
Disaat semua tamu , keluarga , dan kerabat tengah menikmati hidangan makanan , seorang ART di rumah Cyrin mendatangi sang empunya rumah yaitu Pak Ibrahim dan Ibu Hindun .
" Nyuwun pangapunten Bapak , Ibu ..... di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak dan Ibu . " Ujar ART itu dengan ragu , Ia takut mengganggu acara yang di gelar majikannya .
" Siapa ? Suruh masuk aja Bi ... " Ujar Ibu Hindun .
Bibi segera melaksanakan perintah majikannya . Dengan ramah Ia mempersilahkan dua orang wanita berbeda usia untuk masuk dan bertemu majikannya .
" Bude Tutik ..... " Sapa Ibu Hindun ramah sambil mencium punggung tangan salah satu wanita paruh baya yang usianya jauh lebih tua darinya .
Lalu Ibu Hindun beralih menyapa wanita yang satunya lagi tak kalah hangatnya .
" Jeng Rani ..... " sapanya sambil memeluk .
Sementara Pak Ibrahim juga menyalami keduanya satu per satu .
" Apa kabar Bude dan Jeng Rani , udah lama banget gak ketemu ? " ujar Ibu Hindun yang senang setelah bertemu dengan salah satu sahabat dari mamanya .
" Kabar kami baik Jeng Hindun . Tapi apa bisa minta waktunya sebentar ? Kami perlu bicarakan sesuatu yang penting . " Ujar Ibu Rani .
" Ohh bisa bisa Jeng ... " Jawab Ibu Hindun .
" Oh ya kenalin , ini Jeng Anin dan ini Pak Jatmika . Calon besan kami ... " Ujar Ibu Hindun memperkenalkan kedua orang tua Farrel yang sejak tadi menjadi pendengar diantara mereka .
Orang tua Farrel turut menyapa dengan menyatukan tangan mereka di depan dada sebagai salam hormat pada dua orang yang terlihat akrab dengan calon besannya .
" Ya udah , mari Bude dan Jeng Rani kita ngobrol di ruang kerjanya Bapak aja . " Ajak Ibu Hindun dengan sopan .
" Pak ... Jeng ... saya tinggal sebentar yah nemuin mereka dulu . " ujar Ibu Hindun meminta izin pada kedua orang tua Farrel .
Sepeninggal mereka , Ibu Anin atau mamanya Farrel berbisik pada suaminya .
" Pah ... bukannya yang wanita tadi itu adalah istri dari pemilik perusahaan Wiguna ? " tanya Ibu Anin .
" Oh yah ? Mungkin aja . Papa soalnya gak pernah perhatiin wanita lain selain mama , jadinya gak tahu deh istri istri dari klien papa . " jawab Pak Jatmika dengan bercanda .
Farrel dan Cyrin yang baru saja selesai menemui tamu tamu mereka , menghampiri Papa Jatmika dan Ibu Anin .
" Loh ... Tante sama Om berdua aja . Bukannya Bapak dan Ibu tadi disini juga ? " tanya Cyrin mencari kedua orang tuanya .
" Kok Om dan Tante sih sayang .... Mama dan Papa dong ... sebentar lagikan kamu akan resmi jadi anak Mama dan Papa juga . " Ujar Mama Anin pada Cyrin sambil mencubit gemas pipi Cyrin .
" Iya ... Maaf Mama ... Papa ... " Balas Cyrin masih malu malu .
" Tadi Bapak dan Ibu kamu kedatangan tamu . Mereka lagi ngobrol di ruang kerja katanya . Kalau Mama gak salah ingat , namanya Bude Tutik dan Jeng Rani . " ujar Mama Anin .
Cyrin mengernyitkan keningnya .
" Ibu Rani ? " batinnya seperti familiar dengan nama itu .
" Kalau Mama gak salah yah , sepertinya yang namanya Jeng Rani itu istri dari Pak Wiguna, klien kantor . " ujar Mama Anin .
Sontak saja ucapan itu membuat Farrel dan Cyrin saling tatap .
Jika benar Wiguna yang dimaksud Mama Anin adalah orang tua Nino , apa tujuannya mereka kemari . Pikir Farrel dan Cyrin yang ternyata sama .
Kini Pak Ibrahim dan Ibu Hindun juga Bude Tutik dan Ibu Rani , sudah berada di dalam ruang kerja milik Pak Ibrahim .
Benar dugaan Farrel dan Cyrin . Bude Tutik adalah Ibu kandung dari Ibu Rani yang tak lain adalah Mamanya Nino . Dengan kata lain Bude Tutik adalah eyang dari Nino .
