My Lovely Customer

My Lovely Customer
Bab 91 . Revenge - third step


__ADS_3

Pria itu keluar untuk membuka pintu . Dengan sisa tenaganya Aurora mencabut benda tumpul yang sejak tadi memenuhinya .


" Cari sia... pa ? " wajah Pak Pratama memucat .


Darah seolah berhenti mengalir ke wajahnya yang kini nampak terkejut .


" Ada apa ini ? " tanyanya gugup melihat apa yang menyambutnya di depan pintu .


" Permisi . Apa benar ini kediaman saudari Aurora ? " tanya seorang pria .


" Benar . Ada keperluan apa ? " tanya Pak Pratama .


" Maaf , apa anda yang bernama Pratama ? " tanya pria itu .


Pak Pratama mengangguk .


" Pak Pratama kami dari pihak kepolisian.  Anda kami tahan atas laporan dari Nyonya Risma tentang adanya dugaan pelanggaran pasal 284 KUHP  mengenai perzinahan . "


Dua orang pria yang juga berbadan tegap dengan sigap maju dan membekuk Pak Pratama .


Tangannya lalu diborgol dibelakang tubuhnya .


Pak Pratama bahkan tidak memiliki kesempatan membela diri . Apalagi saat tiba-tiba  Ia melihat istri dan staff legalnya muncul bersama dua orang pria berjas yang kemudian Ia ketahui adalah pengacara istrinya .


Belum lengkap keterkejutan atas kemunculan istrinya , Ia kembali dikejutkan dengan beberapa wartawan yang sudah siap merekam aksi penggrebekan seorang pengusaha dan artis .


Pak Pratama hanya bisa menunduk agar wajahnya tidak tersorot kamera . Ia pasrah saja saat beberapa orang polisi memaksa masuk ke apartemen untuk memeriksa TKP .


Pak Pratama didudukkan di sofa , sementara polisi mulai menyisir apartemen Aurora .


" Mengapa kamu lakukan ini pada suamimu ? " tanyanya pada Risma .


" Aku melakukan hal yang benar . Aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu . " Balas Risma tanpa ada rasa kasihan sekali .


" Kamu pikir akan hidup bahagia setelah aku dipenjara ? Kamu salah , perusahaan kita sudah bangkrut . Kamu akan hidup sebagai gelandangan setelah ini . " Ejek Pak Pratama .


" Inilah kesalahanmu suamiku . Jiwa binatangmu telah membuatmu berdiri di pihak yang salah. " Balas Risma .


Pak Pratama tidak menyangka jila istrinya telah menusuknya dari belakang . Apalagi saat melihat sosok Daffin yang baru masuk ke apartemen dengan seringai licik di wajahnya .


" Ternyata dia benar-benar melakukan ucapannya . Ini semua karena wanita sial itu . " Batin Pak Pratama mengingat kembali ancaman Farrel .


Seketika Ia mematung saat mengingat keadaan Aurora yang Ia tinggalkan di kamar .


" Ndan .... wanitanya ada di kamar . Keadaannya kacau . " Lapor salah satu petugas .


Petugas tadi masuk ke kamar dan terkejut mendapati seorang wanita yang sedang terbaring polos di atas tempat tidur .


Wajahnya banyak luka dan jejak tamparan . Di tubuhnya ada jejak pukulan dari benda yang diduga ikat pinggang . Dan yang mengenaskan , di seprei dan di bagian intinya banyak sekali cairan khas milik pria dan wanita yang sudah bercampur .


Beberapa jam olah TKP akhirnya selesai . Pak Pratama dan Aurora digiring ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya .


Para pencari berita puas mendapatkan bahan berita yang sangat bagus dan akurat . Apalagi saat tadi ditangkap , Aurora sedang memegang sebuah alat yang mirip dengan senjata kaum pria . Hal itu sungguh menjadikan topik ini menjadi lebih menarik untuk diberitakan .



Tak lupa Daffin menghubungi Farrel .


" Pak , tanaman liarnya sudah dicabut dan sekarang sudah dibuang ketempat sampah ," ujarnya di telepon .



