
Pertemuan merupakan takdir yang telah diatur oleh Tuhan YME .
Begitu juga dengan Farrel remaja, bertemu dengan seorang gadis yang dalam pertemuan singkatnya itu mampu menggetarkan hatinya.
Sempat terpikir olehnya jika saat itu takdir hanya memberikan kesempatan untuk mengenalnya, bukan untuk memilikinya.
Namun mengapa ada rasa tak rela dalam hatinya kala itu .
Begitulah manusia, pada dasarnya hanya siap untuk sebuah pertemuan tapi tidak dengan perpisahan.
Percayakah jika sebuah pertemuan akan membawa ke takdir yang lain ?
Percayalah, karena Farrel telah membuktikannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
,
Kini berdiri disisi Farrel seorang wanita cantik, yang beberapa bulan lalu menjadi tunangannya.
Suka dan duka, berbagai lika-liku harus mereka lewati untuk bisa berdiri berdampingan seperti saat ini .
“Mas, ternyata pria di taman saat itu adalah Mas Farrel?”tanya Cyrin kembali memastikan.
Farrel mengangguk, “Dan ternyata gadis yang penggila hadiah itu adalah kamu.” Sahutnya.
Mereka berdua tertawa, berada di dalam rumah kaca yang dipenuhi bunga .
“Mas aku sudah punya ide mengenai nama anak kita kelak,”ucap Cyrin.
Kening Farrel mengernyit, “Kenapa tiba-tiba Cyrin membahas anak?” batinnya.
“Nama anak?” tanya Farrel ulang untuk memastikan.
“Iya, kelak aku akan beri nama anak kita Frecya,” ucapnya.
“F-R-E-C-Y-A,” Cyrin bahkan mengeja satu per satu hurufnya.
“Apa kamu terinspirasi dari nama bunga?” tanya Farrel.
“Ya, salah satunya alasannya itu.” Jawabnya.
“Alasan lainnya yaitu karena huruf-huruf tadi adalah singkatan nama kita berdua Mas,” jelasnya.
Farrel kembali mengeja huruf demi huruf yang sebelumnya Cyrin sebutkan, dan ternyata benar ada huruf dari masing-masing nama keduanya.
“Kamu makin kreatif Rin, “ ucap Farrel sambil membelai surai lembut Cyrin.
“Untung saja kamu Sukanya bunga Fresia yah Rin. Bagaimana jika kamu sukanya bunga Sneezewort, kira-kira nama anak kita nantinya jadi apa yah?”
“Bunga apa Mas tadi namanya? Aku kenapa tidak pernah dengar,” selanya.
“Bunga Sneezewort atau bunga bersin.” Jawab Farrel.
“Mas, jangan menipuku. Mana ada bunga namanya bunga bersin,” Cyrin tak percaya.
“Beneran Rin. Bunga bersin memang ada,lebih di kenal Sneezewort."
__ADS_1
Cyrin baru menyadari jika sejak kemarin Farrel memanggilnya dengan nama, tidak seperti biasanya.
“Mas, masih marah yah sama aku?”tanyanya.
Farrel menggeleng, “ Bukannya sudah kukatakan jika tidak lagi, asalkan kamu benar-benar tidak mengulangnya lagi.”
“Tapi kenapa Mas tidak lagi memanggilku sayang? Apa mungkin sekarang Mas sudah tidak mencintaiku lagi ? Apa Mas memaafkanku karena ingin meninggalkanku?” cecar Cyrin pada Farrel.
Entahlah, sepertinya dia masih sesekali merasakan serangan panik.
“Jangan bicara sembarangan, tidak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkanmu Sayang,” ucap Farrel dengan senyum menggodanya.
“Nah gitu dong Mas,aku kan juga kangen di sayang-sayang sama Mas.” Balasnya.
“Beneran kangen Yang? Ya udah dilanjutin di kamar aja yuk sayang,” godanya pada Cyrin.
“Ih, Mas mulai deh mesumnya.” Balas Cyrin pura-pura cemberut.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Cyrin, “Mas, nanti ada yang lihat gimana?” protesnya.
“Gak ada yang berani masuk ke sini.” Ucap Farrel.
“Lagian kamu sudah punya nama anak, tapi emak anaknya belum ada,” lanjutnya
“Mau bikin gak Yang?” tanya Farrel menggoda.
“Massssssss, “ Pekik Cyrin tak sanggup jika Farrel sudah mulai menggodanya.
Siang ini Cyrin mengajak Farrel ke restaurant pemberian Bimo untuknya.
Cyrin menemani Farrel berkeliling. Tempatnya tidak besar, sesuai dengan konsep one table yang akan dipakai Cyrin.
Sebuah meja makan yang akan di set sesuai jumlah pesanan , dapur terbuka, toilet untuk tamu.
Di bagian luar restaurant ini di design dengan gaya modern kontemporer terlihat begitu atraktif dengan suasana yang inviting.