" Jadi ada apa sampai Bude Tutik dan Jeng Rani mengunjungi kami . Maaf , kebetulan hari ini putri bungsu saya sedang menerima lamaran dari kekasihnya . " ujar Ibu Hindun menjelaskan acara apa yang sedang berlangsung di rumahnya .
" Maaf jika Bude tiba tiba datang dan mengganggu acara kalian . " ujar Bude Tutik .
" Begini Nak Ibrahim dan Nak Hindun , semoga saja apa yang saya sampaikan ini belum terlambat . " sambungnya .
" Dulu sebelum Halimah melahirkan Hindun dan aku melahirkan Rani , kami pernah punya janji agar kelak menjodohkan anak anak kami . Tapi ternyata anak kami sama sama perempuan . " Ujar Bude Tutik .
Halimah adalah Ibu kandung dari Ibu Hindun . Eyang dari Bimo dan Cyrin .
Pak Ibrahim dan Ibu Hindun saling tatap saat mendengar apa yang dikatakan Bude Tutik .
" Karena kami tidak berhasil mewujudkan janji kami berdua , makanya kami berdua buat janji lagi jika kami tidak bisa menjodohkan anak anak kami , maka kami akan menjodohkan cucu cucu kami . " lanjut Bude Tutik .
__ADS_1
Pak Ibrahim dan Ibu Hindun terkejut . Setelah belasan tahun Ibu mereka telah tiada , baru hari ini mereka pertama kali mendengar mengenai janji perjodohan tersebut .
" Maaf Bude ... tapi sungguh aku dan suamiku tidak pernah diberi tahu oleh Ibu mengenai wasiat perjodohan itu . " Ujar Ibu Hindun .
" Iya , maaf jika Bude baru bisa sampaikan wasiat ini . Awalnya kami pikir tidak bisa mewujudkan rencana perjodohan ini karena cucu kami sama sama pria . Tapi beberapa hari yang lalu setelah mendengar mengenai putri yang kalian perkenalkan di media , membuatku berkeinginan untuk mewujudkan impian Halimah sahabatku agar cucu kami dapat di jodohkan . " ujar Bude Tutik .
Ibu Hindun menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya mendengar tujuan kedatangan Bude Tutik .
" Iya Jeng Hindun ... bukannya kita harus mewujudkan wasiat Bude Halimah . Kebetulan putraku yang bernama Nino juga sudah mengenal Cyrin putrimu . Bahkan Nino adalah CEO perusahaan tempat Cyrin bekerja di Jakarta . Mereka juga sudah cukup dekat . "
Ibu Rani ikut menimpali ucapan Ibunya .
Raut wajah Pak Ibrahim tak bisa ditebak . Ada kecurigaan di benaknya .
Seingatnya dulu Mertuanya memang bersahabat dengan salah satu tetangga mereka yang tak lain Bude Tutik .
Ia dan istrinya Hindun yang dulu juga tinggal di rumah mertuanya memutuskan untuk pindah rumah setelah Cyrin berusia 3 tahun . Jadi mustahil jika Bude Tutik tak tahu jika Mertuanya memiliki seorang cucu perempuan .
" Bude ... maaf sebelumnya . Saya ingin bertanya apakah Bude Tutik masih tinggal di rumah yang dulu ? Rumah yang berdekatan dengan rumah mertua saya ? " tanya Pak Ibrahim .
" Iya Nak . Bude masih tinggal di sana . Terasa sangat sepi saat Halimah telah tiada . " jawabnya .
Pak Ibrahim lantas tersenyum .
" Sungguh aneh jika Bude tidak tahu mengenai kehadiran putri bungsu di keluarga kami . " Ujar Pak Ibrahim .
" Cyrinda Gayatri Al Amin , nama putri kami . Ia dilahirkan dan kami besarkan dirumah eyangnya sampai usia 3 tahun barulah kami pindah kerumah kami yang sekarang . " Jelas Pak Ibrahim .
Mendengar ucapan Pak Ibrahim , wajah Bude Tutik dan Ibu Rani memerah . Entah menahan amarah atau malu .
" Jadi maksudmu apa yang ku katakan barusan itu bohong ? " tanya Bude Tutik .
" Maaf jika Bude tersinggung dengan ucapanku . " Ujar Pak Ibrahim .
" Alangkah baiknya jika kita meminta langsung jawaban dari Cyrinda . Hari ini baru saja kami menerima lamaran dari seorang pria yang mencintai dan dicintai putri kami . Bagi kami orang tuanya , yang terpenting adalah kebahagiaan putri kami . " Lanjut Pak Ibrahim .