Daffin menertawai dirinya sendiri yang menggunakan kalimat isyarat saat melapor pada bosnya .



Pasalnya kalimat isyarat yang Ia dan bosnya gunakan tidak terdengar keren seperti di film film detektif yang Ia tonton . Kalimat isyarat mereka berdua terdengar aneh .



Sementara Farrel yang menerima telepon Daffin kini sedang menonton film sambil berbaring santai di sofa dengan paha Cyrin sebagai pengganti bantalnya .



" Bagus Fin . Pastikan tanaman liar itu tercabut tak bersisa dan pastikan juga tidak meninggalkan jejak . Saya tidak mau direpotkan lagi dengan urusan yang tidak penting . " Balas Farrel saat menerima laporan Daffin .

__ADS_1



" Tenang saja Pak . Semuanya akan saya selesaikan hari ini . Dan besok ku yakin anda akan terkejut menonton beritanya . Semuanya melebihi harapan kita . " Ujar Daffin sebelum mengakhiri laporannya via telepon pada sang bos .



Pembicaraan Farrel dan Daffin di telepon menarik perhatian Cyrin .



" Naikkan lagi volume tv sayang , aku sudah selesai  bertelepon . " Pinta Farrel .



" Mas , apa yang dilakukan Daffin ? Kenapa dia mencabut tanaman liar ? " tanya Cyrin .



" Hemm.. aku menugaskannya untuk merawat taman yang ada di halaman belakang perusahaan . " Jawab Farrel asal .



Sontak saja Farrel teriak mengaduh saat hidung mancungnya dijepit dengan keras oleh Cyrin .



" Aawww... aaaawwwww..... Yang lepasin ," ucapnya dengan suara sengau .



" Kamu apaan sih Yang , kalau aku kehabisan napas gimana ? Kamu rela jadi janda muda ? " protes Farrel saat berhasil melepas jepitan tangan Cyrin di hidungnya .



" Jadi istri aja belum , gimana bisa jadi janda . " Balas Cyrin .



" Lagian Mas itu aneh , kok tugasin Daffin beresin taman . Harusnya Mas panggil tukang kebun dong . "




" Tanaman liar ini lain sayang . Hanya Daffin yang bisa mencabutnya . " Balas Farrel membuat Cyrin makin pusing .



" Terserah kamu Mas . Tapi malam nanti ajak Daffin makan malam disini, mumpung ada Ibu yang masak . Aku mau ucapin makasih . "



Farrel mengangguk , memangnya apa bisa Ia menolak permintaan tunangannya itu .



Farrel sudah berjanji pada kedua orang tua Cyrin , pada sahabatnya Bimo , pada kedua orang tuanya , pada dirinya sendiri , dan juga pada Tuhan jika Ia akan berusaha untuk terus membahagiakan Cyrin . Ia akan berusaha mewujudkan semua keinginannya , menjaganya, dan menemaninya .



Cukup sekali Farrel hampir gila saat Cyrin tidak sadar selama 2 hari , dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi .



" Sayang aku janji sama kamu , aku akan usaha wujudkan semua keinginanmu . " Ucap Farrel lembut .



" Kecuali satu sayang . Ku mohon jangan pernah minta agar aku pergi darimu , begitupun sebaliknya . Jangan minta aku untuk merelakanmu pergi dariku . " Lanjut Farrel membuat mata Cyrin berkaca kaca .



" Aku takut berjanji Mas . Ku harap itu tidak akan pernah terjadi . Tapi jika aku sampai khilaf , ku mohon kamu bersabar padaku . Ingatkan jika cintaku sangat besar padamu Mas . Sadarkan aku akan ke khilafanku yang memintamu pergi atau sebaliknya . Ku mohon Mas , jangan pernah lelah berjuang untukku yah . "


__ADS_1


Jawaban Cyrin membuat Farrel ikut menitikkan air mata . Hatinya tiba tiba saja menghangat dan gelisan secara bersamaan . Batin Farrel tidak nyaman saat tiba-tiba mereka berdua membahas hal ini . Harusnya sekarang Ia senang , tapi mengapa dadanya  terasa sesak .



