
Saat Farrel keluar dari toilet , Aurora segera mencegahnya .
" Kita harus bicara . " Ujar Aurora .
Farrel berdecih . " Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi . "
Farrel sudah akan meninggalkan Aurora , namun wanita itu memeluk lengan Farrel .
Dari kejauhan ada sepasang mata yang sedang menatap kepada Aurora dan Farrel dengan penuh tanda tanya apa yang terjadi antara kedua orang itu .
" Lepaskan . " Farrel menepis tangan Aurora .
" Aku tidak mau calon istriku sampai salah paham . Dan harusnya kamu sadar kamu itu kekasih Bimo , sahabat juga kakak dari calon istriku . " ujar Farrel menahan emosinya .
" Farrel , sayang , ku mohon minta aku untuk kembali padamu sekarang dan aku akan langsung meninggalkan Bimo . Aku tahu kamu masih mencintaiku , kenangan tentang kita tidak akan mudah kamu lupakan . " ujar Aurora .
Wanita itu bahkan dengan berani berusaha meraih wajah Farrel agar mau menatapnya .
" Ya , kenangan kita memang tidak aku lupakan . Apalagi bagaimana kamu menghianatiku dengan pria lain . " balas Farrel .
Farrel sudah akan pergi saat Bimo berjalan dengan langkah lebar dan cepat kearah mereka.
" Katakan apa yang ku dengar barusan itu tidak benar ? " tanya Bimo . Ada penekanan di setiap kata yang dia ucapkan .
" Bim ... aku akan jelaskan semuanya . Memang benar dulu kami pernah punya hubungan di masa lalu . Tapi sudah lama berlalu . " jelas Farrel .
" Tapi kenapa kamu tidak pernah jujur ? Bahkan kalian berpura pura di hadapanku ? Untuk apa ?"
Bimo kecewa .
" Bim ... oke aku salah karena tidak memberitahumu lebih awal . Ku pikir itu tidak penting , semua bagiku hanyalah masa lalu . " jelas Farrel .
Cyrin mencari Farrel karena wawancara akan segera dimulai .
Ia mendekati tiga orang yang sepertinya membahas hal penting .
" Mas , " panggilnya .
Semuanya berbalik menatap Cyrin .
" Ada apa ini ? Mengapa berkumpul disini ? "
Tanya Cyrin .
" Rin , apa kamu juga tahu kalau mereka berdua punya masa lalu ? " tanya Bimo .
Cyrin menatap Farrel , dan melihat Farrel mengangguk .
" Iya Mas . " jawabnya .
" Lalu kamu tidak pernah memberitahu Mas ? "
" Ku pikir semuanya masa lalu . Farrel sekarang juga tidak ada hubungan apa apa dengannya . " ujar Cyrin .
" Memangnya kamu tahu apa yang mereka bicarakan barusan ? Aurora baru saja meminta Farrel kembali padanya . " ujar Bimo .
Mata Cyrin membelalak .
Farrel menggeleng . " Tapi aku tidak sayang . Kamu percayakan ? "
" Dasar memang Aurora yang tidak tahu diri . " ujar Cyrin .
" Apa katamu ? Hei jaga ucapanmu yah . Kamu pikir siapa kamu pantas bersama Farrel ? " tantang Aurora .
Cyrin melayangkan satu tamparan di pipi Aurora .
" Brengs*k . " umpat Aurora .
Aurora hendak membalas Cyrin tapi segera di halau oleh Farrel . Farrel juga membawa Cyrin dalam dekapannya .
" Bagus jika Mas tahu sekarang . Wanita ini memang tidak pantas untuk Mas Bimo . Mending kamu pergi dari sini sebelum sugar daddy mu mencari . " Sindir Cyrin .
Bimo semakin terkejut dengan ucapan adiknya barusan . Sejauh apa Cyrin dan Farrel mengenal Aurora dibanding dirinya .
" Aurora , hubungan kita berakhir sekarang . Tolong jangan muncul lagi di hadapanku . " Ujar Bimo .
" Dan kalian berdua . Aku kecewa kalian menyembunyikan hal seperti ini dariku . "
Setelah mengatakan itu , Bimo segera pergi .
Aurora masih berusaha mengejar Bimo .
Cyrin yang ingin mengejar Bimo di tahan oleh Farrel , " Dia perlu waktu untuk sendiri . "
Malam itu Cyrin dan Farrel harus melakukan wawancara dengan pikiran yang berkecamuk .
Bimo melajukan mobilnya menuju jalan yang dekat dengan rel kereta api .
Ini sudah jadi kebiasaanya saat banyak pikiran .
Suara bising bisa mengalihkan sedikit pikirannya yang kacau .
