
Pria itu keluar untuk membuka pintu . Dengan sisa tenaganya Aurora mencabut benda tumpul yang sejak tadi memenuhinya .
" Cari sia... pa ? " wajah Pak Pratama memucat .
Darah seolah berhenti mengalir ke wajahnya yang kini nampak terkejut .
" Ada apa ini ? " tanyanya gugup melihat apa yang menyambutnya di depan pintu .
" Permisi . Apa benar ini kediaman saudari Aurora ? " tanya seorang pria .
" Benar . Ada keperluan apa ? " tanya Pak Pratama .
" Maaf , apa anda yang bernama Pratama ? " tanya pria itu .
Pak Pratama mengangguk .
" Pak Pratama kami dari pihak kepolisian. Anda kami tahan atas laporan dari Nyonya Risma tentang adanya dugaan pelanggaran pasal 284 KUHP mengenai perzinahan . "
Dua orang pria yang juga berbadan tegap dengan sigap maju dan membekuk Pak Pratama .
Tangannya lalu diborgol dibelakang tubuhnya .
Pak Pratama bahkan tidak memiliki kesempatan membela diri . Apalagi saat tiba-tiba Ia melihat istri dan staff legalnya muncul bersama dua orang pria berjas yang kemudian Ia ketahui adalah pengacara istrinya .
Belum lengkap keterkejutan atas kemunculan istrinya , Ia kembali dikejutkan dengan beberapa wartawan yang sudah siap merekam aksi penggrebekan seorang pengusaha dan artis .
Pak Pratama hanya bisa menunduk agar wajahnya tidak tersorot kamera . Ia pasrah saja saat beberapa orang polisi memaksa masuk ke apartemen untuk memeriksa TKP .
Pak Pratama didudukkan di sofa , sementara polisi mulai menyisir apartemen Aurora .
" Mengapa kamu lakukan ini pada suamimu ? " tanyanya pada Risma .
" Aku melakukan hal yang benar . Aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu . " Balas Risma tanpa ada rasa kasihan sekali .
" Kamu pikir akan hidup bahagia setelah aku dipenjara ? Kamu salah , perusahaan kita sudah bangkrut . Kamu akan hidup sebagai gelandangan setelah ini . " Ejek Pak Pratama .
" Inilah kesalahanmu suamiku . Jiwa binatangmu telah membuatmu berdiri di pihak yang salah. " Balas Risma .
Pak Pratama tidak menyangka jila istrinya telah menusuknya dari belakang . Apalagi saat melihat sosok Daffin yang baru masuk ke apartemen dengan seringai licik di wajahnya .
" Ternyata dia benar-benar melakukan ucapannya . Ini semua karena wanita sial itu . " Batin Pak Pratama mengingat kembali ancaman Farrel .
Seketika Ia mematung saat mengingat keadaan Aurora yang Ia tinggalkan di kamar .
" Ndan .... wanitanya ada di kamar . Keadaannya kacau . " Lapor salah satu petugas .
Petugas tadi masuk ke kamar dan terkejut mendapati seorang wanita yang sedang terbaring polos di atas tempat tidur .
Wajahnya banyak luka dan jejak tamparan . Di tubuhnya ada jejak pukulan dari benda yang diduga ikat pinggang . Dan yang mengenaskan , di seprei dan di bagian intinya banyak sekali cairan khas milik pria dan wanita yang sudah bercampur .
Beberapa jam olah TKP akhirnya selesai . Pak Pratama dan Aurora digiring ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya .
Para pencari berita puas mendapatkan bahan berita yang sangat bagus dan akurat . Apalagi saat tadi ditangkap , Aurora sedang memegang sebuah alat yang mirip dengan senjata kaum pria . Hal itu sungguh menjadikan topik ini menjadi lebih menarik untuk diberitakan .
Tak lupa Daffin menghubungi Farrel .
" Pak , tanaman liarnya sudah dicabut dan sekarang sudah dibuang ketempat sampah ," ujarnya di telepon .
Daffin menertawai dirinya sendiri yang menggunakan kalimat isyarat saat melapor pada bosnya .