“Bagaimana menurut Mas?” tanya Cyrin.
“Konsep One table yang unik, Ide baru biasanya menarik banyak pelanggan. Kalau dari tempat, sepertinya kamu sangat cerdas karena memilih konsep ini memiliki kesan minimalis yang kuat, Interiornya juga simple tapi tetap terlihat elegant.” Komentar Farrel.
“Sekarang yang paling penting kamu harus punya tim pemasaran dan manajemen yang baik.” Lanjutnya.
Cyrin lalu mengajak Farrel masuk lebih dalam, dibagian kiri adalah ruang kerja , sedangkan di bagian kanannya semua digunakan untuk keperluan restaurant dan dapur.
Cyrin mengajak Farrel menuju dapur terbuka yang langsung berhadapan dengan pengunjung.
“Apa menurut Mas masih ada yang kurang?” tanya Cyrin.
“Hemm, harusnya ada ruang untuk istirahat juga sayang.” Ucap Farrel.
“Sudah ada Mas,” jawab Cyrin.
“Ruang istirahat untukmu sayang, janganlah bergabung dengan karyawan.” Ucap Farrel.
“Memangnya perlu yah? Tapi aku kemari untuk bekerja Mas bukan untuk beristirahat,” jelas Cyrin.
__ADS_1
“Perlu, sangat perlu. Ruang istirahat tidak hanya untuk istirahat sayang, banyak yang bisa kamu lakukan di sana. Misalnya,” Farrel menjeda ucapannya.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat sekali lagi di bibir Cyrin.
“Mas,” tegurnya dengan wajah yang merona.
“Memangnya kamu mau aku menciummu di depan karyawanmu? Kalau hanya kecupan saja mungkin mereka tidak terlalu memperhatikan. Tapi bagaimana jika,” tiba-tiba Farrel tidak melanjutkan lagi ucapannya.
Cyrin menduga-duga apa yang akan terjadi.
Belum sempat Cyrin untuk waspada, kini Ia telah berada dalam dekapan Farrel.
Dekapan Farrel tidak hanya membuat wajah Cyrin terasa panas, tapi juga memotong jarak diantara keduanya.
Netra mereka saling bicara, menyampaikan betapa kuatnya cinta diantara keduanya.
Deru napas yang sedikit demi sedikit mulai memburu, menyalurkan kerinduan yang telah menumpuk, yang tidak akan bisa ditebus hanya dengan sehari kebersamaan.
“Mas, aku mencintaimu.” Tiga kata yang keluar dari bibir Cyrin membuat dada Farrel bergemuruh.
“Aku juga mencintaimu, Sayang.” Balas Farrel.
Seperti perasaan cinta yang tidak bisa ditebak kapan datangnya, entah sejak kapan keduanya telah menghilangkan jarak lewat kecupan yang lembut .
Hawa dingin dari pendingin ruangan berangsur-angsur tak dapat dirasakan lagi oleh keduanya, ketika dekapan Farrel semakin erat dan kecupan yang awalnya lembut kini terasa semakin menuntut.
Dengan perlahan Farrel mendudukkan Cyrin diatas Chef work table ,tanpa melepas ciumannya.
Salah satu tangannya kini menahan tengkuk Cyrin agar wanita ini tidak berniat mengakhiri keromantisan mereka.
Sedang satu tangan lainnya setia mendekap agar tak ada jarak yang tercipta.
Semua ini mereka lakukan atas dasar cinta, maka secara naluriah keduanya saling membalas sentuhan hingga saat tautan bibir mereka harus terpisah karena keterbatasan oksigen.
Tatapan mata keduanya bertemu saat jeda , senyuman di bibir wanita yang Ia cintai bagai sebuah tiket untuk Farrel agar bisa melakukan hal yang lebih lagi atas dirinya.
Aroma khas dari ceruk leher Cyrin, mengundang Farrel untuk berkunjung disana.
Menyapu setiap inci salah satu tempat tersensitif Cyrin, membuat sang empunya bergelinjang karena sensasi yang Ia rasakan.
Bibir yang terkatup tak bisa lagi bertahan untuk tidak mengeluarkan suara lenguhan yang terdengar syahdu.
Kewarasan yang tersisa sedikit untungnya masih bisa bekerja sama untuk menyadarkan Farrel akan batasannya.
Napas Farrel dan Cyrin memburu. Dahi mereka menyatu.
“Kiss in the kitchen, not bad.” Ucap Cyrin.
Farrel tertawa, “Hemm, ayo menikah dan kita coba hal lain lagi disini.”
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
" Aku mengagumi pesonamu, mencintaimu dengan tulus, mendamba kasih sayangmu, aku merindukanmu, dan aku selalu bahagia bersamamu . Kuharap semuanya bisa kusampaikan lewat cara termanis yang ku ketahui."
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1