel semakin memajukan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dan Cyrin.
“Jawab sayang, haruskah ku belah sekarang?” tanya Farrel lagi.
Cyrin semakin memundurkan tubuhnya, namun tiba-tiba keseimbangannya hilang, hingga jika Farrel tak sigap tunangannya itu sudah dipastikan akan jatuh.
Posisi keduanya yang terlihat begitu mesra, mengundang decakan dari sepasang kekasih yang menyaksikan.
Mereka kesal melihat tingkah pasangan yang harusnya sudah dipingit, mengingat hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
“Mas Bimo,” sapa Cyrin saat menyadari kehadiran orang lain di sana.
“Hemm, kalian tuh yah harusnya sekarang udah masa pingitan. Ini malah makin mesra-mesraan. Mas laporin Bapak dan Ibu yah,” ancam Bimo.
“Kakak iparku tersayang, jangan gitu dong. Aku jamin, nanti kalau kalian pingitan juga gak akan bisa nahan rindu.” Ucap Farrel.
Byanca duduk di samping Cyrin, dan melihat satu piring kosong di meja.
“Apa sekarang kalian juga makan sepiring berdua?” tanya Byanca.
“Niatnya sih sesuap berdua By, tapi belum halal jadi piringnya sajalah dulu yang berdua.” Jawab Cyrin, lalu kedua wanita itu jadi heboh sendiri.
Farrel menggeleng kepala melihat tingkah dua sahabat di hadapannya.
“Bagaimana Cyrin?” tanya Bimo.
“Baik-baik saja. Memangnya ada apa? Sepertinya kamu sangat khawatir,” tanya Farrel.
“Mengenai perkataan dokter Rasya, aku hanya tak ingin kamu ataupun Cyrin terluka.” Ucap Bimo.
Farrel tertawa, “Entah apa aku harus bercerita hal yang begitu pribadi mengenai hubunganku dan Cyrin. Tapi tenanglah Bim, yang dikatakan dokter Rasya aku bisa pastikan tidak akan pernah menjadi masalah dalam hubungan kami kedepannya.”
“Br*ng**k,” maki Bimo.
“Haruskah aku menghajarmu?” Ucap Bimo geram.
“Ku sarankan jangan lakukan, karena jangan sampai Cyrin tau mengenai hal ini.” Ucap Farrel.
“Tapi aku bisa bersumpah padamu jika sampai saat ini, aku dan Cyrin masih menjaga harta paling berharga yang hanya akan kumiliki jika kami berdua telah halal.” Lanjutnya.
“Aku berani memastikan padamu jika kekhawatiran dokter Rasya tidak akan menjadi masalah dalam hubungan kami nantinya karena aku mencintai Cyrin dengan segenap hatiku Bim, aku menikahinya bukan semata-mata untuk menghalalkan dirinya bagiku, tapi untuk hidup bersama dengannya selama sisa hidupku.” Ucap Farrel dengan penuh keyakinan.
“Aku percaya padamu. Sejak dulu, aku percaya ketulusanmu pada adikku. Ku percayakan dia padamu Rel, karena hanya kamu yang bisa, hanya kamu yang mampu dan pantas untuknya.” Balas Bimo.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
¤¤¤¤¤ 《Flashback On》 ¤¤¤¤¤
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
Suara ketukan pada pintu ruangan dokter Rasya terdengar.
“Masuk”, ucap dokter muda itu.
Pintu terbuka lalu kepala wanita cantik menyembul dari balik pintu.
Wanita cantik, dengan senyum yang bisa membuat sebagian besar pria terpukau,
“Hai Dokter, apa kau sedang sibuk?”
Senyum dokter Rasya juga ikut merekah, melihat gadis pujaan hatinya kini ada di hadapannya.
“Sibukpun, jika kau yang memanggil maka aku akan memilih berlari padamu.” Jawabnya.
Cyrin tertawa menyambut ucapan dokter Rasya yang Ia anggap gurauan semata.
Namun tanpa dokter Rasya sadari sosok pria yang masih terhalangi oleh pintu kini sangat geram dengan tingkah dan ucapannya.
“Kenapa berdiri di situ, masuklah.” Ucap Dokter Rasya.
Cyrin menoleh pada Farrel, meraih tangan pria yang seminggu lagi akan jadi suaminya.
“Yuk sayang,” ajaknya pada Farrel.
Wajah dokter Rasya memucat, Ia merasa tak nyaman dengan tatapan Farrel.
Ia yakin hal itu karena ucapannya barusan pada wanita yang berstatus tunangan Farrel.
“Pak Farrel, lama tak berjumpa. Bagaimana kabar Anda?” sapanya.
Farrel menyambut uluran tangan dokter Rasya.
“Baik. Sebaik apa tujuan kami menemui Anda.” Ucap Farrel dingin.
Cyrin memberi dokter Rasya 2 undangan.
Dokter muda itu menerimanya dengan senyum meski tak sedikitpun netranya ingin melihat benda apa yang kini ada dalam genggamannya.
“Dokter harus datang yah, 2 hari lagi grand opening restauranku, dan seminggu lagi adalah pernikahan kami.” Ucap Cyrin dengan semangat.
“Baik, akan kuusahakan.” Jawab Dokter Rasya masih dengan senyum yang Ia paksakan.
Walaupun Dokter Rasya mengucapkannya dengan senyuman, tapi Farrel bisa merasakan adanya kekecewaan.
Setelah niat mereka mengunjungi rumah sakit terwujud, keduanya lalu berpamitan pada dokter Rasya.
“Maafkan aku dokter Rasya, tapi tak pernah sekalipun hatiku menyebut nama pria lain selain Farrel, calon suamiku. Bukannya aku tak tahu perasaanmu padaku, tapi aku sungguh tak ingin kehilangan sosok dokter, teman, kakak, yang bisa mengertiku sepertimu. Terimakasih dokter Rasya, karena kamu paham keinginanku,tak pernah sekalipun kamu mengungkap perasaanmu sehingga tak pernah ada kecanggungan diantara kita. Semoga kau akan menemukan kebahagiaanmu, dan kita selamanya bisa menjadi teman.” Batin Cyrin, seandainya bisa Ia ungkapkan.
♡♡♡♡
Setelah menerima pesan dari pria yang sangat ingin dia jauhkan dari kehidupannya bersama Cyrin, Farrel segera melajukan mobilnya menuju cafe yang pria itu sebutkan pada pesannya.
Tanpa ada keraguan dan kekhawatiran, Farrel melangkahkan kakinya memasuki cafe dan menuju ke meja tempat dokter Rasya menunggunya.
“Ada apa dokter? Apa hal yang begitu penting mengenai calon istriku yang ingin anda sampaikan.” Tanya Farrel tanpa basa-basi dan menekankan kata Calon istri pada pria di hadapannya.
♡♡♡♡♡ to be continue ♡♡♡♡♡
__ADS_1
Bebaskanlah dirimu lebih dulu.
Lalu bebaskan dia demi kebahagiaannya.