Pasalnya kalimat isyarat yang Ia dan bosnya gunakan tidak terdengar keren seperti di film film detektif yang Ia tonton . Kalimat isyarat mereka berdua terdengar aneh .
Sementara Farrel yang menerima telepon Daffin kini sedang menonton film sambil berbaring santai di sofa dengan paha Cyrin sebagai pengganti bantalnya .
" Bagus Fin . Pastikan tanaman liar itu tercabut tak bersisa dan pastikan juga tidak meninggalkan jejak . Saya tidak mau direpotkan lagi dengan urusan yang tidak penting . " Balas Farrel saat menerima laporan Daffin .
__ADS_1
" Tenang saja Pak . Semuanya akan saya selesaikan hari ini . Dan besok ku yakin anda akan terkejut menonton beritanya . Semuanya melebihi harapan kita . " Ujar Daffin sebelum mengakhiri laporannya via telepon pada sang bos .
Pembicaraan Farrel dan Daffin di telepon menarik perhatian Cyrin .
" Naikkan lagi volume tv sayang , aku sudah selesai bertelepon . " Pinta Farrel .
" Mas , apa yang dilakukan Daffin ? Kenapa dia mencabut tanaman liar ? " tanya Cyrin .
" Hemm.. aku menugaskannya untuk merawat taman yang ada di halaman belakang perusahaan . " Jawab Farrel asal .
Sontak saja Farrel teriak mengaduh saat hidung mancungnya dijepit dengan keras oleh Cyrin .
" Aawww... aaaawwwww..... Yang lepasin ," ucapnya dengan suara sengau .
" Kamu apaan sih Yang , kalau aku kehabisan napas gimana ? Kamu rela jadi janda muda ? " protes Farrel saat berhasil melepas jepitan tangan Cyrin di hidungnya .
" Jadi istri aja belum , gimana bisa jadi janda . " Balas Cyrin .
" Lagian Mas itu aneh , kok tugasin Daffin beresin taman . Harusnya Mas panggil tukang kebun dong . "
" Tanaman liar ini lain sayang . Hanya Daffin yang bisa mencabutnya . " Balas Farrel membuat Cyrin makin pusing .
" Terserah kamu Mas . Tapi malam nanti ajak Daffin makan malam disini, mumpung ada Ibu yang masak . Aku mau ucapin makasih . "
Farrel mengangguk , memangnya apa bisa Ia menolak permintaan tunangannya itu .
Farrel sudah berjanji pada kedua orang tua Cyrin , pada sahabatnya Bimo , pada kedua orang tuanya , pada dirinya sendiri , dan juga pada Tuhan jika Ia akan berusaha untuk terus membahagiakan Cyrin . Ia akan berusaha mewujudkan semua keinginannya , menjaganya, dan menemaninya .
Cukup sekali Farrel hampir gila saat Cyrin tidak sadar selama 2 hari , dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi .
" Sayang aku janji sama kamu , aku akan usaha wujudkan semua keinginanmu . " Ucap Farrel lembut .
" Kecuali satu sayang . Ku mohon jangan pernah minta agar aku pergi darimu , begitupun sebaliknya . Jangan minta aku untuk merelakanmu pergi dariku . " Lanjut Farrel membuat mata Cyrin berkaca kaca .
" Aku takut berjanji Mas . Ku harap itu tidak akan pernah terjadi . Tapi jika aku sampai khilaf , ku mohon kamu bersabar padaku . Ingatkan jika cintaku sangat besar padamu Mas . Sadarkan aku akan ke khilafanku yang memintamu pergi atau sebaliknya . Ku mohon Mas , jangan pernah lelah berjuang untukku yah . "
__ADS_1
Jawaban Cyrin membuat Farrel ikut menitikkan air mata . Hatinya tiba tiba saja menghangat dan gelisan secara bersamaan . Batin Farrel tidak nyaman saat tiba-tiba mereka berdua membahas hal ini . Harusnya sekarang Ia senang , tapi mengapa dadanya terasa sesak .