" Iya Bude ... aku setuju dengan suamiku . Bukannya aku tidak percaya atau tidak ingin mewujudkan wasiat ibuku , tapi aku yakin dan percaya jika Ibuku masih hidup beliau juga akan mengambil keputusan yang sama . Memberikan keputusan penuh pada Cyrin cucunya untuk menentukan kebahagiannya sendiri . " Ibu Hindun ikut berkomentar .
Setelah itu , Ibu Hindun memanggil Cyrin , Farrel , kedua orang tua Farrel juga Bimo yang datang bersama Byanca untuk ikut bergabung dalam perbincangannya dengan Bude Tutik dan Ibu Rani .
Cyrin menyapa Bude Tutik dan Ibu Rani dengan sopan dan hangat .
Ibu Hindun menceritakan semua apa yang telah mereka bahas sebelumnya . Awalnya orang tua Farrel merasa sedikit tersinggung dengan keadaan ini , namun setelah mendengar keputusan dari orang tua Cyrin mereka akhirnya bisa mengerti .
Jangan ditanyakan lagi bagaimana raut wajah Farrel saat ini . Ia berusaha agar tidak mengeluarkan kata kata yang bisa mempermalukan Eyang dan Mama Nino .
" Bagaimana menurutmu Nak ? " tanya Pak Ibrahim .
Cyrin menggenggam tangan Farrel , membuat pria itu menoleh menghadapnya .
__ADS_1
" Eyang Tutik dan tante Rani , sebelumnya aku terimakasih karena sudah menyempatkan waktu untuk mengunjungi kami . "
" Hampir 6 tahun sejak SMP sampai SMA aku menghabiskan waktuku lebih banyak bersama eyangku . Dan dari waktu itu aku bisa mengenal bagaimana eyang dan apa yang menjadi keinginannya . "
" Eyang selalu bilang kalau tidak ada yang lebih beliau inginkan selain melihat anak dan cucunya bahagia . Saat saat terahir eyang Halimah akan menutup mata , dia tetap mengingatkan kami untuk bersyukur dan bahagia . Itu saja . "
" Jadi , maaf jika aku harus menolak permintaan Eyang Tutik dan Tante Rani mengenai perjodohan dengan Kak Nino . Bukannya aku meragukan ucapan Eyang , tapi sungguh aku sudah menemukan kebahagiaanku saat ini . Aku bahagia mengetahui sebentar lagi akan menikah dengan pria yang ku cintai dan mencintaiku . "
" Ku harap Eyang Tutik dan Tante Rani bisa mengerti . " Ujar Cyrin .
Mata Eyang Tutik terlihat berkaca kaca , sungguh Ia merasa bersalah pada sahabatnya telah memanfaatkan persahabatan mereka demi permintaan putri dan cucunya .
Cyrin berdiri dan menghampiri Eyang Tutik .
Ia bersimpuh di depan Eyang Tutik , menggenggam tangan Eyang Tutik dan Tante Rani bersamaan .
" Eyang ... Eyang Halimah selalu bangga menjadi sahabat Eyang Tutik . " ujar Cyrin lembut sambil menatap mata Eyang Tutik .
" Tante Rani ... maafkan aku . Semoga Kak Nino juga bisa menemukan kebahagiaannya . " Ujar Cyrin .
Setelah itu Eyang Tutik dan Tante Rani pamit undur diri dari kediaman keluarga Al-Amin .
Pergi dengan membawa kekecewaan bagi Ibu Rani dan penyesalan bagi Eyang Tutik .
Farrel hanya memandangi Cyrin yang mengantar keduanya hingga ke mobil mereka .
Terasa pundaknya di tepuk membuat Farrel menoleh .
" Bagus karena kamu bisa menahan emosimu . Tapi tidak salah jika suatu saat kamu mempertahankan apa yang kamu miliki . Bapak sangat bersyukur jika kamu bisa melindungi Cyrin , putri Bapak . Itulah mengapa Bapak yakin menitipkannya padamu , Bapak tahu kamu akan bisa melindungi dan mempertahankannya . " ujar Pak Ibrahim pada calon menantunya .
" Terimakasih Pak . Aku akan berusaha tidak mengecewakan Bapak . " Balas Farrel .
Sekali lagi Pak Ibrahim menepuk pundak Farrel .
" Sudah... tidak perlu dipikirkan lagi . Apalah arti lamaran tanpa adanya drama . Bukankah hari ini jadi lebih seru ? "
Ujar Pak Ibrahim sambil menaik turunkan alisnya kemudian berlalu meninggalkan Farrel yang tak pernah melepaskan pandangannya dari sosok wanita yang 3 bulan lagi akan menjadi miliknya seutuhnya .
.
.
.
.
.
" *Setiap orang punya pernikahan impian, dan pertunangan adalah awal dari mimpi yang ingin diwujudkan* . "
.
.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1