__ADS_1
" Mengapa aku begitu bodoh sampai tidak sadar dengan semua sikap aneh Aurora ? " gumamnya.
" Apa aku begitu kekurangan cinta , sampai bisa dibodohi seperti ini ? "
Bimo juga tak habis pikir dengan Farrel dan Cyrin . Harusnya keduanya sudah jujur dari awal hingga dia tidak harus terlibat lebih jauh dengan Aurora .
Di tengah tengah lamunannya . Dari kejauhan dia melihat seorang wanita yang tak asing sepertinya sedang mencari sesuatu .
Bimo melajukan mobilnya menghampiri wanita itu,
" Byanca ... " panggilnya dari dalam mobil dengan membuka kaca .
Byanca yang merasa namanya di panggil sedikit menunduk melihat siapa pria di dalam mobil .
" Mas Bimo ? "
Bimo turun dari mobilnya dan menghampiri Byanca .
" By... ngapain kamu malam malam disini ? Bukannya kamu di Jakarta ? " tanya Bimo .
" Aku nyampe pagi tadi . Tadi subuh mamaku harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. " jelas Byanca .
" Apa ? Tapi malamnya kami sempat kerumahmu , tapi tante baik baik aja . " ujar Bimo .
" Terjadi tiba tiba . Aku juga dikabarin subuh , paginya langsung berangkat ke sini . "
" Aku janjian dengan seseorang tapi sepertinya dia tidak datang . Aku sedang menunggu taksi untuk kembali ke rumah sakit . " jawab Byanca .
" Naiklah , akan ku antar . "
Byanca tidak menjawab ataupun bergeming .
Bimo menarik tangan Byanca dan menuntunnya masuk kedalam mobil .
" Kenapa Mas Bimo ada disini ? Bukannya hari ini acara perusahaan Mas ? "
Byanca bertanya untuk mengakhiri keheningan selama perjalanan .
" Acaranya sudah selesai . " jawab Bimo singkat lalu kembali diam .
Kini mobil Bimo sudah terparkir sempurna di parkiran basement rumah sakit .
" Mas ... apa mas sedang ada masalah ? "
Byanca akhirnya memberanikan diri untuk bertanya .
Bimo menggeleng .
" Syukurlah . Aku turun yah Mas , terimakasih tumpangannya . "
__ADS_1
Byanca sudah membuka pintu mobil tapi Bimo tiba tiba menarik tangannya .
" By ... bisa temani aku sebentar di sini ? " pinta Bimo .
Byanca menghela napasnya , lalu kembali menutup pintu mobil .
Beberapa menit Bimo masih diam .
" Mas , apa Mas Bimo hanya akan diam ? Jika tidak ingin menceritakan masalah Mas , setidaknya kita bisa mengobrol hal lain . " ujar Byanca .
" Maaf By . Maaf . Aku lagi memikirkan banyak hal sekarang . Tapi aku juga tidak ingin sendiri "
" By ... aku baru tahu jika ternyata kekasihku tidak sebaik yang kupikirkan . Yang makin membuatku kecewa karena ternyata Farrel dan Cyrin juga tahu hal itu . " ujar Bimo .
" Mereka semua tidak jujur , dan membuatku merasa jadi orang bodoh selama ini . "
Bimo menertawakan dirinya sendiri .
" Ohh .. jadi akhirnya Mas tahu . " gumam Byanca .
" Kamu juga tahu By ? "
Bimo makin merasa jadi orang paling bodoh saat Byanca hanya diam .
" Mas , bukannya Cyrin sudah berkali kali ngomong kalau dia tidak setuju dengan hubungan Mas sama wanita itu . Dan bukannya Mas sendiri yang tidak percaya . Setahuku Kak Farrel dan Cyrin ingin mencari bukti sebelum bicara lagi pada Mas Bimo . " ujar Byanca .
" Ku pikir Kak Farrel tidak jujur mungkin karena menghargai pilihan Mas . " lanjut Byanca .
Byanca menjeda ucapannya .
" Yang perlu Mas tahu , Farrel dan Cyrin tidak mungkin memiliki niat jahat . Mereka pasti punya alasan . Bicaralah pada mereka . "
Bimo diam mendengarkan ucapan Byanca .
Sebenarnya hal itu sama seperti yang dia pikirkan .
Dia hanya sedang egois , ingin mencari alasan agar dia tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena sudah berhasil dibutakan cinta .
Bimo memandangi Byanca yang berjalan menjauh hingga bayangan wanita itu tak terlihat lagi di balik pintu rumah sakit .
" Mengapa di saat seperti ini aku malah bertemu dengannya ? " batin Bimo .
.
.
.
.
.
" *Lebih baik meninggalkan aku, daripada mendapatkan cinta yang palsu*.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continue