Farrel menarik tengkuk Cyrin sehingga wanita itu menunduk , lalu dengan cepat Farrel menyatukan bibir keduanya . Ia berharap ciumannya bisa menghilangkan semua rasa cemas , gelisah , dan sesaknya saat ini .



Di lain tempat , Aurora sedang mendapatkan perawatan luka di wajahnya dengan tangan terborgol .


Ia meringis menahan perih saat lukanya diberi obat merah .


Tak Ia duga pembalasan Farrel sekejam ini . Ia menyesal harusnya tidak mengusik hidup pria itu . Hidupnya sudah hancur , karirnya sudah jelas tidak ada harapan lagi . Nama baiknya dan keluarga besarnya akan ikut tercoreng dengan cap pelakor dan wanita murahan yang disematkan pada dirinya . Apalagi yang Ia punya.


Tubuhnya yang Ia banggakan kini tak berguna lagi . Inti dari tubuhnya yang selalu Ia rawat , kini bahkan membuatnya terus meringis menahan perih .


" Sialan , ini semua karena daddy gila dan tidak berguna itu ." Gerutu Aurora .


" Dengan kegilaannya dia bahkan menghancurkan tempat yang beberapa tahun terakhir pria itu puja puja ." Lanjut Aurora membatin .


Setelah itu , Pak Pratama , Risma , dan Aurora diperiksa oleh petugas polisi untuk dimintai keterangan . Mereka didampingi oleh pengacara masing-masing .


Aurora harus menghubungi keluarga dekatnya untuk meminta bantuan .


Setelah berjam-jam berlalu , pemeriksaan selesai . Pak Pratama langsung digiring untuk masuk  ke dalam sel tahanan . Sedang Aurora dibawa ke sebuah ruangan karena ada yang ingin bertemu dengannya .


Tak lama Aurora menunggu , masuklah seorang wanita yang Ia ingat adalah salah satu  staff legal di perusahaan milik Pratama .


" Hai Aurora , kenalkan saya Intan ." Ucapnya ramah .


Aurora tak menjawab , Ia masih bisa memandang remeh pada Intan walaupun wajahnya kini penuh lebam .


" Saya ingin meminta tanda tanganmu di sini untuk pembatalan kontrak . " Ujar Intan .


" Saya menolak . "


" Saranku sebaiknya tanda tangani saja . Hanya satu kok . Setidaknya ini bisa mengurangi tuntutanmu karena akan berhenti dipersoalkan. " Jelas Intan dengan sabar .


" Apa maksudmu ? " bentak Aurora .


" Aurora ... aurora ... kamu pikir perusahaan tinggal diam jika ada artisnya yang merugikan ? " balas Intan .


" Kamu bersiaplah . Perusahaan akan menuntutmu untuk kerugian karena nama kami ikut tercoreng , ditambah dengan kontrak yang belum waktunya namun honornya sudah kamu terima lebih dulu .  Semoga semua asetmu cukup untuk mengganti rugi . " Lanjutnya .


Intan sudah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya .


" Bersiaplah , karena CEO baru kami tidak suka dengan kerugian yang akan kami terima karenamu . "


" Apa peduliku . Ku doakan perusahaan itu bangkrut . " Bentak Aurora menghentikan langkah Intan menuju pintu .


Ia berbalik , " Sayang sekali doamu tidak akan terkabul . CEO baru kami orang yang hebat , dengan mudah dia bisa menghancurkan lawannya . Sudah terbukti dengan hancurnya kamu dan Pratama . " Ujar Intan kemudian pergi meninggalkan Aurora yang berteriak histeris .


" Siaaaaallaaannn kaauuuu FARREEEEELLLLLLLLL . "


Teriakan Auora menggema diseluruh ruangan berukuran 3X3 meter .


Tapi sayang sekeras apapun Ia teriak , Farrel tidak akan mendengar .


.


.


.


.


.


" Ketahuilah bahwa karma tidak memiliki menu. Kamu akan mendapatkan layanan dari apa yang memang pantas kamu dapatkan. "


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2