Farrel menarik tengkuk Cyrin sehingga wanita itu menunduk , lalu dengan cepat Farrel menyatukan bibir keduanya . Ia berharap ciumannya bisa menghilangkan semua rasa cemas , gelisah , dan sesaknya saat ini .
Di lain tempat , Aurora sedang mendapatkan perawatan luka di wajahnya dengan tangan terborgol .
Ia meringis menahan perih saat lukanya diberi obat merah .
Tak Ia duga pembalasan Farrel sekejam ini . Ia menyesal harusnya tidak mengusik hidup pria itu . Hidupnya sudah hancur , karirnya sudah jelas tidak ada harapan lagi . Nama baiknya dan keluarga besarnya akan ikut tercoreng dengan cap pelakor dan wanita murahan yang disematkan pada dirinya . Apalagi yang Ia punya.
Tubuhnya yang Ia banggakan kini tak berguna lagi . Inti dari tubuhnya yang selalu Ia rawat , kini bahkan membuatnya terus meringis menahan perih .
" Sialan , ini semua karena daddy gila dan tidak berguna itu ." Gerutu Aurora .
" Dengan kegilaannya dia bahkan menghancurkan tempat yang beberapa tahun terakhir pria itu puja puja ." Lanjut Aurora membatin .
Setelah itu , Pak Pratama , Risma , dan Aurora diperiksa oleh petugas polisi untuk dimintai keterangan . Mereka didampingi oleh pengacara masing-masing .
Aurora harus menghubungi keluarga dekatnya untuk meminta bantuan .
Setelah berjam-jam berlalu , pemeriksaan selesai . Pak Pratama langsung digiring untuk masuk ke dalam sel tahanan . Sedang Aurora dibawa ke sebuah ruangan karena ada yang ingin bertemu dengannya .
Tak lama Aurora menunggu , masuklah seorang wanita yang Ia ingat adalah salah satu staff legal di perusahaan milik Pratama .
" Hai Aurora , kenalkan saya Intan ." Ucapnya ramah .
Aurora tak menjawab , Ia masih bisa memandang remeh pada Intan walaupun wajahnya kini penuh lebam .
" Saya ingin meminta tanda tanganmu di sini untuk pembatalan kontrak . " Ujar Intan .
" Saya menolak . "
" Saranku sebaiknya tanda tangani saja . Hanya satu kok . Setidaknya ini bisa mengurangi tuntutanmu karena akan berhenti dipersoalkan. " Jelas Intan dengan sabar .
" Apa maksudmu ? " bentak Aurora .
" Aurora ... aurora ... kamu pikir perusahaan tinggal diam jika ada artisnya yang merugikan ? " balas Intan .
" Kamu bersiaplah . Perusahaan akan menuntutmu untuk kerugian karena nama kami ikut tercoreng , ditambah dengan kontrak yang belum waktunya namun honornya sudah kamu terima lebih dulu . Semoga semua asetmu cukup untuk mengganti rugi . " Lanjutnya .
Intan sudah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya .
" Bersiaplah , karena CEO baru kami tidak suka dengan kerugian yang akan kami terima karenamu . "
" Apa peduliku . Ku doakan perusahaan itu bangkrut . " Bentak Aurora menghentikan langkah Intan menuju pintu .
Ia berbalik , " Sayang sekali doamu tidak akan terkabul . CEO baru kami orang yang hebat , dengan mudah dia bisa menghancurkan lawannya . Sudah terbukti dengan hancurnya kamu dan Pratama . " Ujar Intan kemudian pergi meninggalkan Aurora yang berteriak histeris .
" Siaaaaallaaannn kaauuuu FARREEEEELLLLLLLLL . "
Teriakan Auora menggema diseluruh ruangan berukuran 3X3 meter .
Tapi sayang sekeras apapun Ia teriak , Farrel tidak akan mendengar .
.
.
.
.
.
" Ketahuilah bahwa karma tidak memiliki menu. Kamu akan mendapatkan layanan dari apa yang memang pantas kamu dapatkan. "
.
.
.
__ADS_1
.
To be continue